
"Senja!" Cahaya tidak percaya, jika orang yang ada dibalik foto itu adalah sahabatnya.
Wanita berambut sebahu itu terbengong. Stelah itu Cahaya, menutup matanya. Mencoba memahami jalan kisah cintanya dan suaminya, ternyata takdir emang sudah menyatukan sejak dulu.
Cahaya membuka matanya, dia teringat sesuatu.
"Senja, aku harus mengabari dia." Cahaya mencari ponselnya. Sangking pikniknya dia tidak tahu jika ponselnya ada disampingnya.
"Mana, kenapa aku tidak menemukan dia?" tanya Cahaya, mencari di dalam laci.
Wanita berambut sebahu itu, mulai mengangkat selimutnya. Wanita bernapas lega, karena ponselnya ketemu.
"Syukurlah, aku harus mengabari dia. Penerbangan dia jam setengah tiga, masih ada tiga puluh menit," duga Cahaya, sambil memijit ponselnya.
Satu detik kemudian, Cahaya menaruh ponselnya ke telinganya. Wanita itu mondar-mandir, sambil menggigit jari-jarinya. Sepertinya wanita itu, sudah melupakan rasa sakit yang ada di kepalanya itu.
"Ayo, Sen, angkat lah." Cahaya bicara, sambil mengelap keringat yang membasahi pelipis.
Wanita berambut sebahu itu, mencoba menghubungi sahabatnya lagi.
Tutt.... tutt... tut... tut...
Cahaya sangat kesal karena sahabatnya tidak mengangkat panggilan dari dia.
Cahaya memutuskan untuk keluar dari kamar. Wanita itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa, sesampainya di bawah. Wanita itu menghampiri keluarganya yang sedang makan siang. Sedangkan sang suami, sedang mengambil makanan. Disitu juga ada Black dan Cantik, sepertinya kedua kakak-adik itu baru masuk.
Cahaya terengah-engah karena melewati tangga dengan cepat.
"Mas, kita ke-bandara, penting hah ...hah!" Cahaya menarik tangan suaminya, yang mau menuangkan sayur di mangkuk.
Semua yang ada di sana, diam menatap Cahaya. Wanita itu bertingkah layaknya seorang yang tidak punya sopan santun.
Eyang ingin mencibir Cahaya, tapi ke dahulukan Langit yang angkat bicara.
"Kenapa harus ke sana?" tanya Langit, sambil meletakkan sendok sayur ke tempatnya.
"Penting, pokoknya ikut saja." Cahaya menarik tangan suaminya.
Saat sudah ada di bagasi, kedua orang itu saling tatap.
"Bannya kempis Az-zahra!" Langit menatap ban mobilnya.
Cahaya berfikir sejenak, matanya menatap mobil Alphard putih. Sedang parkir tak jauh dari bagasi.
"Black, ayo minta dia untuk mengantar!"
Langit hanya mengikuti ucapan istrinya itu. Langit kembali masuk ke rumah dua lantai itu.
Didalam rumah eyang terus bicara yang tidak-tidak tentang Cahaya.
"Wanita tak punya sopan, masa suaminya sedang mengambil makanan. Main tarik saja, wanita itu makin hari makin tidak tahu diri," cecar eyang sambil minum.
Sedangkan Abidah Aminah dan kakek terdiam, tidak mau menanggapi. Black menunjukkan wajah yang tidak seperti biasanya. Wajahnya datar, seperti orang tidak suka. Akh! Pemuda keturunan Aceh itu, tidak suka saat ada orang menjelekkan wanita berambut sebahu dihadapannya.
"Black!" panggilan itu, membuat pemuda keturunan Aceh berbalik kebelakang.
"Ya Bang!"
"Mobil ku bannya bocor, apa kau mau mengantarkan kita ke-bandara?" tanya Langit, sambil menatap Black.
"Ah ... tentu saja," jawab Black mengangguk dan tersenyum.
"Aku ikut ya Cut Abang?" Cantik berlari mengejar Black.
"Can, kau disini saja. Dengan Nenek, nanti kakak kembar juga akan datang," ujar Abidah Aminah berjalan kearah Cantik.
"Kau, disini saja, jangan kita kembali. Enggak lama kok," ujar Black.
__ADS_1
Akhirnya Cantik setuju. Kedua pemuda itu berlari keluar.
"Mana dia Black?" tanya Langit, yang tidak menemukan istrinya.
"Siapa?"
"Aku disini," ujar Cahaya dari dalam mobil.
Kedua pemuda itu saling tatap, kenapa wanita berambut sebahu itu bisa masuk mobil putih milik Black.
