
Sejenak kafe itu hening setelah Asya berbicara.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Cahaya.
Soto Semarang sudah datang.
"Makasih!" Asya berterima kasih kepada penjual itu.
Cahaya masi menunggu, Asya untuk menjawab pertanyaannya.
"Kau tidak menyukaiku?" tanya Asya, menatap Cahaya.
"Tidak perlu saya katakan, kamu sudah bisa menilai," jawab Cahaya, sambil memalingkan wajahnya.
Asya yang mendengar jawaban dari Cahaya. Perempuan itu mengangguk dan tersenyum simpul.
"Alasannya?" tanya Asya, yang ingin tahu. Padahal perempuan itu, tahu jawabannya. Tapi Asya ingin mendengar langsung dari mulut Cahaya.
"Saya rasa, kamu sudah tahu mengenai alasannya. Kenapa saya tidak menyukaimu." Cahaya bicara, sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Oh ...ternyata kamu benar-benar tidak menyukaiku. Tapi bukankah kita tidak pernah mengenal, kenapa dengan mudahnya kamu tidak menyukaiku?" tanya Asya santai, sambil memasukkan soto itu ke mulut.
"Aku rasa, aku benar-benar buruk. Sampai-sampai orang yang tidak kenal denganku saja, tidak menyukaiku." Asya menggelengkan kepalanya.
Cahaya melihat Asya bicara santai, membuat iya berfikir sebenarnya apa yang Asya mau.
"Apa alasannya kamu, mengajak saya kemari!"
Asya yang sedang fokus pada soto, pandangnya ia alihkan untuk menatap wanita yang ada di depannya itu.
Asya tersenyum tipis, sepertinya wanita yang ada di depannya itu, tidak sabar mendengar apa yang ingin ia sampaikan.
"Habiskan soto nya dulu, nanti aku akan bercerita," ujarnya, sambil menatap soto itu kembali. Kemudian memasukkan makanan itu ke mulutnya.
"Kenapa tidak sekarang?"
"Kalau sudah dingin nanti tidak enak, yang ada kamu minta yang panas kalau tidak enak. Asal kamu tahu gaji ku tidak cukup, untuk mentraktir mu doang. Harusnya kamu yang mentraktir ku, karena suamimu seorang direktur."
Cahaya yang mendengar ucapan Asya dia tersenyum tipis. Asya yang melihat hal itu, hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Kedua orang itu makan soto dengan tenang. Setelah hampir lima menit, kedua mangkuk itu bersih tak berbekas.
Cahaya minum teh manis itu, kemudian menatap Asya.
"Katakan."
"Kamu tidak sabar, aku baru juga selesai minum." Asya mencoba untuk becanda.
"Kamu membuang waktu saya," desis Cahaya.
"Emang bisa waktu di buang?" Asya bertanya, sambil terkekeh.
Cahaya sangat heran, kenapa perempuan yang ada di depannya itu, seolah ingin dekat dengan dia. Apalagi gaya Asya yang santai mampu membuat Cahaya nyaman.
"Aku tidak bercanda!" Cahaya melengos tidak menatap Asya.
"Sepertinya kamu sudah menganggap ku sebagai teman," ujar Asya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Apa maksudnya?"
"Perlahan tapi pasti, kita akan menjadi teman. Buktinya kamu sudah mengganti panggilan mu, yang asalnya saya menjadi aku!" Asya bicara, menatap Cahaya.
"Ayolah, jangan bertele-tele sungguh aku tidak menyukainya." Cahaya memalingkan wajahnya dari Asya.
"Baiklah, saat aku bicara kamu harus diam!" Asya memberi perintah.
Cahaya yang mendengar hal itu langsung, menyetujuinya. Wanita berambut sebahu itu, tidak sabar mendengar apa yang ingin Asya sampaikan padanya.
"Ini tentang eyang!" ujar Asya, yang membuat Cahaya tersentak. Cahaya ingin angkat bicara, tapi Asya memotongnya. "Bukanya kamu, tadi sudah setuju untuk tidak memotong ucapan ku?" tanya Asya, Cahaya yang mendengar hal itu terdiam.
Asya mulai melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan. "Waktu itu untuk yang pertama kalinya, aku bertamu di rumah pak Arkana! Kamu pasti mengingatnya kan?" Asya bertanya. Cahaya mengangguk, dia ingat jelas saat Asya bertemu ke rumah kakek Raharja.
"Saat itu, aku belum tahu jika eyang adalah keluarganya pak Khan, dan suamimu itu." Asya memberi jeda sejenak. "Aku sangat tersentak, saat semua atasan ku ada di sana termasuk pak Hazel, serta Jo."
Cahaya masih setia menunggu, lanjutan cerita yang ingin Asya sampaikan.
