
Tiga hari setelah kepergian nenek. Cahaya telah kembali ke rumah suaminya.
Hari itu adalah puasa pertama Cahaya di rumah suaminya. Tanggal 1 Ramadhan 1427 Hijriah bertepatan dengan Sabtu 23 September 2006 Masehi.
Wanita itu sedang berberes menaruh bajunya ke lemari. Dahinya mengkerut saat melihat dalam lemari baju, berwarna putih itu.
Kenapa semua warna bajunya sama semua. Batin Cahaya.
Lemari itu berisikan baju yang terlipat rapi, namun warnanya semua sama. Tapi wanita itu, tidak tahu isi lemari satunya lagi.
"Ante atsu!" Cahaya membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Di lihatlah bocah cilik yang berlari kearahnya.
"Balqis!" Cahaya menyamakan tinggi badannya dengan bocah itu.
"Oom atsu mana? Oom atsu!"
"Om, Balqis?" tanya Cahaya, yang dijawab anggukan kepala.
"Om lagi mandi," jawab Cahaya.
"Om Arka apa om Langit?" tanya Cahaya, sambil memasukkan bajunya di lemari.
"Oooo Alka!" jawab Balqis.
"Om Langit apa om Arka?"
"Oom Angit!"
"Om atsu, udah kelual," seru Balqis saat melihat, Langit keluar dari kamar mandi. Pemuda itu sudah rapi dengan pakaian santai.
"Enggak kemana-mana kan Mas?" tanya Cahaya. Langit hanya mengangguk sebagai jawaban, Cahaya sangat kesal dibuatnya.
"Balqis kamu tahu agar Oom suka bicara?" tanya Cahaya.
"Makan!" jawab Balqis, karena bocah itu akan banyak bicara setelah makan.
"Kan puasa enggak boleh makan, sayang!"
Entah sampai kapan hubungan kita begini terus, aku saja belum pernah melihat senyum masnya, aku akan berusaha agar hubungan ini lebih baik. Batin Cahaya.
Jarum jam jalan begitu cepat, semua keluarga Raharja sudah bersiap berbuka. Sambil menunggu para wanita menyiapkan menu berbuka Hazel berbisik ditelinga Langit.
"Lang, apa kau sudah melakukan sesuatu?" Langit hanya diam, adik iparnya itu emang suka ghibah.
"Maksudnya, sama istrimu," ucapnya lagi, Hazel tahu bagaimana sifat Langit itu. Langit masih diam tak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
"Jangan gitu Lang, semua orang itu mempunyai kesalahan tapi bukan berarti kita larut dalam penyesalan. Menyesal boleh, tapi jangan menghukum orang lain atas kesalahan yang kita perbuat dulu. Kasian istrimu itu, mempunyai suami pendiam." Hazel terus saja mengoceh, dia adalah salah satu orang yang tahu persis cerita kakak iparnya serta temannya itu.
Hazel melanjutkan ucapnya kembali. "Kamu emang pendiam dari dulu, tapi diam mu yang sekarang itu, berbeda dengan diam mu yang dulu. Diam mu yang dulu karena emang kamu tidak suka banyak bicara, tapi diam mu yang sekarang karena sebuah kesalahan. Tapi ingat itu semua telah berkahir, dia juga sudah memaafkan bukan?"
Apa ini saatnya pemuda itu harus bangkit dari rasa keterpurukannya, rasa bersalahnya.
"Tak semudah yang kau kira," jawab Langit.
"Perlahan saja, pasti bisa." Hazel menepuk bahu Langit.
Entah kesalahan apa yang pemuda itu perbuat waktu dulu.
...Allaahu Akbar, Allaahu Akbar...
Suara adzan maghrib berkumandang. Keluarga itu mulai membuka puasanya dengan berdoa. Ada rasa sedih ada rasa senang di hati wanita berambut sebahu itu. Sedih jika teringat sang nenek yang sudah meninggalkan dia, senang karena dia menemukan keluarga baru.
"MAKAN yang banyak biar besok bisa puasa LAGai," celetuk Archer, dengan suara besar yang dibuat-buat.
"Minum yang banyak biar besok tidak kehausan." Si Arche, menirukan gaya bicara adiknya itu.
"Jangan lupa makan yang manis biar tambah manis." Hazel ikut candaan keduanya.
"Jangan terlalu manis, takut diabetes," ucap Alula.
"Balqis kamu makan apa?" tanya Cahaya, yang melihat bocah itu keluyuran.
"Wawung Ante!" jawabnya.
"Waduh ...itu kurma, wee Mal itu kur-ma bukan WA-WUNG," ucap Archer ngegas.
