
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Semua murid pada keluar, karena waktunya pulang. Gadis berwajah bulat itu nampak bahagia entah karena apa.
"Daaa Nana!" Gadis itu melambaikan tangan kearah teman sebangku nya itu.
"Daaa, Cantik aku pulang dulu." Nana membalas lambaian tangan gadis itu.
Cantik berjalan kearah gerbang sekolah.
"Pak! Tolong sebrang kan aku." Gadis itu meminta tolong kepada lelaki paruh baya itu.
"Ayo, cantik Bapak sebrang kan." Lelaki paruh baya itu menggandeng tangan gadis itu.
"Bapak, tahu namaku dari mana?" Gadis itu mendongakkan kepala, agar melihat wajah lelaki paruh baya itu.
Lelaki paruh baya itu pun bingung. Maka lelaki itu memutuskan untuk bertanya. "Emang namanya siapa?" tanya lelaki paruh baya itu.
"Namaku Cantik!" Gadis itu memberi tahu namanya.
Lelaki paruh baya itu mengangguk saja.
"Makasih ya, Pak! Semoga Bapak sehat selalu." Gadis itu mendoakan lelaki paruh baya itu.
Lelaki paruh baya itu terharu, karena setiap kali membantu menyebarang kan jalan untuk gadis berwajah bulat itu. Pasti Cantik selalu mendoakan dia.
"Kenapa kamu selalu mendoakan Bapak? Agar selalu sehat." Lelaki paruh baya itu ingin tahu. Lelaki paruh baya itu, tidak pernah menemukan murid yang seperti Cantik, yang sangat baik pikirnya.
"Kalau Bapak sehat, kan ada yang bantu Cantik untuk menyebrang."
Ternyata gadis berwajah bulat itu, berdoa demi dirinya sendiri. Gadis itu takut dicium mobil enakan juga dicium om Dosennya itu.
Lelaki paruh baya itu tersenyum, karena jawaban gadis itu.
Cantik berjalan kearah satpam yang berdiri di pintu kantor.
"Pagi, Pam Pak satpam!" Gadis itu menyapa kedua satpam itu.
"Pagi, cari papi ya?" tanya satpam itu, sudah tahu jika si wajah bulat itu, pasti cari direktur keuangan.
"Hehe!" Gadis tertawa.
Cantik sudah masuk kantor itu, matanya mencari seseorang. Gadis berwajah bulat itu tidak berani masuk lift sendirian.
"Hai, mau ketemu papi ya? Ayo aku antar." Wanita itu menawarkan diri.
Cantik menatap pakaian wanita itu. Gadis itu menggelengkan kepala, karena tidak suka dengan pakaian yang dipakai oleh wanita itu.
"Tante roknya kenapa pendek? Ini rok Tante saat sekolah dasar ya?" tanya gadis itu polos.
Wanita itu terdiam dalam hati wanita itu mengumpat. Untung anaknya direktur jadi enggak dapat jewer.
Wanita itu tak menjawab pertanyaan dari Cantik.
"Tantenya aneh, kenapa enggak jawab pertanyaan dariku. Malah langsung pergi saja." Gadis itu menggerutu.
Semua karyawan yang ada di lantai satu. Menawarkan diri untuk mengantarkan gadis berwajah bulat itu keruangan direktur keuangan. Tapi Cantik selalu menolak. Cantik berpikir, jika mereka ingin mendapatkan keuntungan saat mengantarkan dia keruangan om Dosennya.
"Sama aku saja."
"Jangan sama Mbak saja."
Cantik sangat kesal, kepada mereka karena memaksanya. Mata gadis berwajah bulat itu, menatap seseorang yang ia kenal. Gadis berwajah bulat itu tersenyum.
"Om Jofis!" teriak Cantik, membuat seseorang menengok kearahnya.
Seseorang itu berjalan kearah Cantik, yang dikerumuni oleh lima karyawan wanita itu.
Seluruh karyawan menatap kenapa anaknya direktur keuangan kenal dengan Jo.
"Om, mau kemana? Antar aku yuk." Gadis itu menggandeng tangan Jo.
"Okey." Jo bicara, sambil berjalan meninggalkan lima karyawan yang sedang menggunjingkan hubungan Jo dan direktur keuangan.
"Om Jofis, tadinya mau kemana?" Gadis berwajah bulat itu, bertanya saat pintu lift tertutup.
__ADS_1
Cantik selalu manggil Jo! Om Jofis itu semua karena Black yang menyuruh dia agar manggil Jo dengan sebutan Jofis.
"Keruangan Om Dosen!" jawab Jo.
"Oh... " Cantik mengangguk.
Mereka keluar dari lift, Cantik segera berlari dan membuka pintu itu tanpa seizin orang yang ada di dalam.
"Assalamu'alaikum." Gadis itu berucap, sambil jalan kearah om Dosenya.
Langit yang mempelajari map berwarna biru itu mengalihkan pandangannya.
"Wa'alaikumussalam!" jawabannya.
Gadis berwajah bulat itu, mencium tangan Langit kemudian duduk di kursi yang ada di depan Langit.
