Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Tarik Cahaya Bukan Tarik Tambang


__ADS_3

Setelah sampai teras, pemuda itu segera bergegas mengulurkan mobilnya dari bagasi.


"Awas saja, kalau kamu lari ke dalam rumah kembali," peringatannya, sambil menunjuk wajah istrinya. Cahaya yang diberi peringatan, sepertinya wanita itu ingin mencabik suaminya.


Setelah mobil keluar, pemuda membuka kacanya. Sebelum berucap. "Sampai kapan mau berdiri terus? Cepat masuk!" Tapi Cahaya, wanita itu enggan sekali membuka pintu mobil itu.


"Kau jangan buat aku marah, aku tidak menyukai sikapmu, yang kekanak-kanakan ini!" Langit bicara terus terang, dia tak suka sifat istrinya yang berubah itu.


Cahaya dengan berat hati, diapun masuk dengan gemuruh di hatinya.


Brakkkk!


Langit meringis karena pintu mobil dibanting keras.


"Apa kamu enggak bisa lembut, saat bersikap?" tanya Langit, sambil menghidupkan mobilnya kembali. Wanita itu diam tidak memberikan jawaban. Pasangan menatap ke depan, tidak mau menatap wajah sang suami.


Langit mengambil napas, kemudian memakaikan sabuk pengaman untuk istrinya.


Mobil silver itu, berjalan meninggalkan rumah Raharja. Dipertengahan jalan, pemuda itu melirik kearah istrinya. Wanita itu memanyunkan bibirnya ke depan.


"Kenapa beberapa hari ini, sikapmu berubah?" Langit bertanya, pemuda itu ingin tahu alasan dibalik semua itu.


Cahaya tetap diam, wanita itu hanya bengong.


"Aku bertanya, apa suaramu hilang? Kenapa diam!" Pemuda itu sangat sebel. Sepertinya istrinya itu, mau mendiamkan dia.


"Ay!" panggilannya lembut, jarang-jarang pemuda itu memanggil nama panggilan istrinya. Ah—Tidak!Malahan pemuda itu, bisa dihitung pakai jari saat memanggil nama panggilan istrinya.


Cahaya yang mendengar hal itu, wanita itu tertegun karena panggilan dari sang suami.


"Hmmm" jawabnya yang masih enggan menatap pemuda iyang sudah menjadi suaminya hampir empat bulan.


"Kenapa sikapmu beda, dari yang sebelum-sebelumnya?" intonasinya terdengar lembut ditelinga Cahaya.


"Kau tanya aku, lalu aku harus tanya siapa?" Cahaya menjawab dengan kalimat tanya.


Langit terdiam, pemuda itu tidak mau bertanya lagi. Toh yang ditanya malah tanya balik. Sangat Menyebalkan!


Mobil silver itu, terus membelah jalan. Sampai akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Pemuda itu, keluar dari mobil. Langit membukakan pintu untuk istrinya itu. Tapi wanita berambut sebahu itu, masih setia duduk di kursi. Sabuk pengaman masih mengikat tubuhnya. Pemuda itu memasukkan kepalanya, ke dalam mobil. Untuk membuka sabuk pengaman, yang ada di tubuh istrinya itu.


"Aku sangat lelah dengan sikapmu yang seperti ini!" Langit bicara tepat diwajahnya sang istri.


Cahaya mengerucutkan bibirnya, sebelum berbicara. "Aku lebih lelah dengan sikapku ini!" jawabnya datar, tanpa ekspresi di wajah ayu itu.


Langit sangat frustasi karena jawaban istrinya itu. Sebenarnya istrinya itu menjawab, tapi tidak juga menjawab. Karena saat Langit bertanya. Istrinya akan menjawab dengan kalimat tanya. Saat pemuda itu mengeluarkan pernyataan. Sang istri juga menjawab dengan kalimat peryataan juga. Hal itu membuat Langit, mengacak-acak rambutnya frustasi. Saat pemuda itu, mau mengeluarkan kepalanya. Kepala itu terbentur bagian pintu mobil. Pagi itu Langit, ingin emosi karena istrinya ditambah kepala sakit.

__ADS_1


"Ayo, keluar! Jika tidak aku akan menggendong mu." Langit tahu jika istrinya tidak suka dengan ancaman yang satu itu.


Cahaya keluar dengan terpaksa.


"Masnya selalu memaksaku," ujarnya pelan.


"Kau yang memaksaku untuk memaksamu!" Langit menutup pintu mobil, setelah itu menggandeng istrinya dan berjalan ke dalam rumah sakit.


"Bukan aku," ujar Cahaya tidak terima.


Langit tidak menanggapi ocehan istrinya itu. Cahaya berjalan di belakang suaminya. Lebih tepatnya pemuda itu menarik istrinya agar cepat jalanya.


