Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Pendahuluan Enam


__ADS_3

Malam hari di kamar pasangan yang hampir dua bulan menikah.


Pemuda itu melipat sajadah dahulu.


"Tolong bantu aku," ujarnya, sambil menyodorkan tangannya kepada istrinya.


Dengan cepat istrinya membantu suaminya, melipat lengan kemeja suaminya.


"Kau sudah bilang kepada sahabatmu itu kan?" Pemuda itu bertanya di sela-sela, sang istri yang sedang melipat lengan kemejanya.


Wanita berambut sebahu itu, mendongakkan kepalanya kearah sang suami. Setelah itu ia mengangguk pelan.


"Baiklah, cepat bersiap aku tunggu." Langit bicara, sambil meninggalkan istrinya.


Cahaya pun lekas melaksanakan apa yang suaminya bilang.


"Mau kemana kalian?" Eyang bertanya, sambil duduk di sofa ditemani televisi.


"Kita akan keluar Eyang!" Langit menjawab singkat.


"Apa istrimu tidak ikut dengan kalian?" Pak Khan bertanya, pria paruh baya itu duduk di samping istrinya.


"Dia masih ada di atas," jawabnya.


Aku pikir si kampung tidak ikut, dengan mereka. Batin Eyang, yang tidak suka jika Cahaya ikut dengan mereka.


Wanita berambut sebahu itu, menuruni anak tangga.Setelah itu berjalan kearah ruang tamu.


"Kita pamit Bu!" Langit langsung saja berpamitan kepada ibunya. Saat melihat sang istri sudah siap.


"Baiklah, berarti kalian tidak akan makan malam bersama kita?" tanya Abidah Aminah.


"Kita bisa makan diluar Bu!" jawabnya Langit.


Cahaya mencium tangan eyang, disaat itu pula eyang berbisik ke telinga Cahaya.


"Kau tahu Asya kan?" pertanyaan dengan senyuman miring.


Cahaya menelan ludahnya, apa yang nenek tua itu maksud. Jantung wanita itu berdebar-debar. Saat mulai menyimpulkan ucapan eyang.


Saat eyang mau berbisik lagi. Ada suara yang menyambar.


"Ayo!" Langit menggenggam tangan istrinya dan menariknya.


Eyang sangat sebal, karena malam itu dia tidak bisa membuat si kampung sakit hati.


Mereka keluar dari rumah, sebelum masuk mobil Langit berpesan.


"Ingat jangan panggil aku Pak!" Langit bicara, kepada seseorang yang membuka pintu mobil warna hitam.


Orang itu pun mengangguk paham. Kedua mobil itu ,keluar dari pekarangan rumah Raharja. Cahaya terdiam tidak berbicara, entah apa yang ada di pikiran wanita berambut sebahu itu. Langit melirik kearah istrinya, yang hanya diam saja.


Kenapa dia hanya diam. Bukankah tadi saat aku selesai sholat tidak ada masalah. Batin Langit.


"Kenapa?" pertanyaan standar dari Langit.


Cahaya yang hanya diam, mulai menatap suaminya dan tersenyum tipis. Wanita itu tidak mau suaminya tah,u jika dia sedang ketakutan. Ketakutan akan kehilangan suaminya.


"Tidak!" jawaban tegas itu, malah membuat suaminya tahu jika istrinya sedang ada masalah.


"Apa Eyang mengatakan sesuatu, yang membuatmu tidak nyaman?" Langit bertanya, sambil menatap arah jalan.

__ADS_1


Cahaya berpikir kenapa suaminya itu, tahu kalau eyang bicara kepadanya. Dan hal itu membuat wanita berambut sebahu itu tidak nyaman sama sekali.


"Jawab, jangan diam. Aku kan sudah pernah bilang jika ada seseorang yang menyakitimu atau apalah, berbagilah dengan ku." Langit bicara dengan wajah sebal.


Bagaimana mungkin aku bercerita denganmu. Jika ini tentang eyang, bagaimana pun eyang mempunyai hubungan darah dengan mu. Sedangkan aku hanya seseorang yang baru saja mengenalmu. Jika kita berpisah, kita akan menjadi mantan suami. Sedangkan eyang dia tetap eyang tidak ada yang namanya mantan eyang.


Langit sangat kesal karena istrinya tidak mengeluarkan suara. Hembusan napas pelan dari pemuda itu.


