
Sesampainya di kamar hotel, pemuda itu menjatuhkan istrinya di ranjang. Saat pemuda itu mau berdiri dari ranjang, sepertinya ada yang tersangkut, yang benar saja.
"Tuh kan nyangkut, Masnya sih terlalu terburu-buru." Cahaya menyalahkan suaminya itu. Langit tidak ingin membalas ocehan istrinya itu, lebih baik dia berusaha melepaskan kancing bajunya di kebaya istrinya itu.
Hampir lima belas menit, akhirnya kancing yang menyangkut di kebaya itu terlepas. Pemuda itu membuang
napas kasar
dan berjalan kearah kamar mandi. Cahaya juga mencopot hijabnya terlebih dahulu. Hampir lima belas menit pemuda itu keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju. Saat suaminya sudah keluar. Cahaya langsung masuk kamar dan berganti baju dikamar mandi. Untung kebaya nya sudah dibeli bukan pinjam.
Mereka melaksanakan sholat isya terlebih dahulu. Kini mereka sudah tidur di ranjang, tapi saling membelakangi. Cahaya mulai membalikkan badannya, dilihatnya suaminya tidur membelakangi nya. Cahaya yang ingin tahu apa suaminya itu sudah tidur atau belum. Dia mendekatkan tubuhnya dengan tubuh suaminya itu, belum juga wanita itu melihat suaminya. Pemuda itu membalikkan badannya.
"Ngapain?" tanya Langit, menatap Cahaya. Cahaya yang ditatap tersenyum kaku.
"Jangan sampai kejadian seperti di rumahmu terulang lagi."
Cahaya hanya mengangguk paham, apa boleh kata jika suami sudah berkata. Langit terus menatap Cahaya, wanita yang ditatap itu menyembunyikan wajahnya dibawah guling.
__ADS_1
Di saat bersamamu kerinduanku sedikit terobati. Namun di saat kau jauh, aku semakin merindukan nya. Karena kau adalah obat kerinduanku padanya. Batin Langit.
Perlahan mereka berdua terlelap. Cahaya matahari telah datang untuk menyinari bumi. Pasangan baru itu sudah mandi, sebelum pulang dari hotel. Kedua keluarga itu akan makan bersama terlebih dahulu. Pasangan baru itu sepertinya terlambat untuk makan bersama.
"Maaf kita terlambat," ucap Cahaya sambil duduk.
"Tak masalah kan pengantin baru," ucap Alula.
"Gimana, Lang sudah kan?" tanya Agam Ariaja.
Langit hanya mengangguk, pemuda itu tidak tahu maksudnya apa. Karena pertanyaan Agam Ariaja tidak jelas, maksudnya sudah apa. Pemuda itu tidak suka bicara, jadi mengangguk saja.
"Emang kalau basah kenapa?" tanya gadis berwajah bulat itu. Semua orang terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan dari gadis berwajah bulat itu.
"Aku juga basah, kalian semua juga. Hanya Mbah dan Nenek saja, yang tidak. Mbah sama Nenek kedinginan ya?" tanya gadis berwajah bulat itu.
"Tidak ini tidak kepagian," jawab nek Endah yang membuat semua tertawa. Tapi tidak untuk pemuda itu, dia tidak ikut tertawa.
__ADS_1
"Shampo nya habis, kali, Can!" celetuk Arche.
Pembicaraan itu telah dialihkan dengan pembicaraan yang lain.
"Seminggu lagi puasa, Cut Adik puasa apa?" tanya Black, yang duduk di samping Cahaya. Pemuda keturunan Aceh itu sangat senang jika dekat dengan Cahaya.
"Cantik bilangnya puasa, tapi masuk kulkas dan minum di sana," ucap Archer.
"Itu cerita kamu dulu kali Cher, dicari Ibu sama Bapak kemana-mana. Malah ketemunya didalam kulkas," jawab Arche bikin semua tertawa, tapi tawa paling keras milik gadis berwajah bulat.
"Kak Archer, dosa tau," ucapnya.
Semua telah kembali ke kamar masing-masing.
"Kita langsung ke rumah kakek, Mas?" tanya Cahaya, yang sudah membereskan barang-barangnya. Suaminya hanya mengangguk saja. Semua sudah siap keluarga besar itu sudah keluar dari hotel. Didalam mobil yang ditumpangi oleh pasangan itu tidak ada pembicaraan sama sekali . Mobil itu jalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak terasa akhirnya mobil itu telah memasuki gerbang rumah Raharja. Di ikuti tiga mobil dari belakang juga. Langit yang sudah keluar dari mobil dia membuka bagasi, karena barang istrinya ada di sana.
Mereka sudah masuk rumah itu.
__ADS_1
Sekarang Cahaya dan Langit menaiki tangga, karena kamar pemuda itu ada di lantai dua. Langit membuka kamar itu dan diikuti oleh istrinya dari belakang. Pertama masuk kamar itu Cahaya sangat suka. Wangi harum, warna tembok yang hampir sama dengan hotel, yang mereka pakai tadi malam.
Cahaya berjalan kearah ranjang dan duduk di sana. Dahinya mengkerut saat melihat, kosmetik di meja rias berwarna putih itu.