
Asya aku tidak akan membiarkan si kampung itu, melahirkan anaknya: 07:55.
Cahaya yang membaca pesan itu hatinya seketika hancur.
Asya yang melihat mata, Cahaya berkaca-kaca, dia mengelus pundak Cahaya agar kuat.
Cahaya menatap Asya dalam.
"Apa maksudmu, melihatkan pesan ini padaku?" Cahaya bertanya, sambil menahan tangisannya.
"Sudah aku bilang, aku ingin balas budi kepada suamimu."
"Maksudnya?" tanya Cahaya, sambil menghapus air matanya.
"Aku akan menceritakan, secara detail sebelum. Aku mendapatkan pesan itu. Kamu siap mendengar ceritaku kembali?" tanya Asya, menatap mata Cahaya.
Wanita berambut sebahu itu mengangguk.
"Awal mulai sebelum aku mendapatkan, pesan itu. Eyang mengirimkan pesan kepadaku untuk yang pertama kali. 'Nak Asya, aku itu sangat sedih, karena cucuku menikah, atas dasar paksaan' Pesan itu ia kirim setelah aku sampai rumah di antar Jo."
Cahaya yang mendengar hal itu, kedua tangannya mengepal.
Namun Asya tidak melihat hal itu. Asya melanjutkan ucapannya kembali. " Pesan yang pertama eyang, kirimkan ke aku. Saat itu aku belum bisa memahaminya. Cobalah kamu buka pesan paling awal, di situ kamu bisa baca apa jawaban ku." Asya menyuruh Cahaya membaca pesan itu.
Tangan Cahaya, mulai memijat ponsel itu. Cahaya mulai membacanya dengan teliti.
Maksudnya, siapa Eyang? Dikirim pada 22:00
"Aku pikir jika itu adalah mbak Alula. Ternyata, setelah aku baca balasannya adalah 'Siapa lagi, jika tidak cucu kesayangan ku Langit' Aku semakin dibuat bingung, karena jawaban eyang itu. Dan aku lebih bingung lagi, kenapa eyang menceritakan, masalah keluarganya kepada orang baru." Asya bicara, sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Cahaya diam tidak bersuara, wanita itu masih shock karena pesan eyang yang dikirim ke Asya.
"Disitulah aku mulai mencerna semua, kejadian dari aku bertamu di rumah kakek! Aku yang ingin tahu, aku mulai membalasnya 'Tapi aku lihat, mereka bahagia eyang! Bahkan mereka sudah punya anak' Cobalah buka, pesan masuk yang nomor dua." Asya meminta Cahaya membuka isi pesan yang eyang kirim waktu itu.
Apa? Kau salah paham Nak. Cucuku itu, baru menikah. Dua bulan saja kurang. Mengenai bahagia, mereka sangat pintar berakting. Pesan masuk pada 22:08.
Cahaya sangat gregetan karena pesan eyang itu.
Asya minum dahulu, sebelum lanjut bercerita kembali. "Aku yang membaca pesan yang eyang, kirim malam itu. Aku berpikir, sebenarnya apa yang eyang itu mau." Asya terdiam, ingin lanjut tapi takut Cahaya salah paham.
Cahaya menunggu, Asya bercerita kembali. Tapi Cahaya menyimpulkan jika Asya, sedang memikirkan sesuatu.
"Katakan!"
Asya yang menundukkan kepala, saat mendengar suara Cahaya dia menatap wajah wanita berambut sebahu itu.
"Aku harap kamu tidak akan salah paham dengan ku," ujar Asya.
"Baiklah!" Cahaya mengangguk setuju.
"Aku pun mulai bertanya 'Kenapa eyang, bercerita ini kepadaku. Sebenarnya apa yang eyang mau?' Bacalah apa jawaban yang eyang, kirimkan padaku."
Cahaya mulai membacanya pesan yang eyang kirim.
Asya, sebenarnya aku itu tidak setuju, dengan perjodohan itu. Semua itu, yang merencanakan adalah besanku. Asya aku ingin sekali, menjadikan kamu sebagai cucu menantuku. Pesan masuk pada 07:00
Cahaya yang membaca pesan itu tak tahan menahan tangisannya.
"Hiks... hiks... " Cahaya menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
Asya yang melihat hal itu, dia langsung berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Cahaya. Kemudian duduk di samping Cahaya dan memeluk wanita berambut sebahu itu. Cahaya tidak menolak pelukan yang Asya berikan.
"Kamu siap mendengar, jawabanku? Wahai ...anak muda yang umurnya ada di bawah umurku!" Asya mencoba menghibur Cahaya dengan gaya suara, seorang ke satria.
Cahaya mengangguk di pelukannya Asya.
"Aku teringat, tentang kejadian dimana saat suamimu menyelamatkan aku. Disitulah. Aku mulai berpikir bagaimana cara membalas budi kepada pak Arkana!"
__ADS_1
Cahaya sudah kembali tenang, karena pelukan yang Asya berikan untuknya.
