
Suara adzan subuh berkumandang. Sepertinya ketiga orang itu masih pulas tertidur. Lima menit kemudian, mata wanita berambut sebahu itu mulai terbuka.
"Hoam!" Cahaya menguap, bagaimana tidak. Dia dan suaminya baru tidur jam dua belas.
Cahaya menatap, Cantik kemudian suaminya, yang sedang memeluk gadis berwajah bulat itu.
"Mas, bangun telat subuh nanti," ujar Cahaya, yang masih tidur di ranjang.
Namun pemuda itu, tidak merespon panggilan dari sang istri.
"Mas, sudah telat lima menit," ujarnya, sambil membelai rambut hitam suaminya dengan tangan kiri. Karena tangan kanannya di buat guling Cantik.
"Hmmm?" Langit menatap istrinya, kemudian matanya terpejam kembali.
"Subuh, setelah itu mandi. Nanti harus gantian sama Cantik! Kerjakan ku bertambah lagi, mengurus kamu sama Cantik. Pagi ini aku harus masak, ibu sakit. Jadi— aku harus cepat turun bantu, mbok sama mbak Al!" Pagi itu Langit, harus mendengar ocehan istrinya. Yang membacakan agenda yang harus Cahaya lakukan.
"Hmm!"
Langit mulai membuka selimut, kemudian berjalan kearah kamar mandi. Saat Langit kedalam kamar mandi, Cahaya berusaha melepaskan tangan kanannya, yang dibuat guling, gadis berwajah bulat itu. Cahaya melakukan perlahan. Agar tidak membangunkan gadis itu.
Langit keluar dari kamar mandi. Cahaya menatap suaminya dengan wajah yang lebih segar.
"Jangan lupa, dua rakaat sebelum subuh, lebih baik daripada dunia dan seisi nya," ujar Cahaya, mengingatkan suaminya.
"Makasih, sudah diingatkan. Kau sangat perhatian," ujarnya tersenyum menggoda.
"Masih pagi juga, udah gombal. Lelaki yang baik tidak akan mengobral gombalan." Cahaya bicara, sambil memunguti bantal yang suaminya buang.
"Barang siapa yang bisa membuat hati istrinya senang surga baginya. Dan aku termasuk lelaki seperti itu, karena menggombali istrinya sendiri. Ha-Lal!"
Pagi-pagi Cahaya harus mendapatkan gombalan dari suaminya itu.
"Dan barang siapa yang tidak segera melaksanakan sholat, maka neraka baginya." Langit yang mendengar ucapan istrinya, segera mengambil sajadah. Dan langsung melaksanakan shalat sunat dua rakaat sebelum subuh,
Dua raka'at fajar (salat sunah qobliyah subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)
Cahaya menggelengkan kepalanya, karena melihat suaminya yang langsung sholat. Wanita berambut sebahu itu, keluar dari kamar tidur. Cahaya akan ke dapur.
Cahaya menutup pintu kamar itu perlahan. Wanita itu, menuruni anak tangga. Belum juga sampai lantai bawah, Cahaya dikejutkan dengan suara seseorang yang membuat Cahaya membuang napas.
"Eh ...Baby sister, tak dibayar sudah bangun? Ya maklum orang belum mengandung, entah kau mengandung atau tidak," sinis eyang, tersenyum mengejek.
Sepertinya eyang kangen ngejudge Cahaya, karena mereka memang baru bertemu pagi itu.
Cahaya benar-benar sangat kesal, dengan nenek tua itu. Bagaimana tidak, jika pagi-pagi udah di sindir seperti itu.
"Sepuluh bulan lagi, terserah kamu. Mau cerai atau mau jadi yang tua." Tersenyum miring.
Cahaya sangat sesak, karena perkataan eyang. Wanita itu, sekuat tenaga harus menahan emosi yang ada di dalam dadanya.
"Eyang, mau aku mengandung anaknya cucu, Eyang! Doang kan?" tanya Cahaya, sedikit tersenyum. Hanya untuk menutupi rasa emosinya.
"Ya! Aku ingin kau memberikan keturunan untuk keluarga ini. Itupun kalau kau bisa," ujar eyang, dengan nada mengejek.
"Sebentar lagi, Eyang akan mendapatkan kabar bahagia itu," jawab Cahaya, dengan santai.
Tidak dengan hatinya, hatinya sangat hancur.
Eyang yang mendengar hal itu, merasa takut jika Cahaya akan segera hamil.
Kalau si kampung ini hamil, rencana menjadikan Asya menantu akan gagal. Aku harus melakukan sesuatu. Batin eyang.
Nenek tua itu benar-benar ngeselin, katanya nyuruh Cahaya ngasih keturunan. Saat Cahaya jawab seperti itu, nenek tua itu malah ingin merencanakan sesuatu.
"Baiklah, Eyang, aku ke dapur dulu." Cahaya meninggalkan eyang.
Cahaya mengelap matanya, yang menetes membasahi pipi. Bagaimana pun, ucapan eyang itu benar-benar pedas.
