
Wanita berambut sebahu itu, sedang asik menata beberapa barang. Seperti, susu kotak, minuman gelas yang masih ada di kardus sampai sabun cuci muka. Siang itu Cahaya sedang membantu karyawan minimarket, yang akan segera diresmikan dengan kafenya.
Ponsel yang ada di saku itu bergetar, membuat Cahaya memberi jeda pekerjaannya. Tangannya merogoh kantung celana belakang. Wanita itu membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.
"Assalamu'alaikum." Cahaya mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Wa'alaikumussalam." Suaranya terdengar seperti orang menahan tawa.
"Kenapa Mas?" Cahaya bertanya, sambil merapikan rambutnya.
"Ehm! Cantik sudah pulang. Jadi aku berinisiatif untuk mengantarkan pulang nanti saat jam istirahat. Aku harap kau akan segera pulang. Tidak mungkin jika aku mengantarkan dia ke ruko, karena jaraknya lumayan jauh dari sini," ujar Langit, yang sudah tidak tertawa karena ulah Cantik.
"Baiklah aku akan segera pulang." Cahaya menjawab, sambil membuka pintu yang terbuat dari kaca dan duduk di depan minimarket.
"Satu jam lagi aku istirahat. Mending kita ketemuan di kafe dekat rumah, papi! Aku akan sekalian makan di sana." Langit bicara, sambil menatap wajah gadis yang ada di depannya itu.
"Baiklah, aku juga belum masak," ujar Cahaya.
"Aku akan minum ini, siapa tahu tubuhku jadi berisi." Cahaya tersenyum, melihat susu kotak itu.
"Aku pamit dulu ya, kalian istirahat dulu jika lelah beli jajan apa kek."
"Hati-hati Teh, oke siap jangan khawatirkan kami." Karyawan cewek itu, menjawab sambil mengacungkan jempol kearah Cahaya.
...***...
Bergeser ke perusahaan PT. Jaya Karya. Gadis berwajah bulat itu antusias, karena akan makan bersama om Dosen dan akak Bubble-nya.
"Ayo Om, kita keluar." Gadis berwajah bulat itu, sudah mau membuka pintunya.
"Bentar!" Langit berdiri dari duduknya.
Membuka jas warna biru tua dan meletakkan di kursi kerjanya, dilanjutkan menggulung lengan kemeja warna hitam. Tangannya sedikit melonggarkan dasinya, diakhiri dengan membenarkan kacamata putih yang bertengger di hidungnya. Akh—sempurna pikir pemuda itu.
"Ayo cepat Om, aku sudah lapar. Tadi aku tidak jajan di kelas. Karena mami, tidak memberi aku saku," ujarnya, dengan mengerucutkan bibir.
Langit yang mendengar sangat terkejut. Dia yakin jika istrinya Agam Ariaja lupa memberi saku gadis itu. Karena mengurus keperluan Black. Mungkin keluarga itu sudah sampai Jogja karena jarak Jakarta ke Jogja sekitar satu jam setengah jalur udara.
"Kenapa tadi tidak minta ke Om?" Langit bicara, sambil membuka pintu, sedangkan tangan yang satunya menggandeng gadis itu.
"Aku juga lupa, tapi tidak apa-apa tadi Nana, memberi aku satu bulat cilok dan minumannya satu teguk," ujarnya, jari-jemarinya membetuk bulat.
Langit sangat miris, mendengar cerita gadis itu. Mereka masuk lift, didalam lift gadis itu tidak bisa diam. Membuat Langit harus mendengarkan dan sesekali gadis itu bertanya. Dan Langit harus menjawab, jika tidak pasti gadis itu mendesaknya agar menjawab pertanyaan si wajah bulat.
Mobil silver itu keluar dari perusahaan PT. Jaya Karya. Langit mengemudi dengan kecepatan tidak terlalu tinggi. Mobil silver itu membelah jalanan. Sekitar lima belas menit, melaju. Akhirnya mobil silver itu sudah parkir di kafe.
Cahaya keluar dari angkot merah itu. Wanita berambut sebahu itu, membayar ongkos kearah pak supir.
"Makasih ya Kang!" Cahaya tersenyum sambil menerima kembalian ongkos.
"Sama-sama Neng!"
__ADS_1
Cahaya masuk ke kafe itu, matanya mencari seseorang, tapi tidak menemukan orang yang ia cari.
"AKAK!" Gadis itu berteriak, sangat keras.
Membuat semua orang menatap kearahnya. Langit yang menghadap gadis itu menutup telinganya. Pemuda itu tidak tahu, jika istrinya sudah datang, dikarenakan pemuda itu, membelakangi istrinya.
Cahaya berjalan kearah pojokan kafe sambil mengulas kan senyuman. Saat mau duduk di depan Cantik tak sengaja matanya melihat gaya suaminya yang agak beda dari biasanya. Bibir wanita itu terbuka, matanya melotot.
