
Langit masih menunggu jawaban dari istrinya itu.
"Tiga detik lagi."
Cahaya masih berpikir, antara ngeluarin uang atau ngeluarin ciuman. Sedangkan wanita itu, tidak pernah mencium suaminya itu. Yang ada malah Langit yang sering cium.
"Tiga, dua, sat... " Cahaya memotong ucapan suaminya.
"Okey!" Cahaya menjawab, sambil menutup mata. Dia berharap jika pilihannya itu yang paling tepat.
Langit tersenyum puas, dengan jawaban istrinya.
"Okey apa?" Langit bertanya.
Cahaya memegang pipinya.
"Pilihan yang bagus!" Langit tersenyum licik.
Mobil hitam itu berhenti karena lampu merah. Langit sekali lagi merasa puas karena Tuhan berpihak kepadanya.
"Ayo cepat yang kanan atau yang kiri?" tanya Langit.
"Maksudnya? Sekarang?" tanya Cahaya, seperti orang linglung.
"Iya sekarang, mumpung lampu masih merah nih." Mata Langit fokus sama lampu lalu lintas.
Sedangkan Cahaya masih saja bengong.
"Ya sudah, kalau enggak mau enggak apa-apa bisa bayar sewa."
Cahaya membuang napas kasar, karena ulah sang suami.
"Kesenian!" ucap Cahaya bimbang.
"Apanya, yang kesenian?"
"Itunya?" Cahaya menunjuk pipi suaminya.
Langit segera mendekatkan wajahnya sesuai perintah istrinya. Cahaya masih ragu untuk mencium suaminya itu. Cahaya mulai mendekatkan bibirnya dengan pipi sang suami. Sedangkan Langit sudah tidak sabar lagi, satu detik lagi ciuman itu akan terjadi.
Namun... tin... tin... tin... klakson mobil dari belakang berbunyi memberondong. Karena lampu sudah kuning sadari tadi. Akh ...ciuman itu tidak terjadi, karena Langit harus menjalankan mobilnya kembali.
"WOI... JALAN... " teriak orang yang ada di belakang mobil yang dikemudikan oleh Langit.
"BAKARON LU ENGGAK LIHAT APA LAMPU UDAH GANTI DARI TADI!" Pria itu keluar dari mobil, mau gedor mobil warna hitam yang dikemudikan Langit.
Langit segera melajukan mobil itu dengan kesal. Karena pemilik mobil dibelakangnya memanggilnya BAKARON yang artinya sapi, ditambah tidak jadi dapat ciuman.
Cahaya membuang napas lega. Bibirnya tidak pernah berhenti tersenyum hatinya tidak pernah berhenti mengucap syukur.
Jam menunjukkan pukul enam pagi. Sudah tiga jam Langit mengemudi. Langit memutuskan untuk mengisi bahan bakar. Mobil itu memasuki SPBU. Sambil menunggu giliran Langit bertanya kepada istrinya.
"Mau buang air kecil enggak? Nanti kita enggak mampir lagi. Mungkin sampai di sana kurang lebih jam sembilan."
"Ya sudah kalau begitu, aku akan ngajak si kembar."
Mobil hitam itu maju sedikit, karena mobil yang ada di depannya sudah jalan.
"Makasih, Mas!" Langit membayar kemudian melajukan mobil itu. Mencari tempat parkir yang aman.
Cahaya keluar dari mobil, kemudian membangun si kembar. Langit harus menunggu lima belas menit.
"Hah ...nanti malam sampai rumah jam berapa?" Langit sangat frustasi, karena tidak punya waktu untuk beristirahat sehari sebelum kerja.
Cahaya dan si kembar sudah keluar dari toilet. Mereka berjalan kearah Langit.
"Kita yang gantiin Kang Mas?" tanya Arche menawarkan diri.
"Tidak, kalian gantiin saat kita balik ke Jakarta saja. Kang Mas besok mulai kerja. Jadi ...Kang Mas harus istirahat. Mungkin sampai Jakarta malam lagi."
Mobil itu terus melaju menyusuri jalanan yang ramai. Cahaya merasa bersalah. Wanita itu merasa tidak enak dengan suaminya. Karena suaminya harus ngalah bela-belain ke Semarang hanya karena dia.
"Maaf, Mas!" ucap Cahaya menunduk.
Langit melirik kearah istrinya, pemuda itu tidak tahu kenapa istrinya minta maaf.
"Kenapa?"
"Karena aku, Mas enggak punya waktu untuk istirahat dulu sebelum bekerja." Cahaya menunduk ucapnya tertahan. Wanita itu merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Sudahlah, enggak usah di pikir."
