
Jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Wanita yang tidur di pelukan suaminya itu, mulai membuka matanya perlahan. Meski belum ada cinta yang dalam pasangan itu, sudah saling menerima satu sama lain. Tidak pernah ada kata 'benci' dari keduanya. Cahaya tersenyum saat melihat wajah suaminya yang masih terlelap.
Ternyata bukan cuma bisnis yang butuh proses cinta juga ada prosesnya. Batin Cahaya.
Cahaya mulai melepaskan pelukan itu. Bibirnya ia dekatkan ke telinga suaminya.
"Semoga hari Masnya menyenangkan." Doa istri kepada suaminya.
Sebelum memulai kehidupan di pagi hari. Tidak ada acara cium pipi. Karena wanita itu masih ragu dengan dirinya sendiri.
"Emm... " sahutan itu dari mulut suaminya, tapi pemuda itu tidak benar-benar sadar.
Cahaya meninggalkan suaminya dikamar sendirian. Wanita itu memutuskan untuk ke bawah. Ngecek apa makanan sudah siap.
"Pagi, Mbok!" sapa Cahaya, yang sudah bisa lihat banyak makanan khas lebaran ada di meja makan seperti ketupat sayur, opor ayam, sambal goreng ati, rendang sampai semur daging juga ada.
"Pagi juga Neng!"
"Sepertinya sudah selesai semua ya Mbok?"
"Tinggal ngepel doang, nanti setelah ini Mbok akan ngepel," jawab Mbok Ijah.
Cahaya mangut- mangut tidak bicara lagi. Wanita itu meninggalkan mbok Ijah. Cahaya berjalan ke samping rumah. Mengambil sapu dan alat pel. Satu-satunya persamaan Cahaya dan Langit adalah talk less, act a lot. Cahaya mulai menyapu dari lantai bawah dahulu, dan dilanjutkan mengepel. Suara orang menuruni anak tangga terdengar di telinga Cahaya. Entah siapa, tapi Cahaya tidak terlalu memperdulikan.
"Lagi ngepel Teh?" tanya Archer, yang baru saja bangun.
"Iya," jawabnya, tanpa melihat Archer, karena Cahaya harus menyelesaikan lantai bawah setelah itu baru lantai atas.
"Ya sudah, akan aku bantu Teh, aku akan ngepel lantai dua," ucap dara delapan belas tahun itu.
Cahaya mendongak untuk melihat adik iparnya itu, apa adik iparnya sedang bercanda atau beneran.
"Beneran?" tanya Cahaya, menelisik siapa tahu kan adik iparnya itu mengigau jalan sendiri.
"Iya! Ya sudah Teh, aku ke atas bangunin kakak dulu ya," ucapnya, sambil berbalik ke arah tangga.
Jam menunjukan pukul empat. Semua ruangan sudah rapi. Dan si kembar juga sudah menyelesaikan tugasnya. Cahaya memutuskan untuk mandi, kemudian sholat subuh berjamaah dengan suaminya. Di bukalah pintu kamar itu. Dan wanita itu bisa melihat jika suaminya masih tertidur.
Cahaya berjalan kearah kamar mandi. Berapa menit wanita itu sudah keluar. Dari kamar mandi, dengan handuk kimono yang menutupi tubuhnya. Dan handuk biasa ia gunakan di kepalanya. Cahaya berjalan ke samping ranjang. Untuk membangun kan suaminya. Dielus pundak sang suami yang terbalut piyama. Sebelum berkata. " Bangun Mas, sudah subuh, bentar lagi harus ke lapangan buat sholat Eid," ucapnya lembut.
Langit yang mendengar hal itu, sepertinya masih enggan bangun. Tapi mengingat hari itu adalah hari kemenangan dengan susah payah. Pemuda itu mencoba untuk membuka matanya yang masih ngantuk.
"Hmm... " ucapnya, sambil menengok orang yang pagi itu membangunkannya.
Pemuda itu bisa melihat wajah istrinya yang sudah segar. Apalagi pemandangan indah yang belum pernah ia lihat sebulan menikah dengan istrinya itu. Leher jenjang itu sangat mengundang gai*a*nya, karena ada sedikit tetesan air dari rambut yang terbelenggu handuk. Mata pemuda itu, menelusuri tubuh istrinya dari atas sampai bawah. Dahinya mengkerut, saat melihat kimono yang di gunakan istrinya itu hanya sebatas paha saja. Tidak pernah pemuda itu, melihat hal seperti itu dari istrinya. Karena sang istri selalu berganti baju di dalam kamar mandi.
"Halo!" ucap Cahaya membungkuk, sambil melambaikan telapak tangan di depan wajah sang suami yang terdiam. Langit tersadar dengan hal itu, langsung bangkit dari ranjang dan meninggalkan istrinya tanpa bersuara.
