Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Dahsyatnya Istighfar Berujung Tebengan...


__ADS_3

Matahari condong di arah barat. Jalanan lumayan ramai, wanita berambut sebahu itu menuruni anak tangga bersama seseorang pria di belakangnya.


"Lu pulang pakai apa?" tanya pria asal Sumatra itu.


"Naik angkot," jawabnya sambil melihat bawah, takut jatuh.


"Gua antar saja." Pria itu menawarkan diri.


"Enggak usah, gua bisa sendiri." Menolak dengan cara lembut.


Senja dan Cahaya kenal sejak lama. Mereka berdua kenal saat Cahaya dan keluarganya menetap di Sumatera selama tujuh tahunan. Rumah Senja dekat dengan kontrakan keluarga Cahaya, awalnya mereka saling menyapa berujung persahabatan.


"Beneran enggak mau?" Senja bertanya, untuk yang kesekian kalinya.


"I– ya!" jawaban Cahaya terdengar yakin.


Ternyata punya sahabat yang masih singel dan sudah punya pasangan itu rasanya berbeda. Itulah yang Senja rasakan sore itu. Bagaimanapun seorang pasangan harus bisa menghargai pasangannya.


"Gua cabut ya Sen!" Cahaya berlari, sambil melambaikan tangan kearah sahabatnya itu.


Lima menit Cahaya menunggu, akhirnya angkot merah itu, berhenti di depannya. Cahaya masuk ke angkot itu. Wanita berambut sebahu itu ingat, saat dia dan suaminya dulu naik angkot dengan gadis berwajah bulat yang tertinggal di angkot. Waktu itu Cahaya dan Langit harus duduk berdesakan dengan penumpang lainnya. Hal itu membuat dada suaminya bersentuhan dengan punggungnya. Cahaya tahu, waktu itu suaminya tidak nyaman dengan posisi itu. Bahkan Cahaya mendengar suaminya berdecak sebal. Bibir wanita berambut sebahu itu, perlahan tersenyum saat mengingat masa lalu bersama suaminya.


"Ternyata hubungan manusia seperti ini. Indah tapi kadang menyakitkan. Di saat Sang Pencipta memisahkan, intinya dalam hidup itu ada balasannya. Jika kita dikasih kebahagiaan, tak luput dari kesedihan. Pun sebaliknya." Cahaya bicara pelan.


Angkot merah itu terus melaju, hingga berhenti di perempatan jalan


"Kang, kenapa berhenti di sini rumah saya harusnya masuk lagi," keluh Cahaya, yang duduk di belakang kang supir.


"Maaf Neng, masalahnya ibu-ibu ini mau ngelahirin," jawab supir itu, sambil menunjuk ibu hamil, yang duduk di samping supir.


Cahaya tidak tahu jika ada ibu-ibu yang duduk didepan. Ah— wanita berambut sebahu itu, memikirkan suaminya jadi lupa sekitarnya.


"Ya sudah, ini Kang. Makasih." Cahaya memberi uang ke supir itu.

__ADS_1


"Makasih, dah." Supir itu menjawab. Cahaya yang sudah keluar angkot merah itu. Dia membuang napas kasar karena harus jalan.


"Astaghfirullah hal adzim, tebengan Ya Allah." Cahaya terus beristighfar.


"Astagfirullah hal adzim, datangkan lah orang yang mau membantu hamba ya Allah." Wanita itu berjalan, sesekali mengambil sampah di jalan kemudian di buang di tempat sampah.


Mobil silver itu terus melaju membelah jalan. Hingga masuk ke perempatan. Pemuda yang ada di dalamnya itu, melihat seorang wanita memakai kemeja biru laut. Wanita itu berjalan sambil memungut botol bekas, kemudian membuang ke tong sampah. Wanita itu adalah.


Tin.... Tin...


Wanita berambut sebahu itu, menengok ke belakang. Matanya tidak percaya, karena istighfarnya membawakan hasil. Mobil itu berhenti di samping wanita itu. Kaca mobil turun sedikit. Ternyata mobil mas zawaji.


"Ngapain?" tanya pemuda, yang ada di dalam mobil.


"Apanya?" Wanita itu bertanya balik.


