
Langit menggenggam tangan istrinya. Dua satpam penjaga kantor itupun melihat. Dirkeu perusahaan itu berjalan, sambil menggandeng tangan, wanita berambut sebahu.
"Apa itu istrinya pak Dirkeu?" tanya satpam, yang ada di sebelah kanan pintu.
"Sepertinya begitu, jarang-jarang pak Dirkeu tersenyum selebar itu. Saat karyawan kantor menyapa dia hanya mengangguk, dan tersenyum kadang kalanya," ujar satpam, di sebelah kiri.
Cahaya pagi itu bisa merasakan kesejukan menikmati dunia. Karena biasanya wanita itu selalu di dapur kafe setiap harinya.
"Apa kau senang?" Langit bertanya, sambil menatap istri gingsulnya itu.
"Aku berpikir, hari ini akan istirahat di rumah. Tapi hari ini aku bisa merefresh otaku sambil menemanimu kerja." Cahaya menjawab, sambil memandang bangunan lantai tiga dua.
"Sepertinya kau perlu refreshing," gumamnya pelan, membuat Cahaya tidak mendengar.
Pasangan itu berjalan menuju kearah pintu perusahaan itu.
"Pagi Pak! Bu!" sapa kedua satpam itu, kepada pasangan itu.
"Pagi!" jawab Langit, sedangkan Cahaya mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu mereka pun berjalan meninggalkan satpam itu. Baru juga pasangan itu menginjakan kakinya ke dalam perusahaan itu. Semua karyawan yang ada di ruangan itu riuh. Karena Dirkeu PT. Jaya Karya, bergandengan tangan dengan wanita.
Hastag trending topik. pak Arkana bawa istrinya ke kantor. Sudah sampai lantai paling atas.
"Apa itu istrinya Pak Dirkeu?" tanya kepala divisi pengembangan produk.
"Iya, mungkin tapi kayaknya umurnya dibawah kita deh," celetuk seorang perempuan dari divisi promosi.
"Masih muda, mungkin nikahnya nikah muda kali ya? Istilahnya! Cantik sudah segitu," ujar yang satunya lagi.
"Mungkin umur dua puluh tahun saat nikah, jadi masih muda sudah jadi ibu. Pak Arkana saja, masih muda. Tua aku malahan!" ujar karyawan satunya lagi.
"Tapi aku iri banget sama pasangan ini itu. Kok ada ya, ganteng sama cantik, aku ngelihatnya itu kayak sempurna gitu. Udah gitu kaya lagi, kenapa takdir tak adil," ujarnya karyawan itu.
Sepertinya karyawan itu cuma melihat dari satu sudut pandang saja. Padahal ia tidak tahu menahu, apa ujian Tuhan, untuk pasangan itu. Dilihatnya mereka emang pasangan sempurna, ganteng sama cantik. Ditambah lagi harta yang Tuhan, kasih untuk pasangan itu. Plus jabatan yang Langit pegang saat itu. Tapi apa mereka tahu, jika pasangan itu juga diuji dengan sesuatu hal.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Ta-Ha 20: Ayat 131)
Bisa jadi kesenangan dan kelebihan yang Allah kasih ke sebagian orang, itu bukan anugrah tapi boleh jadi itu disebut istidraj. Istidraj disini seumpama, 'dia yang tidak pernah melaksanakan kewajiban dari Allah. Tapi hidupnya enak-enak saja. Sedangkan orang yang taat terkadang Allah malah mengujinya. Ujian bagi orang taat itu, boleh jadi Allah ingin dekat kepada hambaNya.
Cahaya sangat risih, karena semua karyawan yang jalan di dekatnya pada melihat kearahnya.
"Masnya, kenapa semua menatap ku?" tanya Cahaya, berbisik kepada suaminya.
Langit yang mendengar hal itu, hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian merengkuh tubuh istrinya itu.
"Kau, bertanya padaku, mana aku tahu. Aku bukan peramal." Langit berbisik ke telinga istrinya, sambil memberikan candaan. Agar sang istri merasa nyaman.
Cahaya tersenyum, karena suaminya jarang bercanda.
Semua karyawan yang ada di lantai bawah itu, ingin menjerit, karena kelakuan pasangan itu. Karena pasangan itu berprilaku layak ABG yang baru kencan.
"Pagi Pak Arkana! Dan Bu Arkana!" sapa karyawan yang pagi itu, baru saja menggunjing pasangan itu.
"Iya!" Langit menjawab, sambil mengangguk. Sedangkan Cahaya mengerutkan dahi. Karena seluruh karyawan memanggil suaminya dengan nama lain.
Pasangan itu melewati resepsionis.
"Pagi, Pak, Bu!" sapa resepsionis itu.
Langit hanya mengangguk saja.
