
Masih dalam hari kemenangan. Keluarga Raharja setiap lebaran selalu open house. Dan benar saja, para tetangga sebelah keluar masuk rumah itu.
"Minal aidin wal faizin, Jeng!" ucap tetangga sebelah, dengan keluarga besarnya.
"Minal aidin wal faizin juga, Jeng!" ucap Abidah Aminah.
"Arche, kapan nikah Nak?" tanya pria paruh baya itu.
Arche yang mendengar hal itu ingin menjawab seperti yang orang itu tanya kan, tapi diurungkan— takut jika orang itu ribut sama istrinya.
"Hahaha masih kecil Om, belum ada niatan," jawab Arche tersenyum.
Andai saja aku tanya balik. Aku yakin sampai rumah akan didiamkan istrinya. Om nikah kapan? Om sudah nikah Nak! Maksudnya nikah yang kedua kalinya Om! Aku yakin pasti, istrinya akan marah kayak banteng. Batin Arche, yang ingin tertawa, jika itu benar-benar terjadi.
"Wah ...ini istrinya Langit?" tanya wanita paruh baya satunya kepada Cahaya.
"Iya, Tan!" jawabnya.
"Kapan punya anak?" Cahaya yang mendengar pertanyaan itu gelagapan. Dulu saat belum nikah pertanyaannya kapan nikah, setelah menikah pertanyaan itu sudah ganti.
"Mohon doa nya saja Tan!" jawabnya halus .
Tetangga yang tanya Cahaya sudah pamit. Sepertinya masuk lagi tetangga yang lain.
Archer was-was. Dia takut, jika ada orang bertanya mengenai ketentuan Tuhan.
Kak Arche sudah ditanya kapan nikah. Teh Cahaya ditanya kapan punya anak.
Ya Allah tolong hamba semoga tidak ada yang tanya kapan aku mati. Batin Archer, yang ingat ucapnya saat malam takbiran.
"Archer. "
Archer yang tahu akan ditanya tetangga itu, dia membaca doa semoga bukan tanya kapan mati.
"Kelas berapa kamu Nak?"
Archer membuang napas lega, jawabannya sangat mudah bagi dara delapan belas tahun itu.
"Baru naik kelas tiga, Tan!" jawabnya, sambil mengulas senyuman.
"Lang, ke rumah Agam Ariaja nanti sore saja ya kamu, kita ke rumah istrimu dulu dan rumah Hazel!" ucap bapak, kepada Langit dan orang yang ada di sana.
"Ya sudah sekarang saja Pak, kita berangkatnya." Abidah Aminah.
Keluarga itu keluar dari rumah itu.
"Kang Mas kita ikut ya," ucap Archer.
"Hilih kalian itu sudah dibeliin mobil, masih saja nebeng, jangan mau Kang Mas!" ucap Alula, sambil membuka pintu mobil suaminya.
"Mbak Alula kok gitu, kan kita nebeng Kang Mas kita, ngapain situ yang nyolot." Arche membela adiknya itu.
"Ya sudah kalian masuklah," ucap Langit.
Tiga mobil itu melaju ke rumah Cahaya. Saat lebaran sebelumnya wanita itu akan mengingat ibunya dan lebaran tahun 2006 dia juga harus mengingat nenek. Langit melirik ke arah istrinya yang diam, dengan tatapan kosong.
"Arche! Sekolah masuk kapan?" tanya Langit, memecah keheningan.
"Seminggu lagi," jawabnya sambil fokus pada layar ponsel.
Mobil itu telah sampai di rumah ayahnya Cahaya. Wanita itu tersenyum, karena akan bertemu ayah.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam, Masya Allah! Besan datang!" ucap Brian.
"Masuk! Ayo silakan masuk!" ucap Brian, mempersilahkan keluarga itu.
"Minal aidin wal faizin, Aya minta maaf ya Yah!" ucap wanita itu, memeluk ayahnya sambil berdiri.
"Iya Ay, minal aidin wal faizin. Ayah juga minta maaf sama kamu. Kamu sudah ziarah di makam nenek kan?" tanya ayah, yang tidak mau melepaskan pelukan anaknya.
"Sudah Yah, berapa hari yang lalu. Insya Allah! Nanti malam berangkat ke Semarang, ziarah ke makam ibu sama lebaran ke keluarga Yah!"
"Oh ...Ayah juga setelah lebaran ada proyek di sana, Ayah juga akan ziarah sekalian."
Mereka sudah kumpul di sana. Ibu tiri dan adik tiri baru pulang dari rumah tetangga. Ibu tiri menelan ludahnya dengan kasar saat melihat menantu tirinya itu.