"Ngapain kayak pemulung," ujarnya mengejek.


"Hem... " Cahaya menyodorkan tangannya kearah pemuda itu.


"Apa?" tanya pemuda itu, tidak mengerti. Cahaya menggelengkan kepalanya, apa suaminya itu tidak mengerti.


"Utang? Kamu hutang dua juta? Nanti kalau udah di rumah, aku enggak bawa uang sebanyak itu." Pemuda itu terus bicara.


Cahaya menggelengkan kepalanya lagi. Tapi tangannya menarik tangan kanan suaminya, kemudian menciumnya.


Langit terdiam. Aduh! Kenapa pemuda itu lupa, jika istrinya akan mencium telapak tangannya, saat dia pulang kerja. Dasar suami tukang su'udzon.


"Sudah enggak marah?" Cahaya bertanya. Pemuda itu, melajukan mobilnya. Bagaimana mungkin pemuda itu marah, jika istrinya sudah membuatnya senang.


Langit terdiam, tidak menjawab pertanyaan istrinya.


Cahaya hanya menatap suaminya, setelah itu membuang napas.

__ADS_1


"Mas zawaji, jangan marah, kan tadi pagi aku sudah kirim SMS, di situ aku berjanji akan segera belajar cara membuat martabak. Dan setelah itu aku dan sahabatku tidak akan bertemu." Cahaya bicara, sambil mengambil permen tusuk di laci dashboard. Kemudian memakannya.


"Permen siapa ini Mas?" tanya wanita itu, sambil merasakan manisnya permen itu.


Langit teringat jika itu permen milik gadis berwajah bulat yang tertinggal. Si gadis berwajah bulat itu selalu nebeng om Dosen, saat pagi. Kadangkala juga bermain di kantor om Dosen, sebelum jemputan datang.


"Cantik!" jawabnya singkat.


"Ridha enggak Mas?" Cahaya bertanya.


"Enggak," jawabnya spontan.


Cahaya cemberut, suaminya itu sangat sulit dibujuk. Kalau mengenai masalah dia dekat dengan lelaki lain.


"Layak adonan martabaknya masih banyak, orang si Mas enggak ridha," ujarnya.


Maklum baru pertama kali kafe buka enggak mungkin langsung ramai. Kalau langsung ramai, boleh jadi wanita berambut sebahu itu kewalahan.


Mobil itu memasuki gerbang rumah Raharja. Penumpangnya keluar, Cahaya berlari kecil dibelakang suaminya.


"Mas, katanya ridha suami itu sangat penting untuk istrinya loh. Kalau Mas, enggak ridha nanti Allah enggak ridha sama aku. Emang Mas, mau? Istri Mas, enggak dapat ridha Allah?" Cahaya bicara di samping suaminya.


Langit masih terdiam, bagaimanapun pemuda itu takut jika istrinya, dekat dengan seorang lelaki lain. Bukan masalah suudzon atau apa, yang namanya was-was setan itu ada.


"Cepat selesaikan masalahmu itu, jika mau dapat ridha suami," jawabannya membuat Cahaya sekakmat. Pemuda itu terlalu menyudutkan istrinya.


"Iya, Mas zuwaji satu minggu," jawabannya, membuat suaminya tersenyum dalam hati. Karena istrinya sangat yakin dengan janjinya.


"Assalamu'alaikum." Langit mencium tangan eyang.


"Wa'alaikumussalam." Eyang tersenyum, tapi saat Cahaya yang mencium tangannya. Nenek tua itu membuang muka. Bagaimanapun Caranya harus menghargai nenek tua itu. Meskipun ucapan nenek tua itu selalu menyakiti hatinya.


Nanti malam akan ku buat kau menangis wanita kampung, aku tidak suka denganmu. Enggak ikhlas jika cucuku bersamamu. Sepuluh bulan lagi, kita lihat. Apa kau akan mengandung atau tidak. Semoga kau tidak mengandung, agar aku bisa mendekatkan cucuku dengan wanita yang lebih dari kau. Aku janji!. Batin nenek tua itu. Entah apa sebabnya nenek tua itu, membenci cucu menantunya.

__ADS_1


__ADS_2