__ADS_1
OH ...itu ibunya si wajah bulat ternyata. Kenapa wajahnya masih muda. Batin resepsionis itu.
Saat mereka sudah masuk lift. Seluruh karyawan berkumpul.
"Kenapa istrinya pak Dirkeu, judes sekali. Masa kita sapa enggak senyum," ujar karyawan itu.
"Sombong, banget kayaknya." Karyawan satunya menimpali.
"Iya, buat apa cantik tapi sombong." Karyawan dari divisi promosi.
"Meskipun sombong, pak Dirkeu tetep aja pilih jadi bininya"
Semua karyawan itu terlalu mudah berspekulasi, tentang seseorang. Terkadang saat kita membeli makanan, kita saja harus meneliti tanggal eks payetnya. Apalagi, menilai seseorang, kita diharuskan untuk kenal terlebih dahulu, baru bisa menilai. Itupun kalau benar penilaiannya!
Bagaimana Cahaya bisa tersenyum dan membalas sapaan dari karyawan itu. Jika otaknya saja loading, wanita itu masih memikirkan nama panggilan suaminya itu.
Di dalam lift mereka hanya berdua saja.
"Kenapa semua karyawan, memanggilmu dengan nama depan mu?" Cahaya mendongak untuk melihat wajah suaminya.
"Ya! Semua teman kuliah dulu, memanggilku dengan panggilan Arkana! Aku juga menerapkan hal itu untuk di kantor."
"Oh ...aku kira!"
"Kau kira apa?" Langit ingin tahu.
"Ku kira Masnya, ingin menyembunyikan statusnya, Mas. Kebanyakan orang berdasi, menyembunyikan statusnya. Agar bisa main dibelakang istrinya." Cahaya bicara sangat santai, tepi tidak menatap wajah suaminya itu.
Langit yang mendengar hal itu dia terkejut. Bagaimana mungkin istrinya berpikiran seperti itu, sangat cetek (negatif).
"Seluruh orang tahu, kalau aku sudah punya keluarga. Lihat saja, seluruh karyawan menyapa mu. Menggunakan namaku, yang ada karyawan tahunnya. Kalau aku sudah punya anak." Langit tidak terima jika istrinya, menyamakannya dengan pria yang hobi gonta-ganti cewek.
"Kok bisa?"
"Kau tidak mendengar, tadi Cantik bilang apa. Saat ada di depan ibu-ibu yang ada di sekolah Cantik tadi?"
Cahaya berpikir keras, akh— wanita berambut sebahu itu, sudah mengingat.
"Tapi enggak ada asap kalau enggak ada api."
"Ada apinya, si bulat."
"Emang apa yang Cantik lakuin?" tanya Cahaya ingin tahu.
"Dia, bikin masalah dia bilang ke seluruh orang jika aku adalah bapaknya."
"Kok bisa?"
"Waktu itu untuk yang pertama kali, dia masuk ke kantor ini. Waktu itu dia bertanya kepada resepsionis. Dimana Pisky?"
"Terus."
"Sudahlah, males aku menjelaskan. Intinya adalah karena dia memanggilku Pisky, jadi karyawan beranggapan jika dia anakku." Langit mengusap wajahnya kasar.
Mereka pun akhirnya keluar lift. Langit
membuka pintu itu. Cahaya sudah masuk ke dalam ruangan pribadi suaminya itu. Wanita itu menatap ke seluruh ruangan berwarna putih dan flint. Kombinasi yang cocok menurut Cahaya. Langit menutup pintu ruangan kerjanya itu.
"WOWWWW!" Cahaya berlari kearah dinding kaca. Mata wanita itu, menatap penuh kesan. Saat melihat keindahan Kota Jakarta dari atas gedung itu.
"Kita ada di lantai berapa Mas?" tanya Cahaya, persis seperti Cantik saat itu pikir Langit.
__ADS_1
Wanita itu, waktu di lift tidak melihat, saat suaminya menekankan tombol tiga satu.
"Tiga satu," jawabnya, sambil berjalan kearah istrinya, kemudian berdiri di samping istrinya itu.
"Aku berfikir, pemandangan malam jauh lebih bagus. Rembulan yang indah bintang yang beredar sesuai garis edarnya. Nikmat, Mas!" Cahaya menatap suaminya.
Langit berpikir, jika istrinya itu sangat berbeda dengan wanita lain. Jika yang lain lebih suka, ke mall, kafe atau bioskop. Istrinya itu berbeda, cukup diajak menikmati keindahan dunia sudah dibilang nikmat. Pemuda itu harus bersyukur karena Tuhan, memberikan istri seperti Cahaya. Yang tidak banyak pengeluaran, apa yang Langit kasih pasti Cahaya terima. Itulah salah satu poin plus dari Cahaya.
