
Wajah gadis keturunan Aceh itu sangat muram. Cantik berfikir jika baju Tionghoa itu. Untuknya! Ternyata dia salah. Baju itu bukan untuk dia, tapi untuk kerabat akak Bubble-nya.
"Can, apa kau suka sepatunya tadi?" tanya Cahaya, yang baru keluar kamar mandi.
Kemudian berbaring di samping gadis itu. Sedangkan om Dosen lebih suka main ponselnya, sambil sandaran di kepala ranjang.
"Iya!" jawabnya singkat, itu pertanda sedang sakit hati.
"Kenapa seperti itu jawabannya? Apa Cantik sakit hati? Karena baju yang Cantik suka Akak beli untuk sepupu Akak?"
Cantik diam, tak menjawab sepatah kata pun.
"Kan tadi sudah dibeliin Om, sepatu." ucap Cahaya lagi. Bukan Main! Harga sepatu Cantik bisa membeli baju milik Cahaya dan Langit sekalipun.
"Cantik! terkadang kebahagiaan itu tidak harus datang bertubi-tubi. Terkadang kebahagiaan itu menunggu kita di depan.Tadi sore, Cantik sudah mendapat kebahagiaan karena Om, mau diajak jalan-jalan. Dan malam ini Om, juga mau menuruti keinginan mu. Dan malam kesebelas ini Tuhan, memberi hadiah untukmu, kau tahu?" tanya Cahaya.
Gadis itu mendengar ucapan akak Bubble-nya. Tapi dia tidak tahu apa hadiah yang Tuhan kirim untuknya.
"Emang Tuhan ngirim apa?" tanyanya gadis itu,p ingin tahu.
"Sepatu." Cahaya menjawab, sambil tersenyum kearah Cantik.
"Bukannya itu dari Om Dosen?" tanya gadis berwajah bulat itu. Jelas-jelas sepatu itu yang bayar om Dosen juga.
"Om, hanya perantara saja."
Langit juga mendengar istrinya, meski matanya tertuju ke layar ponsel.
"Perantara?" tanya gadis itu bingung.
"Baiklah akan Akak jelasin. Cantik kau pernah kirim surat kepada temanmu?" tanya Cahaya.
Cantik menggeleng, tapi ia ingat sesuatu. "Cut abang pernah kirim ke temannya."
"Waktu sebelum surat itu sampai ke tangan teman cut abang. Surat itu ada di tangan pak Pos, setelah itu baru sampai ditangan teman cut abang. Berarti perantaranya adalah pak pos."
"Sekarang kita bahas tentang gimana cara Allah memberi sepatu itu untuk Cantik. Pertama Allah kasih rezeki ke Om Dosen berupa ...kita bilang saja uang ya, biar Cantik paham."
Gadis berwajah bulat itu mengangguk.
"Dan Allah memberi tahu Om, bahwa uang itu bukan untuk Om saja. Tapi Allah ingin Om, membagi rezekinya itu dengan orang lain. Dan mungkin Allah ingin Om berbagi dengan Cantik. Mungkin saja itu hadiah dari Allah, karena Cantik berpuasa tanpa bolong sekali pun."
"Cantik paham?" tanya Cahaya.
"Iya. Akak! berarti Cantik harus berterima kasih ke Allah ya Om?" tanya Cantik, sambil membalikkan badan kearah Langit.
Yang ceramah siapa yang ditanya siapa haduh.
Om Dosen hanya mengangguk saja.
Jangan ingat perantaranya (Kuril) saja tapi ingat lah siapa pengirimannya (Allah)
Sejenak kamar itu sepi tidak ada yang bicara.
Cantik teringat sesuatu, gadis itu memutuskan untuk bersuara.
"Akak apa sih artinya merindukan seseorang tapi tidak pernah bertemu."
Langit sangat tahu, siapa yang ditanyakan gadis yang tidur di sampingnya itu.
"Kau pasti merindukan teh Mentari!" jawaban Cahaya, membuat Langit mengerutkan dahi. Kenapa istrinya tahu tentang hal itu.
Sedangkan gadis berwajah bulat itu, hanya mengangguk tak mengeluarkan kata sedikit pun.