Mereka harus antre karena lumayan banyak pasien yang datang waktu itu. Langit menyuruh istrinya duduk, dan dia memutuskan untuk mengambil nomor antrean. Setelah lima menit, pemuda itu sudah duduk di samping istrinya.


"Untung tadi cepat kesini nya. Kalau enggak, pasti akan dapat nomor antrean yang bagian belakang." Langit menyodorkan kertas kecil kepada istrinya. Cahaya bisa melihat, di sana tertera angka sepuluh.


Wanita itu no komen, toh dia juga enggak mau ke dokter sebenarnya. Pemuda itu memutuskan untuk mengecek ponselnya, siapa tahu ada email penting. Sedangkan wanita yang duduk di sebelahnya, mengedarkan pasangan ke suruh arah. Hingga matanya, menemukan perempuan yang perutnya buncit. Cahaya menatapnya tanpa berkedip. Seorang perempuan itu, sedang mengelus perut yang buncit. Dan di sampingnya, ada pria yang tersenyum sambil meletakkan kepalanya di perut perempuan itu. Mungkin saja itu suaminya, perempuan berperut buncit. Cahaya yang melihat hal itu, senyuman nampak jelas di bagian kedua sudut bibir mungil itu. Sekilas dia, membayangkan jika itu adalah dirinya dan suaminya yang sedang berbicara dengan buah hati mereka. Lamunannya sirna, tatkala kepala suaminya bersandar di bahunya. Cahaya memejamkan matanya kemudian segera membukanya kembali.


"Sabar nanti kita, seperti mereka," ujar Langit dengan posisi enak. Bagaimana tidak, pemuda itu bersandar di bahu istrinya, kemudian matanya menatap layar ponsel.


Sebenarnya pemuda itu, hanya ingin membuat istrinya paham. Jika seseorang menginginkan sesuatu ada prosesnya, salah satunya adalah sabar. Karena itu termasuk bagian penting, kalau enggak ada kesabaran. Pasti yang ada kegagalan.


Cahaya terdiam, wanita itu kepikiran ucapan eyang yang mengasih waktu dia untuk hamil.


"Muhammad Langit Arkana Abdullah!" panggilan itu, membuat pemuda itu berdiri.


Langit yang melihat hal itu dia berbicara. "Ada aku bersamamu!" Seraya menarik tangan istrinya. Setelah sampai di ruangan. Pasangan itu menghampiri meja dokter.


"Pagi Dok!" sapa Langit yang masih berdiri dan menggenggam tangan istrinya dengan erat. Sedangkan wanita berambut sebahu itu, bersembunyi di belakang suaminya. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam. Dia benar-benar takut, kenapa waktu kecil saat dia pergi ke rumah sakit. Dia dapat suntikan, yang membuatnya menangis. Dan yang terpenting bukan dia nangis, tapi dokter yang menyuntik dia itu. Membiarkan suntikan itu menancap di lengannya. Dan dokter itu lari, karena ada pasien yang menjerit histeris. Hal itu yang membuat Cahaya takut, untungnya ada almarhumah ibu yang menjadi penolong.


"Pagi, mari duduk!" Dokter perempuan itu tersenyum.


"Ayo duduklah, tidak apa-apa! Aku akan selalu di sampingmu, nanti kalau kamu diperiksa." Langit merengkuh tubuh istrinya, dan membantu istrinya duduk.


"Siapa nih yang mau diperiksa? Ibu atau Bapak?" tanya dokter itu.


"Istri saya, dok!"


"Kenapa istrinya Pak?" tanya dokter itu, sambil memainkan bolpoin.


Sedangkan Cahaya, jangan ditanya wanita itu mencengkram tangan suaminya kuat. Sambil menundukkan kepalanya.


"Seringkali mengeluh kepalanya sakit. Tapi, sakitnya itu dalam waktu tertentu gitu Dok. Saya takut istri saya terserang kolesterol. Karena saya, pernah baca tanda-tanda nya kok hampir sama," jelas Langit.


Dokter itu mengangguk pelan.

__ADS_1


"Baiklah, Ibu mari ikut saya!" ujar dokter itu, sambil jalan kearah ranjang rumah sakit. Sedangkan Cahaya dia belum juga berdiri dari duduknya. Pemuda itu mengelus telapak tangan istrinya dengan lembut. Dan berkata kepada istrinya sambil menatap mata istrinya dalam. "Tenanglah, aku tidak akan meninggalkanmu. Ayo lebih cepat lebih baik!"


Cahaya pun akhirnya mau mengikuti ucapan suaminya. Langit membantu istrinya untuk baring di ranjang. Saat sudah berbaring, Cahaya menggelengkan kepala dan menahan tangan suaminya. Langit mengangguk paham.


