Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Tidak Dapat Pelukan Ya


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, pemuda itu tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena malam itu dia membuat istrinya menangis. Tidak ada tidur pelukan, yang ada pemuda itu membelakangi istrinya. Cahaya mulai membuka matanya perlahan. Kerutan di dahinya sangat jelas. Karena yang ia lihat pertama kali adalah punggung suaminya, yang membelakangi nya. Langit merasakan ada pergerakan, pemuda itu mulai menutup mata.


Siap-siap weker berbunyi. Batin Langit.


Sepertinya Langit sangat mengenal istrinya itu. Pemuda itu berpikir, jika istrinya marah, si weker akan berbunyi untuk membangunkannya. Seperti waktu pertama pulang ke rumah Raharja. Cahaya mendekatkan bibirnya di telinga suaminya.


"Semoga hari Masnya menyenangkan." Cahaya mengelus kepala suaminya.


Tidak bisa di pungkiri Langit sangat bahagia, karena mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan.


Istri yang sholeh bangun-bangun, mendoakan suaminya. Batin Langit tersenyum.


Cahaya bisa melihat senyuman di bibir suaminya, meskipun tubuh sang suami membelakangi dirinya.


"Kenapa tersenyum?" tanya Cahaya, sambil menggaruk rambut, wanita sangat bingung.


Sedangkan Langit pura-pura tidur dan terus membatin.


Cahaya berjalan kearah kamar mandi, untuk ambil air wudu. Pintu kamar mandi terbuka, Langit segera menutup mata. Pemuda itu berpikir, siapa yang akan membangunkan tidurnya. Suara weker yang berisik atau suara lembut istrinya.


"Mas ayo subuh, nanti telat loh..." Cahaya mengelus pundak yang terbalut kaus hitam.


Langit tersenyum dalam hatinya, kesimpulannya adalah istrinya sudah tidak marah dengannya lagi.


"Ayo karyawan bangun... "


Panggilan karyawan adalah panggilan candaan sang istri kepadanya.


" Hmm... " Langit langsung bangkit kemudian jalan ke kamar mandi.


"Jangan cium tembok." Cahaya tersenyum, karena suaminya selalu mencium tembok biasanya.


Sepertinya pasangan itu sudah saling memahami.


Mereka sholat berjamaah bersama, berdoa entah apa yang mereka minta ke Sang Khalik.


Cahaya mencium tangan suaminya, dan Langit membalasnya dengan ciuman kening.


"Aku ke dapur dulu ya, Mas, bantu mbok. Masnya bisa menyelesaikan tugas kantor mungkin, jika tadi malam belum selesai." Cahaya bicara, sambil melipat mukena. Langit hanya mengangguk pelan.


Cahaya meninggalkan suaminya. Setelah kepergian Cahaya, pemuda itu mengambil laptopnya. Langit tidak bisa me-sia-siakan waktunya.


"Pagi Mbok!"


"Pagi juga Neng!." Mbok Ijah bicara, sambil memotong bawang.


"Di kulkas ada kangkung Mbok?"


"Soalnya masnya, suka makan tumis kangkung sama telur rebus setengah matang." Cahaya sudah tahu kesukaan sang suami.


"Wah... istrinya kang mas, sudah tahu makanan kesukaannya, kang mas!" Mbok Ijah takjub, sangking takjub nya membuat Cahaya meringis, karena pisau yang dibuat motong bawang, diarahkan ke arahnya.


Cahaya tersenyum kaku kombinasi antara ramah dengan ketakutan.


"Huft... " Cahaya membuang napas pelan. Pisau itu sudah ada pada tempatnya.


Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Cahaya sudah kembali ke kamarnya. Di lihatnya sang suami baru selesai mandi.


"Ehem ...Mas aku boleh buka lemari ini?" tanya Cahaya, dia tidak pernah membuka lemari warna hitam itu. Karena tidak ada kuncinya.


"Kuncinya ada di atas lemari." jawab Langit sambil membenahi handuk yang terlilit di bagian pinggangnya.


Kaki Cahaya berjinjit, agar bisa mencari kunci itu. Namun sayang tingginya tidak bisa menggapai atas lemari itu. Cahaya sedikit melompat agar bisa menemukan kunci itu. Namun Cahaya malah menemukan sesuatu yang selalu ia cari. Buku yang bisa menjawab semua pertanyaannya itu. Buku itu hampir mengenai kepalanya. Dengan sigap Langit menarik istrinya.


Buk... suara buku terjatuh mengenai lantai. Sedangkan Cahaya masih memeluk suaminya.


"Ma-makasih." Cahaya menjawab terbata-bata, karena mencium kulit putih suaminya itu.


"Kenapa tadi enggak minta tolong?" tanya Langit mencari kunci itu.


"Udah pendek gingsul lagi," gerutu Langit mengejek istrinya.


Cahaya tidak mau meladeni suaminya, emang benar kok yang suaminya bilang.


