Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kang Sopir Kagak Menjemput ... Plotes Woi


__ADS_3

"Kenapa hanya diam?" tanya Cahaya, menatap suaminya.


"Tidak apa-apa lupakan," jawabnya.


Ponsel yang ada di atas laci itu berdering. Cahaya mengambil kemudian mengikatnya.


"Halo, halo Akak, mendengar tidak?" teriak dari ponsel, yang membuat Cahaya menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Iya, aku mendengar suara mu sayang!" jawab Cahaya, sambil terkekeh.


Sepertinya si bulat akan protes.


"Akak, kenapa Om tadi tak menjemput ku?"


Langit mendengar protes dari Cantik.


Karena Cahaya mengeraskan suara ponselnya.


"Om, dia sedang belajar sayang!" Kekeh Cahaya sambil melihat pemuda yang masih berdiri di sampingnya. Sambil memegang kalender. Langit menatap istrinya bingung, dia tidak merasa sedang mempelajari apapun.


"Belajar? Apa yang Om, pelajari?" tanya Cantik.


"Tidak banyak, hanya saja belajar berjala ...seperti kakek!" Cahaya menahan tawanya. Sedangkan pemuda itu, menatap istrinya tajam


"Wah ...aku jadi ingin tahu, bagaimana Om berjalan seperti kakek. Pasti lucut bingit!"


"Jangan dengarkan Akak! Can! Akak sudah mau jadi nenek. Dia sudah tidak bisa berdiri, kau tahu Can. Akak tidak bisa melewati tangga, ngeri Can!" sahut Langit, menggoda Cantik. Gadis berwajah bulat itu pasti ingin datang ke rumah Raharja.


Cahaya yang mendengar dia melotot, suaminya itu suka membalas dendam.


"Apa Akak dan Om, sedang main? Aku jadi ingin ikut ...aku akan jadi dokternya. Akak dan Om, akan jadi pasiennya." Cantik malah membuat pasangan itu saling tatap, kemudian menggeleng bersamaan.


"Maksudnya kita akan jadi lansia?" tanya Cahaya, sudah lama mereka tidak bertemu. Mereka hanya telponan saja.


Cahaya dan Langit mendengar orang terkekeh.


"Cut Abang! Kenapa tertawa, seperti itu. Emang lansia apaan?" tanya Cantik.


"Black, kau di rumah," sahut Cahaya antusias, sudah hampir sebulan pemuda keturunan Aceh di Jogja.


"Baru tadi pagi nyampai, mungkin balik besok sore!" jawab pemuda itu.


"Emmm, aku sangat merindukanmu!" Cahaya tersenyum.


"Aku lebih merindukanmu," ujar Black yang membayangkan raut wajahnya Langit.


"Cantik, Om rindu padamu," ujar Langit yang tidak mau kalah dengan bualan Cahaya dan Black.


"Baiklah, om tenang saja, aku akan ke rumah om! nanti sore," jawaban Cantik membuat Cahaya dan Black tertawa.


"Sepertinya, Cantik lebih perhatian darimu Black!" kekeh Cahaya.


"Aku rasa," ujarnya.

__ADS_1


"Tunggu dulu, lansia apaan? Cut Abang belum menjawabnya," protes Cantik yang bisa di dengar pasangan itu.


"Lanjut usia, ya seperti mbah Raharja!" jawab Black memberi tahu.


"Baiklah, Cantik akan ke rumah mbah Raharja, tunggu ya!" ujar Cantik.


"Assalamu'alaikum!" Gadis itu mengakhiri dengan salam.


Pasangan baru itu saling tatap, Cahaya teringat akan buku harian milik Mentari. Wanita itu menatap suaminya datar.


"Apa kau pernah, mengkhianati seseorang?" tanya Cahaya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak.


Langit terdiam, kenapa istrinya itu aneh sekali. Dan bertanya sesuatu yang tidak ada asal muasal pembahasan tentang itu.


"Aneh!" ujar Langit, menatap kearah lain.


"Aku hanya bertanya," ujar Cahaya nyolot.


Langit meninggalkan istrinya itu, pemuda itu memilih untuk berdiri di balkon sendirian.


Ya! Aku pernah mengkhianati seseorang, aku menyakiti dia. Karena aku mengkhianati janji persahabatan.


Cahaya yang ada di dalam kamar, dia mulai membaca buku harian itu kembali.