"Bagaimana Pak, semua baik-baik saja kan? Mengenai pengeluaran dana untuk pembangunan di daerah Tangerang?" tanya Jo, yang baru masuk.
"Sejauh ini belum ada masalah Jo. Aku selalu memantaunya. Sekarang kita harus fokus pada pemasaran, sepertinya kita harus menjadikan pemasaran ini sebagai prioritas utama," ujarnya.
"Aku harap kau sudah punya strategi pemasaran yang menguntungkan untuk perusahaan Jo." Langit berbicara kepada Jo. Sedangkan Cantik hanya mendengar, sambil memutarkan kursi yang ia pakai duduk.
"Saya sudah mulai menganalisis, perencanaan pemasaran ini satu bulan yang lalu sampai implementasi, sudah saya pikiran." Jawaban Jo membuat Langit puas.
Cantik hanya diam saja, karena tidak baik memotong pembicaraan orang tua kata bu guru saat mengajar.
"Gimana sekolahmu tadi?" Langit bertanya setelah Jo keluar.
"Emmm... tadi dapat PR!" Gadis berwajah bulat itu, harus mempelajari mapel umum dan mapel tambah seperti Akidah Ahlak, Quran dan Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih sampai Bahasa Arab.
Kebanyakan siswa yang belajar di Madrasah Ibtidaiyah itu pasti akan dapat pelajaran tambahan.
"Oh... ya Om! Nih!" Gadis berwajah bulat itu meletakkan sesuatu di meja om Dosennya.
Langit mengerutkan dahi, karena benda itu. Cantik menatap om Dosennya yang sepertinya bingung.
"Maaf Om, tadi penjual cilok nya enggak dengar. tadi aku bilang dua ribu tapi penjual cilok nya kasih lima cilok. Jadi aku harus bayar dua ribu lima ratus." Gadis berwajah bulat itu bercerita.
"Lalu ini?" Langit mengambil koin warna kuning itu.
"Terus kenapa di kasih ke Om, lagi? Kan ini buat kamu, kenapa enggak dibeliin tiga ribu sekalian?" Langit menaruh kedua tangannya di atas meja, matanya menatap gadis itu.
"Kan tadi aku bilang uang saku hanya dua ribu, jadi aku cuma jajan dua ribu." Ternyata Cantik sangat konsisten dengan omongannya masih kecil tapi sudah punya prinsip.
Langit sangat terkesan didikan Agam Ariaja patut diacungi jempol.
Cantik menguap sepertinya gadis itu mengantuk.
"Mau diantar pulang?" Langit bertanya.
Gadis itu menggelengkan kepala dan menjawab. "Katanya tadi mau di ajak bertemu akak!" Gadis itu masih mengingat tawaran om Dose-nya.
"Baiklah! Nanti jam setengah dua belas." Langit menatap jam di dinding. "Masih ada satu jam setengah, Om harus nyelesain pekerjaan Om, dulu. Kau mau menunggu?" Langit bertanya, gadis itu mengangguk.
Langit mulai mengecek data keuangan bulan lalu. Mulai dari menghitung laba, pajak, gaji, termasuk juga auditor perusahaan. Pemuda itu harus meninjau dan memverifikasi keakuratan catatan keuangan.
Dan memastikan bahwa perusahaan telah mematuhi seluruh undang-undang perpajakan. Semua itu tidak bisa ia lakukan sendiri. Pemuda itu mempunyai staf-staf yang membantunya.
Jam menunjukkan pukul setengah dua belas. Pekerjaan pemuda itu belum selesai. Mata yang tadi digunakan untuk menatap layar laptop dan laporan. Beralih kearah sofa, pemuda itu berjalan kearah sofa kemudian berjongkok.
"Keras kepala, seperti akak Bubble!" ujarnya, sambil menatap wajah gadis itu, yang tertidur di sofa.
Cantik yang ngantuk dia memutuskan untuk tidur di sofa sambil nunggu om Dosennya istirahat.
"Apa aku harus bangunkan dia?"
"Tapi kasian, kalau dibangunin dia baru sejam tidur." Langit bangkit dari duduknya, dan menggendong gadis itu yang tertidur. Langit membuat pintu ruangan dia kemudian masuk ke lift.
"S*al lupa tasnya." Pemuda itu bicara, sambil membenahi posisi Cantik yang ada di gendongannya.
"Nanti sore aku akan mengembalikan tasnya kalau begitu, tidak mungkin sekarang aku kembali lagi." Langit menggerutu.
Lift terbuka Langit keluar dari lift sambil menggendong Cantik. Semua karyawan berbisik mengagumi Dirkeu.
__ADS_1
Mereka menggunjing antara positif dan negatif. Positifnya mereka mengagumi Dirkeu yang tampan. Negatifnya mereka membicarakan status Dirkeu seorang duda, ditambah mereka zina mata karena melihat yang bukan muhrim. FIX! Mereka dapat dosa combo. Malaikat Atid sudah siap mencatat amal mereka yang buruk.
