Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Jawaban Lima Menit


__ADS_3

Pemuda itu keluar dari mobil. Langit berjalan kearah kantor dimana ayahnya juga bekerja di sana. Tertulis PT. Jaya Karya.


"Maaf Bu, saya mau bertemu dengan pak Dirut!" ucapnya.


"Tunggu dulu ya Pak, Bapak bisa duduk di sana dahulu." Resepsionis itu menyuruh Langit untuk duduk di kursi.


Hampir lima belas menit, akhirnya pemuda itu bisa ke ruangan ayahnya.


"Duduk dulu Lang, Bapak ingin berbicara sesuatu kepada kamu, Nak!" ucap pak Khan.


Pemuda itu duduk di depan kursi kerja ayahnya.


"Begini Lang, masa jabatan pak Burhan sebagai direktur keuangan sudah lima tahun. Dan dia sepertinya tidak berminat untuk menjabat sebagai direktur keuangan lagi. Apa kau tidak mau menjadi direktur keuangan?" tanya pak Khan.


Pemuda itu dia belum menjawab pertanyaan dari ayahnya.


"Cuman lima tahun saja loh Lang, ayolah, kamu sekolah jauh-jauh. Bapak turuti masa kamu enggak bisa menurut sama Bapak! Ya meskipun kamu dapat beasiswa. Ini kesempatan bagus Lang. Aku berpikir jika kau yang menjadi direktur keuangan, dengan izin Tuhan, keuangan kantor ini, bisa lebih baik."


Langit masih terdiam.


"Bapak aku sudah menjadi dosen." Langit menjawabnya dengan singkat.


"Makanya, Bapak kasih tahu sekarang, biar kamu bisa resign dari kampus. Toh juga masa jabatan pak Burhan masih satu bulan lagi. Jika kamu resign sekarang, Bapak rasa itu hal tepat."


"Bapak aku menjadi dosen itu hanya ingin mengabdi." Langit selalu menjawab dengan singkat.


"Iya Lang, Bapak tahu itu. Tapi ayolah Lang. Hanya kamu saat ini anak lelaki Bapak. Hazel juga sudah di Direktur personalia." Pak Khan, bersi kukuh. Agar anaknya mau, melakukan apa yang ia katakan.

__ADS_1


Direktur personalia adalah orang yang bertugas mengembangkan sistem perencanaan personalia serta mengendalikan suatu kebijakan untuk para pegawai. Selain itu direktur personalia juga melayani kebutuhan administrasi pegawainya dan melaksanakan pembinaan untuk pengembangan staff administrasi.


"Baiklah!" Pak Khan tersenyum puas, mendengar jawaban anaknya itu.


Langit pergi dari ruangan ayahnya satu detik yang lalu. Pemuda itu akan keluar dari lift tapi ada orang yang menabraknya.


"Maaf, Pak!" Perempuan itu meminta maaf kepada Langit. Langit hanya diam tidak menjawab permintaan maaf dari wanita itu. Pemuda itu lebih memilih meninggalkan perempuan yang menabraknya itu.


Tampan banget, tapi sayang sekali sombongnya minta ampun. Tapi kok aku enggak pernah lihat ya. Batin perempuan yang memiliki tubuh seksi itu.


Pemuda itu mengemudi kan mobil dengan kecepatan rata-rata.


Pemuda itu telah sampai di rumahnya, tak ada orang diruang keluarga. Langit memutuskan untuk ke atas. Perlahan dia membuka pintu kamarnya, dilihatnya istrinya sedang tertidur dengan keponakan dan gadis keturunan Aceh.


Pemuda itu memutuskan untuk mengganti bajunya, terlebih dahulu.


Cahaya mulai membuka matanya, wanita itu berjalan kearah kamar mandi. Akan tetapi pintunya terkunci, hal itu membuat wanita itu bingung.


Langit duduk di ranjang di samping Balqis, takut jika keponakannya jatuh.


"Sejak kapan, Mas pulang?" tanya Cahaya, berdiri di depan suaminya.