Si*l kenapa suaminya Cahaya begitu menakutkan. Sekarang aku tidak bisa moroti. Batin ibu tiri.
Sedangkan Cahaya memperhatikan raut wajah ibu tiri dan suaminya bergantian.
Aneh. Batin Cahaya.
__ADS_1
"Oh, gimana kabarnya Kang Brian?" tanya pak Khan.
"Alhamdulillah, kalau Kang Khan, gimana lancar kerjaannya?"
"Alhamdulillah dengan izin Allah semua lancar," jawabnya, sambil tersenyum.
"Om Raharja sehat?" tanya Brian.
"Sehat Nak!" jawabnya, Alula yang memberi tahu kakek jadi kakek jawabnya enggak salah.
"Ehm ...yasudah, ya Kang, kami pamit mau puter-puter ke rumah besan dan saudara kami." Pak Khan pamit kepada Brian.
"Terima kasih, untuk kedatangannya Kang Khan sekeluarga," ucapnya sambil berjabat tangan.
"Mari, Om!" ucap Hazel.
Ketiga mobil itu telah meninggalkan rumah Brian. Tujuan selanjutnya ke rumah orang tua Hazel. Mereka sudah duduk di sofa keluarga Hazel.
"Langit, sudah punya istri kalau tidur udah enggak sendirian dong Nak?" Goda om Mario bapaknya Hazel.
Semua yang ada di sana ingin tertawa karena candaan om Mario. Cahaya sangat malu, karena pertanyaan om Mario.
"Enggak usah di tanya lagi, Yah!" ucap Hazel tersenyum menggoda.
"Hahaha, kamu jangan jawab Zel! Aku bertanya kepada temanmu itu," ucapnya lagi.
"Istrinya ayu, Lang, cocok sama kamu!" ucap ibunya Hazel.
"Kang Mas juga ganteng," celetuk Archer.
"Hahaha si Chery kalau ngomong bisa aja."
"Archer, Om bukan Chery!"
"Oh, ya Lang, selamat ya kamu terpilih jadi direktur keuangan. Om harap, kita bisa berkerja sama. Saat Burhan yang jadi dirut keuangan, hem... " ucap om Mario menggeleng.
"Makasih Om, aku harap semoga kedepannya perusahaan bisa lebih maju lagi," ucap Langit.
"Mar, kita pamit dulu ya, takut ada tamu yang nunggu di rumah. Kita bertemu di kantor," ucapnya, sambil memeluk rekan bisnisnya itu.
Langit memutuskan untuk langsung ke rumah Agam Ariaja.
"Zel, kau ke rumah papi enggak? Kita akan ke sana sekarang!" ucap Langit.
"Ya, sudah kita ngikut Kang Mas saja, Yang! Kasian Balqis kalau sore diajak jalan. Mumpung masih siang."
Kedua mobil itu melaju ke rumah Agam Ariaja. Karena satu mobil tidak ikut ke sana.
Dering telepon milik Cahaya berbunyi. Wanita itu meminta izin suaminya untuk mengangkatnya. Pemuda itu hanya mengangguk menyetujui.
"Wa'alaikumussalam,"
"Minal aidin wal faizin, my bestest!"
"Kembali Bri, kapan ke Jakarta?"
"Tanya mulu, kangen ya? Sama Senja?"
"Dasar Sanjo, kangen nampol, iya!' Cahaya tertawa ngakak.
Langit yang mendengar nama Sanjo melirik kearah istrinya.
"Ehemm... " Pemuda itu berdeham.
"Gatel ya Mas, tenggorokannya?" tanya Cahaya pelan, sambil menutupi ponselnya. Agar yang di sana, tidak mendengar. Langit hanya diam tak menjawab.
Sedangkan orang yang duduk di kursi penumpang men celetuk.
"Cher, lu cemburu?" tanya Arche, kepada adiknya.
"Ehem ...tenggorokan gatel Kak!" ujar Archer, yang ikut permainan kode-kodean dengan kakaknya.
"Oh ...kirain lu cemburu sama... " ucapnya tak diselesaikan.
"Hahahaha." Si kembar ketawa ngakak.
Sedangkan pasangan baru itu, tahu jika si kembar sedang nyindir mereka.
"Sudah, dulu ya bri, gua udah mau bertamu ke rumah orang soalnya." Cahaya mengakhiri panggilan itu.
Mobil itu memasuki gerbang rumah Agam Ariaja. Mereka keluar dari mobil itu. Di ikutin mobil Hazel, yang ada di belakang.