"Pagi Ay!" Alula menyapa.
__ADS_1
Cahaya mengalihkan pandangannya, yang semula menunduk kearah suara itu.
"Pagi, sendirian Mbak? Mbok Ijah kemana Mbak?" tanya Cahaya.
"Mbok, juga sakit seperti ibu. Jadi hari ini kita berdua yang masak Ay! Kita harus cepat Ay!" ujar Alula.
Cahaya mengangguk paham. Kedua wanita itu sangat kewalahan, karena jam hampir setengah enam. Harusnya jam segitu mereka sudah menyiapkan makanan di meja. Tapi berbeda dengan pagi itu.
Lelaki itu tak sengaja melewati dapur.
"Pagi istriku dan Kakak ipar," ujar Hazel, menyapa dari ujung pintu dapur.
"Poga-pagi ini sudah siang, kita belum menyelesaikan kerjaan kita. Pergilah jika hanya bicara saja," usir Alula, kepada suaminya itu.
Hazel menelan ludahnya dengan kasar, karena istrinya memarahinya. Sedangkan Cahaya ingin tertawa, karena muka Hazel yang masam.
Hazel pun meninggalkan dapur, lelaki itu menaiki anak tangga, sambil bergumam dalam hatinya.
Alula kalau kedatangan tamu bulanan, enggak ada bedanya sama macan ngamuk. Untung datangnya bulanan, coba saja, kalau datangnya mingguan. Jadinya tamu mingguan, ya kali gua harus dapat amuk tiap minggu. Bisa-bisa stress dadakan. Batin Hazel.
Tok... tok... tok...
Hazel mengetuk pintu.
Langit pagi itu sudah mandi dan sudah memakai kemeja putih. Telinganya mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Iya!" Langit membuka pintu kamar itu,.
"Lang, mau enggak dapat surga?" tanya Hazel, sambil menyengir kuda.
Langit mengerutkan dahi, kenapa adik iparnya bertanya seperti itu.
"Yang benar Zel, ini masih pagi loh, mau ngelawak Zel?" tanya Langit, sambil memasang dasi. Pemuda itu, tidak mau ngerepotin istrinya untuk pagi itu.
"Enggak lah, sebagai adik ipar sekaligus teman yang baik. Kalau aku dapat surga kau juga harus mendapatkan surga," jawabnya Hazel, membuat Langit menghentikan acara pasang dasi.
"Apa?" Langit juga ingin tahu.
"Apa maksudnya?" Langit tidak mengerti, apa yang Hazel maksud.
Hazel membisikan sesuatu di telinga Langit.
"Gimana, Lang? Tadi malam sebelum aku tidur aku dengar ceramah seperti itu. Katanya dapat pahala, lah istilahnya pahala itukan voucher agar masuk surga. Jadi kita ngumpulin voucher dahulu, agar masuk surga. Satu voucher sebelum kerja, untuk pagi ini Lang. Mau tidak?" tawaran Hazel sangat menggiurkan.
Langit berpikir sejenak, masalah surga tidak bisa di duakan bagi Langit.
"Okey!" Langit menutup pintu kamarnya dahulu. Meninggalkan Cantik yang masih tertidur.
Keduanya menuruni anak tangga dengan cepat. Apalagi Langit, dia menuruni anak tangga sambil memakai dasi. Mereka sudah ada di bagian dapur. Hazel dan Langit saling tatap.
"Kau dulu Zel," ujar Langit.
Hazel mendekatkan tubuhnya kearah pintu dapur, untuk mengintip situasi. Aman atau tidak. Jangan sampai kejadian Hazel di marahin Alula terulang lagi.
"Aman enggak nih Lang?" Hazel bertanya, sambil memegangi gagang pintu. Matanya menatap Alula yang sedang masak.
Tubuh Langit tidak sengaja menatap tubuh Hazel. Hal itu membuat Hazel terdorong. Pintu yang tadinya sedikit tertutup jadi terbuka.
Brak! Suara benturan pintu bagian kiri menatap tembok.
Kedua wanita yang sedang fokus masak itu, terperanjat karena suara keras itu.
"Zialan," desis Hazel, sambil memijat batang hidungnya, karena terbentur pintu yang buat dia mengintip.
"Kalian ngapain?" tanya Alula, tangan kirinya berkacak pinggang. Sedangkan yang kanan memegang pisau, tepat mengarahkan kearah Hazel.
Hazel pagi itu sangat apes, pagi-pagi diomelin istri, hidung sakit terbentur pintu ditambah pisau yang mengarah kearahnya.
"Masnya, juga ngapain berdiri di situ?" tanya Cahaya, sedikit bingung.
__ADS_1
"Cari ke sunahan," jawabnya, sambil jalan kearah istrinya.
Cahaya dan Alula saling tatap, apa maksudnya mencari ke sunatan?.
"Apa yang, harus kita lakukan?" tanya Langit. Hazel sudah berdiri di samping Langit.
