Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Hargai Diri Sendiri...


__ADS_3

Panasnya Jakarta sepertinya memang tidak ada tandingannya. Taksi berwarna biru itu terus melaju membelah jalan.


"Pir, saya mau mampir ke kafe dekat sini." Suara nenek tua umur enam puluh lima, tapi masih sehat. Tidak bungkuk sedikitpun, telinga dan matanya masih berfungsi dengan baik.


Supir taksi itu hanya menuruti perintah penumpangnya saja.


"Cucuku menikah tapi aku tidak bisa datang, karena dirawat." Nenek tua itu terus berbicara.


"Entah siapa yang menjadi pasangan cucuku itu." Suaranya, menggambarkan ketidaksukaannya.


"Semua ditangan besan ku, aku tidak percaya jika cucu kesayangan ku sudah menikah." Nenek tua itu, bicara sambil memijit pelipisnya.


Sopir taksi itu hanya menggeleng, baru waktu itu. Dia mendapatkan penumpang yang cerewet! Tua lagi.


"Sudah sampai, Nek!"


"Tunggu sebentar tak makan dulu." Nenek tua itu keluar dari mobil.


Kafe itu berada di samping perusahaan PT. Jaya Karya. Berhadapan dengan sekolahan tingkat dasar favorit.


Saat membuka dompet tak sengaja KTP-nya jatuh. Sedangkan perempuan yang ada di belakangnya mengambil KTP itu dan berlari mengejar pemiliknya.


"Tunggu Bu." Perempuan itu berteriak.


Nenek tua itu, membalikkan badannya, untuk melihat suara perempuan seperti memanggilnya.


Perempuan itu, berjalan kearah nenek tua itu dan tersenyum.


"KTP-nya jatuh, Bu!" Perempuan itu, menyodorkan KTP itu kearah nenek tua itu.


Nenek tua itu mengambilnya dan tersenyum.


"Terima kasih!" ujar nenek tua itu.


Nenek tua itu, mengamati perempuan yang ada di depannya itu. Baju kantoran bawahan sebatas lutut, sepatu berhak tinggi. Ditambah dengan bentuk tubuh yang seksi, tinggi semampai, wajahnya bisa di bilang cantik.


"Kamu mau makan Nak?" Nenek tua itu bertanya.


"Iya Bu."


Jam dua belas semua karyawan kantor sedang istirahat.


"Ya sudah, kita bareng saja Nak."


Mereka sudah ada di dalam kafe, menunggu makanan yang baru dipesan.


Nenek tua itu belum bertanya siapa nama perempuan yang ada di depannya itu.


"Siapa namamu Nak?"


"Asya!" Asya mengulurkan tangannya.


Andai saja cucu kesayanganku belum menikah, aku jodohkan dengan cucuku. Asya baik sekali. Batin nenek tua.


Nenek tua itu terlalu mudah menilai seseorang.


"Wah ...kamu perempuan kere ya?"


Asya mengerutkan dahi, karena ucapan nenek tua itu.


"Kare?" tanya Asya menatap.


"Yang itu loh... wanita bisa cari penghasilan sendiri dan mempunyai potensi," ujarnya menjelaskan.


"Wanita yang punya banyak keahlian." tukasnya lagi.


Asya mengangguk paham, dia tahu apa yang dimaksud nenek tua itu.


"Karier Bu, bukan kare." Asya memberi tahu yang benar.


Nenek tua itu mengangguk, pesanan telah datang.


"Asya masih sendiri?" tanya nenek tua itu, sambil menyeruput soto Semarang.


Di kafe itu jual soto Semarang karena pemiliknya dari Semarang.


Asya terdiam, sejenak memikirkan masa lalunya dulu.


"Nak!" Nenek tua itu menyentuh tangan Asya.


Asya tersadar dari lamunannya itu.


"Maaf Bu." Asya memilih tidak menjawab, pertanyaan yang dilontarkan nenek tua itu kepada dirinya.


"Makan Nak! Keburu dingin nanti."


Nenek tua itu, sudah melupakan pertanyaan yang ia lontarkan ke Asya.


Asya membuang napas lega, untung nenek tua itu sudah lupa.

__ADS_1


Taksi berwarna biru itu, terus membelah jalan. Nenek tua itu sudah ada di dalamnya.


"Asya nama yang indah, wanita karier. Cocok sekali dengan cucuku itu." Nenek tua itu tersenyum kecut.


"Sayang sekali cucuku sudah menikah satu bulan lamanya."


Taksi itu berhenti di depan rumah berlantai dua.


"Buka gerbangnya." Nenek tua itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.


Memberi perintah kepada pak satpam penjaga gerbang.


Akhirnya mobil itu bisa masuk ke pekarangan rumah dua lantai itu. Nenek tua itu keluar dari taksi dan membayarnya, setelah kopernya diturunkan supir taksi itu.


"Bid!!!!!" Nenek tua itu berteriak, memanggil nama anaknya.


