Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Seperti Itulah Hubungan


__ADS_3

Hari minggu adalah hari libur untuk karyawan kantor seperti ketiga pemuda itu.


"Gimana Jo, tadi malam saat ngantar bu Asya?" tanya Hazel, yang duduk di taman kota.


Ketiga pemuda itu istirahat sejenak karena lelah. Namanya juga joging! Pasti lelah.


"Maksudnya gimana apanya Pak Hazel?" tanya Jo, sambil mengelap keringat yang membasahi wajah. Dengan handuk yang ada di lehernya.


"Sudah tahu rumahnya?" tanya Hazel, sambil meminum air.


"Enggak, orang bu Asya minta di turunin dekat jalan raya. Pas saya tanya, kenapa enggak sekalian sampai rumah bu? Bu Asya malah nolak." Jo bercerita, kejadian saat mengantarkan Asya.


"Kenapa enggak dipaksa, Jo!" tanya Langit, yang duduk di samping Hazel. Pemuda itu sedang mengikat tali sepatu.


"Sudah tiga kali Pak, tapi nolak." Jo menjawab, sambil merebut minuman ditangan Hazel, kemudian meminumnya.


"Tapi bu Asya, itu tidak seperti karyawan lain. Dia itu sangat tertutup, bahkan aku tidak pernah melihat dia makan bersama dengan teman kantornya." Hazel sangat kenal dengan Asya daripada Langit yang baru saja kerja di perusahaan itu.


"Zel, udah punya istri, ngapain memperhatikan perempuan lain," teguran dari kakak ipar untuk Hazel.


"Mata lelaki Lang!" Hazel tersenyum kaku.


"Si Jo, kayaknya ada rasa sama bu Asya." Hazel mengalihkan pembicaraan.


Jo memalingkan wajahnya, dari kedua pemuda yang duduk di sampingnya itu.


"Beneran Jo?" Langit bertanya, pemuda itu tidak terlalu mau mengurusi urusan orang lain.


"Jangan percaya ucapnya Pak Hazel. Pak!" Jo membantah, tapi hatinya mengiyakan.


"Suami berondong hahahaha." Hazel tertawa, sangking ngakak nya Hazel berpegangan pundak kakak iparnya.


Langit hanya menggeleng saja. Sedangkan Jo hanya menyumpahi Hazel di dalam hati.


"Emang umurnya berapa Zel?" Langit ingin tahu, kenapa adik iparnya bilang seperti itu.


"Tiga puluh, tapi emang wajahnya masih kayak dua delapan." Hazel.


"Aku kira dia seumuran dengan ku." Langit, menatap keatas melihat keindahan langit biru. Pemuda itu jadi ingin bertemu istrinya, untuk menikmati keindahan alam semesta ini.


"Ingat Pak, istrinya cemburu loh hahaha." Jo tertawa ngakak, saat mengingat kejadian diruang makan.


Langit menatap Jo. Sedangkan Hazel dia ada dikubu Jo, untuk mentertawakan kakak iparnya.


"Ternyata kakak ipar sangat cemburu denganmu Lang!" Hazel menahan tawanya.


"Sudahlah, ayo kita lanjut lagi. Lihat Zel perutmu sudah mau buncit. Kasian Alula kalau malu." Langit berdiri dan berlari diikuti oleh kedua pemuda itu.


"Kau mengejekku, ingat Lang. Kalau punya anak perutmu tidak akan sixpack lagi." Sumpah serapah dari adik ipar untuk kakak ipar.


Langit hanya menggeleng saja, pemuda itu terus berlari. Sesekali mengusap keringat yang membasahi dahi. Dengan handuk yang ada di leher.


Persamaan orang joging, sama penjual keliling adalah sama-sama keliling jalan sambil menaruh handuk di leher.


Wanita berambut sebahu itu, baru saja selesai mandi. Terdengar ketuk kan dari luar. Wanita berambut sebahu itu, mengerutkan dahi.


"Siapa yang mengetuk pintu," ujarnya, sambil berjalan kearah pintu.


Wanita berambut sebahu itu, membuka pintu kamarnya. Orang yang mengetuk pintu itu, langsung jalan kearah sofa tanpa permisi. Wanita berambut sebahu itu menutup pintu kamar kembali.


"Kenapa mukamu?" tanya wanita berambut sebahu itu, sambil jalan kearah sofa. Kemudian duduk di samping orang itu.

__ADS_1


"Sebel!" Orang itu menjawab, sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


Wanita berambut sebahu itu, mengerutkan dahi. Kenapa dengan orang yang ada di sampingnya itu.


"Teh, aku boleh tidur dipangkuan Teteh enggak?" tanya Archer, dengan wajahnya yang melas.


