
Cowok delapan belas tahun itu, sedang menselonjorkan badannya di sofa sambil makan sesuatu. Di temani dengan Televisi yang menyala. Matanya menatap tajam, kearah televisi. Dadanya terasa sesak, karena orang yang ia cintai menolaknya mentah-mentah. Baru pertama nembak cewek, sekalinya nembak langsung ditolak tanpa pikir dulu.
"Si*l." desisnya, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Kenzi masih teringat kejadian pagi itu saat dia menembak Archer.
"Masih jaman ya, sekarang dijodohkan. Kayak enggak laku saja, pakai acara nyetok segala." Kenzi ngedumel, karena orang yang ia cintai sudah di jodohkan.
Dikira keperluan bulanan apa bahasa nyetok segala.
"Umur lelaki itu sangat beda jauh dari Archer!" Kenzi mengingat wajah orang yang deket banget dengan Archer saat di kafe.
"Apa benar, dia mau dengan si Jojon monera itu." Aduh! Kenapa kalau orang marah-marah nama orang diganti, tidak meminta ijin.
Alexa yang dari dapur dia mengamati anak sambungnya itu.
"Kenapa kamu Bang?" tanya Ale, selembut mungkin.
Kenzi yang mendengar suara ibu sambungnya. Cowok itu mencari dimana pemilik suara yang bertanya kepadanya.
"Bukan urusan situ." Kenzi menjawab sinis, sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan ibu sambungnya itu.
Alexa menarik napas panjang, karena jawaban anak sambungnya itu.
"Ada apa Yang!" tanya suaminya Alexa.
Om-om panggilannya gaul juga. Pemuda yang selalu memakai kemeja hitam saja kalah dengan om Al.
"Tidak ada, apa-apa Papanya Kenzi!" Alexa tersenyum, sambil menepuk pelan dada suaminya.
"Kamu harus sabar menghadapi Kenzi, lambat laun pasti akan berubah." Suaminya Alexa menyemangati istrinya.
Beralih di kamar yang bernuansa putih.
"Kak, ada yang mau aku bicarakan dengan Kakak!" Nadanya terdengar berbeda dari hari biasanya.
"Ngomong saja, kali Cher! Jangan sok gimana gitu." Arche menjawab, sambil terkekeh dan melemparkan bantal kearah adiknya.
"Kakak suka sama Kenzi kan?" tanya Archer, yang berdiri di depan kakaknya.
Sedangkan Arche berbaring di ranjang. Arche yang mendengar pertanyaan dari adiknya diam tidak menjawab.
"Katakan Kak!"
"Tidak!"
"Jangan bohong, aku tahu Kakak suka kan sama Kenzi!" Archer terus melontarkan pertanyaan yang sama.
"JIKA IYA MENGAPA? Apa kau akan bilang kepada Kang Mas!"
Archer sangat kaget karena suara keras kakaknya.
"Atau jangan-jangan kau juga SUKA!" Arche sudah berdiri di depan adiknya.
"Katakan Cher!" Kakak itu mengguncang kedua pundak milik adiknya dengan kencang.
__ADS_1
Archer menunduk, sepertinya pilihan dia tidak tepat untuk bicara sendiri dengan kakaknya itu. Harusnya dara delapan belas tahun itu, menyetujui kang masnya pagi itu. Untuk mengajak kak Arche ke kamar kang masnya.
Sedangkan di kamar yang tak jauh dari kamar milik si kembar. Pasangan itu sedang menikmati kebersamaannya, sambil melihat langit yang cerah ditambah keindahan awan putih.
"Aku dulu, yang minum, setelah itu baru kamu." Pemuda itu, mengambil gelas berisi susu coklat dari tangan istrinya.
"Biasanya aku dulu, kenapa sekarang Mas yang nyuruh aku minum bekas Mas." Wanita itu menatap wajah suaminya, yang asik meminum si coklat.
Langit memberikan gelas itu kearah istrinya.
"Masa aku yang harus minum bekas mu, mulu."
Cahaya hanya mendengarkan, sambil meminum susu itu yang tinggal separoh karena diminum suaminya.
"Ya sudah, besok aku buatin di gelas sendiri kalau gitu." Cahaya berbicara, sambil menutupi wajahnya karena sinar matahari.
Langit melirik istrinya, sebenernya pemuda itu tidak suka dengan susu. Tapi entah mengapa saat istrinya pertama kali menawarkan susu bekas istrinya dia mau.
"Jangan, takutnya keburu habis kalau satu orang satu gelas. Cari uang tidak mudah butuh tenaga dan otak." Langit bicara, sepertinya pemuda itu lebih suka minum satu gelas bersama istrinya.
Cahaya mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat Langit ingin— Ah lupakan.
"Jangan digituin nanti jelek kamu," tegur Langit menatap istrinya.