Di sisi lain tepatnya di dalam mobil warna hitam, Cahaya dan kedua adik iparnya asik bercanda.


"Gibril kok kayak keturunan bule ya?Aku perhatiin dari tadi. Kulitnya putih, hidungnya mancung. Tampan lagi." Arche berbicara sambil minum.


"Iya, bener aku kira cuma aku yang ngerasa dia itu kayak bule." Archer menjawab sambil fokus nyetir.


"Iya dia sangat tampan." Cahaya merasa miris melihat kehidupan Gibril.


"Jangan-jangan anak hasil... "


Cahaya memotong ucapan Arche.


"His ...kamu itu Ar, perasangka buruk saja."


"Ya kan jangan-jangan Teh. Masalahnya secantik dan setampan apa pun anak orang Indonesia asli. Tidak blasteran, pasti wajahnya itu beda dengan keturunan bule."


"Akh ...udahlah jangan mikir negatif mulu tentang orang," tukas Cahaya.


Gibril siapa pun orang tua kamu. Kakak doakan semoga Allah segera mempertemukan mu. Batin Cahaya, memikirkan bocah bermata coklat itu.


Mobil hitam itu, telah memasuki gerbang rumah Raharja. Ketiga wanita itu, keluar dari mobil dan berjalan ke dalam rumah.


Terdengar suara orang berbicara dengan sedikit keras.


"Mana si kembar?"


"Sedang keluar, Ami!" ujar anaknya, sambil menaruh teh di atas meja.


"Mana menantu yang dipilih bapak mertua mu?" Suaranya seperti orang membentak.


"Keluar dengan si kembar." Anaknya duduk di samping ibunya.


"Dia itu tahu enggak, harusnya dia itu di rumah bukan keluyuran." ujarnya lagi, yang membuat anaknya menghembuskan napas pelan.


Sifat Ami masih sama seperti yang dulu tidak ada bedanya.


Cahaya sudah ada di ruang keluarga, mendengar teriakan itu. Si kembar menelan ludahnya dengan kasar karena suara itu.


"Siapa yang datang Cher?" tanya Cahaya.


Si kembar saling tatap, seolah memberi kode, apa kang mas, tidak memberi tahu istrinya.


"Kenapa dengan wajah kalian, kan Teteh cuma tanya siapa yang datang?" tanya Cahaya menatap adik iparnya.


"Kang Mas, belum kasih tahu?" Archer menggigit lidahnya.


Bisa berabe nih urusannya, Archer pakai tanya lagi. Arche menatap adiknya tajam.


"Enggak." Cahaya menjawab sambil menggeleng.


"Ehem ...mungkin kang mas lupa, memberi tahu Teteh. Soalnya kang mas juga baru tahu tadi pagi dari kita."


Arche berbohong, dia tidak ingin jika kakak iparnya menyalahkan kang masnya.


"Emm... " Cahaya mengangguk.


"Emang siapa yang datang?" tanya Cahaya, yang belum tahu siapa yang datang ke rumah kakek Raharja.


"Eyang!"


"Wah ...ayo kita temui sekarang," ujar Cahaya dengan wajah ceria.


"Jangan terlalu berharap banyak Teh, aku tidak yakin, Teteh akan bahagia nantinya." Archer bergumam pelan.


"Apa Cher?" tanya Cahaya, yang tidak terlalu jelas mendengar ucapan adik iparnya.


"Oh ...lupakan Teh!" Archer tersenyum kaku.


Mereka berjalan mendekati sofa.


"Assalamu'alaikum." Salam itu terdengar di telinga nenek tua itu.


"Wa'alaikumussalam." jawab Abidah Aminah.

__ADS_1


Ketiga wanita itu, mencium tangan Abidah Aminah. Dan dilanjut mencium tangan nenek tua itu. Saat Cahaya mencium tangan nenek tua itu, nenek itu melepaskan tangannya dengan cepat.


Cahaya sedikit tersentak, dengan perlakuan nenek tua itu kepadanya.


Nenek tua itu, yang tak lain adalah eyang dari Langit dan ketiga adiknya dan almarhum kak Bumi.


Eyang melihat gaya Cahaya berpakaian.


Kemeja hitam dilipat sampai sikut. Bawahan jeans dan snikers warna putih. Tidak seperti Asya yang molek. Jauh dari kata seksi. Tapi wajah Cahaya lebih cantik dari Asya. Eyang seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.


"Benar ini istrinya Langit?" tanya Eyang kepada anaknya.


"Apa dia Mentari?" Eyang ternyata masih ingat wajah Mentari yang dulu ia tidak suka.


"Ami ini gimana orang Mentari, sudah meninggal masa hidup lagi." Abidah Aminah tersenyum.


"Dia Cahaya istrinya Kang Mas, emang wajahnya mirip." Abidah Aminah tersenyum kearah menantunya.


"Kenapa dia kurus sekali, seperti si kembar. Malahan lebih besar si kembar badannya." Eyang mengkritik bentuk badan Cahaya.


