Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Orang Tua Dadakan


__ADS_3

Malam itu Agam Ariaja sangat bingung, pasalnya istrinya sedang menangis. Karena Cantik panas dan dapat kabar duka dari keluarga yang ada di Aceh. Bahwa ayahnya Agam Ariaja meninggal dunia.


"Bagaimana ini Pi? Mami sangat bingung! Cantik sedang sakit dan di sisi lain keluarga yang ada di Aceh sedang berduka, karena kepulangan ayah! " tanyanya, sambil mengelus rambut putrinya.


Agam Ariaja juga tidak bisa berpikir secara jernih. Agam Ariaja duduk di sofa sambil memijat kepalanya. Black juga ada di sana. Pemuda delapan belas tahun itu sangat sedih, karena abu syik telah dipanggil Tuhan. Terakhir bertemu waktu lebaran tahun lalu yang jatuh tanggal 13-14 November 2004 sebelum tsunami Aceh. Waktu itu keluarga Aceh datang ke Jakarta. Hampir dua bulan lamanya, keluarga Aceh menginap di Jakarta. Dan waktu ingin pulang ke Aceh keluarga itu, di kejutkan dengan pemberitaan tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004.


Yang merenggut nyawa 230.000–280.000 tewas dan lainnya hilang.


"Cut Abang juga enggak akan bisa merawat, Cut Adik! Pi, lalu siapa yang akan menjaga Cut Adik. Papi tahukan si bungsu kalau sakit selalu mengigau yang enggak-enggak,"


"Mi, apa enggak sebaiknya kita minta tolong Cahaya saja. Mungkin saja dia mau, Mi!"


"Coba deh Pi, Mami telepon semoga saja Cahaya mau." Istri Agam Ariaja itu mengambil ponselnya.


"Teh, apa bisa minta tolong?"


"Iya, Mi ada apa? Kenapa malam-malam begini, Mi!" Cahaya mengangkat telepon itu saat mau tidur. Dia berpikir kenapa istrinya Agam Ariaja itu menelponnya, di jam yang hampir semua orang sudah terlelap dalam mimpinya.


Istri Agam Ariaja itu menceritakan semua tentang Cantik yang sakit dan ayah mertuanya yang meninggal.


"Baiklah, nanti Mami akan menyuruh abang menjemputmu."


...***...


Hampir setengah jam, mereka menunggu. Kedatangan Cahaya dan Langit ...akhirnya mereka sudah datang lima menit yang lalu.


Istri Agam Ariaja berucap. "Teh, tadi Mami buat bubur untuk Cantik. Nanti Teteh suapi ya kalau cut adik sudah bangun." Cahaya hanya mengangguk.


"Mi, nanti Mami lewat jalur udara?"


"Iya, Teh, Mami juga sangat bingung. Takut jika tak ada tiket pesawat untuk malam ini."

__ADS_1


"Cut Abang bersiaplah, kalau kamu mau ikut, setelah pemakaian abu syik kita akan ke Jakarta lagi. Karena cut adik, juga sakit."


"Tadi aku sudah ke rumah pak RT, bahwa kalian akan menginap di sini dan kalian tenang saja pak RT sudah mengizinkan,"


Saat mereka sudah pergi ke bandara. Cahaya berjalan ke kamar Cantik. Kamar itu bernuansa serba putih dari lemari, rak sepatu, rak buku, meja belajar dan laci yang ada di sisi kanan-kirinya ranjang. Cahaya bisa menyimpulkan bahwa gadis berwajah bulat itu menyukai warna putih. Namun Cahaya malah terpanah dengan kertas warna-warni yang ditempel di tembok berwarna putih itu. Kertas itu lebarnya mungkin sama dengan amplop. Cahaya mulai mendekati kertas-kertas yang tertempel di tembok. Cahaya semakin terpanah dibuatnya, itu kertas bukan kertas kosong tapi ada tulisannya.


Apalah arti kerinduan jika tidak pernah bertemu?


Salah satunya itu, tulisan yang tak rapi tapi masih bisa dibaca. Saat Cahaya mau membacanya lagi, wanita itu dikagetkan dengan kedatangan Langit.


"Kompres, Cantik dengan air, ini," ujarnya Langit, sambil memberikan baskom kepada Cahaya.


Cahaya mulai mengkompres dengan hati-hati takut gadis berwajah bulat itu terbangun.


"Panas sekali ini, Bang!"


"Cobalah, cek suhu tubuhnya berapa?"


Cahaya pun mengecek tubuh gadis berwajah bulat itu.


"Cantik rindu, Cantik mau ikut. Tunggu Cantik. Jangan tinggalkan Cantik, Cantik sangat rindu. Cantik mau di peluk." Cantik yang mengigau seperti itu semakin membuat Cahaya takut. .


"Cantik, bangun sayang. Kak Cahaya ada di sini sayang!" Cahaya mencoba membangunkan gadis itu. Langit juga sedikit panik melihat Cantik yang mengigau seperti itu. Dia sangat tahu Cantik pasti bermimpi tentang Mentari.