"Baiklah aku tidak akan pernah memaksamu, seperti kau yang tidak pernah memaksaku untuk bercerita sesuatu hal. Tapi jika kau mau bercerita dengan senang hati aku akan menjadi pendengar yang baik."


Ucapan Langit membuat Cahaya tersenyum lebar. Wanita berambut sebahu itu sangat bersyukur, karena suaminya menghargai keputusannya yang tidak mau menceritakan kenapa dia bersedih.


Dalam mobil warna silver itu sangat hening. Cahaya menatap luaran jalan.


"Mas, kapan ya aku hamil?" Suaranya terdengar seperti tertahan. Langit bisa mendengar pertanyaan dari istrinya yang sedang menatap jalan itu.


"Kau sudah siap jadi Ibu emang? " tanya Langit, sambil menatap punggung istrinya sekilas.


"Tentu saja, setiap wanita setelah menjadi istri pasti ingin jadi ibu." Cahaya tersenyum saat bilang ibu. Tapi senyum itu sudah tidak terlihat lagi. Wajahnya nampak sedih, tapi entah karena apa.


"Ya sudah kita berusaha saja, kalau kau sudah selesai kan." Langit tidak mengerti kenapa istrinya bertanya seperti itu.


Cahaya menengok kearah suaminya yang tersenyum tipis.


"Aku tidak bercanda." Cahaya bicara dengan suara lesu.


Langit melirik kearah istrinya wajahnya nampak pucat seperti orang ketakutan. Langit menghentikan mobilnya dijalan yang sepi.


Langit mencakup wajah istrinya dengan kedua tangannya. Menatap wajah istrinya dengan seksama. Pemuda itu tidak tahu kenapa istrinya itu bersikap aneh.


"Kau sakit?" tanya pemuda itu, sepertinya pemuda itu adalah tipe suami yang perhatian.


"Apa aku akan hamil?" Cahaya melontarkan pertanyaan yang aneh kepada suaminya.


Langit terdiam, dia berpikir istrinya itu hanya sekedar bertanya saja, agar keadaan tidak hening. Tapi tidak! Sepertinya sang istri mencari jawaban yang harus segera dijawab.


"Bersabarlah, nanti kalau kita sudah dipercayai pasti dikasih." Langit memeluk istrinya. Cahaya memejamkan matanya, di pelukan suaminya. Tangan Cahaya mencengkram kemeja suaminya, seakan mencari kekuatan.


"Kita saja baru dua bulan menikah, mungkin Yang di Atas ingin kita pacaran dulu." Langit mengelus kepala istrinya.


Cahaya semakin menenggelamkan wajah dalam pelukan suaminya. Langit mendengar suara seseorang terisak.


"Heh... apa kau menangis?" Langit ingin melihat wajah istrinya. Tapi sang istri malah memeluknya dengan erat dan mengerakkan kepalanya.


"Baiklah kalau kau sakit kita pulang ya?" tanya Langit, mengelus rambut sebahu itu.


Cahaya menggelengkan kepalanya di dada suaminya. Wanita berambut sebahu itu, hanya terisak tidak mengular kan suaranya. Hal itu malah membuat Langit bingung.


"Hikkkks..." Isakkan panjang keluar dari hidung Cahaya.


"Apa hiks Mas akan hikss, ninggalin aku hiks?"


Langit memotong ucapan istrinya itu.


"Kau itu bicara apa? Siapa yang mau meninggalkan mu? Aku akan selalu bersamamu." Langit mendekap tubuh istrinya dengan hangat.


"Walaupun hikss, jika aku tidak bisa memberimu keturunan hikss." Saking takut kah Cahaya sampai bicara enggak jelas seperti itu didepan suaminya.


"Kau itu bicara apa, kita ini baru saja nikah, ya maklum kalau belum dikasih keturunan." Langit menjawab dengan santai.


"Jawab hiks! Apa kau akan meninggalkan aku Mas? Hikkkkssss. Apa kau akan mencari perempuan lagi hikss?" Wanita itu sangat takut, jika suaminya meninggalkan dia. Omongan eyang waktu itu berdampak negatif terhadap wanita berambut sebahu itu.

__ADS_1


"Katakan kenapa kau bertanya seperti ini, pasti ada sebabnya." Langit bertanya seperti itu, tidak mungkin istrinya bertanya hal seperti itu jika tidak ada sebabnya.


