Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Jatuh Dipeluk Arkana


__ADS_3

Pagi itu masih sama seperti biasanya. Cahaya melakukan semua pekerjaan rumah dan akan berangkat kuliah. Cahaya membawa sepedanya lagi, karena bannya sudah di isi angin.


"Bagaimana dengan Ale, ya? Sudah seminggu, sejak dia menceritakan tentang perjodohan nya. Apa dia menerimanya?" Cahaya berbicara sendiri, sambil menggowes sepedanya.


Cahaya mulai memasuki gerbang kampus. Wanita itu memarkirkan sepedanya. Saat dia mau jalan ke kelas tak sengaja ia bertemu Agam Ariaja.


"Pagi, Pak Rektor!" Wanita itu menunduk memberi salam.


"Pagi, bagaimana kabarmu, Nak?"


Banyak mahasiswa yang melihat percakapan antar keduanya. Mereka sangat heran, kenapa mahasiswa bisa seakrab itu dengan rektor.


"Baik, Pak!"


"Terima kasih ya, Nak. Berkatmu istriku menjadi lebih ceria dari sebelum-sebelumya." Agam Ariaja dan Cahaya berjalan beriringan.


"Maksudnya, Pak?" Cahaya tak mengerti maksud dari Agam Ariaja itu.


Agam Ariaja tersenyum sebelum menjawab. " Semenjak kamu datang ke rumah kami, semenjak itu pula ada kebahagiaan dalam keluargaku Nak! Entah mengapa, aku merasa ada secuil cahaya yang menghampiri keluarga kami. Seperti namamu kamu Cahaya. Kamu tahu Nak? Istriku selalu bercerita saat malam sebelum kita tidur. Dia selalu membicarakan tentangmu."


Mungkinkah almarhum ibu, memberikan nama Cahaya itu agar anaknya menjadi cahaya bagi orang-orang yang ada didekat anaknya.


"Saat kamu bekerja dengannya. Anakku Black dia sangat bahagia saat kamu datang ke rumah kami. Dia yang kehilangan sosok teteh, sekarang dia menemukan teteh baru. Cantik yang tak pernah melihat wajah Mentari. Tapi dia mampu mengenal wajah Mentari, kamu tahu Nak?" Cahaya menggeleng, Agam Ariaja melanjutkan ucapnya. " Waktu pertama kali, dia memberi tahuku, bahwa ada yang mirip dengan Mentari. Aku tak percaya. Dia selalu meyakinkanku. Sampai tibalah di suatu malam, kami sedang makan di kafe. Dia mengatakan bahwa dimana aku bekerja ada orang yang seperti Mentari. Dimalam itu istri dan anakku juga mendengar, ceritanya. Dan dimalam itu pula, ada sedikit keyakinan dalam diriku, bahwa apa yang Cantik katakan itu benar. Dan ternyata benar. Dia tidak salah menilai meskipun dia tak pernah melihat Mentari." Cahaya mencerna apa yang dikatakan Agam Ariaja. Dia sangat bingung, bagaimana gadis usia lima tahun itu yakin. Jika wajahnya mirip seperti wajah Mentari. Jika gadis itu tak pernah melihat sosok Mentari.


"Maksudnya, Pak?"


Agam Ariaja tersenyum sebelum menjawab. "Kamu akan menemukan jawabannya, tapi tidak dariku, Nak!" Agam Ariaja mengelus rambut Cahaya.


...***...


Pelajaran telah dimulai. Sepertinya Cahaya akan sangat sibuk dengan sidang skripsinya berapa bulan lagi. Wanita itu harus bisa memenejemen waktu dengan baik. Jika temannya mempunyai waktu luang untuk belajar. Sedangkan dia harus bekerja dan mengerjakan pekerjaan rumah.


Tak terasa pelajaran telah selesai. Semua mahasiswa sudah pulang. Tapi wanita itu lebih memilih sholat dahulu. Saat dia keluar dari mushola, kampus itu sudah sepi . Cahaya mulai menggowes sepedanya. Namun saat dia mau keluar dari kampus. Matanya menangkap seseorang yang tak asing lagi baginya. Di dekati lah orang itu yang berdiri di depan gebang kampus. Sepertinya sedang menunggu seseorang pikir Cahaya.

__ADS_1


"Ngapain, Pak?" tanya Cahaya, yang posisinya duduk di atas sepeda.


