Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Cintaku Tak... Sebesar Cinta Allah Dan Rasulullah...


__ADS_3

Tengah malam pemuda itu terbangun, karena lupa belum mencium istrinya.


"Mimpi indah Az-zahra!" Langit mencium pipi istrinya dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


"Aku akan mandi, takut kalau nanti telat subuh gara-gara harus gantian mandi." Langit bicara, sambil menggelengkan kepalanya.


Pemuda itu berjalan kearah kamar mandi. Tidak mungkin tengah malam mandi biasa yang ada mandi luar biasa. Setelah hampir lima belas menit. Pintu kamar mandi terbuka, sepertinya pemuda itu kedinginan. Lihat bibirnya saja bergetar. Langit berjalan kearah lemari mengambil baju.


"Sudah lama aku tidak tahajud." Langit berpikir sejenak. Ah— pemuda itu memutuskan untuk menunaikan tahajud.


Langit melaksanakan shalat tahajud, saat dia salam menengok ke kanan. Pemuda itu, bisa melihat jika istrinya tersenyum kearahnya. Pemuda itu berdoa kepada Sang Khalik, tapi doanya hanya dia yang tahu. Cahaya yang ada didekatnya saja tidak mendengar apa yang suaminya minta.


"Kau bangun?" Langit bertanya, sambil melipat sajadah.


Cahaya yang tidur mengangguk.


"Apa kau tidak lelah, tidurlah aku juga akan tidur." Langit bicara sambil membaringkan badannya.


"Apa dingin?" Cahaya bertanya, sambil membalikan badannya agar melihat suaminya. Wanita itu menarik selimut sampai kepala. Langit hanya bisa melihat mata istrinya saja.


"Lihat saja aku pakai jaket." Langit bicara sambil menarik selimut. Pemuda itu sangat kedinginan. Salah siapa tengah malam mandi.


"Em... " Cahaya hanya mengedipkan kedua matanya.


"Tidur masih petang, besok kau harus mandi wajib bukan?" Langit menyentuh kepala istrinya.


Pemuda itu, tersenyum karena mengingat kejadian bersama istrinya saat mau melakukan hubungan suami-istri.


Cahaya menarik selimutnya sampai sekujur tubuhnya. Sepertinya wanita itu, malu saat suaminya bilang mandi wajib.


"Kau tahu?" Langit bertanya sambil menarik selimut yang istrinya gunakan untuk menutupi wajahnya. Pemuda itu ingin melihat wajah istrinya.


"Tatap mataku," perintahnya kepada istrinya.


Cahaya hanya mengikuti perintah suaminya. Wanita itu menatap mata suaminya.


"Aku sudah mencintaimu, meskipun cinta ku tak sebesar cinta Allah dan Rasulullah. Untukmu ...cinta ku ini, tidak mampu membuat ku menolong mu. Saat hari hisab. " Langit bicara terus terang, dia tidak bisa ngantung perasaan istrinya.


"Tidak ada cinta sehidup semati bagiku ... tapi, izinkan aku ...bersamamu ...sampai akhir hayat ku. Pun sebaliknya, dengan kau, aku bukanlah orang yang romantis ...jadi aku tidak bisa banyak kata. Tapi yang aku tahu ...jika kita mencintai seseorang, kita rela melakukan semua untuk orang itu. Tapi tidak dengan ku. Aku tidak rela, jika harus melihatmu bersama lelaki lain."


Cahaya yang mendengar hal itu matanya berkaca-kaca. Ah— suaminya tidak bisa puitis. Suaminya bicara pakai logika, bukan pakai perasaan yang akan terlihat seperti orang bohong.


"Kata orang cinta itu dari mata turun ke hati ...tapi ada yang bilang ...cinta itu dari hati naik ke mata ...kalau cinta itu dari mata turun ke hati ...berarti kita semua tidak akan pernah mencintai Allah... Kenapa? Karena mata kita tidak pernah melihat Allah. Kalau cinta itu dari mata turun ke hati. Berarti kita tidak akan pernah cinta Rasulullah. Kenapa? Karena mata kita tidak pernah melihat Rasulullah. Kalau cinta itu dari mata turun ke hati. Berarti orang buta itu tidak akan merasakan indahnya cinta. Kenapa? Karena orang buta tidak pernah melihat pasangannya. Maka yang benar itu ... cinta dari hati naik ke mata. Kalau hatinya sudah cinta, seburuk apapun yang dicintainya. Akan terlihat indah di matanya...'by Gus Miftah' " Langit bicara menatap istrinya.


