Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Suara Didalam Selimut


__ADS_3

Siang itu jadwalnya Cahaya pulang ke rumah. Dokter telah memeriksanya kembali, sebelum dia boleh pulang ke rumah. Langit dan Black kedua pemuda itu, selalu bersama. Black selalu membantu Langit dalam hal apa pun. Pemuda keturunan Aceh itu, tidak perlu di perintah untuk membantu Langit. Seperti siang itu contohnya, Black siang itu sedang membereskan barang-barang Cahaya dan beberapa barang Langit yang tertinggal di ruangan Cahaya.


"Black, aku akan mengurus administrasi! Setelah kau selesai membereskan semua, kita pulang!" Langit bicara sambil keluar dari ruangan Cahaya. Pintu ruangan tertutup. Meninggalkan Cahaya yang bersandar di ranjang, dan Black yang membersihkan ruangan itu.


"Teteh, pasti bahagia karena mau pulang." Black memecah keheningan.


"Entahlah, Black! Aku tidak tahu, harusnya aku pulang dengan dia dan menggendongnya." Cahaya tersenyum membayangkan bagaimana jika dia menggendong bayinya.


Black yang mendengar hal itu, menarik napas panjang kemudian menghembuskan perlahan. Dadanya sesak, jika wanita berambut sebahu itu membahas bayi.


"Teteh, suatu keberuntungan datang padaku. Tapi sebelum aku beruntung, aku melewati fase kehilangan. Yaitu ... saat aku kehilangan kakak perempuanku. Dan suatu keberuntungan bagiku, saat aku menemukan. Seseorang yang bisa membuat aku, merasakan apa yang telah lama hilang. Tuhan, memberikan semua itu dengan cara mendatangkan, seseorang yang memiliki wajah dan perilaku yang hampir sama. Dan seseorang itu adalah orang yang ada di depanku sekarang." Black bicara tepat berdiri di depan Cahaya. Cahaya yang mendengar perkataan Black dia tertegun.


"Logikaku tidak pernah, menayangkan semua ini terjadi. Tetapi, logika Tuhan berbeda. Teteh jika sekarang, Teteh kehilangan sesuatu. Mungkin Tuhan, akan memberikan kebahagiaan di masa depan. Dan Tuhan, akan memberikan, apa yang pernah terjadi akan terulang lagi. Maksudnya mengandung, Teteh, masih muda. Tuhan, akan memberikan semua itu, di waktu yang sudah, Allah, catat dalam takdir kalian." Cahaya yang mendengar hal itu, hatinya sedikit terobati. Ada harapan buat Cahaya, untuk mengandung kembali. Cahaya menarik napas, kemudian membuangnya perlahan.


Pintu ruangan Cahaya terbuka, Langit telah kembali. Pemuda itu memberikan senyuman untuk istrinya.


Langit mendekati ranjang istrinya, dan berdiri di samping Cahaya.


"Sudah selesai Black?" Langit menatap seluruh ruangan.


"Sudah selesai semua, Insya Allah enggak ada yang ketinggalan." Black bicara sambil menutup resleting ransel.


"Kita pulang sekarang," ujar Langit memberi tahu.


Black segera membawa dua ransel ditangannya. Karena Langit akan menuntun istrinya.


"Ayo aku bantu turun!" ujar Langit memegang badan istrinya.


"Tidak, aku tidak mau!" Cahaya menggeleng. Membuat kedua pemuda itu keheranan. Memang ada orang suka di rumah sakit mulu, enggak mau pulang.


"Masih betah disini?" tanya Langit menelisik.


"Siapa bilang!" Cahaya menjawab santai.


"Lah terus?" Langit mengerutkan dahi.


"Gendong!"


Black menahan tawanya karena jawaban Cahaya.


"Ya sudah, ayo aku gendong!" Langit sudah siap mengangkat tubuh istrinya. Tepi Cahaya mengeluarkan suara, membuat Langit menghentikan langkahnya.