"Saat itu, yang aku tahu adalah pak Arkana, sudah mempunyai istri."
Cahaya ingin tahu, kenapa Asya sudah tahu jika suaminya sudah menikah.
"Tahu darimana?" Cahaya lupa, jika dia tidak boleh bertanya saat Asya bercerita.
"Maksudnya?"
"Maksudnya, kamu tahu darimana jika suamiku sudah menikah?"
"Bagaimana aku tidak tahu, jika ada seseorang anak TK. Selalu datang ke kantor untuk bertemu dengan Piskiy nya."
Cahaya yang mendengar jawaban dari Asya, dia baru faham saat bilang Pisky.
"Tahu dari mana?" tanya Cahaya, bukannya kata suaminya jika seluruh karyawan kantor menganggap jika Cantik adalah anaknya.
"Eyang!"
Jawaban Asya mampu membuat Cahaya, berpikir apa eyang dan Asya sangat dekat.
"Aku pun tahu, alasan kenapa kamu tidak suka padaku." Asya tersenyum.
Cahaya masih ingin mendengar apa yang akan Asya ceritakan.
"Kita bahas secara berurutan, biar kamu faham. Pertama kali aku—datang untuk makan malam bersama dengan kalian. Aku merasa, ada kejanggalan. Saat itu kamu belum keluar dari dapur. Waktu itu aku berjabat tangan kepada semua orang. Tepat, di samping kursi yang digunakan pak Arkana aku berdiri di sana. Di situ aku belum merasakan kejanggalan apa pun. Namun saat eyang menyuruhku duduk di samping pak Arkana, aku berfikir kenapa eyang menyuruhku duduk di samping suamimu. Padahal di depan kursi suamimu, masih ada kursi yang tidak digunakan. Aku pun duduk di samping suamimu itu. Tak sengaja aku melihat senyuman smirk dibibir eyang. Aku mencoba untuk mencari tahu, apa arti senyuman itu. Namun naas, aku belum bisa mencerna senyuman itu, sampai aku pulang diantar Jo!" Asya menyedot teh yang ada di gelas itu.
Sedangkan Cahaya masih belum mengerti sebenarnya, apa inti yang akan Asya sampaikan itu.
"Aku masih teringat, bagaimana kamu tertawa dengan ibu mertuamu sambil membawa makanan dari dapur. Namun tawa, itu hilang tatkala kamu melihatku duduk di samping suamimu itu. Kau masih ingat tidak?" tanya Asya dengan suara menggoda.
Cahaya menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku berfikir, jika malam itu aku bisa dekat denganmu, seperti aku dekat dengan istrinya pak Hazel, namun tidak! Hal itu salah besar, kamu menunjukkan ekspresi ketidak suka'an mu padaku. Aku, tidak tahu mengapa kamu tidak menyukaiku. Tapi sekarang aku sudah tahu, kenapa kamu tidak suka padaku." Asya menengguk teh itu, sebelum melanjutkan ceritanya. "Saat eyang, menyuruh suamimu untuk mengantarku, aku sangat terkejut. Bagaimana mungkin, eyang begitu mudah menyuruh suamimu. Untuk mengantarkan perempuan lain di depan istrinya langsung." Asya memberi jeda sejenak. Untuk mengambil napas.
"Di situ, aku melirik kearah mu. Kamu pun terkejut, saat mendengar ucapan eyang! Aku tahu, kamu tidak terima dengan hal itu. Dan waktu itu kamu izin untuk ke kamar mu. Aku juga tahu, itu hanya alasanmu saja. Untuk menyembunyikan rasa sedih mu di depan semua orang. Waktu kamu izin, kau harus tahu. Jika suamimu, pak Hazel serta Jo saling memberi kode. Akun tidak tahu kode apa itu, tapi aku baru tahu, saat suamimu bilang jika perutnya sakit. Suamimu itu sangat mencintaimu." Asya memegang tangan Cahaya dengan lembut.
Cahaya tersentak karena sentuhan lembut dari Asya. Apa lagi kata terakhir yang Asya
"Apa kamu tidak pernah suka dengan suamiku?" tanya Cahaya, langsung kepada intinya.
__ADS_1
"Aku tahu, pak Arkana itu sangat sempurna, tapi kisah cintaku itu tak seperti di novel. Bermula ditarik berujung pelukan, kemudian saling jatuh cinta. Kamu harus tahu, jika aku tidak pernah mencintai suamimu itu." Asya berkata lembut, layaknya seorang ibu berbicara kepada anaknya.
Cahaya berfikir apa maksud perkataan yang Asya ucapkan itu.
"Maksudnya apa, berawal di tarik berujung pelukan?"
Asya yang mendengar hal itu, mengurutkan dahi. Sambil bergumam dalam hati.