"Maaf Dok, apa tidak masalah jika saya ada di samping istri saya dan menggenggam tangannya?" Langit bertanya, diakhir dengan memberi kode. Kepada dokter itu, jika istrinya takut.


"Iya, tentu itu sangat baik malahan." Dokter itu tersenyum, sepertinya dokter itu paham dengan kode yang pemuda itu berikan. Dokter itu mulai memegang pergelangan Cahaya. Dilanjutkan memeriksa bagian tubuh Cahaya yang lain. Dan hampir kurang lebih lima belas menit, pemeriksaan itu selesai. Tidak ada suntik, hal itu membuat Cahaya lega. Dokter itu berjalan kearah meja kerjanya kembali kemudian duduk. Sedangkan pemuda itu, membantu istrinya untuk bangun dari tidurnya. Kemudian mereka berjalan kearah meja dokter itu, kemudian duduk seperti posisi semula.


Dokter itu tersenyum simpul menatap pasangan itu, satu persatu.


"Istri saya enggak apa-apa kan Dok?" tanya Langit gusar, jika istrinya menderita penyakit. Seperti apa yang ia pikiran.


"Tidak-tidak, itu tidak terjadi Pak!" Dokter itu menggeleng.


"Terus, apa yang membuat dia selalu ngeluh sakit dibagikan kepala?" Langit bertanya memberondong, dia tidak mau istirahat kenapa-napa.


"Kapan akhir datang bulan Bu?" tanya dokter ini kepada Cahaya.


Sedangkan Langit sangat sebel, kenapa dokter itu bertanya hal pribadi. Sudah gitu enggak menjawab pertanyaan darinya lagi. Pun dengan wanita berambut sebahu itu, Cahaya berpikir apa dia harus bertemu dengan dokter yang kurang waras untuk yang kesekian kalinya. Pertama dokter yang menyuntik nya. Kemudian siang itu, dokter yang ada di depannya bertanya tentang hal pribadi. Kenal juga enggak, main tanya-tanya yang bersifat pribadi. Dasar dokter sok kenal sok dekat!


Cahaya menggeleng, wanita lupa dengan hari kedatangan tamu bulanan.


Dokter itu mengerutkan dahi, kok ada wanita yang tidak ingat dengan hari datangnya tamu bulannya.


Langit ingin menyahut, tapi dokter itu sudah bertanya kembali.


"Terus, apa kalian sering berhubungan suami-istri?" tanya dokter itu. Membuat Cahaya dan suaminya mengumpat dokter itu.


"Dok, aku rasa ini masalah pribadi!" Langit angkat bicara.


"Saya harus mengetahui itu, istrimu lupa tanggal terakhir kedatangan tamu bulanan." Dokter itu menatap Langit.


'Tiga minggu yang lalu," jawab Langit yang membuat dokter itu tidak percaya. Apalagi Cahaya, wanita lebih tidak percaya lagi. Kenapa suaminya, bisa ingat.


Dokter itu menahan tawanya, entah apa yang ada dalam pikiran dokter itu.


"Kenapa tadi tak menjawab, kan tadi saya enggak perlu tanya maslah pribadi," ucapnya memberikan candaan.


"Saya sudah mau angkat bicara. Tapi dokter, sudah bertanya kembali!" kesal Langit, ya gimana mau enggak kesel hari itu dia selalu salah.


"Selamat Pak, istri anda sedang mengandung anak Bapak! Sudah mau jalan satu bulan!" Langit dan Cahaya yang mendengar saling pandang kemudian bicara kompak. "MENGANDUNG?" tanyanya sambil mengarahkan pandangan ke dokter itu. Dokter itu tersenyum dan mengangguk. Cahaya yang mendapat jawaban dari dokter itu, menitipkan air mata. Hadiah terbesar dari Tuhan, telah datang untuknya. Langit, pemuda itu tidak tahu lagi harus berekreasi seperti apa. Dia sangat bahagia, dan akan mempunyai seseorang yang memanggilnya dengan panggilan 'AYAH'


"Terima kasih, dok!" setelah itu pasangan itu keluar dari ruangan dokter itu. Saat pasangan itu, sudah keluar. Dokter itu menggelengkan kepalanya, sembari mengukir senyuman di bibirnya. Karena ulah pasiennya, yang berbeda dari pasien-pasien yang sebelumnya.


"Pemuda itu, kenapa bisa mengingat tanggal istrinya kedatangan tamu bulanan. Sepertinya pemuda itu, tahu jika itu hari libur nasional untuk dirinya." Dokter itu terkekeh.

__ADS_1


Dokter salah sangka, kenapa pemuda itu ingat tanggal istrinya kedatangan tamu bulanan. Itu karena dia harus menyiapkan mental, karena istrinya akan labil. Wah ...si dokter kalau mikir kelewat jalur.


__ADS_2