"Apa dulu kau juga suka menikmati alam?" Langit bertanya, pemuda itu malah bicara sama istrinya. Lupa masalah kerjaan kantor.
"Tentu."
"Alasannya?"
"Kita bisa merasakan kekuasaan Tuhan, kita bisa merasakan dekat dengan Tuhan. Apa lagi, saat kita menikmatinya sendirian. Disitulah aku terkadang bicara kepadaNya. Menyelipkan sebuah doa, tak jarang aku bertanya kepada Allah. Tentang takdirku, kenapa Tuhan menuliskan takdirku seperti ini. Aku tahu, aku tidak akan mendapatkan jawaban dari langit. Tapi Tuhan, Dia menjawab dengan caraNya sendiri. Misalnya saja, Allah membuat kita mengerti melalui, pemikiran kita. Yaitu dengan cara khusnudzon. Oh ...mungkin ini yang terbaik untukku."
Langit mengangguk pelan.
"Tapi, tak jarang terkadang kita juga selalu menyalahkan takdir. Di saat kita emosi, tak bisa menjaga ***** untuk marah. Terkadang aku menyesal setelah aku sadar, jika yang aku lakukan itu salah." Cahaya mencurahkan apa yang ia rasakan.
Kau kehilangan semua itu saat kau sedang datang bulan. Kau terlalu sensitif, benar-benar. Aku tidak tahu, apa pagi ini kau akan marah atau tidak. Melihatmu tadi saat bahas dress, saja sudah mau naik pitam. Langit membatin.
Pemuda itu sudah duduk sudah siap bekerja, ditemani istri gingsulnya itu.
Cahaya berdiri di samping suaminya, yang sedang mempelajari dokumen.
"Aku pikir, setelah kuliah dulu akan melamar kerjaan. Enggak tahunya, kuliah belum kelar, malah aku yang dilamar, jadi menantu di rumah kakek." Cahaya bicara, sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
Langit yang mendengar hal itu, mengalihkan pandangannya yang semula ke dokumen. Kemudian mendongak untuk melihat wajah istrinya.
"Apa kau, menyesal?" tanya Langit.
"Tidak ada sedikitpun, aku hanya bercerita saja. Kenapa Masnya bertanya seperti itu, apa Mas meragukan ku?" tanya Cahaya, dengan nada tak bersahabat.
Langit menelan ludahnya dengan kasar. Sepertinya pemuda itu harus sabar, menghadapi istrinya yang sensitif.
Baru juga bicara tentang khusnudzon, kenapa sekarang jadi suudzon kepada suaminya, sendiri. Sepertinya setan sudah menutup matanya. Batin Langit.
"Cuma bercanda, kau tidak lelah berdiri mulu?" Langit mengalihkan pembicaraan.
"Emang enggak boleh, aku berdiri di dekatmu, apa kamu keberatan. Jangan-jangan Masnya, bosen sama aku ya?" tanya Cahaya, yang membuat Langit mengerutkan dahi. Kenapa istrinya itu sangat menyebalkan, saat kedatangan tamu bulanan, mungkin itu yang ada di pikiran pemuda itu.
"Terserah kamu, mikirnya seperti apa," jawab Langit, yang sudah muak dengan sifat istrinya, yang menurutnya labil.
Cahaya sangat kesal, karena jawaban yang Langit lontarkan.
"Tuh kan, Masnya sudah bosen, sama aku, masa baru satu jam bersamaku, sudah bosen." Cahaya bicara, dengan mata yang berkaca-kaca.
Langit yang mendengar hal itu, menjambak rambutnya dengan kasar.
"Aku tahu, kau sedang kedatangan tamu bulanan. Tapi bisa enggak, kamu itu jangan terlalu sensitif. Aku itu lelah, kalau kamu bersikap kayak anak labil. Kamu itu sudah dewasa. Please, don't confuse me!" Langit berdiri, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Cahaya yang tidak pernah mendengar Langit memohon seperti itu, dia menundukkan kepalanya.
Sebenarnya apa yang terjadi padaku, kenapa aku selalu terpancing emosi. Bukannya perkataan mas, itu biasa saja, lantas mengapa aku selalu mengartikan hal yang mas, katakan ini negatif. Sulit sekali menahan hawa *****, saat sedang kedatangan tamu bulanan. Hatiku menolak untuk menyudutkan mas, sedangkan mulutku tidak bisa di kontrol, agar tidak menyakiti hatinya. Batin Cahaya, sambil menundukkan kepalanya. Wanita itu, dipermainkan oleh dirinya sendiri. Mulutnya menghayati hatinya.
Tok... tok...
Ketukan pintu itu membuat kedua orang itu menatap kearah pintu.
Orang itu akan membuat Cahaya marah besar.
__ADS_1