"Merindukan seseorang itu wajar. Rindu sendiri memiliki arti keinginan yang kuat ingin bertemu seseorang yang ada hubungannya dengan kita. Meski Cantik tidak pernah bertemu teh Mentari. Tapi Cantik mempunyai hubungan darah dengan almarhumah. Apa lagi Cantik bisa mendengar dan melihat suara milik teh Mentari ,dan wajah teh Mentari. Meski tidak secara langsung."
Langit sangat kaget, dengan ucapan istrinya seolah istrinya itu tahu tentang Mentari.
Cahaya mulai berucap kembali. "Nabi tidak pernah berjumpa dengan kita.Tetapi beliau merindukan umatnya. Salah satu bukti kecintaan Rasulullah. Untuk umatnya adalah, beliau selalu mendoakan umatnya dan menghabiskan waktu hanya untuk mendoakan keselamatan umatnya, bukan hanya keluarganya." Cahaya menarik napas dulu, sebelum melanjutkan ucapnya. Sedangkan kedua orang yang ada di kamar itu, sudah siap menunggu kelanjutannya.
"Syaikh Ahmad Manukil beriwayat. Disebutkan bahwa Rasulullah pernah berkata. 'Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwan ku (saudara-saudaraku). Kemudian para sahabat bertanya. 'Apa maksud engkau, berkata demikian, wahai Rasulullah?'. Bukan kah kami ini saudara-saudaramu?'
Rasulullah menggelengkan kepalanya perlahan-lahan, sambil tersenyum, kemudian bersabda. 'Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu adalah sahabat-sahabatku, tetapi bukan saudara-saudara ku'. Suara baginda terdengar rendah." Cahaya mengusap matanya, yang berkaca-kaca. Wanita itu sangat rindu dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam.
"Lantas apa kata sahabat Rasulullah?" Cantik bertanya ingin tahu. Sedangkan Langit melihat jika mata istrinya berkaca-kaca.
Wanita berambut sebahu itu, memulai bercerita kembali. "'Kami juga para saudaramu, wahai Rasulullah' Kata seorang sahabat yang lain. Kau tahu apa yang Rasulullah katakan? Can? " Cahaya bertanya, kepada gadis berwajah bulat itu. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Baik, kita lanjutkan ceritanya. Rasulullah bersabda. 'Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum melihatku, tetapi mereka beriman kepadaku dan mereka mencintaiku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka selalu bersamaku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku, sedangkan mereka tidak pernah melihat ku' (Ibnu Aksir 30/137, Kanzul Ummal, 14, 48)"
"Jadi jika kamu, merindukan teh Mentari itu sangat wajar. Karena dia adalah saudaramu. Lalu Cantik sudahkah Cantik merindukan Rasulullah?" Cahaya bertanya.
Gadis itu mengangguk paham, orang tuanya selalu bercerita tentang Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam kepadanya.
"Oh ya Cantik tahu kitab Taurat diturunkan kepada nabi siapa?" Cantik menggeleng.
"Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa a.s . Sedangkan kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud a.s
Kalau Injil siapa Can?" tanya Cahaya.
"Nabi Isa a. s. Akak!" jawab Cantik antusias karena jawabannya benar.
"Al-quran siapa?"
"Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam!" Gadis itu menjawab sambil tersenyum.
"Akak Apa Allah itu ada di mana-mana?" tanya gadis itu. Karena Cantik hanya mendengar tetangga nya.
Pertanyaan yang sering di tanyakan seorang anak kepada orang tua adalah. 'Mah Allah itu dimana?' sang Mamah pasti akan menjawab 'Allah itu ada di mana-mana Dik!' Sang anak bertanya lagi.
Maka izinkan malam itu Cahaya menjawabnya.
"Allah selalu bersama kita, Can!"
"Berarti saat kita bahagia Allah ada?"
"Tentu saja Can! Bukan cuma saat bahagia, saat kita sedih, saat kita merasa sendiri, saat kita putus asa, Allah. Selalu ada. Maka dari itu kita tidak boleh melupakan Allah karena Allah! Selalu ada. Allah yang pertama, tetap Allah. Allah terus. Sudah malam tidur lah dan berdoa, dan jangan lupa berterima kasih kepada Allah karena hari ini Allah memberi kebahagian untuk kita."
"Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut,” Gadis itu mengangkat kedua tangannya.
"Artinya: “Dengan nama-Mu ya Allah aku hidup, dan dengan nama-Mu aku mati." Setelah itu gadis berwajah bulat mengusap kedua tangannya ke wajah, dan mata itu mulai terpejam.
"Banyak tanya," ucap Cahaya, sambil mencium pipi gadis itu. Langit melirik melihat tingkah istrinya itu.
Pasangan baru itu, belum juga memejamkan matanya.
"Kau tahu dari mana?" tanya Langit angkat bicara.
"Tahu?"
"Tentang Mentari!"
"Oh ...tentang mbak Mentari?"
Langit mengangguk pelan.
"Dari mami!"
"Mami?"
"Kau ingat Mas, waktu puasa kedua, saat itu aku ke toko dan saat itu mami menceritakan tentang mbak Mentari!" jawab Cahaya, sepertinya Cahaya sedang mengingat sesuatu tapi apa. Langit yang melihat hal itu dia memutuskan untuk bertanya.
"Apa yang kau pikir kan?"
"Entahlah aku lupa." Cahaya mencoba mengingat sesuatu.
"Oh ...buku iya buku. Aku dikasih buku mami, tapi lupa aku taruh mana ya?" tanya Cahaya, ke dirinya sendiri. Namun masih bisa di dengar suaminya.
"Ceroboh," ucap Langit, sambil menarik selimut kemudian tidur menghadap Cantik.
Kata itu kembali lagi, setelah satu tahun yang lalu pikir Cahaya.
Jam menunjukan pukul 02:30 Cahaya terbangun dari tidurnya. Wanita itu pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu memutuskan untuk ke dapur. Cahaya mulai menghidupkan lampu dapur. Dia akan membuat pecel sudah lama tak masak seperti itu. Mbok Ijah, juga sudah ada di sana. Alula baru saja keluar kamar dia memutuskan untuk ke dapur.
"Masak apa nih kita, kata suamiku bosen makan ayam mulu," gerutu Alula, sambil mengikat rambutnya, kemudian membuka lemari pendingin. Cahaya tersenyum mendengar ucapan ibu satu anak itu.
"Ya sudah, masak ikan laut aja Mbak, ada cumi, udang tuh di fliser, udah dua hari tuh keburu basi kan."
"Eh ...ada lele nih, Ay kita masak kasih sambal terasi. Enak ehhh! Bukan main!" ucap Alula, yang mengeluarkan berapa jenis hewan yang pernah ada di laut.
"Wah ...sepertinya Ibu telat nih," celetuk Abidah Aminah yang baru datang.
"Belum kok Buk, busnya belum jalan," celetuk Cahaya.
"Kang kernet masih nunggu tenang Bu." Alula.
__ADS_1
Candaan perempuan Raharja untuk pagi itu.
"Eh ...nanti kita sahurnya lesehan saja gimana?" Ide Cahaya kepada Alula.
"Boleh juga tuh."
"Eh ...ya Mbak sampai lupa. Tadi malam aku beli baju untuk Balqis kata pemilik toko itu baju itu susah carinya. "
"Emang baju apaan?"
"Baju Tionghoa gitu loh. Aku lihatnya itu lucu jadi sekalian aku beli. Tapi aku enggak tahu muat atau enggak."
"Ya nanti di coba, semoga muat," ucap Alula.
Cahaya kembali ke kamarnya di bukalah pintu itu secara perlahan. Dilihat gadis itu tidur memeluk om Dosen-nya. Cahaya tersenyum melihat hal itu. Sedikit bayangan, jika itu adalah anaknya dan suaminya. Cahaya mengetuk kepalanya karena bayangannya itu.
"Mas bangun," ucapnya lembut, sambil mengelus bahu suaminya. Siapa orang yang tidak akan berubah, jika diperlakukan dengan lembut. Kucing tetangga aja kalau kita kasih makan tidak kita pukul pasti suka sama kita. Apa lagi manusia yang punya otak punya hati! Pastilah itu juga akan berpengaruh kedepannya.
