
Dua hari telah berlalu, nek Endah sudah keluar dari Rumah Sakit. Mungkin sore itu akan Cahaya lakukan untuk bekerja dengan istrinya Agam Ariaja.
Mereka berlima jalan ke kantin dan mencari tempat duduk.
"Eh ...ada Pak Kiyai tuh, kita duduk di sana yuk." Rai mengajak temannya bergabung, dengan orang yang ia panggil pak Kiyai itu.
"Boleh juga tuh," jawab Cahaya.
"ASSALAMU'ALAIKUM! Pak Kiyai!" ucap mereka serempak.
Pak Kiyai yang sedang makan kaget karena ulah mereka berlima.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab pak Kiyai sambil, tersenyum, usianya sudah hampir delapan puluh tahun tapi pendengaran dan penglihatannya masih bagus.
"Pak Kiyai kita boleh duduk di sini?" tanya Williams sopan.
"Tentu saja Nak!" Nada suara pak Kiyai itu sangat halus.
"Terima kasih Pak Kiyai!" ucap Cahaya.
"Bul Ca Bul, mumpung kita sedang mengumpul lu harus jelasin apa hubungan lu, dengan pak Langit!" tanya Williams.
Pak Kiyai menatap Cahaya, beliau sangat kenal dengan kelima sahabat itu.
Cahaya mengambil napas panjang sebelum menceritakan kisah cintanya, kepada sahabatnya itu. "Begini ..." semua mulai mendengarkan dan tak ada yang bicara. "Dia itu calon suami gua, kalau Tuhan menghendaki."
Alexa mau angkat bicara, tapi di bekap oleh kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Perjodohan kita tidak dilandasi dengan keterpaksaan itu dari gua.Tapi enggak tahu kalau dari pak Langit. Kalian pasti bertanya, kenapa gua menerima perjodohan itu kan?"
"Gua pikir apa salahnya, kata orang jodoh pasti dekat dengan kita. Kalau tidak teman, temanya teman, atau orang yang dekat dengan keluarga kita. Itu mengapa gua terima perjodohan ini." Cahaya mengakhiri ceritanya. Pak Kiyai tersenyum, karena jawaban anak muda itu.
"Lu, enak perjodohan lu tanpa dasar keterpaksaan nah gua."
"Emang lu, kenapa Le?" tanya Rai.
"Gua di jodohkan orang tua gua, tanpa bertanya kepada gua. Mereka langsung mengambil keputusan. Dan kalian tahu, siapa yang di jodohkan dengan gua?" Keempatnya menggeleng bersamaan.
"Dia seorang duda anak dua, gua saja belum pernah melihat wajahnya. Sepertinya kita akan nikah saat gua lulus kuliah. Ingin sekali gua menolak. Tapi, gua juga belum pernah yang namanya memberi kebahagiaan kepada orang tua gua, jika itu bisa membuatnya bahagia gua akan coba. " Cahaya berpikir sejenak, dia mau bertanya kepada sahabatnya itu. Tapi dia takut jika itu membuat sahabatnya tersinggung.
"Tanyalah, nanti akan gua jawab," ucap Alexa, yang masih menundukkan kepalanya.
"Apa lu, mempermasalahkan status nya, Le?"
"Entahlah, Ay gua bingung."
"Boleh Pak Kiyai menyampaikan pendapatnya Nak? Siapa tahu ini bisa membantumu untuk menerimanya dengan kelegaan hati," ucap pak Kiyai, angkat bicara Alexa mengangguk.
Cahaya, Williams, Rai, dan Fafa juga menunggu jawaban pak Kiyai.
Pak Kiyai berpikir sejenak, beliau ingin apa yang ia sampaikan itu membuat anak muda yang ada di depannya itu mudah memahami apa yang ingin beliau sampaikan.
"Tuhan itu sangat baik, kalian percaya kan?" Semua mengangguk. Pak Kiyai mulai melanjutkan ucapnya. "Tuhan akan menerima tobat dari hambaNya. Meski begitu banyak dosa yang hambaNya perbuat. Jika Tuhan saja bisa menerima, tobat dari hambaNya. Kenapa kita tak bisa menerima apa yang Tuhan kasih ke kita."
"Nak, cobalah menerimanya. Pada dasarnya hakikat pernikahan itu bukan untuk bersenang-senang.Tapi hakikat pernikahan yang sesungguhnya adalah meniatkan nya sebagai bentuk ibadah, mungkin itu juga termasuk cara kita mendekatkan diri ke Tuhan kita. Saat aku melamar istriku dulu, aku tahu waktu itu istriku belum mencintaiku, tapi saat kita sudah menikah aku bertanya kepada istriku. Kenapa dia mau menikah dengan ku, padahal dia belum mencintaiku. Kau tahu Nak, istriku menjawab apa?" tanya pak Kiyai, kelimanya menggeleng.