Apa pak Arkana tidak memberi tahu istrinya, soal kejadian malam itu. Batin Asya.
Cahaya yang tidak sabar menunggu jawaban dari Asya, dia menggoyang tangan Asya.
Asya tersadar dari lamunannya, karena tangannya digoyang oleh Cahaya.
"Ah, lupakan!" Asya ingin menghindari pertanyaan dari Cahaya.
Bukan Cahaya, namanya jika tidak mendapat Infromasi secara keseluruhan.
"Ayo katakan, apa maksudmu. Aku ingin tahu maksud perkataan mu tadi." Cahaya mendesak.
Asya yang mendengar hal itu, dia sangat bingung antara mengatakan atau memilih diam.
"Cepat katakan!" Cahaya tidak akan memberikan, Asya untuk mengelak.
Asya menarik napas dalam-dalam, sebelum bercerita kepada Cahaya.
"Dua kali, aku bertemu suamimu itu. Saat pertama kali, kita bertemu adalah saat aku tak sengaja menabraknya di kantor. Dan yang kedua saat itu, aku sedang banyak pikiran. Aku yang ingin, menyebrang tapi tak melihat jalan. Disitulah kejadian yang kamu tanyakan terjadi. Aku sangat ingat, malam itu adalah malam kedua hari raya, bahkan jamnya aku pun masih ingat, aku mengingat bukan karena apa. Tapi aku ingat, karena suamimu itu menyelamatkan nyawa ku. Aku sangat berhutang budi padanya." Asya berbicara.
Wanita berambut sebahu itu, teringat saat kejadian suaminya memeluk Asya.
Kenapa dia tidak memberi tahu ku, jika yang ditolong waktu itu adalah rekan kerjanya. Harus dia berterus terang kepadaku. Batin Cahaya.
Asya yang melihat Cahaya terdiam. Perempuan itu menggoyang pundak Cahaya. Cahaya pun tersadar dari lamunannya.
"Aku harap kamu tidak marah dengan suamimu. Aku tahu, pasti kamu sedang memikirkan kenapa suamimu tidak memberi tahu mu tentang ini."
Cahaya terdiam, kenapa Asya tahu apa yang ada di pikirannya itu.
"Ketahuilah semua itu ia lakukan, karena ingin hubungan kalian baik-baik saja. Jangan marah kepadanya, bagaimana pun kamu adalah seorang istri. Kamu harus tahu, jika marah kepada suami itu dosa. Aku tahu, aku tidak pantas memberikan ceramah kepadamu, cara menjadi wanita baik. Karena aku pun belum baik menjadi seorang perempuan. Tapi, ketahuilah aku tidak mau kamu sepertiku, perempuan paling buruk di dunia ini." Asya menundukkan kepalanya, sangat dalam. Perempuan itu tidak bisa menahan ishak nya.
Cahaya yang mendengar hal itu, dia jadi menatap perempuan yang ada di depannya itu.
"Sungguh aku ingin kamu menjadi wanita yang baik," ujar Asya, sambil mengelap matanya.
"Kenapa Mbak melakukan hal ini? Sebenarnya apa yang ingin, Mbak bicarakan. Aku sangat bingung!" Cahaya bicara lumayan lembut.
Asya yang mendengar hal itu, tersenyum tipis. Karena Cahaya memanggilnya dengan panggilan 'Mbak'
"Seperti yang tadi aku bilang, aku berutang budi dengan suamimu itu. Aku tahu, semuanya!" ujar Asya membuat Cahaya mengerutkan dahi.
"Maksudnya?" tanya Cahaya, tidak paham.
"Sepuluh bulan!" Asya menatap Cahaya.
Cahaya yang mendengar hal itu, dia sangat tahu, apa yang dimaksud Asya.
Wanita berambut sebahu itu jantungnya berdebar, sangat kencang. Saat Asya bilang sepuluh bulan.
__ADS_1
"Aku tahu, hal itu. Itu mengapa aku ingin bertemu denganmu dan berbicara hal ini kepadamu. Dan Tuhan begitu adil, pagi ini aku bisa berbincang denganmu. Aku selalu, mencari cara ingin bertemu denganmu. Tapi apalah daya, jika kita tidak pernah bertemu kembali setelah makan malam waktu itu. Aku ingin meminta nomor ponselmu, tapi tidak ada keberanian untuk meminta nomor mu, dari orang terdekatmu. Aku tahu, mereka (Hazel, Jo) Akan berpikir negatif tentang hal ini, mungkin mereka berfikir jika aku akan membuatmu bersedih. Aku berfikir jika mereka, mengira aku punya rasa dengan suamimu."
"Bacalah pesan ini."'Asya menyodorkan ponselnya kearah Cahaya. Wanita berambut sebahu itu, sangat tercengang saat membaca pesan itu.