Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
GC Bukan Grup Chat Tapi Gibril... Cantik


__ADS_3

Mobil silver itu berhenti di depan ruko lantai dua. Pemuda itu turun dari mobil. Kemudian membukakan pintu untuk gadis berwajah bulat itu.


"Makasih, Om!" Gadis itu selalu menghargai seseorang. Buktinya dia selalu berterima kasih kepada orang yang membantunya.


Gadis itu turun dari mobil, sambil membawa buket bunga putih. Langit mengambil buket bunga mawar merah, yang sedikit besar di banding punya, si bulat.


Pemuda itu menutup pintu mobil. Langit mendongakkan kepalanya, untuk melihat kafe lantai dua itu. Nampaknya ramai sekali. Maklum anak kampus pada ingin nyoba kafe baru, yang baru buka berapa hari yang lalu.


"Ayo, Om!" Gadis itu menarik tangan om Dosennya.


Mereka berdua menaiki tangga, dengan Cantik yang selalu menarik tangan om Dosennya. Setelah sampai di pintu kafe, keduanya terdiam. Kemudian saling menatap.


"Rame, pasti dia sangat sibuk." Langit mendesis pelan.


"Ini sangat rame Om!" Gadis itu juga bicara sama seperti Langit.


"Tapi enggak apa-apa, Om! Om jangan malu, ada Cantik bersama Om!"


Sia*l! Gadis berwajah bulat itu, berpikir jika om Dosennya malu, karena banyak bertemu orang. Bagaimana om Dosennya malu, jika pekerjaannya mengharuskan untuk bertemu dengan orang banyak. om Dosen, bukan orang yang insecure Cantik.


Mereka berdua masuk ke kafe itu. Semua orang yang ada di sana, menatap kearah pemuda yang menggandeng gadis berpakaian seragam sekolah. Sambil membawa buket bunga.


"Gila, itu orang ganteng banget. Apalagi pakai bawa bunga segala." Orang itu berseru seperti orang kagum.


"Iya, Bapak sama anak cocok banget, apa mereka ingin kasih suprise ke ibunya gadis itu?" tanya yang lain.


"Entahlah, kita lihat saja. Nanti juga tahu." Yang satunya menengahi.


"Dimana Akak! Om?" Gadis itu bicara pelan.


Langit mengedarkan penglihatannya kearah manapun. Tapi sayang, tidak menemukan istrinya itu.


"Entahlah!" jawab Langit.


Wanita berambut sebahu itu, keluar dari dapur. Sambil menggendong bocah kecil yang tertidur. Tangan kanannya membawa nampan berisi bakso. Langit menatap istrinya yang sedang kesusahan dia menarik tangan Cantik untuk mengikutinya. Mereka berdua sudah ada di depan Cahaya. Wanita itu sangat kaget, karena suaminya dan gadis berwajah bulat itu ada didepannya. Apalagi sambil bawa buket bunga, yang satu merah yang satu putih. Sudah seperti bendera merah putih saja. Langit menyuruh Cantik memegang bunga besar itu.


Cantik sangat kesusahan, karena om Dosennya yang tidak punya adab itu.


Langit kemudian mengambil nampan yang ada di tangan istrinya. Cahaya tersenyum tipis, karena perilaku suaminya itu.


"Taruh mana?" pertanyaan Langit, untuk yang pertama kali.


"Sana tuh," tunjuk Cahaya, kearah meja yang berisi cewek semua.


Semua orang ada di sana menatap kagum karena perilaku pemuda berjas itu.


Langit tidak bicara lagi, pemuda itu langsung berjalan kearah meja yang ditunjuk istrinya.


"Permisi!" Pemuda itu berbicara.


Kelima cewek yang asik main ponsel itu, seketika mengalihkan pandangan kearah suara itu.


"I—iya!" jawabnya terbata-bata karena melihat pemuda tampan sedang membawa nampan berisi bakso.


Langit langsung meletakkan mangkuk itu kemeja. Kemudian kembali ke istrinya tanpa bilang 'selamat menikmati'.


Kelima wanita itu saling berbisik.


"Apa pemuda itu suaminya pemilik kafe ini?" tanya si A.


"Entahlah!" jawab cewek B.


"Eh ...lihat deh," ujar cewek C menunjuk kearah Langit dan Cahaya.


"Alula belum jemput?" Langit bertanya, kepada istrinya.


"Belum," jawabnya singkat.


"Benar-benar tuh anak! Kenapa enggak konsis banget sama ucapnya." Langit mengusap rambutnya dengan kasar.


"Mungkin saja rapatnya belum selesai," ucap Cahaya.

__ADS_1


Cantik sangat kesal, karena om Dosennya tidak memperdulikan dia lagi. Setelah bertemu dengan akak Bubble-nya. Lihat saja wajahnya merah, karena tertutup buket bunga si*la*, milik om dosennya.


"Ehehem!" Gadis itu bersuara.


