Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Sehari Bersama Arkana


__ADS_3

Pagi itu seperti yang Langit bilang saat di kafe, mereka akan memilih cetak undangan.


"Pagi, Cantik kau juga ikut?" tanya Cahaya yang ada di luar mobil. Sedangkan gadis berwajah bulat itu duduk di kursi penumpang.


"Om Dosen tadi mengajakku, jadi apa boleh dikata. Aku tak bisa menolak, apa lagi bertemu Akak!" jawab gadis itu sambil berdiri.


Cahaya tersenyum mendengar jawaban gadis berwajah bulat itu.


"Masuklah," ucap Langit, sadari tadi hanya diam. Cahaya sudah duduk di samping pemuda itu. Cahaya menghela napas, karena dia selalu disuguhi kemeja warna hitam lagi.


"Bukankah ini masih pagi, apa sudah buka tempat cetak kartu undangannya?" tanya Cahaya, yang tak melihat pemuda itu, sepertinya dia lebih tertarik melihat wajah bulat keturunan Aceh itu. Namun pemuda itu enggan menjawab.


"Cantik, apa tadi sudah makan?"


"Sudah dong, eh... rambutnya Akak jadi pendek." Gadis itu berseru riang.


"Bagaimana pendapatmu, bagusan pendek atau panjang?" tanya Cahaya.


"Tentu saja bagusan pendek, kenapa Akak memotongnya ?" tanya gadis itu, sambil berdiri dan memegang rambut Cahaya.


Cahaya melirik kearah Langit yang fokus menyetir. Cantik berpikir apa karena om Dosennya itu.


"Apa Om Dosen yang meminta, atau malah Om Dosen yang memotong?" tanya gadis itu, yang sudah berdiri di belakang kursi Langit.


Pemuda itu terdiam, tak menjawab, pertanyaan dari gadis berwajah bulat itu.


"Mana mungkin Om Dosen yang memotong Cantik!" celetuk Cahaya dengan tersenyum.


"Om Dosen bisanya potong kue," Cantik berbicara sambil terkekeh. Cahaya juga tertawa, kapan lagi dia bisa mentertawakan calon suaminya itu.


"Turunlah," ucap pemuda itu. Apa pemuda itu benar-benar ingin menurunkan mereka secara tiba-tiba.


Cahaya dan Cantik terdiam karena ucapan pemuda itu.


"Ayo turun, kenapa masih diam?" tanya pemuda itu sambil keluar dari mobil.


Pemuda itu membukakan pintu untuk Cantik. Mereka bertiga sudah keluar dari mobil.


"Sebelum kita ketempat buat kartu undangan, kita bisa berhenti di sini." Langit berbicara di samping Cahaya.


"Wow ini sangat bagus, Om Dosen, pemandangannya sangat bagus." Gadis itu berseru.


Cahaya tak percaya, ternyata pemuda yang ada di sampingnya itu mengajak mereka ke pantai.


"Ayo, kita bermain air Akak!" Gadis itu menarik tangan kedua orang dewasa itu.


Saat mereka sudah dibibir pantai, gadis berwajah bulat itu sangat jail. Dia menendang air laut itu kearah kedua orang dewasa itu. Kemudian dia tertawa lepas setelah mejaili Langit dan Cahaya.


"Cantik, akan Akak balas." Cahaya melakukan hal sama seperti yang Cantik lakukan.Rambut sebahu nya diterpa angin, kulit bersih, senyum lebar. Itulah yang Langit lihat saat itu. Lamunannya tersadar, di saat air laut itu mengenai wajahnya.


Cantik tertawa, karena bisa membuat wajah om Dosen terkena air laut karenanya.


"Om, sendal ku terhanyut, gimana ini Om?" tanya gadis berwajah bulat itu. Langit ingin mengambil sandal milik Cantik, tapi ombak terlalu besar.

__ADS_1


"Maaf Cantik, sandalnya sudah dibawa ombak," ucap pemuda itu, sambil duduk di samping Cahaya.


"Lalu, aku gimana pulangnya, masa kaki ku kotor,"


"Tenanglah sayang, nanti kita ke toko sandal ya," ucap Cahaya, gadis itu tak jadi menangis. Gadis itu sedang membuat istana pasir.


"Pasirnya bagus ya, Akak? Warnanya putih,"


"Kak, cobalah taruh kakinya di lubang yang udah aku gali, nanti kita kubur kakinya. Aku ingin lihat seberapa kuat Akak!"


"Baiklah jika itu membuatmu senang."


Cantik mulai mengubur kaki Cahaya, setelah itu dia injak.