Cahaya tidak tahu kenapa adik iparnya bersikap aneh.


"Baiklah," ujarnya, sambil menggeser posisinya kearah pinggiran sofa.


Archer tersenyum, kemudian men–selonjor kan tubuhnya. Kemudian menyembunyikan wajahnya diperut kakak iparnya. Cahaya mengelus kepala adik iparnya itu.


"Apa ada masalah?" tanya Cahaya lembut, tidak mungkin jika tidak ada masalah adik iparnya seperti itu.


Archer terdiam, sepertinya dara delapan belas tahun itu butuh waktu buat memulai curhat bersama kakak ipar.


Cahaya masih setia menunggu. Pintu kamar terbuka, ternyata pemuda itu sudah kembali dari joging nya. Langit mengerutkan dahi, kenapa adiknya ada di sana. Sedangkan Archer tidak mendengar jika kang masnya, sudah kembali dari joging.


Langit mau membuka mulutnya, tapi saat adiknya bersuara di mengurungkan nya.


"Teteh! Aku mau cerita sesuatu ke Teteh. Teteh, cukup mendengarkan, setelah aku selesai bercerita baru. Teteh boleh bertanya." Archer berbicara, sambil mencium bau badan kakak iparnya yang harum.


Cahaya pun hanya diam, wanita itu meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Itu adalah kode untuk suaminya yang masih berdiri saja. Langit pun tidak jadi bicara, pemuda itu duduk di ranjang.


"Kemarin saat aku baru nyampe di sekolah. Ada orang yang mencekal tanganku." Archer mulai bercerita, sedangkan Cahaya dan suaminya menunggu kelanjutan, cerita yang akan Archer ceritakan kepadanya.


"Aku kira dia temanku, tapi aku salah. Ternyata dia— yang pernah membuat aku dihukum."


Cahaya berpikir sejenak, siapa yang membuat adik iparnya dihukum. Langit cukup jelas mendengar apa yang keluar dari mulut si bungsu dari Raharja.


"Aku pun segera menghempaskan tangannya, aku tahu jika kang mas, melihat pasti akan marah."


Namun hal itu tidak bisa, karena suaminya menatapnya tajam. Cahaya menelan ludahnya karena kode dari suaminya itu. Langit ingin tahu apa yang akan diceritakan adik bungsunya itu.


"Katanya dia ingin bicara sama aku. Aku pun menyuruhnya untuk bicara saja. Tapi dia tidak mau, dia ingin mengajakku ke belakang kelas. Aku menolaknya, aku tidak mau jika aku dapat masalah gara-gara dia. "


Langit dan Cahaya saling tatap, sebenarnya siapa yang Archer maksud.


"Setelah aku menolak, dia mengutarakan apa yang dia ingin utarakan. Aku terkejut saat dia menembak ku."


Langit ingin bersuara, tapi Cahaya menyuruhnya diam. Pemuda itu tidak suka jika adiknya punya pacar. Pemuda itu sangat takut jika adiknya, hidup dengan gaya orang barat. Bahasa sindirannya pergaulan bebas.


"Dia adalah orang yang pertama menembak ku, untuk yang pertama kalinya." Archer memeluk erat pinggang kakak iparnya.


"Kau menerimanya?" tanya Cahaya, bukankah Archer sudah bilang jika kakak iparnya tidak boleh bertanya sebelum cerita itu selesai.


"Bagaimana aku bisa menerimanya, jika Kang Mas, tidak menyukai kita dekat dengan cowok. Apalagi pacaran, aku tidak pernah memikirkan hal itu. Aku hanya mikirin gimana caranya dapat beasiswa saja." Archer diam sejenak.


Langit menatap punggung si bungsu. Pemuda itu sangat lega, jika adiknya tidak memikirkan tentang pacaran. Yang dalam islam juga tidak diperbolehkan.


"Dan bagaimana mungkin, aku menerimanya jika kakak menyukai dia."


Langit yang mendengar hal itu, langsung berdiri dari ranjang. Cahaya menatap suaminya, menunjuk kearah suaminya dengan telunjuk. Kemudian kearah ranjang. Seolah bilang 'duduk kembali' itulah yang pemuda itu cerna.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Cahaya lembut. Tetapi suaminya malah menatap tajam kearahnya.


Archer terdiam, belum mau menjawab.


Langit menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir si bungsu itu.


"Tidak!" jawaban Archer, membuat kang masnya lega.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan kepada cowok itu dan siapa dia?" Cahaya bertanya lagi.


"Aku menjawab jika aku sudah dijodohkan."


Langit membulatkan matanya, adik bungsunya itu bisa menjaga diri sepertinya.


"Begitu mudah kah? Dia mempercayai ucapan mu?" Tangannya mengelus kepala adik iparnya.