"Maka Az-zahra aku mencintaimu karena Allah yang menumbuhkan cinta di hatiku ...agar aku mencintaimu. Aku tidak mencintaimu karena fisik. Jika aku mencintaimu karena fisik. Maka besok lusa. Jika aku bertemu dengan wanita yang lebih darimu, maka aku akan mudah belok. Tapi tidak! Aku mencintaimu karena hatiku sudah menerimamu, hatiku sudah klik denganmu. Maka aku harap semoga kau juga. Mencintaiku dari hatimu, banyak lelaki diluar sana yang lebih dariku. Jika kau mencintai karena fisik, maka kau tidak akan pernah menemukan kepuasan. Karena di atas langit masih ada langit. Cintailah aku karena aku pantas untuk mu, karena aku baik untuk agamamu. Ya! Meskipun diluar sana ada yang lebih baik, intinya aku bukan orang yang sempurna. Tapi izinkan aku menyempurnakan ibadah ku bersama mu Az-zahra! Sampai kita saling menggenggam tangan melewati pintu Surga bersama!"

__ADS_1


Cahaya tidak tahu lagi. Wanita itu sangat bahagia karena ucapan suaminya. Langit malam itu mengungkapkan perasaannya kepada istrinya. Pemuda itu menepati janjinya, saat malam takbiran pemuda itu berjanji akan berterus terang jika sudah cinta dengan istrinya. Dan benar saja saat istrinya menyerahkan kesuciannya kepadanya. Saat itulah waktu yang tepat buat mengutarakan cinta. Tidak ada alunan biola yang mengiringi kata yang keluar dari mulutnya. Tidak ada ada acara pasang cincin. Tidak ada adegan bertekuk lutut dan bilang aku mencintaimu. Setiap orang berhak mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara apapun. Langit malam itu, mempunyai cara tersendiri buat mengungkapkan perasaannya.


"Aku bertanya kepadamu apa kau sudah mencintaiku?" Langit bertanya kepada istrinya.


Cahaya masih setia menatap mata suaminya. Wanita itu tersenyum dan menjawab dengan anggukan kepala. Langit tersenyum mendapatkan jawaban istrinya. Pemuda itu memeluk istrinya sangat erat.


"Mas kau tahu, tiga lelaki yang ada di dalam hidupku? Yang sangggattt aku cintai" Cahaya bertanya dalam pelukan suaminya.


Tiga! bukannya biasanya dua. Biasanya wanita itu cinta pertamanya adalah ayahnya. Lalu kenapa wanita yang satu itu bilang tiga. Lalu siapa yang satu.


"Tiga?" Langit bicara sambil melonggarkan pelukan.


Sedangkan Cahaya mendongak untuk melihat wajah suaminya, kemudian mengangguk pelan.


"Nabi, Abi dan Hubby." Cahaya tersenyum menyebutkan tiga lelaki yang ada di hati.


Terdengar seperti bahasa Inggris. Hubby juga panggilan sayang untuk suami dalam bahasa Arab. Hubby berasal dari kata hubb bermakna cinta.


"Kau tidurlah, masih ada empat jam buat istirahat." Langit bicara, sambil mengelus rambut istrinya.


"Kapan-kapan kita tahajud bersama ya Mas?" Wanita itu, ingin sekali merasakan sholat sunah bersama suaminya.


"Tentu saja, tapi untuk malam ini kau tidurlah, aku tidak suka jika kau sakit." Langit bicara sambil tersenyum.


Bergeser sejenak kita lihat bocah lelaki itu masih terjaga di jam yang masih gelap. Mukanya menatap langit malam. Telinganya bising karena suara kendaraan. Anak lelaki itu seolah ingin mencari jawaban, karena matanya tidak pernah teralihkan dari langit malam.


"Ya Allah, kenapa kakak baik itu tidak menjemput ku? Apa dia membohongi ku?" Gibril anak lelaki itu adalah dia.


Di umur yang masih kecil, dia harus menghabiskan waktu di jalanan. Gibril tidak pernah bilang kenapa takdir itu tidak adil dengannya. Lalu mengapa Senja bilang jika takdir itu tidak adil padanya. Bukankah takdirnya lebih baik dari anak lelaki itu. Yang tidak adil itu bukan takdir. Tapi kitalah yang selalu melihat keatas. Cobalah kita lihat ke bawah. Apa Senja akan bilang jika takdir itu tidak adil dengannya. Apa pria dari Sumatera itu, akan bilang. Kenapa tidak aku yang ada di dalam kesusahan kenapa harus orang lain. Tidak! Dia tidak akan bilang seperti itu. Itulah hidup, kita sebagai manusia tidak bisa memilih takdir kita. Sama dengan Gibril anak lelaki itu, juga tidak mau mempunyai takdir seperti itu. Tapi Gibril tidak pernah bilang takdir itu tidak adil. Kenapa? Itu karena, dia tidak pernah melihat takdir orang-orang yang ada di atasnya. Bocah lelaki itu, hanya melihat orang-orang yang mempunyai nasib seperti dia. Tapi Gibril pernah bertanya kepada Tuhannya. Tuhan, kenapa aku berbeda? Kenapa mataku coklat? Kenapa hidungku sangat mancung? Kenapa kulitku lebih putih dari teman-teman ku? Dan Tuhan, di mana orang tuaku? Apakah dia masih hidup? Apakah orang tuaku menyayangi diriku? Lalu mengapa aku ada dijalan. Banyak sekali pertanyaan yang bocah itu tanyakan ke Tuhan. Tapi sayang bocah itu belum mendapatkan jawaban.


