
Tiga hari berlalu, Langit baru keluar dari kamar mandi.
"Mas, kepalaku sakit lagi." Cahaya mengadu.
"Ya sudah, sebelum kerja. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Buat cek up, sebenarnya kau itu mempunyai penyakit apa? Kau selalu mengeluh disaat waktu-waktu tertentu." Langit bicara, tapi pemuda itu memikirkan sesuatu.
"Enggak mau, Mas!" Cahaya menggeleng cepat, dia enggak mau ke dokter.
Langit tersenyum karena istrinya takut, jika dia bilang dokter.
"Kalau kamu, enggak mau. Kita enggak tahu, kenapa penyebab. Kau sering sakit kepala."
"Enggak apa-apa, enggak tahu juga enggak masalah. Aku enggak akan ngeluh lagi." Cahaya entah kenapa dia takut, jika bilang dokter.
"Yasudah, aku tinggal keluar kota. Kamu disini, sendirian. Kata Jo, seminggu lagi kita akan berangkat!" Langit, menakut-nakuti istrinya. Dia tahu istrinya, akan bersedih jika pemuda itu jauh.
Cahaya yang mendengar hal itu dia duduk di ranjang, sambil menundukkan dalam.
"Setelah aku ganti baju, kita berangkat!" Langit meninggalkan istrinya itu.
Cahaya mulai berpikir, gimana agar suaminya itu tidak memintanya untuk itu ke rumah sakit.
"Aku akan pura-pura, tertidur!" Cahaya mulai merebahkan badannya. Wanita itu menyelimuti sekujur tubuhnya.
Langit baru keluar, dia menatap ke seluruh ruangan. Tapi tidak menemukan istrinya, matanya tertuju kearah ranjang. Pemuda itu menghela napas dalam-dalam, istrinya itu bertingkah seperti anak kecil saja.
"Aku tahu kau pura-pura tidur!" Langit menaruh tangannya di pinggang. Pemuda itu selalu menggeleng karena ulah si gingsul.
Cahaya yang ada di dalam selimut, wanita itu memejamkan matanya rapat-rapat.
Langit berjalan kearah istrinya, dan menarik paksa selimut yang menyelimuti tubuh istrinya itu.
Wanita itu masih kekeh pura-pura tidur. Tapi tidak Langit, namanya jika tidak punya banyak ide-ide. Untuk membangunkan istrinya itu.
Pemuda itu mengangkat tubuh istrinya dari ranjang. Sedangkan Cahaya, wanita masih memejamkan matanya.
Langit berjalan kearah pintu keluar. Saat langkanya sudah ada diambang pintu, pemuda itu angkat bicara.
"Apa kau tak malu, saat aku menggendong mu di depan semua keluarga. Untuk pagi ini?" tanyanya, sambil menatap wajah istrinya yang disembunyikan di dadanya. Langit mulai melihat mata istrinya, yang mulai terbuka perlahan.
Cahaya memasang wajah sebal, karena suaminya selalu memiliki cara agar dia patut.
"Turunkan aku," ujarnya, dengan bibir yang membentuk kerucut.
Langit pun menurunkan istrinya dengan cepat. Pemuda itu tersenyum simpul.
Cahaya yang sudah turun dari gendongan. Wanita itu ingin balik ke dalam kamar. Tapi saat mau masuk, suaminya menjinjing kerah bajunya.
Pemuda itu berkata kepada sang istri. "Mau kemana?" tanyanya mengintimidasi.
Cahaya membalikkan badannya, dan menghadap suaminya. Wanita sangat jengah dengan suaminya. Kenapa suaminya itu, tidak membiarkan dia lari.
"Aku mau ambil tas," kilah Cahaya.
"Buat apa?"
"Buat apa saja!" jawab Cahaya dengan nada sebal.
"Tak perlu, nanti aku yang bayar. Kau tidak perlu bayar!"
"Aku tahu, itu kewajiban mu menanggung kebutuhanku." Cahaya ngedumel.
"Aku mau ke kamar mandi dulu." Cahaya benar-benar ingin menghindari untuk mengunjungi dokter.
"Dibawah ada!"
Cahaya menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Sudah ayo." Langit menarik tangan istrinya.
Setelah sampai di bawah, mereka bejalan kearah meja makan.
"Pagi semua!" sapa pemuda itu, sambil duduk. Sedangkan Cahaya masih berdiri di samping suaminya.
"Pagi!" jawab si kembar.