Setelah menunggu, akhirnya mereka sudah siap jamaah bersama. Cahaya mencium tangan suaminya dan dibalas dengan cium kening.
"Kau bisa membantu ku?" tanya pemuda itu, sambil duduk di ranjang. Sedangkan Cahaya masih melipat mukenanya.
"Bantu apa?" tanya Cahaya, sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Cari supplier, aku belum sempat mencari supplier. Kau bisa cek website supplier kan? Nanti pinjam lah laptop si kembar karena laptop ku akan aku bawa ke kantor."
"Em... " ucap Cahaya, yang di potong oleh suaminya.
"Jangan bilang enggak bisa, pernah kuliah juga. Masa cek kayak begituan enggak bisa, lulusan S1 loh kamu," cetus pemuda itu.
Cahaya terdiam, bukan tidak bisa tapi takut salah.
"Aku harap kau bisa membantuku," ucap pemuda itu, sambil meninggalkan istrinya yang terdiam.
Pemuda itu berjalan kearah kamar mandi.
"His ...benar-benar tidak bisa di tebak," desis Cahaya.
Sepertinya pasangan baru itu sudah siap untuk sholat Eid. Pemuda itu memakai baju koko warna putih dan sarung warna hitam yang di beli istrinya waktu itu. Di tambah arloji hitam yang ada di tangan kirinya. Cahaya yang melihat hal itu sangat terpesona. Dikarenakan ia tidak pernah liat suaminya berpakaian seperti itu, apa lagi jam tangan, suaminya itu tidak pernah memakai jam.
"Hey... " Langit membungkuk, sambil melambaikan telapak tangan di wajah istrinya.
Cahaya tersadar, dengan apa yang ada di dalam otaknya.
"Iy-iya!" ucapnya terbata-bata.
"Ngapain kau melihat sampai segitunya?" tanya pemuda itu, berjalan kearah meja rias dan menyemprotkan minyak ke seluruh tubuh.
" Ti-tidak!"
"Kita ke bawah saja, pasti mereka sudah nunggu dari tadi," ucapnya.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajak pak Khan kepada keluarganya itu. Sepesial untuk pagi itu Alula juga ikut sholat, karena Alula punya anak kecil jadi dia tidak pernah ikut tarawih.
Kita bergeser ke rumah Agam Ariaja. Keluarga itu juga sudah siap untuk melaksanakan sholat idul fitri. Gadis berwajah bulat itu, sangat bahagia, karena setelah sholat Eid bisa makan lontong sayur.
"Ayo kita berangkat ke masjid Pi, Cut Abang jangan lama-lama."
"Iya Cut Adik sayang! Cut Abang sudah siap sayang!" Black berbicara sambil menuruni anak tangga.
"Wah ...tampan sekali Cut Abang pakai peci," seru gadis itu, memuji kakaknya.
"Wah ...pinter sekali kamu sayang!" Black mencubit pipi adiknya. Namun sayang gadis itu malah memukul pergelangan tangan Black.
"Sudah jangan berdebat, kita ke masjid ya sayang," ucap ibunya menengah-nengahi.
Jam menunjukkan pukul delapan. Keluarga Raharja sudah ada di rumah. Pasangan baru itu sudah ada di kamar. Wanita itu sedang asik memakai hijab pasmina tren pada masa itu. Sedangkan pemuda itu mengamatinya sambil duduk di sofa. Cahaya memakai lipstik dahulu, kemudian menyemprotkan parfum ke pakaian miliknya. Setelah itu ia membalikkan badannya dan berjalan kearah sang suami. Langit yang melihat hal itu. Dia menurunkan kakinya yang kiri dari kaki kanannya.
Pemuda itu berpikir jika istrinya akan duduk di sampingnya ternyata— tidak.
Wanita itu duduk di depannya, seperti orang yang mau sungkeman. Di raihlah tangan sang suami kemudian dicium sambil berkata. "Minal aidin wal faizin Mas. Aku selaku istrimu meminta maaf, jika ada ucapan yang pernah nyakitin Mas, atau perbuatan ku yang kurang berkenan di hati Mas, dan maaf belum bisa menjadi istri yang baik untuk Mas." ucapnya, sambil mencium tangan suaminya.
Langit merasakan ada yang membasahi tangannya. Apa istrinya itu menangis, pemuda itu mengelus kepala istrinya yang tertutup oleh hijab. Kemudian memegang kedua pundak istrinya dan mencakup wajah istrinya sebelum berkata. "Bintang Cahaya Bulan istriku, aku memaafkan mu. Tapi aku juga ingin bilang Minal aidin wal faizin, karena sikapku kepadamu dan perkataan ku yang telah menyakiti hati mu. Apa kau berkenan memaafkan suamimu ini?" tanya Langit menatap dalam mata istrinya yang berkaca-kaca. Perlahan kepala itu mengangguk.