Aku sudah bisa berdamai dengan takdirku. Aku mencoba untuk menerima kenyataan bahwa aku tidak akan lama lagi akan meninggalkan dunia. Aku tidak mempermasalahkan hal ini, pada dasarnya setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajal dan menemui Sang Pencipta. Aku tidak mau di akhir hayat ku hanya merenung dan bersedih. Apalagi menyalahkan takdir yang Tuhan kasih, tidak layak seorang hamba menyalahkan Tuhan nya, sungguh laknat. Sudah satu bulan aku di Indonesia aku menjalani kehidupan ini dengan rasa damai. Aku bukan tipe kal orang yang suka diam di rumah. Saat di Indonesia aku memutuskan untuk menjadi petualang. Ku jelajahi negri tercinta ini dengan rasa bahagia. Sesekali aku juga ikut bakti sosial bersama komunitas Anmufis! Anmufis adalah singkatan dari anak muda fisabilillah. Komunitas itu berada di Bandung. Dengan bertemu mereka aku bisa melupakan ...jika umurku tak lama lagi.


^^^TTD^^^


Cahaya membalikkan lembaran itu, entah sudah ke berapa lembar yang Cahaya baca.


Sudah hampir dua bulan aku bergabung dengan komunitas Anmufis, setiap seminggu sekali kami mengumpul untuk membahas tempat-tempat terpencil di negri ini. Tujuannya sih untuk mengadakan bakti sosial di sana. Setiap seminggu kita bertemu, setiap itu pula ada anak muda yang ikut bergabung di komunitas ini. Namun malam ini, aku tak akan bahas tentang bakti sosial bersama kawanku. Aku akan membahas tentang seseorang. Dia sangat ramah, kulit gelapnya serta tinggi badannya, menurutku sih oke.


Dia bukan orang asli Bandung. Katanya sih lain daerah.


Cahaya membuka lembaran baru dari buku itu.


Lima bulan berlalu aku bergabung di komunitas Anmufis ini. Tak ku sangka aku jatuh cinta dengan seorang pria berkulit gelap itu ... sungguh aku tidak pernah berfikiran untuk mencintai seseorang kembali setelah kak Bumi.Tapi ... ya aku cuma seorang manusia yang punya napsu. Namanya sangat bagus seperti kelakuannya. Selama empat bulan itu kita sangat dekat, saking deketnya kita bercerita layaknya seorang sudah kenal lama. Dia selalu bercerita tentang sahabat karibnya. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Terkadang aku juga menceritakan Ajil kepada dia, dia selalu tersenyum saat aku bercerita tentang masa kecil bersama Ajil. Ah... aku jadi merindukan sahabat kecilku itu. Aku sudah lama tidak berkomunikasi dengan Ajil. Entah bagaimana keadaannya aku do'akan kau baik Jil. Baiklah aku ingin membahas tentang dia, si kulit gelap.


Tadi pagi kita bertemu, aku dan dia duduk kursi panjang di bawah pohon radang. Pagi itu aku mengawali pembicaraan dengan dia.


"Apa tak ada cerita tentang sahabat karib mu, lagi?" tanyaku, kita duduk di kursi panjang. Tapi kita menjaga jarak, dia sangat menghargai ku. Boleh jadi karena pakaian ku, yang syar'i ini.


Dia yang mendengar pertanyaan ku, dia tersenyum simpul.


"Aku rasa kau ketagihan dengan ceritaku," ujar dia tertawa.


"Aku hanya bertanya, apa yang selalu kita bicarakan. Kita tidak pernah membahas yang lain, selain sahabat kita," ujar ku apa adanya.


"Aku suka dengan sikap mu, tidak basa-basi." Dia menjawab apa adanya, tapi kenapa hatiku berdetak kencang.


"Baiklah, aku akan bercerita tentang sahabat ku. Aku sering sekali menghabiskan waktu senggang ku bersama dia. Terkadang kita mendaki gunung bersama, aku tak pernah berfikir jika aku dan dia bisa bersahabat dengan baik," ujar dia tersenyum, si kulit gelap itu selalu tersenyum saat bercerita tentang sahabatnya itu.


"Tiap malam kita akan nongkrong bersama, terkadang aku menemani dia untuk ke tempat kerja ayahnya. Ayahnya berkerja sebagai mandor bangunan. Sahabatku ini suka sekali dengan ketinggian dia itu wanita, tapi tak ada rasa takut. Dia sangat suka menantang adrenalin. Dia sangat suka dengan martabak yang aku buatkan, aku selalu tertawa saat dia makan martabak yang aku buat, bagaimana tidak. Gigi gingsulnya itu selalu tertempel meses coklat. Saat aku tertawa dia akan cemberut. Hal itu membuat aku harus menahan tawa," ujar dia yang menggeleng kan kepalanya saat bercerita tentang sahabatnya. Aku yang mendengar hanya tersenyum, aku jadi ingin bertemu dengan si gigi gingsul itu.