Tapi wanita rambut sebahu itu, masih bisa menahan hinaan dari Eyang. Sebelumya Cahaya sudah pernah ada di posisi itu, dimana ibu tiri selalu menghinanya.


"Dadanya saja datar." tambahnya lagi.


Cahaya yang mendengar hal itu menelan ludahnya.


Si kembar sangat kasian dengan kakak iparnya itu.


"Eyang yakin, Langit dipaksa menikah dengan wanita ini," sinis Eyang, menatap Cahaya.


Cahaya semakin menundukkan kepalanya.


"Ami, kita tidak pernah memaksa kang mas untuk menikah, jika Ami tidak percaya tanya ke si kembar." Abidah Aminah sudah sedikit panas karena cemooh Eyang.


Eyang menatap si kembar dan mereka mengangguk bersamaan. Mereka teringat bagaimana kang mas menerima perjodohan itu.


"Pasti dari keluarga kurang mampu, bapak mertuamu itu gimana sih cari cucu menantu kayak gini." Eyang terus mencari kesalahan orang lain.


"Kenapa Eyang dengan mudah, beranggapan jika orang kurus itu orang miskin?" tanya Arche, yang tidak tinggal diam.


Jika harga diri wanita lain di injak-injak, wanita yang satu akan membela.


Eyang terdiam karena pertanyaan cucunya itu.


"Asal Eyang tahu saja, sekarang itu orang kaya banyak yang diet. Hanya karena ingin kurus. Jadi Eyang, tidak bisa menilai seseorang dengan mudah." Arche memberi jeda sejenak untuk mengambil napas. "Kalau gemuk berarti orang mampu, gitu maksud Eyang?" Arche masih bisa nahan emosi. Karena yang ada di depannya itu adalah eyang. Coba saja jika yang ada di depannya teman sekolah pasti di jambak.


"Kenapa kalian bela dia daripada Eyang?"


"Eyang saja yang berpikir seperti itu, kita mah... enggak bela siapa-siapa." jawaban Archer, lebih santai.


"Eyang takut, jika dia tidak bisa memberi kita keturunan." Eyang terus berulah.


Deg ...detak jantung Cahaya berdetak kencang. Hinaan Eyang yang satu itu membuat Cahaya menitihkan air mata. Hati wanita manakah yang tidak sakit dengan kata kasar itu. Setiap wanita akan lebih sensitif dengan sindiran seperti itu.


"Soalnya tetangga Eyang yang sebelah rumah, punya menantu kurus dia tidak ngasih keturunan sampai sekarang, padahal sudah dua puluh tahun," tukasnya lagi.


"Sudah cukup Eyang, kenapa Eyang selalu mencari hal buruk orang lain. Dan Eyang belum kenal sama Teteh, jadi jangan mudah menilai." Archer bicara sangat santai, kemudian merengkuh tubuh Cahaya.


"Ayo kita ke kamar Teteh, aku ingin bermain gitar." Archer berbohong, dara delapan belas tahun itu tidak bisa main gitar.


Cahaya hanya menuruti ajakan adik iparnya saja.


"Ami kenapa bicaranya begitu, tidak baik bicara seperti itu. Lihat si kembar jadi berani sama Ami."


Arche sudah meninggalkan eyang, dia lebih memilih ke kamar kang masnya.


"Ami tahu, si kembar tidak pernah bicara kasar dengan bapak mertua. Itu karena ...bapak tidak pernah merendahkan orang lain, tapi hari ini ...aku terkejut saat mereka bicara seperti itu kepada Ami. Tolong Ami harga diri Ami jika ...tidak mau direndahkan. Abid minta maaf karena ucapan si kembar." Abidah Aminah tidak suka dengan sikap eyang.


Lift mati saat Langit ada di dalamnya. Tidak hanya sendiri tapi pemuda itu bersama dengan perempuan di sampingnya.


Langit mencoba menekan interphone. Mereka berdua harus menunggu, teknisi datang, untuk mengeluarkan kedua orang itu.


"Pak Arkana, bisa nyalahin senter ponselnya?" tanya perempuan itu.


Langit segera menyalakan senter ponselnya.


"Laporan keuangan sudah siap Pak?" tanya Asya.


"Sudah Bu, tapi belum saya serahkan ke direktur utama, masih harus diteliti lagi." tukas Langit.


"Bagaimana dengan investor tadi, menurut Pak Arkana?"


"Investor dari Sumatera, maksud Bu Asya?"


Asya mengangguk sambil tersenyum.


"Sepertinya kita bisa berkerja sama dengannya Bu, apalagi mereka siap menjadi investor aktif."


"Huh ..." Langit membuang napas lega karena bisa keluar juga dari lift.

__ADS_1


Az-zahra kau sedang apa. Kenapa tadi perasaanku tidak enak.


Langit selalu memikirkan Az-zahra nya, yang lagi bersedih.


__ADS_2