Tangan Langit mulai membuka lemari hitam itu. Cahaya sudah tidak sabar untuk melihat isi yang ada di lemari itu. Sedikit demi sedikit lemari itu terbuka. Mata Cahaya menatap dengan berbinar.

__ADS_1


"Waw ...kenapa Masnya enggak pernah memakai jas saat jadi dosen." Cahaya menyentuh jas itu.


"Cuma awal ngajar waktu pertama kali jadi dosen seingat ku." tukasnya lagi.


"Tapi lukisan apa ini?" Cahaya mengambil lukisan, tepatnya ada dibawah lemari . Wanita dengan rambut sebahu itu mulai membalikkan lukisan itu, agar bisa melihat lukisan siapa. Langit menahan napas, hal yang akan membuatnya sesak, karena kesalahan yang dulu ia perbuat.


Cahaya terdiam saat melihat lukisan itu. Sosok wanita berambut panjang, langsing sedang bersanding dengan suaminya. Saling merangkul satu sama lain layaknya orang dekat.


Kenapa wajahnya mirip dengan ku. Batin Cahaya.


"Menteri!" ujar Langit melengos, matanya berkaca-kaca.


Lukisan itu diambil saat mereka menginjak sekolah menengah atas. Cahaya terdiam, sejenak menatap lamat-lamat lukisan itu. Menyentuh bagian wajah pemuda yang tersenyum bahagia. Cahaya menatap suaminya yang tidak memandangnya.


"Mbaknya cantik banget." seru Cahaya, membuat suaminya melengos menghadapnya. Cahaya bisa melihat mata suaminya memerah.


"Kenapa tidak pakai cadar?" tanya Cahaya dengan tersenyum.


Sampai saat itu Cahaya tidak tahu, apa hubungan suaminya dengan Mentari.


Langit menatap lukisan itu teringat masa lalunya. Waktu itu semua masih baik-baik saja. Semua berubah saat mereka memutuskan kuliah di luar Negeri. Langit berpikir karena kesalahannya.


"Dia belum memakai cadar."


"Oh... " Cahaya mengangguk paham.


Cahaya membuang napas pelan. Wanita itu tersenyum kearah lukisan itu dan menaruhnya kembali ke tempatnya.


"Baiklah, Masnya pakai jas warna silver ya?" Cahaya mulai mengambil jas silver itu. Langit hanya diam, semua kalau ada istrinya pasti akan jauh lebih baik.


Cahaya mulai membantu memakai kemeja hitam itu.


"Masnya ke kamar mandi sana buat pakai celana." Cahaya menaruh celana itu di tangan suaminya, kemudian mendorong suaminya agar masuk kamar mandi. Andai saja Langit tidak mengingat Mentari, pasti pemuda itu akan menggoda istrinya untuk vitamin kerja selama delapan jam.


Langit sudah keluar dari kamar mandi. Cahaya sudah siap memakaikan dasi untuknya. Langit masih waspada jika istrinya itu akan lupa, hingga memakan waktu lima belas menit. Hanya untuk pasang dasi.


Di sela-sela memakaikan dasi dileher suaminya. Cahaya mulai memberikan ceramah gratis di pagi hari untuk suaminya.


"Ingat Mas, harus ramah dengan rekan kerja. Enggak boleh dingin." Cahaya berbicara sambil memasang dasi.


Baru dua hari kerja, Langit sudah hapal ceramah istrinya di pagi hari. Pemuda itu berpikir jika dia akan membuat ringtone panggilan ponselnya dengan ceramah istrinya itu. Atau dia bisa memutarnya, saat istrinya mau ceramah biar istrinya mengganti ceramahnya setiap hari.


Langit mulai mengambil tas kerjanya. Saat Langit mau keluar dari kamar. Cahaya mengeluarkan suara lembut.


"Tunggu Mas!" Cahaya berjalan kearah suaminya.


"Untuk tadi malam aku minta maaf, karena membentak Masnya." Wanita itu menunduk.


"Sebenarnya aku enggak... "


"Ssttt... " Langit meletakkan telunjuknya di bibir istrinya.


Cahaya menatap mata suaminya dalam.


"Lupakan Az-zahra, itu bukan cuma kesalahanmu saja. Tapi aku juga ikut andil dalam hal itu."


"Maafkan aku juga." Langit menarik jarinya yang tadi ada di bibir istrinya.


Cahaya mengangguk tersenyum. Langit yang melihat hal itu sangat bahagia.


Tidak afdol jika mau berangkat kerja tidak menggoda istrinya dulu. Langit menundukkan kepalanya. Cahaya mengerutkan dahi apa yang suaminya lakukan. Kenapa wajah suaminya semakin dekat dengan lehernya. Langit tersenyum menyeringai, dia yakin istrinya akan teriak enggak jelas.


Cup.... Langit mencium leher jenjang milik Cahaya.


"MAS!!!!" Wanita itu teriak enggak jelas karena ulah suaminya.


Sedangkan Langit tertawa ngakak, karena berhasil membuat istrinya teriak.