Langit langsung memeluk istrinya dengan sangat erat pun dengan Cahaya juga membalas pelukan itu.
"Baiklah, kita ke bawah mungkin kita sudah di tunggu," ucap Langit, melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
Mereka berjalan saling menggenggam tangan, melewati tangga hingga sampai di ruang keluarga. Ternyata sudah pada kumpul di sana.
"Wah ...bau-baunya ada pengantin baru nih," celetuk Hazel.
"Wah ...bau-baunya ada yang cemburu nih," sindir Archer kepada Hazel.
"Ehm ...nempel mulu tuh tangan," ucap Arche, melihat tangan kang masnya.
"Ehm ...enggak ada tangan yang mau salaman sama aku," ujar Alula.
Cahaya melepaskan genggaman itu. Cahaya berjalan kearah kakek Raharja. Cahaya melakukan seperti yang pagi itu, ia lakukan dengan suaminya.
"Maafkan Mbah ya, Aya! Mbah berdoa semoga kebahagiaan selalu dengan kalian. Lang! Jagalah hubungan ini sampai tua nanti— Jadikanlah Cahaya sebagai pasangan hidupmu sampai akhir nanti. Apa pun permasalahanya ...coba cari jalan keluar bersama. Jangan mudah emosi ...apalagi sampai keluar kata talak dari mulutmu itu Nak!"
Pasangan baru itu mengangguk, kemudian memeluk kakek Raharja dengan hangat.
Mereka sudah ada di depan pak Khan. Dan sepertinya bapak akan memberi petuah juga.
"Maafkan Bapak juga menantu dan anakku. Di hari yang suci ini Bapak ingin memberikan nasehat ...kepada kalian. Teruntuk kamu Lang, jangan pernah ringan tangan dengan istrimu. Apa pun yang terjadi jangan pernah sekali-kali kamu memukul istrimu.
Dan untukmu menantuku jaga dirimu ...karena dirimu. Sudah ada yang memiliki, yaitu suamimu ...Kalau dulu, kau menjaga dirimu untuk keluargamu. Maka sekarang kau ...harus bisa menjaganya untuk suamimu."
Baiklah keduanya mengangguk dan berjanji akan menjadi suami-istri yang lebih baik lagi. Mereka memeluk bapak dengan hangat. Cahaya menyeka air mata yang akan lolos membasahi pipi.
Mereka ada di depan Abidah Aminah, wanita paruh baya itu, tak kuasa menahan air matanya karena ucapan anaknya.
"Ibu! Minal aidin wal faizin dihari yang suci ini aku ingin minta maaf. Maaf atas kesalahan yang dulu pernah Langit perbuat. Maafkan aku Buk, yang jarang sekali bersama Ibu," ucapnya bersimpuh di paha ibu.
"Kang Mas! Tidak ada Ibu yang sulit memberi maaf kepada anak-anaknya. Maka Ibu pun sama ...dengan mereka. Ibu sudah maafin Kang Mas, dan Ibu juga minta maaf, jika Ibu punya kesalahan pada kalian. Untukmu Ay, jangan pernah mendengar apa yang orang bicarakan tentangmu Nak! Apa lagi masalah keturunan. Itu sudah Allah yang ngatur. Mau di kasih cepat atau lambat itu semua Allah yang ngatur. Tugas kalian hanya berdoa dan berusaha," ucapnya Abidah Aminah.
Abidah Aminah tidak mau, jika menantunya terlalu berpikir jika keluarga Raharja menuntut dia agar segera punya keturunan. Mereka memeluk erat Abidah Aminah.
Langit dan Hazel saling memeluk satu sama lain. Meminta maaf dan menggoda kakak iparnya adalah hal yang tidak boleh Hazel tinggalkan.
"Lang gimana rasanya?" tanya Hazel di sela-sela pelukan hangat dari kakak iparnya. Langit yang mendengar hal itu, ingin sekali mukul wajah adik iparnya sekaligus temannya.
"Oh ...maafin aku ya Ay!" ucap Alula memeluk Cahaya.
"Sama Mbak, maafin Aya juga," ucapnya Cahaya.
Cahaya tersenyum kearah si kembar yang duduk di sofa.
"Arche, Archer!" panggil Cahaya.
Yang dipanggil langsung mencium tangan Cahaya kemudian berucap. "Maaf ya Teh, maaf untuk semua apa yang pernah kita ucapkan dulu yang menyakitkan hati Teh Cahaya!"
"Maafkan Teteh juga, semoga kalian selalu di beri kebahagiaan," ucap Cahaya, sambil memeluk keduanya.
Sekarang Langit yang gantian dipeluk ketiga adiknya itu.
"Kang Mas maafin kita semua ya! Semoga Kang Mas diberi kebahagiaan," ucap Alula, mewakili kedua adiknya.
Keluarga itu pun memutuskan untuk makan bersama.
__ADS_1