
Terdengar suara adzan subuh, membuat pemuda yang tidur di sofa itu terbangun. Langit menuju kamar mandi. Setelah lima menit, dia keluar dengan wajah yang basah.
Pemuda itu mendekati ranjang sisi kiri.
"Hei wanita, subuh!" ucapnya, tapi yang dipanggil tak kunjung terbangun.
Bagaimana dia terbangun, orang malam itu, jam setengah satu, gadis berwajah bulat itu menangis. Sampai jam dua lebih. Yang parahnya lagi! Cahaya juga sudah mau menangis. Karena kasian dengan Cantik. Akhirnya gadis berwajah bulat itu, tertidur dalam digendong om Dosen.
"Hei wanita!" panggilannya lagi. Matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Cahaya sudah membuka matanya. Bukan karena panggilan dari Langit, tapi karena air yang ada di wajah Langit itu menetes, yang mengenai pipinya .
"Iya, Bang!" Cahaya mulai jalan kearah kamar mandi. Langit keluar dari kamar itu. Saat Cahaya keluar dari kamar mandi, disaat itu pula. Langit membuka pintu kamar milik Cantik.
"Makasih, Bang!" ucap Cahaya, menerima mukena dari Langit. Cahaya berpikir, kenapa pemuda yang ada di depannya itu, sangat mengenal rumah itu.
Mereka mulai melaksanakan sholat. Tak perlu waktu lama sholat itu segera berakhir. Cahaya mulai melipat mukena itu, di taruhlah di samping tempat tidur, tepatnya di atas laci.
Cahaya mendekati Cantik yang masih tertidur. Di pegang lah dahi gadis yang masih tertidur sangat lelap itu. Sepertinya panasnya sedikit turun. Di cek lah suhu badan gadis itu. Dan benar saja suhunya sudah 37,6°C. Tak perlu opname pikir Cahaya.
"Bang, aku ke bawah dulu ya, aku mau masak untuk Cantik!" Langit yang duduk di sofa itu hanya mengangguk.
Cahaya mulai memasak makanan. Untung saja kuliah tidak masuk. Jam menunjukkan pukul enam tepat. Cahaya juga sudah selesai memasak.
__ADS_1
Terdengar suara orang menuruni anak tangga. Dan benar saja, ternyata itu adalah Langit yang menggendong Cantik. Wajah gadis itu masih sedikit pucat saat ada di gendongan Langit.
"Pagi, Cantik!" sapa Cahaya, sambil meletakan makanan dimeja makan. Namun yang ditanya engan menjawab.
"Baiklah kalau begitu duduklah, di meja makan. Nanti ini, Cantik harus makan dan minum obat jika ingin sembuh. Dan pastinya saat, Cantik sembuh kita akan makan nasi pecel."
Mereka sudah duduk di kursi meja makan. Cantik duduk di samping Cahaya. Sedangkan pemuda itu ada di sebrang keduanya.
"Cantik makan ya, sayang," ucap Cahaya. Cantik menggeleng. Mungkinkah gadis berwajah bulat itu, mau makan jika akak Bubble mau bercerita. Malam itu saja ceritanya ngawur pikir Cahaya.
"Bagaimana kalau kita makanya diluar, nanti Kak Cahaya yang menyuapi. Om Dosen yang gendong." Penawaran yang bagus menurut Cantik. Kapan lagi dia di gendong om Dosen dan di suapi akak Bubble kan. Cantik mengangguk. Langit sangat terkejut, ide gila macam apa itu. Bukan apa! Masalahnya Cantik itu seperti bola. Kalau kata Agam Ariaja.
Mereka sudah ada di teras rumah, pemandangan yang indah, karena di sana ditanami beberapa pohon dan bunga.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Gadis berwajah bulat itu tertidur, sepertinya panasnya sudah mulai reda meski belum terlalu fit.
"Iya, Mi!" ucap Cahaya, istri Agam Ariaja menelponnya.
"Bagaimana kabar, Cantik. Teh?" tanyanya istri Agam Ariaja, yang suaranya terdengar khawatir. Terhadap anak bungsunya yang sedang demam.