"Aku mulai membalas pesan, tapi disitu aku harus menjadi sosok perempuan murahan!" Asya menundukkan kepala, dadanya sesak. Entah kenapa apa, mungkin masa lalu yang begitu kelam.
"Bacalah pesan yang aku kirimkan kepada eyang!" Asya menyuruh Cahaya untuk membaca.
Cahaya melepaskan pelukan itu, setelah itu ia mulai memijat ponselnya Asya.
Benarkah? Itu eyang! Wah ...aku tidak mengira, ternyata keluarga dari orang yang aku suka, mendukungku untuk menjadi orang ketiga. Dikirim pada 08:00.
Cahaya membaca pesan yang Asya kirim ke eyang. Wanita itu mengerutkan dahi, kemudian menatap Asya. Seolah ingin tahu apa maksudnya.
Asya yang tahu, jika Cahaya tidak faham dia akan menjelaskan apa arti semua itu.
Asya mengambil napas sebelum bercerita kembali. "Itulah yang aku maksud menjadi perempuan murahan. Aku harus pura-pura menyukai suami orang. Kamu harus tahu, aku hanya pura-pura. Tidak benar-benar suka!" Asya terkekeh, karena wajah Cahaya, yang cemberut karena cemburu. Saat Asya bilang suka dengan suaminya itu.
"Ayo kamu harus baca, pesan dari eyang itu!" Asya lagi-lagi menyuruh Cahaya agar membaca pesan itu.
Tentu saja Nak Asya, aku akan melakukan apapun. Agar mereka pisah, sungguh aku tidak suka dengan si kampung itu. Pesan masuk pada 09:49.
Cahaya yang membaca pesan itu ingin membanting ponsel itu. Tapi meskipun begitu, Cahaya tahu jika itu bukan ponselnya.
Asya sangat tahu jika Cahaya sangat kesal.
"Wahai ...anak muda yang umurnya di bawah ku, jangan sampai ponselku. Kamu banting, karena pesan yang eyang mu kirim itu," ujar Asya, ingin membuat susana lebih santai.
"Bukan Eyang ku!" jawaban Cahaya, mampu membuat Asya ingin tertawa terpingkal-pingkal. Karena Cahaya tidak mau mengakui jika nenek tua itu adalah Eyang nya.
"Aku tahu, aku tahu! Tapi dia eyang suamimu jadi itu eyang mu juga!" Asya menggoda Cahaya, agar Cahaya tersenyum.
"Sudah ku, katakan dia bukan eyang ku!" Sepertinya Cahaya benar-benar tidak ingin mengakui, nenek tua itu. Sebagai eyang nya.
Asya sudah tidak tahan jika tidak tertawa terpingkal-pingkal.
Kamu sangat lucu, bagaimana mungkin pak Arkana, bisa menduakan mu. Dasar, anak muda yang umurnya ada di bawah ku. Batin Asya, menatap wajah Cahaya.
"Ehemm ...oke, aku tidak akan tertawa lagi. Apa kamu ingin tahu, cerita selanjutnya?" tanya Asya, yang sudah tidak tertawa lagi. Karena sudah berjanji kepada Cahaya.
"Hem!" Cahaya mengangguk.
"Bacalah, pesan yang aku kirim ke eyang!" Asya bicara, sambil menyedot air putih kemasan. Karena es teh sudah habis.
Emangnya kenapa eyang, tidak suka dengan istrinya cucu eyang. Pasti ada alasannya dong eyang! Apa aku boleh tahu. Dikirim pada 11:21
"Baca juga jawaban yang eyang kirim!" Asya malas jika harus bercerita.
Cahaya pun hanya menuruti ucapan Asya.
"Aku yakin kamu, akan terkejut saat membaca pesan yang nenek tua itu kirimkan," ujar Asya, sambil makan kerupuk kulit.
Cahaya yang matanya menatap ponsel, ia mendongak untuk menatap Asya. Kemudian menatap ponsel milik Asya. Cahaya mulai membaca pesan itu.
Aku tidak suka karena dia seperti orang susah. Masa, cucuku itu harus menikah dengan orang susah yang levelnya jauh di bawah keluarga kita. Pesan masuk pada 12:08.
Cahaya meletakkan ponselnya Asya dimeja itu. Wanita itu memijat kepalanya. Pertanyaan yang Cahaya tanyakan waktu itu, sudah terjawab. 'Aku tidak tahu kenapa eyang membenciku?' Itulah pertanyaan Cahaya waktu itu. Dan siang itu Cahaya mendapatkan jawabannya.
"Tidak masuk akal bukan?" tanya Asya, Cahaya tahu maksud Asya.
"Huft!" Cahaya membuang napas dari mulut.
"Harta menentukan seberapa berharganya orang," ujar Asya, tersenyum sambil menggeleng.
"Ternyata ini jawaban, kenapa eyang membenciku," ujar Cahaya, sambil minum teh.