Mereka berenam berjalan memasuki rumah berwarna gold itu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum!" ucap si kembar serempak.
"Wa'alaikumussalam," jawab Black.
"Mari masuk, Bang, Teh Cahaya, Mbak, Kak Hazel ayo... " ucap Black.
"Kak, kedatangan kita tak di harapkan," ucap Archer, yang dijawab anggukan.
"Mohon maaf, siapa ya?" tanya Black, sambil tersenyum.
"Saya, ibu guru yang ngajar kamu Nak! Yang pernah kamu sentil dengan karet saat saya nulis di papan tulis." Arche menyeringai.
"Si*l, lu masih ingat sama cerita yang gua ceritain aja. Ayo masuk sudah ditunggu ahli surga di dalam." Black menyuruh mereka masuk.
Mereka sudah ada di dalam rumah Agam Ariaja. Saling minta maaf kemudian berpelukan.
"Teh, Black minta maaf ya?"
"Sama Black, aku juga."
"Bang, aku boleh peluk Teh Cahaya enggak?" tanya Black, kepada Langit.
Pemuda itu mengangguk pelan menyetujui.
Black langsung memeluk Cahaya dengan sangat erat.
Terkadang adakalanya takdir itu sangat indah. Seperti saat ini contohnya, aku bisa merasakan kedatangan orang yang pernah ada. Meski raga berbeda, tapi Tuhan mengizinkan aku merasakan kedatangan teteh. Makasih ya Rabb. Batin Black.
Black melepaskan pelukan itu.
"Menang banyak Tam!" celetuk Archer.
Black tertawa mendengar ucapan Archer.
"Akak!!!! " teriak gadis berwajah bulat memenuhi ruangan itu. Gadis itu baru selesai makan yang ke-dua kalinya.
"Hay... " Cahaya sudah siap-siap, jika gadis itu memeluknya. Dan benar saja! Gadis itu langsung memeluk Cahaya.
"Aku kira Akak, tidak ke sini. Minal aidin wal faizin Akak!" gadis itu mencium tangan Cahaya.
"Iya sayang, minal aidin wal faizin kembali sayang!" ucap Cahaya, sambil mengelus kepala Cantik.
Gadis berwajah bulat itu memutari orang-orang yang ada di sana. Mencium tangan dan bilang minal aidin wal faizin maafin Cantik.
"Ndut, enggak mau ikut kami ke rumah kakek?" tanya Archer.
"Boleh enggak Mi?" tanya gadis itu, sambil mengedipkan mata.
"Lebaran jadi enggak boleh. Nanti malam kita ke sana sayang!"
"Yahhhhh... " Cantik.
"Kapan ke Yogyakarta Black?" tanya Hazel.
"Sepuluh hari lagi Kak!" jawabnya.
"Sudah siap belum jauh dari Papi sama Mami?" tanya Alula.
"Siap enggak siap, Mbak! Kalau sudah dijalani juga pasti terlewati," ucapnya tertawa.
"Intinya jangan gunakan, kejauhan mu dengan orang tua, sebagai kebebasan mu, Black! Ingat kuliah untuk masa depan."
"Iya Bang, siap kau adalah panutan ku!"
"Jaga kesehatan, karena di sana tidak ada yang ngurus kamu. Kalau dekat orang tua kan enak. Bisa minta tolong, kalau di sana mau minta tolong sama temen pasti sungkan."
"Iya Teh, do'akan saja," jawabnya.
"Ya sudah kita pamit Om, Tante, Black.
Cantik, ditunggu kedatangannya ke rumah mbah Raharja, sayang!" ucap Alula.
"Terima kasih kedatangannya untuk kalian semua," ucap Agam Ariaja, sambil berjabat tangan.
Kedua mobil itu telah meninggalkan rumah Agam Ariaja satu menit yang lalu. Di dalam mobil silver itu. Cahaya ketiduran, karena tadi malam tidak bisa tidur. Langit melirik istrinya yang tertidur pulas.
"Kalian kan udah punya SIM, Kang Mas ingin mengajak kalian ke Semarang. Buat ziarah ke makam ibunya Teh Cahaya!"
Si kembar bahagia mendengar hal itu. Sudah lama mereka tidak pergi jauh.
"Kapan, Kang Mas?" tanya Archer.
"Jam tiga pagi kita berangkat, sampai sana mungkin kurang lebih jam delapan pagi. jadi kembali lagi ke Jakarta malam," ujarnya, sambil membuang napas kasar.
__ADS_1