Cahaya tidak pernah mendengar suaminya memujinya yang ada malah bodyseaming, terhadap dia.
"Terus kalau aku jelek siapa yang cantik?" tanya Cahaya cemberut.
Langit terkekeh melihat wajah istrinya itu.
"Hawa lah, orang istrinya nabi Adam diciptakan di surga. Siti Saroh istrinya
"Maksudnya yang sekarang."
"Enggak ada." Langit memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Hm... " Cahaya hanya mengangguk saja. Sudah jangan berharap kepada pemuda itu, dia tidak akan bilang istrinya cantik.
"Kecantikan hati lebih berati, jangan pernah membandingkan fisikmu dengan fisik orang lain. Pada dasarnya kecantikan seseorang yang ada di bumi ini hanya sepertiga saja, dibagi seluruh wanita. Kalau ada yang cantik ya wajar. Kalau biasa jangan berkecil hati. Nanti kalau di surga semuanya kembali muda tidak ada yang tua." Langit menaruh dagunya dipundak istrinya.
"Ah— bagaimana dengan si kembar, gawat kalau bertengkar." Cahaya teringat dengan si kembar.
Langit segera melepaskan pelukan itu.
Pemuda itu segera berlari kearah pintu. Cahaya pun mengikuti suaminya dari belakang.
"Tidak! KAKAK!" Archer menjawab dengan keyakinan.
"Jangan bohong kamu Cher!" Arche melepaskan cengkraman yang ada di pundak adiknya.
"Kenapa Kakak tidak percaya dengan ku hiks. AKU TIDAK PERNAH MENCINTAI KENZI!!!! " Archer berteriak, bagaimana mungkin kakaknya tidak percaya dengan dia.
"AKU MEMBENCINYA HIKS. KARENA DIA AKU DIHUKUM HIKS. DENGAN APA LAGI AKU BISA BUAT KAKAK PERCAYA!" Archer berteriak memenuhi ruangan, hingga kakinya tidak kuat menanggung beban. Hal itu membuat Archer tersungkur.
Arche terdiam, membelakangi adiknya. Hatinya dikuasai oleh rasa iri, karena orang yang ia cintai mencintai adiknya. Arche mendongak dan mengusap wajahnya kasar, sambil membuang napas.
__ADS_1
Kenapa ini terjadi, kenapa omongan lu benar-benar terjadi Black. Kenapa kita terjebak cinta yang sulit. Batin Arche, yang mengingat pemuda sembilan belas tahun keturunan Aceh itu.
"Kakak tahu? Sebenarnya aku ada rasa dengan Hitam!" Suaranya terdengar pelan. Archer sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Dara delapan belas tahun itu baru menyadarinya saat keluar dari kamar kang masnya.
Pintu kamar itu terbuka, orang yang membuka pintu itupun tercengang.
"Apa?" Pemuda itu berjalan kearah adik kembarnya.
Arche membalikkan badannya, dara delapan belas tahun itu sangat terperanjat karena suara kang masnya. Sedangkan Arche yang tersungkur sambil menunduk, mendongakkan kepalanya.
Wanita berambut sebahu itu, baru sampai kamar itu, kemudian menutup pintu itu.
Langit tidak percaya jika adik kembarnya, sudah tertarik kepada lawan jenis. Pemuda itu menjambak rambutnya karena frustasi mikirin adiknya yang sudah dewasa pikirnya.
"Kalian bukannya, sudah Kang Mas bilang jangan mikirin cowok dahulu sebelum lulus sekolah, kenapa malah sekarang kelas tiga, yang harusnya matia-matian belajar malah. Ah—" Langit menjambak rambutnya dengan kasar ditambah teriakan di akhir ucapannya.
Si kembar nampak takut dengan kang masnya itu. Arche menundukkan kepalanya sangat dalam. Sedangkan Archer masih tersungkur, sambil menangis. Dara delapan belas tahun itu, merasa bersalah, karena mengecewakan kang masnya. Cahaya mengelus pundak suaminya dengan lembut, seraya berkata, " Tidak ada yang tahu kapan kita mencintai seseorang, tidak ada yang tahu umur berapa kita tertarik dengan lawan jenis. Mereka sudah dewasa, tidak salah jika tertarik dengan lawan jenis. Emang dulu Masnya enggak pernah jatuh cinta. Emang dulu Mas, menyuruh diri Mas untuk jatuh cinta umur segini seumpama. Kebanyakan orang mempunyai planning nikah umur sekian. Punya anak punya rumah umur sekian. Itupun kalau rencananya tepat, seperti yang kita susun dari pertama sama akhir. Emangnya hati itu bisa gitukan, diberikan rencana kau harus jatuh cinta tanggal ini, umur segini. Yang memegang hati kita itu Allah, Dialah yang berkuasa untuk membolak-balikan hati kita. Kita itu cukup ngejalanin." Cahaya berjalan kearah Archer dan membantu untuk berdiri, kemudian menyuruh duduk di ranjang.