__ADS_1
Pak Kiyai tersenyum saat mengingat jawaban istrinya itu, sebelum melanjutkan ucapnya. "Karena aku meniatkan nya sebagai bentuk ibadah. Jawaban istriku itu, membuat aku terpanah dengan jawabannya. Sama dengan jawaban Nak Cahaya!" Pak Kiyai memberi jeda sejenak, sebelum melanjutkannya lagi. " Nak, menikah dengan orang yang sudah pernah menikah itu sudah ada sejak zaman dulu. Kamu pasti tahu Nabi Muhammad SAW menikah dengan Sayyidah Aisyah juga sudah pernah menikah sebelumnya. Pun sama dengan Nabi Muhammad SAW yang bisa menerima istri pertamanya Sayyidah Khodijah yang sudah pernah menikah sebelumnya.Tapi Nak?" Mereka masih setia menunggu ucapan selanjutnya dari pak Kiyai. "Mereka hidup bahagia bukan?" Alexa mengangguk lagi.
"Jadi— jika Nabi Muhammad yang sempurna saja. Bisa menerima istri pertamanya yang berstatus sudah pernah menikah. Kenapa kita yang penuh dosa enggak bisa menerima hal itu." Alexa terdiam, sepertinya wanita periang itu mencerna perkataan dari pak Kiyai.
"Le, apa aku boleh bertanya kepadamu, Nak?" tanya pak Kiyai. Alexa mengangguk.
"Apa dia duda ditinggal meninggal atau bercerai?"
"Dia ditinggal istrinya meninggal," jawabnya pelan. Pak Kiyai tersenyum entah apa artinya.
"Ale, kamu tahu di agama Islam itu mudah sekali mencari pahala?" tanya pak Kiyai, mereka tak paham dengan ucapan pak Kiyai. Williams juga mendengarkan meski non-muslim, tapi dia juga bisa mengambil hikmahnya.
"Mungkin saja, dengan kamu menikah dengan duda itu, kamu bisa dapat pahala. Boleh jadi, surga juga terbuka untukmu, kau tahu kenapa Nak?" tanya pak Kiyai, si Alexa menggeleng. Pak Kiyai tersenyum lagi.
"Karena kamu memberikan kasih sayang, dan cinta kepada mereka. Bukan kah terkadang kita di suruh untuk bersedekah dengan anak yatim-piatu melalui harta yang kita miliki." Alexa mengangguk. Pak Kiyai melanjutkan ucapnya. "Mungkin saja Tuhan. Menginginkan kamu bersedekah bukan lewat harta, melainkan dengan kasih sayangmu kepada anak-anak nya itu, Nak!"
"Jadi, Nak, mari kita belajar untuk menerima apa yang Tuhan kasih kepada kita. Dan jika nanti malam kamu tidak malas bangun, segara lah ambil air wudu bertanya kepada Tuhan. Sholat istikharah, tahajud Nak! Insya Allah dan percayalah Allah akan memberi petunjuk kepadamu." Nasehat pak Kiyai, membuat hati Alexa sedikit tenang.
Orang tua yang siang itu menjawab pertanyaan dari anak muda yang duduk di depannya itu tertunduk lesu. Bagaimana ia menjawab pertanyaan itu dengan gampang dan menyuruh orang lain untuk menerima takdir yang Tuhan berikan. Padahal beliau saja belum tentu bisa melakukan hal itu, pikirnya.
Ya Rabbana mengapa orang sepertiku ini? Begitu mudah menyuruh orang menerima takdir yang Engkau berikan. Ternyata— mudah sekali berbicara— tapi sulit untuk mempraktikkan nya. Batin pak Kiyai.
Sejenak semua terdiam sudah dua tipe kisah cinta itu terjawab. Akankah ada pertanyaan lagi mengenai cinta.
"Kisah cintaku ke terbalik kan nya dengan kisah cinta, Ale!" ujar Rai. Semua yang semula menunduk, perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Rai, tak terkecuali pak Kiyai juga menatap anak muda itu.
Namun sepertinya Rai, belum bisa bercerita entah kapan dia bisa bercerita.
__ADS_1
"Jika lu belum siap menceritakan kisah cinta lu, jangan memaksanya untuk bercerita," ujar Alexa. Sepertinya wanita periang itu benar-benar sudah lebih baik dari yang sebelumnya.
"Benar apa kata, Ale!" ujar Cahaya.