"Tidak-tidak!" Cahaya menggeleng, membuat Langit bertanya. "Katanya mau minta di gendong, sekarang bilang. Tidak-tidak, sebenarnya apa yang kau mau?" Langit berusaha untuk sabar menghadapi istrinya itu.


"Gendong belakang!"


Black tertawa kembali karena ulah Cahaya, yang merepotkan Langit.


Langit menatap Black yang mentertawakan nya. Black harus menahan tawanya.


Langit sudah memberikan punggungnya untuk istrinya itu. Langit sudah siap untuk menggendong Cahaya. Tapi Cahaya masih diam, membuat Langit bertanya. "Ayo cepat, katanya mau di gendong dibelakang?" tanya Langit menengok istrinya itu.

__ADS_1


"Aku pengen pipis!" jawab Cahaya yang membuat Langit membuang napas.


Black berusaha menahan tawanya.


"Tidak, nanti saja kalau sudah di rumah!" Langit segera menggendong istrinya itu. Setelah itu, ketiga orang itu keluar dari ruangan. Black mengikuti mereka dari belakang. Cahaya menggerutu di gendongan suaminya. Langit hanya diam tidak mau membalas ocehan istrinya.


Mereka sudah ada di tempat parkir, Langit membantu istrinya masuk mobil. Kemudian Langit duduk di samping istrinya. Sedangkan Black memasukkan kedua ransel itu, ke bagasi. Black menutup bagasi, kemudian berjalan kearah pintu depan. Black membuka pintu bagian depan, kemudian menutupnya dan memasang seat belt. Setelah itu Black segera tancap gas. Mobil putih itu, sudah meninggalkan rumah sakit satu detik yang lalu.


Dalam perjalanan tidak ada yang berbicara. Langit memejamkan matanya karena lelah. Sedangkan Cahaya menatap, jalan raya. Maklum satu bulan, wanita itu tidak bisa menikmati ramainya kota Jakarta.


"Enggak tidur Teh? Abang saja tidur?" tanya Black yang tetap fokus menyetir.


"Aku tidak tidur!" Langit menjawab dengan memejamkan mata.


"Black, nanti kalau ada kang bakso kita mampir ya?" Cahaya memberi tahu. Sepertinya enak, makan bakso di siang bolong. Mungkin itu yang ada di pikiran Cahaya.


"Tidak, jangan hiraukan ucapannya." Langit menyahut


Black menggelengkan kepala, kalau pasangan itu sudah berselisih.


Cahaya sangat kesal, karena suaminya selalu melarang.


"His ... sudahlah aku tahu kau tidak pernah mau menuruti ucapan ku." Cahaya mengerucutkan bibirnya.


Mobil itu telah memasuki gerbang kediaman Raharja. Langit turun dari mobil, dia harus menggendong istrinya kembali. Black mengambil ransel itu, kemudian mengikuti dari belakang.


Di sana keluarga sudah ngumpul untuk menyambut kedatangan Cahaya.


"Wa'alaikumussalam!" jawab semua keluarga.


"Hoye, Aunty udah ulang!" Balqis jingkrak-jingkrak karena Cahaya telah kembali ke rumah Raharja.


Cahaya tersenyum di gendongan suaminya.


"Yasudah, Kang Mas antar istrinya ke kamar biar istirahat!" Abidah Aminah memberi saran. Langit hanya mengangguk. Saat Langit berdiri di depan tangga, pemuda itu berhenti.


"Turun!" Langit bicara pelan.


Cahaya berbisik di telinga suaminya. "Tidak mau, aku mau di gendong." Cahaya tersenyum lebar setelah membisikkan sesuatu.


Seluruh keluarga menatap mereka berdua, yang diam dia depan tangga.


Langit membuang napas kasar, istrinya itu benar-benar selalu merepotkan. Mata Langit, menatap tangga itu, Langit kembali membuang napas kasar. Kaki Langit menaiki tangga itu, satu persatu. Cahaya menutup matanya saat di gendong suaminya.