"Lima menit lagi," ucapnya, tidak biasanya suaminya bilang seperti itu. Jika dia membangunkan biasanya langsung bangun tidak berucap apa-apa.
"Mau nunggu sampai kapan, sudah bangun, ayo Mas!" ucap Cahaya, masih mengelus bahu suaminya. Cahaya salah itu bukan cara membangunkan yang benar, tapi menyuruh tidur lagi. Mana ada bangunin seperti itu. Langit masih malas untuk membuka mata.
Cahaya naik keranjang untuk membangunkan Cantik. Gadis itu memeluk tubuh Langit sangat erat sudah seperti perangko saja.
"Ayo bangun sayang," ucap Cahaya mengelus rambut Cantik.
Langit samar-samar mendengar ucapan itu. Dia pikir istrinya masih berdiri di sampingnya. Tapi tidak ada sentuhan di bahu pikir pemuda itu.
"Cantik sayang! Sahur yuk nanti bobok lagi kalau udah sahur." Cahaya sudah lelah membangunkan dua Kabo itu.
"Ayo bangun kalian," Cahaya menarik selimut itu dengan lembut, agar yang ada di bawah selimut pada bangun.
Dan benar gadis itu, mulai membuka mata perlahan dan di ikuti Langit mulai duduk.
"Kita makan Akak?" pertanyaan pertama setelah berjam-jam memejamkan matanya.
"Iya sayang, kita makan. Tapi sebelum itu cuci muka dan gosok gigi oke. " Gadis itu mengangguk. Langit segera turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi. Mata Cantik yang masih ngantuk, saat lihat om Dosen berjalan kearah kamar mandi. Gadis itu langsung berdiri di ranjang! Dan langsung lompat kearah lantai agar tidak didahului om Dosen. Cahaya sekali lagi tersenyum karena ulah gadis keturunan Aceh itu.
Sekarang keluarga itu, sudah ada di ruang keluarga. Sahur yang ke sebelas berbeda karena ada Cantik jadi sahurnya lesehan tidak di meja makan.
"Wah ...pecel," seru gadis itu.
"Wah ...lele," seru Arche.
"Wah ...cumi," seru Archer.
"Wahh... " Hazel mau ikut-ikutan si kembar menirukan Cantik. Tak jadi tatkala sang istri berucap. " Ingat umur, Yang!"
Semua yang ada di sana menahan tawa, karena ucapan Alula. Tidak dengan Langit dia lebih asik makan pecel buatan istrinya.
"Eh ...ini Mbak bajunya Balqis," ucap Cahaya, memberi paper bag ke Alula.
Cantik yang melihat hal itu dia jadi teringat baju Tionghoa untuk sepupu akak Bubble. Dia sangat ingin baju itu, karena sebelum dibeli. Cantik disuruh nyoba. Kata akak Bubble sepupunya tubuhnya seperti Cantik.
"Wah ...aku mana?" tanya Arche.
"Iya mana nih THR kita dari kalian?"
"Maaf aku tidak tahu selera kalian," ucap Cahaya.
"Yaaaaaaaaa." Si kembar serempak.
"Kalian kan udah punya uang, masa iri sama Balqis. Uang kalian dari Bapak dari tante Walsall buat apa?" tanya Hazel.
"Uang dari Bapak buat saku lah, kalau uang dari tante Walsall udah di simpan di tempat yang aman ya kan? Cher!" tanya Arche, yang dijawab anggukan kepala, karena mulutnya penuh jadi mengangguk saja.
"Di simpan dimana Kak?" tanya Cantik.
"Di bawah kasur," jawaban Arche, yang membuat semua tertawa. Tidak dengan pemuda itu. Pemuda itu, asik makan pecel tanpa nasi. Mungkin enak kali ya!
"Enggak takut jamuran?" tanya Hazel, yang tak habis pikir dengan iparnya itu.
"Kita udah partisipasi untuk hal itu Kak!" Lagi-lagi yang jawab Arche.
"Caranya?" tanya Hazel kepo.
"Kita kasih anti jamur, yang ada di kardus sepatu kita dulu," jawab Archer, yang dari tadi diam. Semua menggeleng karena jawaban Archer. Tidak dengan Arche dan kang masnya.
__ADS_1