Pemuda itu hanya terdiam, ada benarnya juga ucapan istrinya itu.
"Tapi kalian eh harus tahu, itu benar-benar cinta atau hanya ***** saja. Diumur kalian seperti ini, kalian tidak bisa mengontrol ***** kalian. Dan kalian berdua ini, terlalu mudah menyimpulkan— jika saat kita tertarik dengan lawan jenis itu adalah cinta. Padahal boleh jadi, itu cuma obsesi saja. Kalian hanya tertarik memilikinya, ketahuilah cinta dan obsesi itu beda." Cahaya berbicara panjang, wanita itu menjadi dewasa diwaktu tertentu.
"Karena obsesi adalah hasrat ingin memiliki semata, saat kamu berhasil mendapatkannya, perasaan dalam dirimu juga akan perlahan-lahan menghilang. Obsesi dalam dirimu sudah terpenuhi, sehingga apa yang sudah kamu miliki tidak menarik lagi. Bagaimana kalian bisa bilang cinta padahal kenalnya baru. Kita belum tahu sifatnya, bagaimana mungkin itu cinta?"
"Sekilas cinta dan obsesi memang sulit dibedakan. Apalagi kalau kamu sedang dilanda asmara. Seringnya kita kesulitan memilah apakah perasaan kita cinta yang sesungguhnya atau rasa penasaran semata. Sebelum semuanya terlambat, ada baiknya kamu belajar untuk memahami perasaanmu sendiri, agar tidak tersesat di ruang yang salah."
Si kembar terdiam, mendengarkan kakak iparnya. Sedangkan Langit menatap istrinya dengan keadaan tentang. Tidak seperti pertama masuk kamar si kembar, yang penuh emosi.
"Belajarlah yang benar, jangan mikir apapun. Setelah lulus silakan kuliah, kalau ada cowok yang mau sama kalian bawa ke rumah. Kalau hanya minta ijin pacaran tidak akan boleh, tapi kalau ingin meminang dengan terbuka keluarga ini menerima. Di keluarga ini tidak ada kata pacaran lama. Kalau adapun itu perjodohan bukan pilihan kita sendiri. Kalau mau ya seriusin kalau enggak tinggalin. Kang Mas enggak suka jika kalian sakit hati." Langit bicara, sambil bersandar di tembok dan menyilang kan kedua tangannya di dada.
Ting!
Archer membaca pesan yang masuk dari seseorang yang membuatnya emosi.
"Siapa?" Langit bertanya, dengan suara bertanya.
Archer terdiam, membuang napas kemudian menjawabnya. " Kenzi!"
Arche yang mendengar masih belum bisa legowo, jika cinta pertamanya mencintai adiknya.
"Bilang apa?" Kang .as itu berjalan kearah ranjang.
"Katanya dia ingin bertemu, dan membawa orang yang dijodohkan dengan ku. Sepertinya dia belum percaya kata-kataku."
Arche yang mendengar adiknya bicara, dara delapan belas tahun itu berpikir. Emang adiknya dijodohkan dengan siapa.
Langit membuang napas pelan. Kenapa kasus percintaan adiknya sangat berat.
"Lantas apa yang akan aku lakukan Kang Mas? Aku sangat tidak nyaman dengannya. Hal itu membuat aku tidak fokus belajar Kang Mas!" Archer menggoyangkan kedua tangan kang mas.
Ternyata jawaban Archer kemarin membuatnya dalam masalah besar. Sepertinya dara delapan belas tahun itu, tidak berpikir sebelum mengucapkan sesuatu.
"Tenang lah, kita cari jalan keluar. Di setiap permasalahan ada jalan keluar. " Langit memeluk adiknya yang duduk di ranjang sedangkan dia berdiri di depan adiknya.
Langit tidak akan diam saja, jika menyangkut masa depan terutama pendidikan. Apa lagi, hal itu membuat adiknya tidak optimal dalam belajarnya. Langit selalu memprioritaskan urusan hal itu dari apapun.
__ADS_1
"Terus aku harus balas apa? Kang Mas? Jika tidak pasti dia akan kirim pesan, nanti aku takut dia telpon terus menerus." Archer bertanya kembali.
"Jangan dibalas dulu, nanti malam kita akan menyelesaikan masalah ini bersama. Kalau dia nelpon matiin ponselnya dulu." Langit bicara, sangat lembut kepada si bungsu. Langit sangat mengenal adik-adiknya. Si bungsu lebih dewasa dari pada kak Arche. Ya maklum dari brojol saja Arche duluan sedangkan Archer yang mengalah. Harusnya yang jadi kakak itu Archer yang keluar belakangan karena dia mengalah dengan Arche. Bukanya kakak itu selalu dituntut untuk mengalah dan mengayomi adiknya.