"Benarkan Om?" Cantik tertawa, sambil menutup mulut.
Langit mengangguk menyetujui.
Cahaya tersadar karena suara si wajah bulat. Wanita berambut sebahu itu, duduk dan meletakkan sesuatu di atas meja.
"Apa aku bilang." Gadis itu berucap kembali.
"Mirip yang kamu praktikan di kantor tadi." Langit mengangguk-anggukkan kepalanya. Karena melihat ekspresi istrinya, saat melihat dia pertama kali memakai kaca mata.
Cahaya bingung, karena ucapan kedua orang yang memiliki perbedaan umur sangat jauh.
"Bahas apaan?" Cahaya bertanya, sambil menggaruk kepalanya.
Kedua orang itu menggeleng bersamaan. Seperti sudah direncanakan sebelumnya.
"Kalian aneh," ucap Cahaya.
Kedua orang itu mengangkat bahu kompak. Yang membuat Cahaya mengerutkan dahi.
"Selamat menikmati," ujar waiters itu.
"Makasih!" Cahaya tersenyum.
"Cantik ayo makan, tadi kau tidak jajan di sekolah bukan?" Langit bicara, sambil mengelap sendok dengan tisu.
Tanpa disuruh untuk yang kedua kalinya gadis itu langsung menyeruput sup konro. Bukan main! Siang-siang makan sup konro bikin gerah body.
"Maksudnya?"
"Mami, tidak memberikan dia saku." Langit menjawab, sambil menyeruput sup konro.
"Hah? Kenapa tadi enggak minta ke kita Can?" Cahaya sudah siap mengeksekusi makanan tradisional khas dari Makasar itu.
"Aku juga lupa."
"Kamu tadi di sekolah di ajarin apa?" Cahaya bertanya, sambil makan iga sapi dengan tangan.
"Tadi diajarin Bahasa Arab sama pelajaran Qur'an dan Hadist. Tadi kita juga dikasih jadwal."
"Apa yang guru itu ajarkan tentang bahasa Arab?" Langit bertanya.
"Ta'aruf."
__ADS_1
"Apa itu artinya, Om tidak tahu?"
"Berkenalan, atau bisa juga saling mengenal." Gadis itu menjawab.
"Maa ismuki? (siapa namamu)" Langit bertanya.
"Ismi Cantik!" Gadis itu menjawab.
"Kaifa khaluki ya Cantik(bagaimana kabarmu wahai Cantik) ?"
"Ana bikhairin, walhamdulillah(aku baik baik saja, segala puji bagi allah)" Gadis itu menjawab dengan cepat.
"Wah ...kalau alquran dan hadis diajar tentang apa?" Cahaya bertanya, sambil mengunyah.
Gadis itu berpikir sejenak, sepertinya gadis itu lupa.
"Tadi di suruh menirukan satu hadist yang bunyinya, Innamal A'malu Binniyat!"
"Artinya?" Langit bertanya.
"Lupa Om!" Gadis itu nyengir kuda.
"Sesungguhnya amal itu sesuai dengan niatnya."
"Oh ya lupa aku, Om!" Gadis menggelengkan kepala.
Mata pemuda itu menatap kantung plastik yang di bawa istrinya. Langit mengambil plastik itu, dan melihat isinya ternyata susu bubuk satu kotak.
"Kau minum susu sekarang?" Langit bertanya, kepada istrinya.Kemudian meletakkan kantong plastik itu kembali.
Cahaya menganggukkan kepalanya pelan.
"Tadi pas ambil bayar enggak?" Langit bertanya, sambil menyedot minuman.
Cahaya tersenyum kaku, wanita itu menggelengkan kepala.
"Besok-besok kalau ambil dari minimarket harus bayar, dan ini juga harus dibayar."
"Tapi... " Langit memotong ucapan istrinya.
"No debat! Kau harus bayar, oke!"
"Ya sudah aku bayar sekarang."
"Bukan dengan ku, tapi kau harus bayar ke kasirnya langsung.Biar enak ngitungnya. Setiap bulannya akan aku check. Jadi tidak boleh ada kesalahan. Meski kau istriku, tapi yang namanya bisnis is bisnis. Tidak mengenal keluarga. Apalagi hanya teman. Kau akan mendapatkan dua persen dalam sehari penjualan. Bagaimana enak kan bisnis bersama ku?" Langit tersenyum lebar.
Sedangkan Cahaya menelan ludahnya dengan kasar. Kenapa suaminya itu sangat perhitungan pikir Cahaya. Semua harus ada konsepnya menurut pemuda itu.
"Bayangkan saja aku adalah partner terbaik, partner tidur, partner sholat, partner melihat keindahan langit malam, partner bisnis dan." Langit mendekatkan mulutnya ditelinga istrinya.
"Partner—" Cahaya yang mendengar hal itu ngeri, karena ulah suaminya itu.
__ADS_1