"Kau ceroboh Black, kau tidak menguncinya. Jadi aku bisa masuk." Cahaya seakan tahu, apa yang ada di pikiran kedua pemuda itu.
"Ayo, cepat! Kenapa kalian saling tatap?" tanya Cahaya.
Kedua pemuda itu, segera masuk mobil. Black sebagai sopirnya. Sedangkan Langit duduk di samping istrinya.
Mobil itu mau keluar dari pekarangan rumah Raharja. Sebelum benar-benar keluar. ada mobil hitam milik si kembar. Kebetulan yang menyetir siang itu Archer.
"Om Ari! Kemari sepertinya?" ujar Archer.
"Mungkin saja si bulat, ingin bertemu akak Bubble-nya!"
Kembali lagi ke dalam mobil yang Cahaya dan suaminya tumpangi.
"Black, tambah kecepatannya," pinta Cahaya dengan tidak sabaran.
Langit menatap istrinya aneh, dia belum tahu kenapa istrinya ingin ke bandara.
Black pun menambah kecepatannya, seperti apa yang Cahaya bilang.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" Langit angkat bicara.
Cahaya tak sabar untuk sampai ke bandara.
"Maksudnya, apa yang membuatmu gelisah Az-zahra! Kenapa seperti ada hal yang sangat penting," duga Langit.
"Masnya, akan tahu nanti." Wanita itu menjawab singkat.
"Si pendek larinya cepat banget," gerutunya Langit.
Black pun segera mengikuti pasangan itu.
Cahaya bertanya ke orang yang ada di sana. Apa penerbangan Jakarta—Sumatra sudah tek off.
"Sepuluh menit lagi," jawab yang ditanya Cahaya.
Wanita itu tak memikirkan sekelilingnya, memandang dia seperti apa.
"Sen!" teriak Cahaya, sambil mencari sahabatnya. Wanita itu berlari ke segala arah. Agar bisa menemukan sahabatnya itu. Langit mengerutkan dahi. Kenapa istrinya mencari lelaki yang pagi itu menelpon istrinya.
"Sanjoooo!" Cahaya memanggil dengan panggilan biasanya. Itu semua dia lakukan, agar sahabat bisa mengenali panggilannya.
Langit pun mulai berteriak seperti istrinya. Sedangkan Black, dia tidak tahu harus apa. Dia tak tahu siapa yang dicari oleh pasangan yang dekat dengan keluarganya itu.
"Teh Senja! Teh Senja!" teriak Black.
Langit dan Cahaya yang mendengar hal itu, menghentikan acara teriak-teriak.
"Black, dia seorang pria. Kenapa kamu memanggilnya Teh?" tanya Cahaya.
Black terbengong karena teguran dari Cahaya. Dia sangat malu, karena ucapnya. Banyak orang-orang yang melihat kejadian itu. Membuat orang-orang yang mendengar hal itu, ingin tertawa karena ulah pemuda keturunan Aceh itu.
Black yang malu, dia segera menutup kepalanya dengan tudung jaket.
Sebenarnya Cahaya dan suaminya ingin tertawa, seperti orang-orang yang lain. Tapi mengingat, waktunya yang tidak pas. Mereka tidak jadi tertawa.
"Sanjooooooooooo!" Cahaya berteriak sangat keras. Wanita itu sudah lelah mencari sahabatnya itu.
__ADS_1
Dendang telinga pria, yang membawa ransel itu. Mendengar suara teriakan, seperti orang memanggil namanya.
"Apa aku tak salah dengar? Apa dia Cahyo?" tanya pria itu, kepada dirinya sendiri.
Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh arah. Namun tidak ada, wajah seseorang yang memanggilnya.
"Pak Senjaaa!!!!" teriakan kedua dari orang yang berbeda. Juga terdengar ditelinga pria berkulit gelap itu.
"Sanjoooo!" Cahaya mencoba melambaikan telapak tangannya keatas. Mungkin dengan itu sahabatnya tahu.
Pria berkulit gelap itu, memutuskan tubuhnya. Dia mencari seseorang yang mengenalnya sangat lama.
"Dimana, Cahyo? Aku tak buat menemukan dia!" gumamnya pelan, sambil menatap kearah lain.
Mata pria berkulit gelap itu, melihat tangan yang menjulang keatas, layaknya sebuah isyarat. Pria berkulit gelap itu, sangat mengenali tangan orang itu. Apalagi gelang emas yang melingkar di bagian kiri. Pria berkulit gelap itu, teringat saat sang sahabat bilang. Jika gelang emas itu pemberian dari suaminya. Sewaktu dia ngambek.