"Ay, kenapa rambutmu acak-acak kan?" tanya Alula, terkekeh, yang membuat semua keluarga menatap Cahaya. Cahaya terang ditatap dia hanya diam, sambil melirik suaminya.
Hazel orang yang paling nyebelin akan mengangkat suara. "Aku tau pasti Langit yang melakukan." Cahaya mengangguk membenarkan.
Sedangkan orang di sana menahan tawanya. Tidak dengan eyang, nenek tua itu tidak senang sepertinya. Sedangkan si kembar tidak ikut tersenyum, karena mereka tidak suka jika membahas hubungan orang dewasa.
Langit yang melihat semua keluarga tertawa dia angkat bicara. "Kalian salah paham."
"Iya benar!" Cahaya menyahut datar, sebelum berucap kembali. "Dia terus saja memaksaku, agar mau diajak ke rumah sakit."
Semua keluarga terdiam, entah apa yang ada di pikiran keluarga itu.
"Karena itu, aku tidak sempat menyisir rambut ku."
Semua keluarga mengangguk. Kompak sekali! Cahaya berpikir apa mereka dulunya pernah menjadi anggota paskibraka.
"Cher! Mana roti yang kau beli. Kau tidak pernah menawari ku," ujar Arche disela-sela sarapan pagi.
"Jangankan Kakak, aku yang membelinya saja tidak pernah kebagian." Archer bicara, sambil menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Maksudnya?" Arche bertanya, sambil memasukkan sosial panjang ke mulut.
"Setiap kali, aku mengeceknya di dalam kulkas. Roti itu sudah enggak ada." Archer sepertinya orang berfikir sesuatu.
"Kak Hazel, pasti Kakak yang memakannya. Ya kan?" tuduh Archer kepada Hazel.
Hazel tersedak karena tuduhan yang Archer berikan.
"Orang menyebutnya, roti nawar!" Arche men-celetuk.
"Roti tawar, kalik!" Alula membenarkan.
"Roti tawar menawar, itu yang benar!" Arche terkekeh.
"Tapi aku heran, katanya roti tawar. Tapi saat ditawar, kenapa penjaga toko bilang . Maaf kak, harganya sudah pas! Aneh enggak sih? Kayak enggak, komitmen dengan namanya gitu. Harusnya namanya bukan roti tawar, tapi roti harga pas!" Archer bicara, membuat semua orang tertawa. Tidak dengan wanita berambut sebahu itu, Cahaya tidak tertawa. Entah kenapa, wanita diam.
"Terus kalau tidak, Kak Hazel siapa dong? Masa sih, aku yang beli tapi aku enggak pernah ngerasain. Enggak cuma sekali, aku sudah tiga hari membeli roti itu. Tapi roti itu selalu hilang tidak berbekas, padahal isinya sepuluh lembar loh."
Langit yang mendengar hal itu, dia teringat dengan bungkus plastik roti yang selalu ada di atas meja dekat sofa. Pemuda ini melirik istrinya, yang sedang meremas ujung baju.
Apa dia, yang memakannya. Tapi, itu sepuluh lembar roti. Tidak mungkin dia bisa menghabiskan roti, sebanyak itu. Aku saja dua lembar sudah kenyang.
Cahaya yang merasa dilihatin suaminya. Wanita itu, menatap balik suaminya dengan wajah melas.
"Ehem ... sorry Cher! Sebenarnya yang makan rotimu adalah—" Langit berbicara membuat Cahaya, menggeleng. Wanita itu akan malu jika sang suami. Menyebutkan namanya.
"Kang Mas!" ujar Langit tersenyum kaku.
"Kang Mas!!!" Archer terkejut dengan pengakuan yang kang masnya, ucapkan.
Cahaya yang mendengar hal itu, wanita itu tersenyum. Karena dia tidak perlu menanggung malu.
Sepertinya pemuda itu, sangat sayang kepada istrinya itu. Lihat saja, pemuda itu rela menanggung malu hanya menyelamatkan istrinya.
"Sejak kapan, kau mulai belajar nyuri Lang?" tanya Hazel bercanda.
Langit yang mendengar candaan adik iparnya itu melotot.
Sedangkan Cahaya, wanita itu merasa tersindir dengan perkataan Hazel.
__ADS_1
"Baiklah, berapa harga rotinya? Kang Mas akan ganti dengan, uang saja ya?" tanya Langit kepada sang adik.