Mungkin saja Balqis beranggapan jika kurma adalah hewan wawung. Karena bentuknya emang hampir sama.
"Sudah Cher, kan masih kecil. Nanti kau juga tahu rasanya punya anak," celetuk Hazel. Archer bergidik ngeri saat kakak iparnya bilang anak.
"Masih muda, ya kali anak 18 tahun mau nikah. Astagfirullah, astaghfirullah. Nauzubillah masih lama Kak, lima tahun lagi lah. Masa pernikahan dina." Archer sangat takut jika bahas nikah, dara delapan belas tahun itu tidak pernah berpikir nikah muda.
"DINI!" celetuk Arche.
Langit, Abidah Aminah, pak Khan, kakek serta Cahaya hanya sebagai pendengar saja.
Keluarga itu sholat tarawih di masjid dekat rumahnya. Sesekali keluarga itu menyapa tetangganya. Cahaya jalan beriringan dengan suaminya.
"SAHUR... sahur!" Archer berucap saat jalan kearah masjid.
"Heh, belum saatnya," ucap Arche menoyor kepala adiknya.
__ADS_1
"Kalian bisa diam enggak?" tanya Langit, yang berbalik badan agar bisa lihat si kembar. Si kembar menundukkan kepalanya dan tak berucap lagi.
Sholat tarawih telah selesai, jama'ah telah kembali ke rumah masing-masing.
Sekarang pasangan baru itu sudah ada di kamar. Lagi-lagi mereka tidur saling membelakangi. Langit teringat ucapan Hazel saat tadi menunggu berbuka.
Cahaya teringat neneknya, bagaimana mungkin itu terjadi dengan cepat.
"Apa kau punya tujuan hidup?" tanya Langit yang masih membelakangi istrinya. Cahaya sangat kaget, tak seperti biasanya sang suami mengajak bicara saat mau tidur.
"Ada," jawab Cahaya yang sudah membalikkan badannya, disaat itu pula Langit juga membalikkan badannya. Pertama kali mereka saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, seperti itu. Sedetik kemudian mereka sadar dengan apa yang terjadi. Keduanya memilih menatap langit-langit kamar berwarna kuning keemasan.
"Apa?" tanya Langit, tak melirik istrinya sama sekali.
"Aku ingin lima tahun lagi, punya sebuah toko, lalu aku ingin punya karyawan yang istimewa," jawab Cahaya, yang membayangkan apa yang, ia khayal kan.
Dahi Langit mengkerut apa maksud kata 'istimewa'
"Istimewa?"
"Iya, jika kebanyakan orang mencari karyawan yang multitalent, tapi beda denganku. Aku ingin mempunyai karyawan yang mempunyai keistimewaan, tapi semangatnya tak kalah dengan orang pada umumnya"
Langit mencoba mencerna jawaban istrinya.
"Maksudnya?"
"Orang yang punya keterbatasan fisik."
"Kenapa?" tanya Langit, pemuda itu mulai teringat apa yang Hazel bilang. Tidak sepantasnya dia menghukum orang yang ada di dekatnya. Mungkin saja orang itu butuh berbincang dengan dia, membagi cerita dengannya.
"Aku berpikir jika mereka juga berhak mendapatkan apa yang orang lain dapatkan, contohnya pekerjaan. Mereka punya mimpi punya ambisi dalam hidup. Terkadang mereka juga ingin menunjukan bahwa mereka bisa, mereka sanggup."
"Tapi... " ucapnya dipotong Cahaya.
"Mas, tidak ada kata tapi. Bukannya Tuhan itu menciptakan kita dengan kelebihan serta kekurangannya. Contohnya saja kita dikasih mata bisa membaca, dan Tuhan nyiptain orang buta. Apa kekurangan orang yang punya mata, dan apa kelebihan orang buat itu?" tanya Cahaya melirik kearah suaminya. Langit diam, cara berpikir istrinya emang beda dengan cara berpikirnya.
"Kenapa kita yang punya mata bisa baca, tapi tidak hapal Al-quran. Dan kenapa pula orang yang buta bisa hapal Al-quran. Itulah kekurangan dan kelebihannya Mas, disaat ada kelebihan pasti ada kekurangan. Dan disaat ada kekurangan pasti ada banyak kelebihan. Tuhan sudah menyeatting semuanya."
Langit sangat tertegun dengan jawaban istrinya. Kenapa istrinya punya pemikiran sejauh itu.
"Mas sampai kapan?" tanya Cahaya.
Langit tahu apa yang dimaksud istrinya itu.
"Sebentar lagi, kau akan tahu."
__ADS_1