Setelah setengah jalan, Langit berhenti karena capek. Dia membenahi posisi istrinya, yang ada di punggungnya itu. Pemuda itu mulai menaiki tangga kembali, dengan rasa capek. Setelah sampai di kamar, Langit membaringkan istrinya yang tertidur. Langit baru mau membuka pintu kamar, tapi ada suara yang membuatnya tidak jadi membuka pintu kamar.


"Masnya, mau kemana?" Cahaya bertanya sambil duduk di ranjang.


"Bertemu dengan Black!" jawab Langit menghadap kearah istrinya.


"Aku ikut!" Cahaya berdiri di atas kasur, sambil merentangkan kedua tangannya. Seperti seseorang yang sudah siap untuk di gendong.

__ADS_1


"Tidak, aku lelah jika harus menggendong mu lagi." Langit bicara apa adanya. Pemuda itu ingin membuka pintu, tapi Cahaya mengeluarkan suara.


"Kalau aku enggak boleh ikut, berarti Masnya harus di sini!" Cahaya sudah duduk kembali.


Langit yang mendengar hal itu, dia menarik rambutnya kasar. Istrinya lebih manja, setelah matanya terbuka kembali.


"Aku ada urusan penting, jadi aku harus bertemu dengan Black!" Langit bicara di bagian pintu kamar.


"Ada ponsel buat apa?" Cahaya bertanya.


"Maksudnya?"


"Telepon Black, surah dia kemari. Masa enggak kepikiran." Cahaya bicara sambil berbaring dan menutupi sekujur badannya dengan selimut.


Langit berjalan kearah ranjang dengan malas, karena istrinya sedikit membosankan. Langit pun segera menelpon Black.


Tok... tok... pintu kamar ada yang mengetuk.


"Keluar!" sahut orang yang ada di dalam selimut. Langit yang duduk bersandar di ranjang. Dia menatap kearah selimut, yang didalamnya ada istrinya. Langit ingin sekali tertawa, tapi mengingat istrinya yang selalu membuat dia kesal dia tak jadi tertawa.


"Masuk!" sahur Langit keras.


Black masuk sambil meletakkan ransel itu dikamar.


"Sepertinya Teh Cahaya sudah tidur." Black menatap Cahaya yang menyelimuti badannya.


"Belum!" sahut Cahaya dalam selimut.


Black ingin tertawa karena nadanya sangat lucu.


"Black ada sedikit, hadiah buat kamu," ujar Langit berjalan kearah Black sambil menyodorkan amplop coklat kearah Black.


"Ah ... tidak!" Black menolak dengan cepat. Dia tahu jika uang itu adalah uang ganti rugi selama Black menemani Langit di rumah sakit.


"Hanya buat jajan, enggak banyak!" Langit memberikan amplop itu ditangan Black.


"Aku enggak bisa Bang, aku ikhlas. Aku malah senang karena selalu ada di samping Abang, dan bisa membantu!" Black menyembunyikan tangannya ke belakang. Agar Langit tidak memaksa untuk menerima amplop itu.


'Black terima, jika tidak aku akan bersedih."


"Black dia bohong, dalam hatinya berkata. Jangan terima nanti uangku jadi kalong(berkurang)!" sahut orang yang ada di dalam selimut.


Membuat Langit mengerutkan dahi, pemuda itu sangat geram dengan kelakuan istrinya. Sedangkan Black menahan tawanya, karena sahutan orang yang ada di dalam selimut.


"Aku pamit dulu ya Bang, sepertinya Teh Cahaya perlu di servis!" Black berbisik diakhir kalimat. Black terkekeh yang melihat wajah Langit seperti orang berpikir. Akhirnya Black keluar tanpa menerima uang dari Langit.


Langit berjalan kearah istrinya dan duduk di samping istrinya.


"Az-zahra! Aku berinisiatif membeli rumah!" Langit bicara sambil menatap ponsel.


"Rumah?" tanya Cahaya, wanita itu duduk dan membuka selimutnya.

__ADS_1


"Iya, ada beberapa pilihan kau yang milih!" Langit menyodorkan ponselnya. Agar Cahaya melihat disain rumah itu. Cahaya mulai melihat.


__ADS_2