"Lagi nunggu Jo!"


"Udah di telpon belum, bisa jadi, kak Jo kenapa-napa," ucapan Cahaya, yang mendapatkan tatapan tajam.


"Maksudnya mungkin saja bannya kempis, atau gimana gitu,"


Pemuda itu mencoba menghubungi Jo. Ternyata benar Jo, tidak bisa menjemputnya. Dikarenakan sedang ada di dinas luar Kota.


"Gimana, kak Jo, enggak bisa ya Pak?" tanya Cahaya lagi. Dan sekali lagi dapat tatapan tajam, dari pemuda itu. Cahaya hanya bisa menelan ludahnya dengan susah.


"Angkot jam segini biasanya lama, Pak!"


Cahaya menawarkan diri. "Bagaimana kalau Pak Langit, bonceng saya. Nanti Pak Langit bisa naik angkot di depan rumah saya."


Langit nampak berpikir sejenak. Dia tidak yakin Cahaya akan membonceng kan dengan selamat.


Sudah lima menit perjalanan mungkin tak cukup berat bagi Cahaya karena jalanan nya turun.


"Pak, nanti kalau tanjakan, Pak Langit ya, yang gantian memboncengkan saya." Cahaya berbicara, namun Langit hanya diam saja.


"Jangan diam dong Pak, saya udah lelah ini."


Saat jalanan menurun roda sepeda itu, berputar dengan cepat, sangat cepat. Membuat Cahaya takut, jika nantinya akan jatuh. Wajahnya mulai pucat, saat ia menarik rem sepedanya tak berfungsi lagi. Roda itu terus menggelinding dengan cepat, tetesan keringat dari dahinya itu terus meluncur sampai pipi. Wanita itu benar-benar takut. Jika dia akan terjatuh. Masalahnya dia tidak hanya sendirian tapi dia bersama pak dosen.


Bruakakakakakakak....


Dan benar saja—mereka terjatuh di selokan yang untungnya tak ada air sama sekali. Tapi selokan itu dipenuhi dedaunan seperti semak-semak. Sepedanya masih ada di atas tapi penumpangnya terjatuh di semak-semak.


"Aduh!!!" Cahaya merintih kesakitan, di bagian pinggangnya.


"Akhh!!" Langit kesakitan, di bagian tangannya, karena tangannya ada di bawah kepalanya Cahaya. Tangan kiri Langit dibuat bantal oleh kepala Cahaya. Posisinya sudah hampir seperti orang berpelukan.

__ADS_1


Siapa pun yang melihat posisi seperti itu pasti orang mengira mereka sedang ngapa-ngapain.


Dua pria paruh baya itu, mendekati sepeda itu, pria paruh baya mendengarkan ada suara di bagian semak-semak itu.


"Aduh, Pak Langit!"


Pria paruh baya itu mulai berjalan kearah semak-semak itu. Matanya tak percaya, melihat dua orang beda jenis sedang ada di posisi terlentang.


"Astaghfirullah, kalian mau zina ya?" tuduhannya. Cahaya terkejut karena suara itu.


"Ti—ti—" ucapnya dipotong pria paruh baya itu.


"Pintar juga kalian nyemak-nyemak siang-siang begini."


"Ada apa nih?" tanya orang yang baru datang, bertanya kepada pria paruh baya itu.


"Ya Allah, anak muda jaman sekarang sudah DP sebelum nikah."


Cahaya dan Langit saling tatap DP apaan, kedua orang itu tidak paham.


Keduanya mulai terbangun, mereka dibantu kedua orang itu untuk naik ke atas.


"Bapa-bapa ini bukan seperti yang Anda pikir, tadi saya jatuh." Cahaya menjelaskan kepada kedua orang itu.


"Mana ada maling ngaku," ucap pria paruh baya itu.


"Sebenarnya kita ini sudah menikah, tadi kita itu jatuh," ucap Langit, sepertinya pemuda itu mencari jalan aman.Malas! Jika berdebat dengan orang yang tidak kenal.


"Oh ...ya sudah kalau begitu, kita permisi." Kedua orang itu meninggalkan mereka.


"Pak Langit, kenapa bilang kita sudah menikah?" tanya Cahaya sambil mendorong sepedanya. Namun pemuda itu diam tak menjawab.


PL itu bukan pelipur lara... Ay?

__ADS_1


__ADS_2