
Suara adzan subuh membangunkan, wanita yang tertidur di pelukan suaminya itu. Perlahan dia mendongak kan kepalanya, dilihat mata suaminya terpejam. Perlahan dia melepaskan pelukan itu.
"Kau sudah bangun?" tanya Langit, dengan suara khas orang bangun tidur.
Cahaya yang mendengar hal itu, dia memutarkan bola matanya, dia pikir suaminya belum bangun. Dia sangat malu, karena tadi malam dia langsung memeluk suaminya itu.
"Iy-iya."
"Nanti kita akan ke hotel jam sembilan, aku harap kau cepat mengemasi barang-barang mu,"
...***...
Pasangan baru itu sudah selesai bersiap. Pemuda itu sudah memakai kemeja warna biru muda, pun dengan istrinya juga memakai kemeja yang senada. Langit tanpa kata, dia langsung menyeret koper dan tas yang ditaruh di atas koper itu. Pasangan baru itu sudah ada di depan nek Endah.
"Nenek, Aya ke hotel duluan ya, nanti Nenek sama keluarga besar ke sananya. Jaga kesehatan Nenek saat Aya sudah tak bisa merawat Nenek lagi." Wanita itu menangis dipeluk kan neneknya.
Bagaimana pun nenek adalah orang yang sangat dekat dengan Cahaya. Nek Endah memeluk cucunya sangat erat.
"Pagi, Pak Langit dan Bu Cahaya!"
"Pagi, Kak Jo!"
Keluarga Raharja yang memilih hotel. Hotel bintang empat itu terletak di Daerah Jakarta Barat.
Sesampainya di dalam hotel itu, mereka mencari kamar yang sudah ditentukan untuk pasangan baru itu. Mereka berjalan beriringan. Tak ada pembicaraan apa pun dari keduanya. Mata Cahaya melihat gadis berwajah bulat itu, berlari kearahnya.
"Akak, Om Dosen!" teriaknya melihat pasangan baru itu.
"Kamu lari-lari, nanti jatuh loh," ucap Cahaya.
"Kita ke kamar saja, Cantik kau boleh ikut," ucap Langit.
Kamar yang luas, disain yang bisa di bilang sempurna. Warna tembok coklat muda dan didominasi garis vertikal berwarna hitam yang hanya ada di bagian kanan ranjang. Ranjang yang luas, seprai warna putih dan hitam ada sofa di samping ranjang, televisi dan bisa melihat pemandangan kota Jakarta.
Mata gadis berwajah bulat itu, berbinar saat melihat kelopak bunga mawar yang berbentuk love.
"Wah ...kenapa punya papi dan mami tidak ada bunganya. Ya?" tanya gadis berwajah bulat itu, yang sudah naik keranjang.
__ADS_1
Cahaya menggeleng kan kepala, gadis itu benar-benar mengemaskan.
"Yasudah, Cantik tidur disini saja, sama Akak sama Om Dosen!"
Pasangan itu duduk di sofa, dengan si suami yang main ponsel.
"Benarkah, Om Dosen?"
"Tanya saja sama papi, jika mengizinkan maka, kau boleh tidur bersama kami."
Gadis berwajah bulat itu, menatap pasangan itu bergantian, dan diakhiri dengan menatap om Dosen.
"Benar ya Om. Kalau papi ngizinin, aku boleh tidur dengan kalian, jangan bohong ya Om. Kalau bohong dosa, masuk neraka." Om Dosen hanya mengangguk, mengiyakannya. Gadis itu sudah berdiri dari duduknya. Dan ingin bertanya kepada ayahnya, apa ayah akan mengizinkan dia tidur bersama pasangan baru itu. Tapi saat dia sudah mau membuka pintu keluar, gadis berwajah bulat itu kembali lagi.
"Akak sama Om Dosen seperti anak kembar saja, bajunya samaan."
Gadis itu melompat-lompat dengan riang, sesekali bersenandung. Gadis itu sudah ada dikamar ayah dan ibunya. Dia berjalan kearah ayahnya.
"Pi, apa aku boleh tidur bersama akak Bubble dan om Dosen?"
"Enggak boleh, Can jangan ganggu mereka."
"Kalau Papi bilang enggak ya enggak, kapan-kapan saja. Masih banyak waktu sayang," ucapnya lembut.