"Kang Mas, rotinya sudah diganti nama. Namanya bukan roti tawar, tapi roti harga pas!" Archer memberi tahu, dara delapan belas tahun itu takut. Jika kang masnya akan nawar.
"Hmmm!" Langit mengangguk.
"25.000!" jawab Archer tersenyum.
"Bohong, harganya cuma 20.000!" Arche bersuara.
"Kakak diam lah, yang lima ribu itu ongkirnya, aku ke toko juga butuh bensin!" Archer tidak terima karena saudara kembarnya. Mengatakan harga yang sebenarnya.
Pemuda itu mengambil uang, dalam dompet. Kemudian memberikan uang warna merah ke adiknya.
Langit berbicara. "Kembaliannya buat jajan!"
Archer tersenyum karena dapat lebihan.
"Namanya sudah gati, enggak roti tawar, roti harga pas. Tapi sudah ganti roti riba," cibir Arche yang duduk di samping saudaranya itu.
"Iri aja, kau Kak! Kasian enggak dikasih uang jajan wekkk!" Archer menjulurkan lidahnya, sebagai tanda ejek kan.
"Kang Mas, Archer dikasih masa aku enggak. Aku juga sama seperti Archer statusnya." Arche merajuk kepada kang masnya.
Pemuda itu menyodorkan uang warna biru kepada Arche. Dara delapan belas tahun itu, segera mengambil uang biru itu.
"Lah, kok Kakak dapat banyak. Kang Mas kok enggak adil sama aku!" Archer.
"Seratus ribu sama lima puluh ribu banyakan mana?" tanya Langit kepada Archer.
"Ya seratus lah, Kang Mas!" jawabnya.
"Terus?" tanya Langit, yang membuat semua tertawa.
"Maksudnya enggak gitu, Kang Mas! Tetap saja—" Pak Khan segera memotong ucapan anaknya. "Adik makan, jangan debat. Nanti telat!"
Archer yang mendengar hal itu, dia terdiam. Sedangkan Arche, terkekeh.
"Makanya, jangan riba. Masih kecil juga pakai acara riba segala. Udah gitu riba nya, sama keluarga sendiri," cibir Arche, puas. Karena bisa mencibir kepadanya itu.
Setelah sarapan pagi, mereka sudah siap untuk menjalankan tugasnya masing-masing.
"Aku akan ke kantor, setelah pulang dari rumah sakit Pak! Karena hari ini, jadwalnya enggak terlalu padat. Jadi Bapak, bisa berangkat dulu."
Langit bicara seraya bangkit dari duduknya. Karena biasanya pak Khan, akan berangkat dengan anaknya itu.
"Kasian, Bapak! Mendingan, Masnya berangkat sama Bapak saja. Kita enggak usah ke rumah sakit, aku enggak apa-apa!" Cahaya tahu saja, di mana dia harus melancarkan aksinya.
"Tidak! Ini akal-akalan mu saja kan? Agar enggak jadi ke rumah sakit!" Langit menatap istrinya.
"Ayo!" Pemuda itu, menarik tangan istrinya.
"Lang, istrinya jangan ditarik-tarik," teriak kakek Raharja, yang tidak suka jika cucunya berlaku kasar dengan wanita.
Padahal pemuda itu, narik nya enggak keras juga. Tapi kakek, melihat ini seakan cucunya itu melakukan kekerasan terhadap cucu menantunya itu.
Setelah pasangan itu hilang dari pandangan mereka. Alula angkat bicara. "Kok aku ngerasa, Aya sangat beda dari biasanya. Seperti ada yang berubah dengan sikapnya!" Alula bicara takut.
"Ibu, juga ngerasa gitu Al, dia selalu telat saat ke dapur. Terus seperti orang males, gitu." Abidah Aminah berpendapat.
"Makanya kalau punya mantu, jangan di manja. Sekarang enggak tahu dirikan!" Eyang tersenyum karena orang menjelekkan Cahaya.
"Tapi, aku rasa itu bukan kemauan kakak ipar. Sepertinya ada sesuatu yang mengubahnya," bela Hazel. Lelaki itu sangat yakin, jika perubahan yang ada pada Cahaya hanya sementara. Tidak permanen.
"Aku rasa gitu Yang." Alula menyetujui ucapan Hazel.
"Sudahlah, do'akan saja semoga Aya, yang dulu cepat kembali!" Abidah Aminah bicara sambil berjalan kearah dapur.
__ADS_1