Cahaya dan Alula saling tatap kembali. Apa maksud perkataan pemuda itu.
"Maksudnya?" Cahaya dan Alula bertanya serempak.
"Ya membantu kalian masak, kata Hazel membantu istrinya masak adalah masuk kategori ke sunatan. Karena waktu itu Nabi, juga pernah melakukannya, jadi ini termasuk sunah Rasulullah. Jadi kita akan membantu kalian. Bukan begitu Hazel?" tanya Langit, menatap Hazel sambil memainkan pisau ditangan kirinya.
Hazel mengangguk, karena itu yang ia bisikan kepada Langit. Yaitu membantu istri di dapur. Jadi kalau suami nganggur enggak ada kerjaan bilang saja.' Bi, apa Abi pingin dapat voucher masuk surga?' Jika suami mengangguk bilang begini. 'Bantu Umi, di dapur, ya Bi. Dulu Rasulullah juga pernah melakukannya'. Bisa di coba!
"Baiklah, kalau gitu kita mulai siap?" Alula memberi aba-aba, sudah seperti mau lomba lari saja.
"Baiklah kita bagi tugas, oke?" ujar Cahaya.
Ketiga orang itu mengangguk serempak.
"Mbak Al, goreng ikan. Kak Hazel potong kangkung. Dan Masnya, potong cabe, bawang buat tumis kangkung." Cahaya membagi kerajaan itu, sesuai kemampuan.
"HAULACALANG!" Mereka menyatukan telapak tangan mereka. Layaknya mau menyelesaikan misi anti korupsi. Korupsi yang paling parah bukan, korupsi uang. Melainkan korupsi lisan, jika baik dikurangi. Namun jika buruk ditambahin nya enggak setengah-setengah, full combo.
Mereka pun sudah siap menjadi tim memasak. Langit melipat lengan tangannya dahulu, sebelum memotong, cabe dan bawang.
"Masnya, nanti bajunya kotor. Pakai celemek dulu," ujarnya Cahaya, sambil melepaskan celemek dari badannya.
Langit menatap istrinya, kenapa istrinya itu sangat perhatian pikir Langit. Cahaya pun membantu untuk memakaikan celemek itu ke tubuh suaminya.
"Apa terlalu, kencang?" Cahaya bertanya, sambil mengikatkan tali celemek di bagian belakang
Langit menggelengkan kepalanya. Sedangkan Hazel melihat seperti orang iri.
"Yang, apa kamu enggak mau, gitu ngasih celemek mu untuk suamimu ini?" Hazel menatap punggung istrinya,
yang sedang menggoreng ikan.
Alula membalikkan badannya untuk melihat suaminya itu, sebelum menjawab. "Yang, aku mau saja memberikan celemek ku ini padamu, tapi yang jadi masalahnya Yang! Perutmu itu buncit, kalau di celemekin gambar hello kitty yang ada kayak badut. Beda sama Kang Mas perutnya sudah kayak susunan batu."
Hazel menatap tidak percaya, jika istrinya itu bicara terus terang, di hadapan pasangan yang baru dua bulan nikah itu.
Langit menggelengkan kepalanya, karena melihat rumah tangga adiknya juga, tak jauh beda dengannya dan istrinya.
"Lang, sekarang perutmu masih seperti, susunan batu. Lihat saja nanti kalau sudah punya anak, pasti kayak bakpao yang maju ke depan." Hazel bicara sambil memotong kangkung.
"Kenapa kau nyumpahin begitu. Makanya olahraga jangan cuman makan," ujar Langit tidak terima.
"Kebanyakan emang gitu Lang, ini enggak berlaku sama lelaki, perempuan juga."
"Apa maksudnya? Aku gendut gitu?" tanya Alula, sambil membenturkan spatula di depan meja.
"Yang kalau PMS, itu bisa enggak sih enggak sensitif?" tanya Hazel lembut.
Langit yang mendengar hal itu bergumam dalam hatinya.
Enggak ada bedanya, si Al. Sama kakak iparnya(Cahaya), sama-sama nyeremin. Sepertinya nasibku sama Hazel hari ini sama. Batin Langit.
"Kau tau, Zel? Kakak ipar mu kalau sedang kedatangan tamu, lebih parah," ujar Langit, berbisik di telinga Hazel. Tapi tangan pemuda itu, mengupas bawang merah dengan pisau.
"Emang ada yang lebih parah dari adikmu itu Lang?" tanya Hazel pelan.
Kedua orang itu takut jika para istrinya mendengar bisa gawat.
"Tadi malam, aku harus masakin mie. Bayangin Zel, mata ngantuk suruh masakin mie! Tapi imbalannya besar Zel!" Langit sudah ganti mengupas bawang putih.
"Imbalan, enak sekali. Emang apa imbalannya?" tanya Hazel.
"Disuapin Zel! Maklum dia enggak bisa romantis."
__ADS_1
"Syukur Lang, karena belum ada anak. Kalau sudah ada anak, susah cari waktu berduaan."