Langit dan istrinya melihat kearah suara itu.


Langit segera mengambil buket bunga miliknya, karena menutupi wajah gadis itu.


"Maaf!" Langit berbicara.


"His ...Om benar-benar bikin aku susah bernapas." Gadis itu menggerutu.


Cahaya menatap Cantik kemudian menatap suaminya.


"Kalian itu kenapa, bawa buket bunga segala?" tanya Cahaya.


"Tanya saja orang, Om! Yang beli!" jawab gadis itu, membuat Langit melotot.


"Buat apa?" Cahaya bertanya, kepada suaminya. Balqis masih saja tidur digendong aunty nya.


Langit terdiam, menatap Cantik dengan tatapan aneh.


"Kenapa Om?" tanya Cantik tersenyum.


Langit sangat geregetan dengan gadis itu.


"Bukannya kamu yang memberi ide?" Langit bertanya.


Cahaya sangat bingung, karena ulah keduanya itu.


"Memang aku yang ngasih ide, emang aku tadi bilang apa?" Gadis itu membuat bingung om Dosennya.


"Aku yang beli?" Langit menatap gadis itu.


"Emang bener Om yang beli, orang Om, yang bayar. Aku tidak bilang Om, yang kasih ide. Benarkan Akak?" tanya gadis itu, kepada akak Bubble-nya.


Cahaya mengangguk sebelum menjawab. "Benar juga, aku tidak mendengar Cantik bilang ini ide dari Mas!" Cahaya menatap suaminya.


"His..." Langit mendesis pelan, sambil mengusap rambutnya dengan kasar.


"Hahaha!" Cahaya dan Cantik tertawa ngakak.


Langit menatap tajam, kedua orang yang telah mentertawakan nya itu.


Cahaya dan Cantik langsung terdiam karena tatapan om Dosen.


"Sudahlah, aku kesini ingin makan siang, kau malah mentertawakan ku." Langit bicara sangat kesal.


"Ya, maaf!" Cahaya bicara pelan. Sambil menimang-nimang keponakannya yang ada di gendongannya


"Om, jangan marah ke Akak! Papi tidak pernah marah ke mami. Jadi Om, enggak boleh ma—rah." Gadis itu bersuara.


Langit dan Cahaya menatap gadis itu bersamaan. Ah—Langit dapat pelajaran dari gadis itu, jika tidak boleh memarahi istri didepan anak-anak. Karena anak itu akan merekam semua apa yang ia lihat dan dengar, ke otaknya. Dan itu akan berdampak pada masa depan anak itu. Kalau yang ia lihat dan dengar positif, maka rekaman itu juga positif. Pun sebaliknya.


"Kalau Om, mau marah itu harusnya aku yang dapat. Karena aku yang bikin Om kesal!" Gadis itu menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah.


Langit menatap gadis itu sambil membuang napas pelan.


"Siapa bilang Om, marah, dengan Akak! Om, kelaparan jadi Om, bicara dengan nada kesal. Dan kau tidak salah. Sudah kau jangan bersedih." Langit mengelus kepala Cantik.


Gadis berwajah bulat itu, mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah om Dosennya. Langit memberikan senyuman tipis, kepada Cantik agar tidak merasa bersalah.


Gadis berwajah bulat itu tersenyum kembali. Kemudian memeluk perut om Dosennya.


Cahaya hanya tersenyum saja, suaminya itu sudah seperti manusia yang peduli dengan seksama.


"Akak! Suka bunga yang warna apa?" Mood booster Cantik sudah kembali lagi. Cepat sekali, Cahaya harus


belajar dari Cantik. Cara cepat mengembalikan mood booster.


"Aku suka warna putih, Can!" jawaban Cahaya, membuat Cantik tersenyum lebar. Cantik tersenyum kearah om Dosennya. Bukan main! Itu senyuman mengejek. Benar-benar! Cantik itu baru juga merasa bersalah terhadap om Dosennya. Satu detik, rasa bersalah itu sudah terlupakan. Sama halnya seorang hamba kepada Rabb-Nya, katanya kalau dikasih akan berbagi setelah dikasih lupa dengan janjinya kepada Rabb.

__ADS_1


"Emang yang putih punya siapa?" tanya Cahaya, yang tidak tahu.


"Punya aku!" Gadis itu mengerucutkan bibirnya.


"Yang merah, punya Mas?" Cahaya bertanya, sambil memperbaiki posisi Balqis yang masih terlelap. Untung wanita itu membawa gendongan.


"Hem!" jawabnya singkat.


Si*l! Benar kata Cantik saat di mobil. Jika akak Bubble-nya akan memilih bunga gadis itu.


"Oh ...tapi tidak apa aku menyukai keduanya." Cahaya pun harus menghargai kedua orang itu.


"Om, kita makan saja! Aku juga lapar, sama seperti Om!" Gadis itu memegang perutnya.


Langit hanya mengangguk menyetujui.