__ADS_1


"Kenapa harus menahan tawa?" tanyaku ingin tahu.


"Kalau aku tidak menahan tawaku, dia akan marah dengan ku. Tapi kamu tahu tidak?" tanya dia sambil melirik kearah ku.


"Apa?" tanyaku yang ingin tahu.


"Aku akan tertawa terbahak-bahak, saat aku di kamar ku. Tapi dia selalu mengirim pesan kepadaku, menyumpahi aku jika aku sedang mentertawakan dia. Aku pikir dia adalah peramal," ujar dia terkekeh.


"Mungkin saja bisa jadi," sahut ku, aku berfikir jika sahabat si kulit gelap itu seorang peramal.


"Hahahaha, tidak! Sahabatku itu bukan peramal, dia itu sangat tahu tentang aku. Jadi dia selalu bisa menebak!" jawabnya.


Cahaya membacanya sambil mengerutkan dahi.


"Aneh!" Cahaya bergumam pelan.


"Sifat yang sama dengannya," ujarnya kembali.


Cahaya membaca buku harian itu kembali.


"Aku sudah lama, tak bertemu dia," ujar si kulit gelap itu kembali.


"Kita sama, aku pun sudah hampir setengah bulan tidak bertemu sahabatku," timpal ku.


"Kita sama!" ujarnya, kamipun tertawa bersamaan.


Namun tadi pagi dia berbicara yang membuat aku tercengang. Aku masih ingat dia bilang seperti ini.


"Maaf, aku lancang mengucapkan kalimat ini untukmu," ujarnya, aku yang mendengar hal itu deg-degan. Apa yang akan si kulit gelap ini ucapkan, kenapa pakai minta maaf segala. Pikirku tadi pagi, saat duduk bersama dia.


"Aku sudah siap mendengar, apa yang ingin kamu ucapkan," jawabku dengan tangan gemetar. Aku pun menahan napas, takut. Jika apa yang ia katakan akan membuat aku kecewa.


"Aku mencintaimu," ujarnya, yang membuatku terbelalak. Aku tidak percaya, jika pagi itu adalah kali keduanya aku ditembak oleh seorang lelaki. Tapi berbeda dari sebelumnya, yang kali ini bikin aku puas.


"Sama!" ujar ku malu.


"Berarti sekarang kita jadian?" tanya dia, yang membuat aku terdiam. Bagaimana tidak, bukannya aku ini sudah memakai cadar? Bukannya dalam islam tidak boleh pacaran? Lantas? Mengapa aku, menyalahi aturan ini. Aku mohon ... hal ini buat aku bingung. Siapa pun yang ada diluar sana, tolong jangan salahkan, agamaku, hijab ku maupun cadar ku, tapi salahkan aku yang tidak taat dengan Tuhanku, yang menyalahi aturanNya. Sungguh aku adalah orang munafik. Tapi tidak semua orang bercadar sepertiku, boleh jadi dia benar-benar suci. Jadi jangan mengambil kesimpulan dengan mudah.


"Apa tidak sebaiknya kita ta'aruf saja," ujar ku tadi pagi.


"Aku belum punya apa-apa," jawabnya menunduk.


"Terus?" tanya ku, sungguh aku tidak mempermasalahkan hal seperti itu. Aku yakin Tuhan akan memberi kecukupan untuk hamba-Nya. Yang membutuhkan.


"Jalanin saja, hubungan yang ada saat ini. Yang penting kita sudah tahu, tentang perasaan kita satu sama lain. Jika memang suatu saat nanti kita ditakdirkan berjodoh susah apa pun jalannya kita akan bersama. Namun jika memang takdir berkata lain, semudah apapun jalanya jika kamu bukan milikku, pasti tidak akan menjadi milikku. Aku ada perjanjian denganmu, aku ingin jika suatu saat rasa cintaku, atau rasa cintamu hilang. Maka, aku mau kita terus terang, bilang kita sudah'an ya ... atau bilang kita putus ...ya meskipun kita tak pacaran, anggap saja itu cara mutusin hubungan yang aneh ini. Saling mencintai tapi tak ada status," ujar dia terkekeh sambil menundukkan kepalanya dalam.


Itulah hubungan kita sangat aneh bukan? Aku sudah lelah, baiklah aku mau tidur dulu, buku ini akan menjadi saksi kisah cinta ku dengan si kulit gelap.


TTD


Mentari.


Cahaya ingin tahu kisah cinta Mentari dengan pria berkulit gelap itu. Apakah mereka sempat menikah? Itulah yang ada di benak Cahaya.

__ADS_1


__ADS_2