Gadis berwajah bulat itu kecewa.,
Jam dikamar Hotel itu, menunjukkan pukul empat sore. MUA sudah datang, dan sore itu mereka sudah bersiap merias wajah Cahaya. Langit memilih keluar dari kamar, dia berjalan kearah kamar si kembar yang ada di samping kamarnya.
"Kang Mas, masuklah." Arche menyuruh kang masnya masuk ke kamarnya.
Si kembar saling tatap, karena melihat kemeja yang dipakai kang masnya itu. Langit langsung menjatuhkan badannya di ranjang. Sedangkan si kembar masih berdiri.
"Warna bajunya bagus Kang Mas!"
"Kalian sudah makan?" tanya Langit, yang memilih, mengalihkan pembicaraan.
"Belum," jawab Arche.
__ADS_1
"Makan dulu sana."
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, banyak tamu undangan berdatangan. Cahaya sudah selesai, wanita itu nampak cantik memakai hijab, kebaya warna putih dan bawahan jarik batik. Sedangkan suaminya memakai atasan putih, jarik batik bagian pinggang terselip seperti keris.
Mereka berjalan berdampingan dengan Cahaya menggandeng lengan suaminya. Langit harus berjalan pelan-pelan, karena istrinya memakai jarik plus sandal berhak tinggi.
Acara selanjutnya adalah sungkeman, pasangan itu berjalan kearah orang tua mempelai laki-laki. Tangisan pak Khan pecah tatkala Langit sungkem dengannya. Ayah menangis di pelukan anak lelakinya. Sedangkan Cahaya sedang sungkem dengan Abidah Aminah, ibu mertuanya juga menitihkan air mata, tatkala menantunya sungkem. Abidah Aminah mencium pipi menantunya itu. Sekarang mereka bergantian posisi. Saat anak lelakinya, sungkem di depannya.
Abidah Aminah juga sama halnya, dengan sang suami yang menangis saat memeluk putranya. Sekarang saatnya mereka sungkem ke keluarga mempelai wanita. Cahaya menangis saat sungkem dengan ayahnya, pun dengan ayahnya juga menangis saat putrinya itu sungkem dengannya. Ayah dan putrinya itu teringat dengan mendiang ibu. Acara sungkeman telah selesai. Kini saatnya mereka bersalaman dengan tamu undangan. Satu persatu tamu undangan itu, naik ke altar pernikahan. Tamu yang sudah bersalaman bisa memakan-makanan yang sudah disediakan.
Sahabat Cahaya, mulai naik ke altar pernikahan untuk memberi selamat.
"Selamat Pak Langit!" ucap Rai, Langit hanya mengangguk.
"Sahabatku, selamat menempuh hidup baru." Rai memeluk sahabatnya itu.
"Wah, tadi malam Cahaya sudah ada yang menemani saat tidur," ucap Alexa, sambil menggandeng tangan bocah dua tahun setengah.
Alexa sudah menikah dengan pria yang dijodohkan denganya.Ya! Anak yang digandeng Alexa adalah anak kedua dari suaminya. Pernikahannya sederhana, karena sang suami juga sudah pernah menikah sebelumnya, jadi suaminya Alexa tidak mau terlalu mewah.
Sesi foto dengan sahabat sudah. Dilanjutkan sesi foto dengan
keluarga. Gadis berwajah bulat itu naik ke kursi mempelai dan berdiri di sana, sebelum berkata. "Om Cekrak-cekrek, foto kita bertiga ya. Om Dosen cium pipi kananku dan Akak yang sebelahnya."
Fotografi itu mulai memfoto ketiganya.
"Sekali lagi, Om!"
Sekarang foto bersama keluarga besar dari keluarga
keduanya. Langit sudah tidak tahan lagi, karena berdiri terus.
"Apa kau bisa jalan cepat?" tanya Langit dengan suara pelan kearah istrinya, sang istri menggeleng. Pemuda itu membuang napas kasar. Tanpa kata pemuda itu menggendong istrinya. Cahaya sangat kaget karena ulah suaminya itu. Langit mulai turun dari altar pernikahan. Semua keluarga yang masih ada di aula, terkejut dengan sikap pemuda itu.
"Kang Mas, kok buru-buru?" tanya Abidah Aminah, yang masih ada di atas altar
pernikahan anaknya.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tahan, Bu!"
Semua orang saling tatap, karena jawaban pemuda itu. Kemudian tertawa bersama, entah apa yang mereka tertawa kan.