"Allah! Gibril pengen kerja. Gibril juga pengen belajar agar kalau besar Gibril bisa tahu siapa orang tua Gibril." Bocah lelaki itu, meminta kepada Tuhannya. Gibril mempunyai banyak tujuan dalam hidupnya. Gibril yang mau belajar. Saat Cahaya memberi tahu Allah selalu bersama hambaNya. Saat itu juga Gibril sering datang ke masjid. Pakaian yang kotor tidak membuat seseorang tidak boleh masuk masjid. Semua kalangan bisa masuk, mau kaya atau miskin. Muda atau tua, semua bisa masuk, tidak ada larangan. Saat pertama Gibril ke masjid bocah lelaki itu, dapat baju koko dari marbut. Bocah lelaki itu, akan mengganti pakaiannya saat mau sholat. Saat selesai beribadah bocah itu menitipkan pakaiannya kepada marbut lagi. Bocah itu tahu jika ingin ibadah harus dalam keadaan suci dan bersih.


"Allah semoga kakak baik tidak bohong, semoga kakak baik menjemput ku ...aku akan bersabar Ya Allah! Kata pak ustadz. Allah berserta orang-orang yang bersabar ...apa ya Gibril lupa." Gibril mencoba mengingat-ingat ceramah pak ustadz.


"Aa ...iya ...innalloha ma'ash-shoobirin." Bocah itu SQ-nya sangat luar biasa.


Kita kembali ke kamar pasangan yang mau dua bulan nikah. Cahaya membuka matanya perlahan. Dilihatnya sang suami masih tertidur dengan jaket. Sedangkan dia hanya berselimut doang. Cahaya berpikir sejenak, ucapan seseorang yang menyakiti hatinya membuat dia mau melakukan kewajiban sebagai seorang istri.


"Semua pasti ada hikmahnya," ujarnya, ,sambil menginjakkan kaki di lantai. Wanita itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Mumpung masih tertidur, aku yakin kalau dia terbangun sebelum aku berpakaian lengkap pasti dia mentertawakan ku. Gara-gara ke konyolan ku" Cahaya segera berjalan kearah kamar mandi.


Tangan Langit meraba-raba kasur itu. Ada yang hilang pikir pemuda itu. Langit membuka matanya ternyata istrinya sudah tidak ada.


"Dia sudah mandi, aku pikir aku akan menggodanya sebelum dia mandi." Langit tersenyum, membayangkan wajah istrinya, saat dia menggodanya.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka Cahaya keluar dengan handuk yang terlilit di tubuhnya.


"Pagi!" sapa Langit kepada istrinya.


Cahaya mengerutkan dahi, tidak biasanya suaminya itu menyapa dia.


"Pagi juga," jawab Cahaya, sambil membuka lemari.


"Kita subuh berjamaah ya Mas?" Cahaya bertanya, seperti orang bodoh.


"Setiap hari kita memang subuh berjamaah bukan?" jawaban Langit membuat Cahaya menggerutuki kebodohannya.


Bau-baunya ada yang gerogi dan salting. Batin Langit.


Jam menunjukkan pukul tujuh pagi Cahaya membantu suaminya memakai dasi.


Langit menatap istrinya dari atas sampai bawah. Cahaya yang merasa di perhatikan seperti itu merasa risih.


"Kau tadi malam." Langit tersenyum menggoda.


Cahaya yang tahu kelanjutannya menyuruh suaminya diam.


"Hmm ...hmm... " Kaki Cahaya berjinjit. Kemudian menggelengkan kepalanya, sambil menaruh kedua tangannya di mulut suaminya.


Langit membuka mulutnya, hal itu mampu membuat istrinya menggelengkan kepalanya keras.


"Em-Mas ... ah... jangan di... " Langit tidak meneruskan ucapannya. Karena istrinya sudah siap memotong ucapnya.


"Em-Mas ...ah ...jangan di ingat aku akh." Cahaya menutup mulut suaminya.


Langit menjauhkan mulutnya dengan tangan istrinya itu. Pemuda itu, membuka mulutnya, mengisyaratkan sesuatu. Cahaya yang reflek membuat bibirnya bicara.


"Mas jangan gitu... kan tadi malam itu yang pertama ya maklum." Cahaya tidak bisa menutup mulut suaminya yang tipis.


"Nanti malam kau mau lagi?" Langit memutar balikkan fakta yang sebenarnya.


"Ti-tidak." Cahaya menjawab dengan terbata-bata.


"Oke siap ...kau mau berapa jam?" Langit menahan tawanya, tidak afdol jika tidak menggoda istrinya.


Cahaya pagi itu sangat kesal, karena ulah suaminya. Cahaya berjalan kearah sofa dan duduk di sana.


"Berapa jam... dua... tiga... atau lima?" Langit bertanya sambil memasang dasinya. Istrinya tidak mau membantu dia memakaikan dasi untuknya.


"One detik" Cahaya menjawab dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2