Sepertinya wanita yang ada didepannya itu sudah mau bicara lagi seperti biasa. Namun pemuda itu tidak mau menjawab, karena tidak penting juga, pikir Langit. Berbeda dengan sang suami, istrinya masih setia menunggu. Cahaya tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban.


Ku diamkan balik, tahu rasa. Tapi aku juga takut dosa. Batin Cahaya yang kesal dengan ulah suaminya.


Pintu kamar ada yang mengetuk, Cahaya membuka pintu itu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Arche.

__ADS_1


"Ada apa Ar?" tanya Cahaya, dara delapan belas tahun itu menyodorkan uang seratus ribu, sebanyak empat lembar. Cahaya tahu itu uang Arche dan Archer. Mereka benar-benar ikut patungan.


"Oh ...baiklah." Cahaya menerima uang itu dan kembali menutupinya lagi.


Langit baru ingat jika dia belum memberi uang bulanan kepada istrinya. Wanita itu juga tidak meminta kepadanya. Langit mulai membuka laci yang ada di sampingnya.


Langit berjalan kearah istrinya itu. Sebelum berkata. "Uang untuk satu bulan, aku harap ini cukup. Karena kamu tidak perlu, membeli bahan dapur. Karena semua kebutuhan dapur sudah dari kakek. Aku ingin istriku bisa memenej uang dengan baik, dan untuk make-up yang ada di meja rias itu untukmu, aku membelinya satu minggu yang lalu, " ucap Langit memberi amplop coklat kepada Cahaya. Cahaya terdiam saat suaminya menjelaskan tentang kosmetik, yang membuat dia bertengkar dengan suaminya.


Cahaya mulai membuka amplop itu.


"Sembilan juta?" tanya Cahaya.


Mungkin tahun 2006 uang sembilan juta bisa jadi dua kali lipat di tahun mendatang.


"Apa kurang?" tanyanya, sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.


"Tentu saja tidak, jika semua bahan dapur dari kakek, dan make-up itu bisa sampai tiga bulanan. Lantas buat apa uang ini?" tanya Cahaya, pemuda itu berpikir apa istrinya itu bodoh.


"Kau bisa membeli kebutuhanmu, jika kau tak perlu, kau bisa membuat modal usaha kecil-kecilan atau mungkin bisa berinvestasi." Cahaya mengangguk paham, dia bisa menilai bahwa suaminya itu orang yang tidak suka foya-foya.


"Oh ya Mas, tadi Black bercerita jika dia ingin kuliah jurusan fotografi, tapi papi menyuruh dia mengambil jurusan akuntansi." Cahaya bercerita tentang Black. Langit terdiam, dia berpikir jika nasibnya hampir sama dengan pemuda keturunan Aceh. Pagi itu pak Khan juga memintanya untuk menjadi direktur keuangan dan meninggalkan profesinya sebagai dosen. Cahaya menunggu jawaban dari suaminya, sudah hampir lima menit suaminya tidak angkat bicara. Wanita itu ingin keluar tapi suaminya membuka suara.


"Dia bisa mengambil jurusan yang berbeda bukan, mungkin jika S1 jurusan akuntansi dan S2 pindah jurusan menjadi fotografi."


Cahaya menepuk dahi, kenapa dia tidak ke pikiran sampai ke situ. Gadis berwajah bulat saja tahu.


"Oh ...benar juga kata si Cantik!" Langit mengerutkan dahi, kenapa gadis berwajah bulat itu dibawa-bawa. Sedangkan gadis berwajah bulat itu saja masih tertidur lelap di samping Balqis.

__ADS_1


"Begini Mas, tadi Cantik bilang seperti apa yang tadi Masnya bilang, katanya si Black disuruh kuliah di foto kopi setelah kuliah di jurusan akutansi. HAHAHAHA!" Cahaya tertawa, karena teringat ucapan gadis berwajah bulat itu. Bagaimana mungkin fotografi jadi foto kopi.


"Sstt!" Langit menyuruh Cahaya diam.


__ADS_2