Tiga jam perjalanan mereka telah sampai di Semarang Ibu Kota Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota metropolitan kelima dari Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Mereka langsung ke makam almarhum ibu.
Cahaya berjalan kearah makam ibunya. Dielus nisan yang terbuat dari kayu.
"Assalamu'alaikum, ibu, maaf Bintang baru datang kemari setelah bertahun-tahun. Ibu, Bintang kesini hari ini dengan suami, Bintang! Namanya Mas Langit dia sangat baik. " Cahaya melirik suaminya yang ada di sampingnya.
"Ibu pasti sudah bertemu nenek di sana. Sekarang Bintang sudah punya keluarga baru. Tapi ...keluarga lama telah meninggalkan Bintang ...hanya ayah yang masih bersama Bintang!"
"Tapi tidak apa ibu, karena itu semua Allah yang ngatur ...aku percaya sama Allah melebihi diriku sendiri ...aku bersyukur."
"Karena Allah mengirimkan keluarga baru untukku ...ibu tahu, katanya ayah akan mengunjungi makam ibu." Cahaya menyeka air mata yang terus menetes.
"Sekarang ayah sudah seperti yang dulu ibu. Seperti waktu ibu masih ada. Mungkin Allah! Telah memberi hidayah kepada ayah." Langit mengelus bahu istrinya.
Cahaya masih terus berbicara dengan pusaran ibunya. Hingga tiga puluh menit lamanya. Tapi wanita itu tidak mau diajak balik ke mobil. Langit masih setia menunggu istrinya. Satu jam setengah, Cahaya baru mau diajak kembali ke mobil.
Mereka sudah ada di mobil, pasangan baru itu duduk di kursi penumpang.
"Kita langsung balik, atau kemana? Siapa tahu Teteh, mau lebaran ke kerabat Teteh?" tanya Archer, yang duduk di kursi kemudi.
Cahaya berpikir sejenak. Wanita itu sangat ingin ke rumah kerabat ibunya. Tapi mengingat sang suami besok harus kerja, dia tidak berani mengucapkan, iya.
"Mumpung kita di Semarang loh, Teh!" giliran Arche, yang berucap.
Cahaya menatap wajah suaminya itu. Langit mengerutkan dahi, dia bisa melihat dari tatapan mata Cahaya. Langit menyimpulkan, jika istrinya sangat ingin berkunjung ke rumah kerabatnya.
"Katakan dimana alamatnya kita akan ke sana sekalian." Langit berbicara, sambil menyenderkan kepalanya di kursi mobil.
Cahaya tersenyum dan mengatakan alamat yang akan mereka tuju.
Mobil hitam itu terus melaju membelah jalan. Mereka akan ke rumah buliknya Cahaya. Mereka turun dari mobil berjalan ke rumah berwarna putih.
"Assalamu'alaikum!" Cahaya mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum!" Cahaya mengucapkan salam kembali karena tidak ada sahutan.
"Wa'alaikumussalam!" sahutnya dari dalam rumah.
"Masya Allah, Aya ke sini. Kenapa enggak bilang dulu, ayo masuk."
Mereka dipersilahkan masuk.
Untung saja keluarga Cahaya yang ada di Semarang itu ngumpul satu RT.
"Kenapa namanya Semarang?" tanya Arche yang ingin tahu.
"Semarang berasal dari kata 'Sam' yang berarti pohon asam. Dan kata 'arang' berasal dari kata jarang. Kalau digabungkan menjadi asam yang jarang-jarang." Cahaya menjawab, sambil mengelap keringat yang membasahi pelipisnya.
Bulik sudah kembali, di sana sudah pada ngumpul semua.
"Ini siapa Ay?" tanya pak lik, sambil nunjuk si kembar.
"Ini adiknya suamiku Pak!" jawab Cahaya.
"Maaf ya Ay, kami tidak sempat ke sana saat nenekmu meninggal, kita enggak punya sangu, soale kae yo iring-iringan karo nikahan mu. (kita tidak punya saku, karena waktu itu juga beriringan dengan hari nikah mu)" Budhe nya Cahaya yang berbicara.
"Enggak apa-apa, Dhe." jawab Cahaya tersenyum.
"Wah ...Lia sudah bisa apa?" tanya Cahaya kepada bocah yang dulu membuat suaminya tidak bisa tidur.
"Aku udah bisa duduk Aunty!" jawab ibunya bocah itu.
"Makan dulu Ay!" ucap Bulik, menawari Cahaya makan.
"Oh ...tadi kita sudah makan Bulik!" jawab Langit berbohong.
"Oh ...gitu ya? Gimana Ay sudah ada kabar baik untuk kita?" tanya Bulik.
Cahaya membuang napas pelan. Kenapa pertanyaannya tentang keturunan.