"Mas, sudah dzuhur belum?" Cahaya mengingat kan suaminya.


Langit menggelengkan kepalanya.


"Sholat dulu, biar nanti enggak terlalu terburu-buru saat balik kantor." Cahaya memberi saran.


"Iya, Om, nanti Om! Setelah sholat, baru makan, jadi kan enak Om enggak tergesa-gesa, saat makan bakso." Gadis itu juga satu suara dengan akak Bubble-nya itu.


"Baiklah!" Langit meninggalkan mereka.


Cahaya masuk ke dapur kembali dengan Cantik.


"Akak, aku baksonya sepuluh ya!" Gadis itu berbicara. Enak banget tinggal bilang, tanpa bayar.


"Oke!" Cahaya tidak pernah bisa menolak keinginan gadis itu.


"Halo, Antena!" sapa Gibril yang baru masuk.


Cantik sangat sebal karena si bule itu.


"Namaku Can—tik bukan Antena! Hidung Bengkok." Gadis itu berkacak pinggang.


"Namaku Gibril! Bukan Hidung Bengkok!" Gibril tidak terima, karena Cantik memanggilnya hidung bengkok.


"Namanya enggak cocok dengan orangnya." Cantik mengejek.


"Emang kenapa? Kan Kakak baik, yang kasih nama Gibril. Iya kan Kakak baik?" Gibril bertanya, dan dijawab anggukan kepala oleh wanita berambut sebahu itu.


"Namanya hampir sama dengan Malaikat Jibril, yang dekat sekali dengan Allah. Malaikat Jibril tugasnya menyampaikan wahyu. Berati Malaikat Jibril itu Malaikat yang disayang Allah. Kalau Allah menyukai sesuatu pasti yang baik. Dan kamu tidak baik, masa namanya Gibril! Akak salah kasih nama. Harusnya namanya bukan Gibril tapi. Zrail!" Cahaya yang mendengar ingin tertawa.


"Siapa itu Malaikat? Dan Zrail juga siapa?" Gibril bertanya, si bule itu masih belum tahu tentang islam. Yang ia tahu adalah Allah, si bule itu sudah beriman kepada Allah. Tapi belum tahu rukun iman dan rukun islam. Meyakini Malaikat Allah adalah rukun iman yang kedua. Belum sempurna seorang muslim jika belum tahu dasar-dasar kaidah dalam islam.


"Malaikat itu mahluk ciptaan Allah, yang memiliki kesamaan seperti kita, yaitu di ciptakan untuk beribadah. Tapi kita punya napsu sedangkan. Malaikat tidak punya napsu. Malaikat terbuat dari cahaya, sedangkan kita dari tanah. Malaikat selalu beribadah kepada Allah tanpa mengenal lelah. Setiap harinya sujud terus. Sedangkan manusia terkadang lupa tugasnya, sebagai hamba Allah. Jika Malaikat tidak pernah membangkang kepada Allah. Manusia sering sekali mengkhianati Allah karena urusan dunia." Cahaya menjelaskan sambil memasukkan bakso ke mangkuk.


"Apa Malaikat enggak lelah sujud terus?" tanya Gibril, yang ingin tahu.


"Malaikat tidak punya napsu Gib. Malaikat tidak makan seperti kita, tidak haus. Itu mengapa mereka selalu beribadah. Sedangkan manusia mempunyai napsu." Cahaya menjawab, sambil memasukkan bawang goreng. Si Balqis tidak bangun juga, padahal sudah satu jam di gendongan. Sampai pundak wanita itu sakit.


"Terus Malaikat Zrail itu tugasnya apa?" tanya Gibril, yang ingin belajar mengenal Malaikat.


"Bukan Zrail tapi Izrail tugasnya mencabut nyawa. Bukan hanya manusia tapi semua yang bernyawa. Meskipun begitu Malaikat Izrail juga dekat dengan Allah. Dan selalu melakukan perintah Allah!"


Cahaya tersenyum kearah Gibril dan Cantik.


"Antena, kalau aku jadi Malaikat Izrail aku cabut nyawamu sebelum kamu lahir," ujar Gibril tersenyum miring.


Dikira Malaikat Izrail itu mencabut nyawa sembarangan apa. Semua itu harus atas perintah Allah.


"HUAHUA!" Cantik menangis karena perkataan Gibril.


"Akak! Gibril jahat Huuu huaaaa!"


Cahaya tidak tahu mesti bagaimana. Cahaya sangat bingung karena Cantik nangis.


"Huaaa!" Kali itu yang nangis bukan Cantik. Tapi Balqis yang ada di gendongnya. Balqis nangis, karena ada suara keras membuat dia terbangun.

__ADS_1


"Cup... cup... cup... " Cahaya menenangkan Balqis sambil di timang-timang. Sedangkan tangan kirinya, ia buat mengelus kepala gadis berwajah bulat itu, yang memeluk perutnya.


__ADS_2