"Ayo, bangun sayang Om Dosen juga ada di sini." Cahaya masih mencoba membangunkan gadis itu. Perlahan mata gadis itu, mulai terbuka. Gadis berwajah bulat itu, menangkap sosok wanita yang hampir mirip dengan orang yang ada di mimpinya.


"Untunglah, kamu sudah bangun."


"Papi, mami!" ucapnya.


"Sayang... " Cahaya tak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin jika dia bilang ayah, ibu dan kakaknya sedang ada di Aceh.

__ADS_1


"Cantik, sayang. Papi sama mami sedang keluar nanti juga pulang, Cantik makan dulu ya sayang. Akak suapi." Cantik menggeleng.


"Cantik sayang, kau tahu cerita ibu kelinci dan anak kelinci." Cantik menggeleng.


"Kau mau tahu ceritanya enggak?" tanya Cahaya, gadis itu mengangguk. Kapan lagi dia akan mendapatkan cerita malam-malam tentang seekor kelinci.


"Tapi, sebelum itu. Om Dosen, ambil bubur di dapur dulu ya." Cahaya memberi isyarat kepada Langit agar mengambil bubur di dapur.


"Aku enggak mau makan," ucap gadis itu menggeleng. Cahaya tersenyum, ternyata gadis yang ada di pelukannya itu sangat tahu jika bubur yang akan Langit bawakan itu untuknya.


"Enggak kok, bukan untuk Cantik, itu untuk anak kelinci. Bukan kah Cantik mau mendengar cerita dari Kakak?"


Pemuda itu telah kembali ke kamar itu lagi.


"Baiklah, Om Dosen sudah ada berarti cerita ibu kelinci dan anak kelinci bermula." ucap cahaya


...*Di suatu masa ada dua ekor kelinci. Yang satunya adalah ibu kelinci yang satu anak kelinci. Pada malam harinya anak kelinci itu sedang sakit. Ibu kelinci sangat sedih, melihat anaknya menangis. Ibu kelinci tak tahu anaknya kenapa menangis. Lantas Ibu kelinci bertanya kepada anak kelinci. "Anakku, kenapa kau menangis, bukan kah ibu ada bersamamu?" tanyanya. Lantas anak kelinci itu menjawab. "Ibu, saat temanku bernama, kucing sakit, ibunya selalu bilang begini kepada kucing."...


...Ibu Kelinci itu tak sabar mendengar anaknya bercerita*....


..."*Anakku, kucing apa yang ingin kamu makan. Ibu akan menurutimu, lalu temanku menjawab begini Bu."...


...Lagi-lagi ibu Kelinci itu masih setia mendengar cerita dari anaknya. " Ibu aku ingin makan ikan asin, dan ibunya temanku itu pergi ke dapur dia membawa ikan asin itu kepada anaknya*."...


..."Ibunya selalu memberi apa yang ia ingin kan bu, ibu apa aku boleh meminta sesuatu kepadamu," tanya anak kelinci kepada ibunya. Lantas ibu itu mengangguk. "Ibu aku ingin makan kangkung, apa ibu bisa memberikannya?" tanya anak kelinci lagi. Yang membuat hati ibu kelinci teriris karena ibu kelinci, tidak punya makanan dirumahnya....


..."Maaf kan aku anakku, ibu tidak punya kangkung untuk kau makan, ibu hanya mempunyai rumput ini Nak!" ucap ibu kelinci, kepada anaknya itu. Anak kelinci ini tersenyum dan berkata. "Baiklah ibu, tak apa jika tak ada kangkung yang penting ada rumput untuk mengganjal perutku ini. Biar aku lekas sembuh"...


...TAMAT......


Cahaya menceritakan kisah itu kepada Cantik dan gadis itu mendengar cerita itu dengan baik. Langit juga mendengar cerita dari Cahaya, yang menurutnya tidak masuk akal.

__ADS_1


"Jadi, Cantik lihatlah anak kelinci itu mau makan meski sedang sakit. Jika Cantik tidak mau kalah dengan anak kelinci maka Cantik harus makan. Dan satu lagi kelinci itu tetap makan meski tidak dengan makanan yang ia minta. Sekarang Cantik makanan ya, di luar sana ada banyak anak-anak seusia Cantik kelaparan ...karena ibunya tak punya uang untuk membeli makanan. Dan Cantik, harusnya bersyukur karena Allah memberi bubur ini untuk Cantik. Nanti kalau Cantik sudah sembuh dari sakit. Akak akan mengajakmu makan nasi pecel, dan kita juga bisa berbagi dengan anak-anak yang hidup di jalan. Setuju enggak?" tanya Cahaya, akhirnya gadis itu mau makan, meski hanya sedikit, tak masalah yang penting makan. Dan setelah itu Cahaya membantunya untuk minum obat. Cantik sudah tertidur lagi, istri Agam Ariaja selalu mengirim pesan apa Cantik baik-baik saja. Mereka bertiga tidur di satu kamar, Cahaya tertidur di samping Cantik sedangkan Langit tidur di sofa.


Malam itu Cahaya dan Langit harus menjadi orang tua dadakan.


__ADS_2