Pria berkulit gelap itu, berlari kearah sahabatnya itu. Saat hampir sampai, pria itu menghela napas dalam-dalam kemudian tersenyum. Sebelum menyebut nama sahabatnya itu. "Cahyo!" panggilnya dari arah belakang.
Cahaya yang mendengar suara khas milik sahabatnya. Wanita itu tersenyum, kemudian membalikkan badannya. Langit dan Black pun langsung berlari kearah orang yang dicari-cari.
Cahaya menatap Senja, Senja yang ditatap tidak seperti biasanya pria itu memutuskan untuk bertanya.
"Ada apa?" tanya Senja, sedikit bingung.
Kedua pemuda yang ada di sana, juga bingung. Kenapa wanita berambut sebahu itu, hanya diam. Dan menatap pria berkulit gelap itu.
"Dia!" suara tersekat, tidak seperti sebelumnya yang memanggil sahabatnya dengan sangat keras.
Senja dibuat bingung, oleh sahabatnya itu.
"Apa yang kau maksud Cahyo?" Senja memegang kedua pundak Cahaya.
Langit yang melihat hal itu, pemuda itu mengerutkan dahi. Senja sadar dengan apa yang ia lakukan. Pria itu melepaskan, sambil berkata. "Maaf!" ujarnya menatap Langit.
Pemuda itu menjawab dengan anggukan kepala.
Cahaya mencoba untuk menenangkan dirinya, sebelum bercerita kepada sahabatnya itu. Wanita itu masih tertegun dengan kenyataan yang ada. Ternyata kelima orang itu saling berkaitan, meskipun Cahaya tidak pernah bertemu dengan Bumi dan Mentari.
"A-ku telah menemukan dia!" Cahaya bicara dengan nada bergetar.
Senja tersenyum bahagia. Sedangkan Cahaya, wanita itu sangat kasian dengan sahabatnya.
Kedua pemuda itu, hanya menyimak. Langit dan Black tidak tahu apa yang kedua sahabat itu bahas.
Senja tersadar, bagaimana mungkin sahabatnya tahu. Tentang seseorang yang tidak pernah sahabatnya temui itu. Senyuman yang menghiasi wajah Senja, pudar begitu saja.
"Bagaimana mungkin? Kalian tidak pernah bertemu sebelumnya." Senja menyeka keringat yang membasahi pelipisnya..
Langit dan Black saling tatap. Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kedua sahabat itu seolah peristiwa antara kedua sahabat itu bertolak belakang.
"Si kulit gelap!" panggil Cahaya, yang membuat Senja terkejut.
Panggilan itu adalah panggilan dari orang yang bertahun-tahun ia cari.
"Bagaimana kamu bisa tahu, tentang panggilan ini." Senja mengguncang kedua pundak sahabatnya dengan keras.
Sepertinya pria berkulit gelap itu, sudah lupa dengan suami sahabatnya itu.
Langit ingin berdeham tapi, Cahaya mengangkat tangannya. Seolah isyarat, untuk pemuda itu agar tidak menegurnya dalam kondisi yang urgent.
Pemuda itu terdiam, tidak jadi menegur istrinya. Langit mengusap rambutnya dengan kedua tangannya, kemudian mendongakkan wajahnya. Pemuda itu jadi teringat sahabatnya sejak kecil, yang selalu memanggilnya dengan panggilan Ajil itu. Dia mencoba untuk memahami situasi yang ada saat itu. Dia harus mengenyampingkan egonya. Tahan, jangan cemburu.
"Ikutlah dengan kami, kau akan tahu semuanya." Cahaya bicara sangat halus. Senyuman di bibirnya, ia ulas kan agar sahabatnya tenang.
Aku tak tahu, apa yang akan terjadi nanti. Saat kau tahu orang yang selama ini kau cari meninggalkanmu. Aku harap ini adalah akhir yang buruk untuk Senja. Dan awal yang baik untuk Senja kedepannya.
Senja mengangguk setuju, dia sangat bahagia karena mendapatkan kabar, tentang orang yang selama ini ada dalam hatinya.
__ADS_1
Keempat orang itu, keluar dari bandara. Senja sangat semangat, lihat saja pria itu tertawa dengan Black. Sedangkan Cahaya yang jalan di belakang mereka, wanita itu sangat sedih. Karena dia akan melihat sahabatnya bersedih untuk tiga puluh menit ke depan. Cahaya menggenggam tangan suaminya, sangat erat. Langit menatap wajah istrinya yang gusar, ditambah genggaman tangan istrinya semakin erat saja. Pemuda itu bisa menyimpulkan, jika istrinya itu seolah butuh kekuatan.
Kenapa dia, apa masalahnya sangat besar. Langit memberikan kekuatan dengan cara merengkuh tubuh istrinya itu.