"Mohon doa nya saja, semoga cepat dikasih."
"Kalau suaminya Aya kerja apa atau masih jadi dosen?" Pertanyaan dari pakde kepada Langit.
"Sudah resign jadi dosen, Pakde." Langit menjawab singkat.
"Emmm, sekarang kerja jadi apa?" tanya pakde yang ingin tahu. Apa suaminya keponakannya itu pengangguran.
__ADS_1
"Jadi karyawan kantor!" Langit tidak perlu bilang dia sebagai apa. Meskipun direktur keuangan tetap saja dia adalah karyawan.
"Wah.... " Kata kantor terlalu tinggi menurut pakde.
Cahaya pamit kepada keluarga ibunya itu. Mereka hampir satu jam bertamu.
Mobil hitam itu sudah berjalan lagi.
"Kita kulineran disini yuk, mumpung masih ada di kota Semarang." Arche bicara sambil melihat layar ponselnya.
"Ya sudah, kita cari makan dulu Cher!" Langit menyetujui ucapan adiknya itu.
"Cari dekat perempatan Cher, enak-enak tuh apalagi lesehan." Cahaya memberi ide.
Mobil itu terus berjalan sampai di warung yang Cahaya maksud. Mereka keluar dari mobil. Terik matahari sangat panas, karena jam menunjukkan pukul satu.
"Kang, aku tahu gimal satu ya." ucap Cahaya, memesan makanan untuk dirinya sendiri.
"Siiiiiappp, Yang!" Langit yang mendengar hal itu mendelik. Dia saja tidak pernah manggil istrinya sayang.
"Masnya sama Mbaknya pesan apa?"
"Adanya apa saja, Kang?" tanya Archer antusias.
"Soto Semarang, babat gongso, mie kopyok sama nasi ayam."
"Mie kopyok itu apa?" tanya Archer.
"Bakmi basah dikasih toping daging sapi!" celetuk Cahaya.
"Soto Semarang satu Kang!" Arche memesan, sambil liat layar ponsel.
"Kalau aku babat gongso saja Kang!" Archer berucap, sambil membuka tutup botol.
"Kalau Mas apa?" tanya Akang pedagang.
"Sama kayak istri saya," jawabnya dengan wajah dingin.
"Istri Mas yang mana?"
"Tahu gimal Kang!" jawab Cahaya tersenyum.
"Oh ...istrinya Mas, tahu gimal, Yang?" Akang pedagang itu bertanya kepada Cahaya. Cahaya mengangguk sambil menahan tawa, karena akang pedagang itu. Sedangkan Langit menatap datar pedagang yang kurang ajar dengannya itu.
"Okey, siap ditunggu ya Yang!" Akang pedagang bisa saja bikin Langit muak. Karena panggilan yang akang pedagang buat.
Entah apa artinya YANG itu.
"Dudududu, katanya ada murid baru Cher!"
"Siapa Kak?" tanya Archer ingin tahu.
"Namanya Ken-Zi."
"Cowok?"
Arche mengangguk pelan.
Di sela-sela pembicaraan pesan datang.
"Kalian enggak boleh suka sama cowok ingat masih kecil." Langit tidak suka jika adiknya bahas cowok. Sedangkan si kembar, menelan ludahnya dengan kasar karena ucapan kang masnya.
"Suka itu wajar, jadi enggak bisa dong Masnya ngelarang-ngelarang. Toh umur mereka juga sudah dewasa. Mungkin lebih tepatnya jangan pacaran dulu, gitu." Cahaya berargumen.
Empat jempol untuk Cahaya dari si kembar. Langit ingin emosi dengan jawaban istrinya itu.
"Nanti ini kita sholat dzuhur dulu ya," ajak Cahaya.
"Siap... "
Mobil itu terus melaju hingga sampai di mushola. Mereka melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu, setelah itu akan melanjutkan perjalanannya lagi. Tepat jam dua siang perjalanan itu dimulai. Pasangan baru itu tertidur pulas, karena enam jam lamanya mereka tidak tidur. Archer mengemudi hingga jam lima sore. Setelah itu kak Arche yang menggantikannya mengemudi mobil.
Jam menunjukkan pukul tuju malam. Langit terbangun dari tidurnya. Namun istrinya masih tertidur pulas.
"Sudah bangun Kang Mas?" tanya Arche yang melihat dari kaca spion.
"Hem... "
"Kang Mas, kata ibu, eyang akan kesini."
__ADS_1
"Apa?" tanya Langit terkejut.
"Teh Cahaya, harus nyiapin mental." Archer tersenyum kecut, dara delapan belas tahun itu, sangat kenal dengan eyang mereka.