"Coba Kak, dikeluarkan aku hitung ya, satu, dua, ti-ga." Gadis itu bersorak karena Cahaya tidak bisa mengeluarkan kakinya saat hitungan itu telah selesai.


"Ya, Akak sangat payah," ucapnya sambil tertawa.


"Sekarang gantian Om Dosen!" seru gadis itu yang membuat om Dosen kaget.


"Ayo, Bang, bukankah Abang yang memintanya untuk ikut Abang. Jadi turuti kemauannya," ucap Cahaya, yang selalu dapat tatapan tajam dari pemuda itu.


"Mau kan Om?"


"Baiklah,"


"Bantar, Om aku harus menggali lebih dalam lagi,"


Langit mulai memasukkan kakinya. Cantik yang sedang mengubur kaki om Dosen itu kena jepretan foto Cahaya.


Cahaya memfoto gadis berwajah bulat saat mengubur kaki om Dosen. Cahaya mengambil foto itu dari belakang Langit.


Cahaya mulai memposting foto itu dengan caption.


...Bahagia itu disaat kita bersama orang yang kita sayangi. Lihat saja wajah adik Cantik itu @Black Agam....


...Sedetik kemudian ada komen masuk....


...Black Agam. Lah adiknya diajak. Abangnya enggak?...


...Le Alexa. Harusnya yang pakai kemeja hitam juga diperlihatkan wajahnya. Jangan cuma punggungnya....


...Fafa. Biasalah Le, si Aya emang selalu buat orang penasaran....


...Rai. Kalau aku sih enggak penasaran. Cuma ngebayangin gimana gaya pacaran mereka....


...Wiliams. Tak usah di bayangin, Rai. Mereka sudah belajar cara ngasuh anak....


...Cahaya yang membaca komen itu, ia tidak membalasnya. si kembar yang sedang main ponsel mereka juga bisa melihat postingan itu karena Cahaya menandai Black....


"Kak, lihatlah." Archer memberikan ponselnya kepada kakaknya. Mereka sepertinya akan berkomentar.


...Archer Abdullah. Kalau sama kita mainnya di cafe. Kalau sama Si Ndut di pantai, gimana sih Kang Mas @Arkana Abdullah....

__ADS_1


...Alula Abdullah. Gemes banget ih, ya enggak @Hazel....


...Arche Abdullah. Jangan pacaran yang ketiga seytan*....


Cahaya yang membaca komen dari keluarga calon suaminya itu hanya tersenyum.


"Ayo, Om angkat kakinya."


Langit mulai mengangkat kakinya yang dikubur dengan pasir. Baru hitungan satu, kaki itu sudah tak terkubur lagi.


"Yah, Om Dosen sangat cepat membuat kakinya terangkat." Gadis itu kecewa, ia kira om Dosen akan sulit melakukan hal itu.


"Cantik ayo bersihin tangan dan kaki yang terkena pasir. Om Dosen sudah mau cabut," ucap Cahaya.


Mereka bertiga membersihkan kaki yang terkena pasir dengan air laut.


"Akak, nanti ini kakiku juga akan kotor, karena sendal ku terhanyut,"


Langit tidak banyak kata langsung menggendong bocah itu. Cahaya yang melihat hal itu ia tersenyum, ternyata pemuda itu penuh misteri pikir Cahaya.


Mereka keluar dari mobil, Langit harus menggendong gadis berwajah bulat itu lagi.


"Carilah yang kamu suka."


Cahaya mulai membantu memilih sendal untuk Cantik. Gadis itu sangat suka dengan pilihan Cahaya.


"Kalau kau mau, belilah,"


"Tidak perlu, Bang!"


Mereka tiba ditempat pembuatan undangan.


"Mas Langit, ya?" Langit hanya mengangguk.


"Untuk disain undangan pernikahan ada beberapa, Masnya sama Mbaknya bisa memilih terlebih dahulu."


Mereka berdua melihat-lihat bentuk undangan itu.


"Yang mana?"


"Entahlah, aku bingung," jawab Cahaya sambil membolak-balikan beberapa undangan itu.


"Yang ini saja, ada balon ada gambar badut nya dan ada kue ulang tahunnya," ucap gadis berwajah bulat itu, yang duduk di tengah-tengah mereka.


"Itu undangan ulang tahun, sayang!"


"Emangnya Kakak cari undangan seperti apa?"


"Undangan pernikahan," ucap Cahaya.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Langit menyodorkan undangan kearah Cahaya. Undangan yang simpel, warnanya juga tidak terlalu norak. Pilihan yang bagus pikir Cahaya.


"Bagus juga Bang!" .

__ADS_1


__ADS_2