Cahaya malah menangis sangat kencang. Wanita itu berpikir jika suaminya mengalihkan pembicaraan.


"Huhuhu.... huaaaaa!"


Langit tidak tahu kenapa istrinya malah menangis dengan kencang.


"Jawablah, hikss." Cahaya meninggikan suaranya. Wanita itu akan kehilangan akal, jika sudah menangis. Pada akhirnya wanita itu akan menyesal dan meminta maaf kepada suaminya.


Langit terdiam tidak ingin buru-buru menjawab.


Cahaya melepaskan pelukan dari suaminya, karena suaminya hanya diam. Langit menatap punggung istrinya, yang bergetar karena menangis. Wanita berambut sebahu itu, membelakangi suaminya sambil mengusap matanya yang basah.


"Kenapa kamu bertanya seperti ini? Apa ini berkaitan dengan eyang, soal keturunan?" Langit bertanya, dia tahu eyang tidak suka dengan istrinya itu.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab dulu pertanyaan ku." Cahaya membentak suaminya. Kenapa begitu susah menjawab pertanyaan darinya, pikir Cahaya.


Langit terkesiap karena istrinya membentaknya tepat di mukanya.


Pemuda itu membuang napas pelan. Saat istrinya seperti anak kecil dia harus lebih dewasa dan mengayomi.


"Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sekarang jawab pertanyaan ku." Langit memegang kedua bahu istrinya.


Dada Cahaya yang sesak, menjadi sedikit lega setelah mendengar jawaban dari suaminya.


"Ayo jawab, apa yang eyang, katakan kepadamu?" Sedikit guncangan di bahu sang istri.


Cahaya menundukkan kepalanya, wanita itu tidak mau jika suaminya marah kepada eyang.


"Jawab." Langit mencakup wajah istrinya agar menatapnya.


Mata Cahaya itu memutar, menatap suaminya sejenak. Wanita itu tidak bisa bicara terus terang dengan suaminya.


"Apa kau tidak menganggap aku suamimu?" Langit bertanya.


Cahaya menggelengkan kepalanya pelan.


"Jika iya, kenapa enggak mau terus terang denganku." Langit sebal karena istrinya itu.


Cahaya hanya diam tidak menjawab, wanita itu mengalihkan pandangannya.


"Jawab pertanyaan ku." Langit bicara sedikit keras, bagaimana tidak yang ada di depannya saja keras kepala. Bahkan tidak mau menjawab pertanyaan darinya.


"Tidak, ini tidak ada sangkut pautnya dengan eyang." Cahaya masih bersikeras untuk menutupi hal itu.


Langit mengusap keringat di dahinya. Pemuda itu tidak tahu dengan cara apa, agar istrinya mau bercerita dengannya.


"Az-zahra, kenapa susah sekali kau bercerita kepadaku." Suaranya sangat lembut. Bahkan Cahaya pun tidak pernah mendengar suaminya bersuara selembut itu.


Apa aku harus bercerita tentang apa yang eyang katakan waktu itu. Batin Cahaya. Mendengar suara lembut dari suaminya membuat wanita berambut sebahu itu goyah.


Ah... tidak aku tidak mau dia marah dengan eyang. Sudahlah cukup aku saja, selama masih kuat pasti akan aku simpan sendiri.


"Ah... sepertinya mobil kak Jo, sudah jauh dari kita." Cahaya berkilah, agar suaminya tidak menyuruhnya bercerita.


Langit membuang napas pelan, pemuda itu tidak bisa membuat istrinya bercerita.


"Iya, siniin mukanya." Langit menyuruh istrinya untuk mendekatkan mukanya dengan dia. Cahaya hanya mengikuti apa yang suaminya bilang. Perlahan Langit mulai, mengelap wajah istrinya dengan tisu basah. Untung ada tisu basah, kalau enggak pasti pakai air botol lagi. Langit hanya mengusap bagian mata, takut kalau luntur makeup istrinya.


"Makasih!" Cahaya, tersenyum kearah suaminya.

__ADS_1


Sekecil apapun yang pasangan kita lakukan harus bilang makasih atau apalah. Hal itu tidak lain hanya untuk mengapresiasi pasangannya, mungkin dengan cara sekecil itu hubungan jadi lebih adem.


__ADS_2