Langit tidak memperdulikan, bagaimana orang lain menatapnya. Pemuda itu terus berjalan hingga masuk parkiran. Langit membuka pintu samping kemudi dengan susah payah, karena menggendong Cantik. Perlahan Langit mendudukkan Cantik.
Setelah itu memasang seat belt. Langit memutari mobil silver itu kemudian masuk bagian kemudi.
"Mundur... " Aba-aba dari satpam agar mobil silver itu bisa keluar, dengan sempurna dan tidak mengenai rentetan mobil karyawan yang berjejer.
Akhirnya mobil silver itu bisa keluar juga dari parkiran kantor. Langit mengemudi dalam kecepatan sedang.
Dalam perjalanan menuju ke kafe, gadis berwajah bulat itu belum juga bangun. Hari itu Langit menjadi bapak dadakan untuk yang kedua kalinya.
Sepuluh menit perjalanan, gadis berwajah bulat itu, mulai menggerakkan tangannya. Gadis berwajah bulat itu bermimpi dia sedang naik mobil. Sesekali pemuda yang fokus menyetir itu, melirik kearah gadis berwajah bulat.
Mobil itu berhenti saat lampu merah menyala.
"Sudah bangun?" tanya Langit, yang melihat gadis itu mengucek mata.
Cantik hanya mengangguk saja.
"Bunga-bunga!" Cantik mendengar seseorang yang berteriak, seperti menawarkan barang jualan.
Gadis itu melirik kearah samping. Matanya menatap seorang pedagang bunga. Cantik menyuruh om dosennya untuk menurunkan kaca mobilnya.
Langit pun menuruti apa yang Cantik ucapkan.
"Kakak, aku mau bunganya." Gadis itu mengeluarkan kepalanya.
Pedagang itu pun membalikkan badannya.
Langit mengerutkan dahi, kenapa Cantik ingin beli bunga.
"Kakak, aku mau yang warna putih." Gadis itu memilih warna bunga itu.
"Om, ayo kita taruhan." Gadis itu menatap om Dosennya, sambil membawa bunga warna putih itu.
Langit mengerutkan dahi, apa maksud gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Om, ayo kita kasih akak bunga, nanti akak kira-kira pilih punya Om, atau punya ku. Kalau aku yang kalah, aku akan membayar bunga kita. Tapi kalau Om yang kalah, Om yang bayar," ujarnya.
Langit berpikir sejenak, ide yang Cantik berikan itu sangat bagus buat hubungan dia dan istrinya. Kenapa dia harus mensia-siakan ide Cantik itu.
"Oke!" Langit menyetujui.
"Mau bunga yang mana, Bang?" Pedagang itu tahu saja ada peluang untung. Langsung gerak cepat, kalau ada pembeli.
"Merah!" Langit berpikir bunga mawar merah sering banget digunakan untuk cowok untuk nembak, atau apalah.
Pedagang itu pun memberikan buket bunga mawar merah itu.
"Om, yang bayar dulu. Aku yakin Om, akan kalah." Gadis berwajah bulat itu mengejek om Dosennya.
Langit menghembuskan napas panjang. Karena dapat ejekan dari gadis berwajah bulat itu.
Langit pun membayar bunga yang Cantik beli dan bunga mawar merah itu.
"Makasih!"
Kaca mobil itu naik ke atas, dan tertutup kembali.
Lampu sudah kuning, pemuda itu segera tancap gas kembali.
"Kalau Om, yang menang kau harus bayar ya?" Langit mengeluarkan suara.
Pemuda itu tidak akan menarik uang dari Cantik sepeserpun, meski Cantik yang akan kalah nantinya. Mungkin itu yang ada di pikiran pemuda itu.
"Tenang, Om. Aku akan bayar jika aku yang kalah. Aku punya uang di tabungan babi ku Om. Sebanyak ini!" Cantik memperlihatkan kelima jarinya kearah om Dosennya.
"Lima ribu?" tanya Langit.
Cantik sangat sebal, karena om dosennya mengejek tabungan yang ia miliki.
"Lima puluh ribu, lima Om!" Gadis itu setiap satu minggu sekali, pasti memasukkan uang ke tabungan babi. Gadis berwajah bulat itu, selalu dapat dua puluh ribu perhari tidak kurang juga tidak lebih. Tapi gadis berwajah bulat itu ,punya prinsip sehari dia harus jajan tidak lebih dari sepuluh ribu. Biar sisanya bisa di tabung.
__ADS_1
Kedua orang yang ada di dalam mobil itu memiliki kesamaan. Sejak kecil Langit juga suka menabung. Apa lagi sejak masuk SMP tabungannya semakin bertambah. Pak Khan selalu memberikan uang SPP perbulan kepada anaknya itu.
Meskipun anaknya dapat gratisan setiap bulannya. Saat Langit bilang jika dia dapat gratis bayar SPP. Pak Khan bilang ke anaknya seperti ini. "Kak Bumi sama Alula juga Bapak yang bayarin SPP nya. Jadi kamu juga tanggung jawab Bapak! Masalah kamu yang tidak perlu membayar SPP itu lain lagi. Uang SPP perbulan itu adalah jatah mu, jadi Bapak tetap berikan itu kepada mu."