"Tenanglah Mi, demamnya sudah turun waktu subuh tadi. Dan tadi juga mau makan, meski harus di paksa tapi untungnya mau. Sekarang dia sedang tidur mungkin saja itu fase pemulihan. "
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih. Mami enggak tahu harus bagaimana jika tak ada kamu. Mungkin kita akan pulang malam," ucap istri Agam Ariaja.
"Iya, Mi. Aku harap Mami tak terlalu khawatir dengan Cantik, dia akan sembuh kok," ucapnya Cahaya.
Sambungan telepon itu sudah berakhir. Mungkin saja jika tahun itu, sudah ada aplikasi Whatsapp istri Agam Ariaja pasti bisa video call.
"Sulit sekali menjadi orang tua." Cahaya berpikir, ternyata menjadi orang tua itu tak semudah yang ia bayangan. Dia membayangkan, bagaimana jika dia nanti punya anak yang sakit, seperti Cantik. Apa dia bisa tenang, melihat Cantik yang bukan darah dagingnya saja mau menangis. Apa lagi jika melihat anaknya yang sakit.
Cahaya kembali ke kamar Cantik, dia ingin melihat apa Cantik masih tidur. Di bukalah pintu itu ternyata gadis berwajah bulat itu, masih tidur ditemani om Dosen-nya. Sepertinya pemuda itu juga lelah, karena semalam kurang tidur. Cahaya mulai menutup pintu itu, dia kembali ke bawah.
Cahaya yang sedang duduk di tangga. Ia teringat dengan tulisan yang ada di kamar Cantik Ya! Kertas-kertas yang tertempel di tembok itu.
"Apa maksudnya tulisan itu ya. Apa artinya kerinduan jika tidak pernah bertemu. Mungkin kah itu untuk mbak Mentari. Bukan kah waktu itu papi, bilang jika Cantik tidak pernah bertemu dengan mbak Mentari!" Cahaya di buat bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dari otaknya.
Waktu terus berjalan, sudah siang saja pikir Cahaya. Dia berinisiatif untuk membuat pecel. Cahaya melihat ada kangkung, kacang dan toge. Apa salahnya jika dia memasak itu. Siapa tahu gadis berwajah bulat itu napsu makan, mungkin itu yang ada di pikiran Cahaya. Wanita itu mulai memasak sayur-sayuran terlebih dahulu. Sambil menunggu dia membuat bumbu pecel itu. Tak butuh waktu lama masakan telah selesai. Secara bersamaan mereka juga datang. Siapa lagi, jika bukan om Dosen dan gadis berwajah bulat.
"Siang, Cantik!" sapa Cahaya, mungkin saja gadis itu mau menjawabnya.
"Siang!" jawabannya, yang ada di gendongan om Dosen. Mungkinkah gadis itu, sudah sembuh, pikir Cahaya, yang melihat wajah Cantik lebih segar dari sebelumnya.
"Kau tahu Cantik ..." Gadis itu menggeleng, padahal Cahaya belum melanjutkan ucapannya. "Aku buat pecel, Cantik makan yang banyak ya, sayang!" gadis itu mengangguk. Hah, lega jika gadis itu sudah tak perlu dipaksa buat makan.
__ADS_1
Pagi sudah sup masa siang sup lagi. Pasti gadis itu tak mau makan lagi, jadi Cahaya memutuskan untuk membuat pecel saja. Dan napsu makannya sepertinya sudah kembali. Cahaya sangat senang, jika gadis berwajah bulat itu sudah sembuh, nanti malam juga ibu gadis itu akan pulang. Mungkin Cahaya juga akan pulang ke rumahnya. Wanita itu selalu kepikiran neneknya. Waktu Langit menjemputnya dia hanya berpamitan dengan ayahnya saja.
"Bang, ternyata jadi orang tua itu sulit, ya," ucapnya, yang di tanya hanya diam saja. Cahaya sangat sebal dengan pemuda yang ada di depannya itu.