Sambil menuruni anak tangga Langit masih tertawa. Semua orang yang sudah ada di meja makan, mendengar tawa itu. Semua orang saling menatap tidak pernah mendengar tawa itu. Langit terus tertawa sampai meja makan.


"Pagi semua!" sapa pemuda itu, masih dengan tawanya.


Semua orang yang disapa ter bengong. Kakek Raharja juga mendengar sapaan cucunya itu.


"PAGI!" jawabnya semua orang menatap kearah pemuda itu semua.

__ADS_1


Cahaya menuruni anak tangga dengan kesal. Wanita itu sudah duduk di samping suaminya.


"Kenapa mukamu cemberut Nak?" tanya Abidah Aminah kepada menantu idamannya itu.


"Ti-tidak Ibu." Cahaya tersenyum.


Sedangkan suaminya asik makan tumis kangkung dengan lahap. Enggak ada bedanya sama kelinci tidak ada wortel, kangkung pun jadi.


Dasar kelinci berbentuk manusia. Tersedak tahu rasa. Batin Cahaya menatap kesal suaminya itu.


Si kembar yang melihat hal itu saling sikut-menyikut.


Uhuk... uhuk... Langit tersedak, Cahaya langsung menyodorkan minuman dan mengelus pundak suaminya.


Ya Rabb aku enggak bermaksud nyumpahin suami hamba. Kenapa dia tersedak beneran. Cahaya merasa bersalah karena ucapnya tadi.


"Makanlah dengan hati-hati." Cahaya menepuk pundak suaminya. Langit hanya mengangguk.


"Romantis sekali Bapak Dirkeu." Hazel berseru, sambil nyenggol tangan istrinya yang mau masukan makanan ke mulut, sendok yang Alula pegang jadi jatuh. Karena Hazel menyikut tangannya.


"His... kau itu," desis Alula karena ulah suaminya.


"Maaf Yang!" Hazel memberikan sendok sisanya kepada istrinya agar bisa makan.


"Kak Jo kasian sekali." Archer berseru pagi itu Jo juga ada di sana. Si Jomblo itu baru pulang jam dua belas, dari dinas luar Kota.


"Jo sama bu Asya aja." celetuk Hazel.


"Pak Hazel ini ada-ada saja." Jo berbicara sambil makan.


"Jo udah gua bilang jangan panggil gua Pak, gua tahu gua udah jadi bapak. Tapi kalau enggak ngantor jangan Pak lah."


"Daddy Aqis!" Balqis bersuara sambil makan roti tawar.


Cahaya tersenyum karena bocah keriting itu.


"Mana bisa Pak, kan Bapak menantu di rumah ini"


"Masya Allah Jo, jangan panggil Bapak, Jo gua mohon." Hazel menyatukan kedua tangannya.


"Hahaha, itu berarti Kak Hazel sudah tua." Arche tertawa, karena ulah kakak iparnya yang satu itu.


"Udah Kak Jo, panggil kakak ipar Kak Hazel, gitu loh." Archer kalau bilang gitu loh medok banget.


"Sudah makan jangan permasalahkan soal panggilan, Jo bisa manggil keluarga ini seperti si kembar." Pak Khan tidak mau ribet masalah panggilan.


"Baik Pak!"


Mereka keluar mengantar suami mereka.


"Hati-hati Pak!" Abidah Aminah mencium tangan suaminya.


"Hati-hati Yang, aku mencintaimu." Alula mencium pipi suaminya. Dibalas ciuman di kening.


Cahaya menelan ludahnya karena adegan itu.


"Masnya hati-hati, dipermudah kan semua urusannya." Cahaya mencium tangan suaminya.


"Aku nanti ini akan keluar, Masnya mengizinkan enggak?" tanya Cahaya, yang dijawab anggukan kepala.


Jo yang melihat keromantisan tiga pasangan itu. Hanya menahan napas.


"Kak Jo, semangat ya. Semoga dapat jodoh di kantor." Si kembar yang mensupport Jo. Melakukan seperti halnya suami-istri. Mencium tangan Jo dan menepuk pundak Jo biar sabar menanti jodoh.


Sedangkan Jo tersenyum kecut, itu bukan mensuport tapi menghina dengan cara pelan tapi pasti.


Si kembar tertawa ngakak karena wajah Jo.


Mereka berempat mengunakan mobil Jo untuk berangkat ke kantor. Sepertinya mereka benar-benar ingin mengurangi polisi udara di Jakarta.


Langit teringat saat mencium leher istrinya.


Baru aku cium lehernya sudah teriak enggak jelas. Apa katanya waktu itu. "Jika itu, yang bisa menyempurnakan statusku sebagai istri, aku ikhlas Mas!"


Aku rasa itu cuma omong kosong. Dasar Az-zahra. Langit tersenyum samar mengingat ucapan Az-zahra nya itu.

__ADS_1


Shalallaahu ‘ala Muhammad


"(Ya Allah) berikanlah tambahan rahmat-Mu kepada junjungan kami Nabi Muhammad."


__ADS_2