"Berhati-hatilah dengannya, aku hanya ingin memberi tahu mu, tentang ini semua. Kamu enggak usah berfikiran yang enggak-enggak. Jangan kebanyakan pikiran, kamu punya waktu sepuluh bulan. Gunakan waktu itu dengan baik, jika kamu ingin segera hamil. Kamu harus tenangkan pikiranmu. Aku ada bersamamu Cahaya!" Asya berbicara apa adanya.
"Terima kasih!" Cahaya, merasa lega jika Asya mau membantunya.
__ADS_1
Satu beban hidup yang ada di dalam kehidupan Cahaya diangkat Tuhan. Cahaya hanya harus fokus untuk kesehatannya, agar segera dikasih momongan.
"Aku akan selalu memberi tahu mu, mengenai rencana eyang selanjutnya. Tapi kamu harus tahu, jika aku harus pura-pura menyukai suamimu itu." Asya mencibir sambil tersenyum.
Cahaya menggelengkan kepalanya, karena Asya pura-pura marah padanya.
"Tulislah nomor ponselmu di ponselku, biar aku gampang memberi tahu mu."
Cahaya pun melakukan apa yang Asya bilang.
"Ya sudah, kalau begitu yang bayar soto nya aku. Hitung-hitung ucapan terima kasihku padamu," ujar Cahaya.
"Apaan, harga soto cuma 20 ribu. Sedangkan pulsaku habis karena misi menyelamatkan mu," jawab Asya yang membuat Cahaya tertawa.
"Terus mau dibayar berapa?" Cahaya bertanya, sambil menahan tawanya.
"Cukup 40.000.000!" Asya memberikan nominal yang tidak main-main.
"Allahuakbar! Itu uang atau apa. Aku enggak punya uang segitu!" ujar Cahaya, tercengang.
"Hey, uang suamimu buat apa? Gajinya setahun sampai 231,5 jt juga!"
"Hey, Anda GM gajinya banyak, masa ngeluarin pulsa buat ku mengeluh. Bayaran pertahun 163 jt buat apa?" tanya Cahaya terkekeh.
"Buat cicilan mobil hahahaha!" Asya tertawa ngakak. Di ikuti oleh Cahaya yang tidak bisa menahan tawanya.
"Nah ...mobil aja punya aku enggak punya. Berarti kayaan kamu Mbak!" Cahaya berseru.
"Kamu itu enggak bersyukur, suamimu punya mobil juga." Asya sudah tidak tertawa lagi.
"Mobil tua juga, buat ke Semarang paling juga mogok."
"Hahaha!" Asya tertawa karena ucapan Cahaya.
"Suruh ganti dong, gaji direktur buat apa."
"Baru satu bulan kerja, juga mana ada uang segitu Mbak!" Cahaya bicara, sambil memanggil penjual soto.
"Berapa Kang?" tanya Cahaya.
"64.000!" Kata akang pedagang itu, sambil membereskan dua mangkuk.
"Makasih, Kang!" ujar Cahaya, sambil membayar makan Asya.
Asya tersenyum, karena dia tidak perlu membayar soto itu.
Mereka berdua keluar dari kafe itu, dengan senyuman yang terluas dibibir keduanya. Sampai-sampai Cahaya lupa, punya janji untuk menjemput Cantik.
"Eh ...kuenya, sampai lupa!" Asya terkekeh, karena kue itu selalu ia pegang.
"Oh ...makasih!" Cahaya menerima kue, yang pagi itu membuat dia marah. Dan membuat dia dan suaminya berselisih tegang. Untung Langit menyikapinya dengan cara memberi ruang kepada istrinya. Coba saja jika tidak, entah apa yang terjadi dengan pasangan itu.
"Siang Bu GM! Bu Arkana!" sapa satpam yang sama, yang pagi itu juga, menyapa Cahaya dan suaminya.
"Siang!" Cahaya dan Asya menjawab serempak. Kemudian kedua wanita itu tertawa, sambil masuk ke kantor.
Seluruh karyawan menatap mereka aneh. Saat kedua wanita itu masuk lift, seluruh karyawan berkumpul untuk menggunjing kedua wanita itu.
"Baru kali ini, aku lihat GM tertawa lepas," ujar karyawan satu.
"Iya, jarang sekali bu Asya, seperti itu."
"Bukan jarang, tapi memang tidak pernah, bu Asya sepertinya menutup diri." Karyawan yang satunya juga ikut bicara.
"Tapi kenapa istrinya pak Dirkeu juga tertawa begitu. Tadi pagi saat kita sapa saja tidak tersenyum," ujarnya karyawan yang pagi itu ikut menyapa Cahaya.
"Kita kan cuma karyawan bawahan, beda dengan mereka. Mungkin itu sebabnya, istrinya pak Dirkue tidak mau menyapa kita." Karyawan yang satu itu, sepertinya tidak suka dengan istrinya pak Dirkeu.
__ADS_1