"Aku harus pintar, untuk mencari jawaban yang bisa membuat dia yakin."


"Jawaban apa yang kau berikan?"


"Aku bilang, jika orang yang datang terlambat saat peresmian kafe adalah jodohku."


Langit dan Cahaya saling menatap. Siapa yang datang saat peresmian kafe. Sepertinya mereka lupa.


"Siapa yang kau maksud Cher!"


"Kak Jo, dia aku jadikan kambing hitam. Andai ada Hitam di sini pasti dia akan siap menjadi pacar pura-pura. Tapi sepertinya dia masih belum percaya." Senyuman terukir jelas dibibir dara delapan belas tahun itu. Saat menyebut nama pemuda keturunan Aceh.


Tapi sayang Cahaya tidak bisa melihat hal itu.


Langit dan Cahaya kembali bertatap muka.


"Lantas siapa? Cowok yang menembak mu Cher? Jika dia ada saat peresmian kafe, pasti aku mengenalnya."


Archer terdiam sejenak, dara delapan belas tahun itu belum mau menjawab.


"Kenzi!"


Cahaya terkesiap, mendengar jawaban dari adik iparnya. Sedangkan Langit tidak terlalu kenal dengan Kenzi.


"Teh!" Archer mendongak untuk melihat wajah kakak iparnya.


Cahaya menatap wajah adik iparnya, dan mengusap lembut wajah adik iparnya.


"Iya, apa yang ingin kau katakan lagi?" tanya Cahaya.


"Bagaimana jika kakak, mengetahui hal ini. Aku tidak bisa membuat semua temanku diam. Mereka sudah tahu, jika Kenzi menembak ku. Dan bagaimana pula aku meyakinkan Kenzi, jika aku sudah di jodohkan. Celakalah! Besok kakak sudah ke sekolah. Aku tidak mau hubungan ku dan kakak retak hanya gara-gara masalah sepele. Sumpah aku tidak punya rasa apapun dengan Kenzi. Aku membencinya karena dia aku dihukum. Apa kakak akan percaya jika aku bersumpah." Archer sangat menghargai hubungan darah. Dara delapan belas tahun itu, lebih bisa berpikir bijak dari kakaknya.


"Hubungan itu ibarat kaca, jika pecah pasti tidak akan bisa kembali seperti semula. Jika bisa pun, masih ada bekas retakannya. Hubungan yang retak mungkin bisa di perbaiki lagi. Tetapi rasanya akan berbeda dengan kemarin. Tapi kita bisa mencegah, gimana caranya agar kaca itu tidak pecah. Seperti itulah hubungan, kau punya waktu sebelum besok. Jelaskan kepada kak Arche tentang kejadian kemarin. Jika kamu tidak sanggup, surah dia kemari," sahut Langit.


Archer sangat terperanjat, karena suara yang sangat ia kenal. Dengan cepat dara delapan belas tahun itu, bangkit dari tiduran di pangkuan kakak iparnya. Archer menatap kang masnya takut. Kemudian menatap kakak iparnya, seolah bertanya 'kenapa tidak bilang jika ada Kang Mas'. Cahaya menggelengkan kepalanya. Wanita berambut sebahu itu merasa bersalah dengan adik iparnya.


Kenapa jadi rumit, Kang mas sudah tahu jika kak Arche mencintai Kenzi. Kakak pasti menyalahkan aku, kalau dia tahu. Jika kang mas sudah tahu, kalau kak Arche mencintai Kenzi. Belum lagi, kalau dia tahu kalau Kenzi menembak ku. ADUUH. Batin Archer yang puyeng karena masalah percintaan.


"Bagaimana mungkin Kang Mas, aku menyuruh kakak kemari. Kakak akan marah kepadaku karena dua hal." Archer bicara, mendekati kang masnya yang duduk ditepian ranjang.


Langit terdiam karena jawaban dari adiknya.


"Yang pertama dia akan marah gara-gara orang yang ia cintai menembak ku." Archer bicara sedikit takut, kalau masalah cowok.


"Kedua, kakak akan beranggapan, kalau aku yang bilang kalau kakak mencintai cowok kepada Kang Mas!" Archer bicara dengan rasa bersalah, belum lagi matanya berkaca-kaca.


Langit mengelus kepala adiknya dengan lembut. Sedangkan Archer langsung memeluk kang masnya dengan erat. Lumayan lah bisa peluk kang mas. Jarang-jarang dara delapan belas tahun itu memeluk kang masnya saat habis nikah.


Cahaya hanya mengamati dari sofa saja.


"Mau tidak mau Cher! Kamu harus mengatakan hal ini. Jangan sampai kakak tahu dari teman sekolahmu,"


ujar Langit.

__ADS_1


__ADS_2