
Masih di hari sabtu, sepertinya pasangan yang akan merayakan anniversary kedua bulan itu. Belum menyelesaikan persoalan masalah rumah tangganya. Tepatnya di teras Cahaya menatap wajah suaminya yang belum mau bicara dengan dia seperti biasanya. Langit hanya bicara soal jatah dapat minum si coklat, setelah itu. Pemuda itu diam kembali.
"Masnya ridha enggak nih?" Wanita itu tersenyum kearah suaminya.
Langit hanya diam saja, pemuda itu tidak suka, jika istrinya dekat dengan lelaki lain. Meskipun dalam hubungan bisnis.
"Mas!" Suaranya sedikit merengek, sambil memainkan ujung jas suaminya.
Aduh! Pemuda itu melihat wajah istrinya sangat lucu. Tapi sayang! Rengek kan itu tidak membuat hati pemuda itu, cepat melembut.
Langit masih saja diam, untung hari sabtu jadi masuk sedikit siang tidak masalah lah ya.
"Ayo jawablah," ujarnya, sambil memohon.
"Bukannya waktu aku bilang, aku akan jual bakso Mas, tidak mempermasalahkan? Lantas mengapa saat aku mau bisnis dengan Senja! Mas langsung turun dari mobil, seperti marah, jangan-jangan... " Cahaya tersenyum, sambil menunjuk wajah suaminya. Kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Apa?" tanya suaminya datar.
Cahaya berjinjit kemudian membisikkan sesuatu di telinga pemuda itu.
"Mas, cemburu ya kan? Hayo ngaku."
"Emang!" Langit menjawab santai, tapi muka istrinya yang tidak santai.
Cahaya pikir suaminya tidak akan mengakui, tapi pikirannya salah besar. Aduh! Wanita itu malu sampai pipinya merah.
Sayang pemuda itu bukan termasuk lelaki dayus. Dayus adalah seorang suami yang tidak memiliki rasa cemburu sama sekali terhadap perilaku serong istrinya, walaupun dilakukan di depan matanya. Perbuatan serong dalam kehidupan berumahtangga merupakan perbuatan keji yang diharamkan Allah SWT.
"Emang kamu mau, aku enggak cemburu sama kamu?" Langit bertanya kepada istrinya.
"Hah?" Cahaya melongo, si rambut sebahu itu berpikir jika suaminya tidak cemburu berarti suaminya tidak mencintainya.
Cahaya menggelengkan kepalanya.
"Ya, sudah." Langit bicara.
"Tunggu dulu, tapi dia itu sahabatku." Cahaya menarik tangan suaminya.
"Terus, apa kalau sahabat itu enggak akan ada apa-apa! Ingat! Lelaki dan perempuan itu tidak ada yang namanya pure sahabatan." Langit menyeka keringat di dahinya. Karena istrinya itu keras kepala.
"Kalau enggak yang satunya ngarep, pasti yang satunya nyaman," tukasnya lagi.
Cahaya terdiam, benar apa kata suaminya. Dulu dia juga gitu ngarep kepada pria asal Sumatra itu.
Entah mengapa pemuda itu bisa bilang seperti itu.
"Terus gimana? Masa aku harus mengambil keputusan sepihak," ujarnya, sambil menunduk karena ia tahu jika salah.
"Makanya, jangan terlalu tergesa-gesa kalau ambil keputusan, pikir dulu apa itu akan menjadi masalah kedepannya, kau pun tidak bertanya dulu kepada suamimu, mengizinkan tidak? Langsung ambil saja. l know, you are observant in seeing business opportunities that will be profitable, create a cafe. But you should also ask me first (aku tahu, kamu jeli dalam melihat peluang bisnis yang akan menguntungkan, buat kafe. Tapi kamu juga harusnya tanya kepadaku dahulu)." Langit bicara sambil mengusap kasar wajahnya.
"Aku berangkat." Langit meninggalkan istrinya itu.
Sedangkan Cahaya merasa bersalah, wanita itu terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan.
Maklum sejarahnya manusia diciptakan dengan sifat tergesa-gesa. Diterangkan QS. 21/An-Anbiya: 37.
Jam menunjukan pukul sembilan. Angkot merah itu berhenti di depan ruko dua lantai. Wanita berambut sebahu itu, keluar dari angkot kemudian membayarnya.
"Makasih." Cahaya menerima kembalian ongkos.
__ADS_1
Wajahnya tidak cerah, bibirnya tidak juga tersenyum. Wanita itu bingung, karena suaminya tidak ridha kepadanya.
"Hai." Suara itu membuat Cahaya menengok ke samping. Cahaya membuang napas pelan. Kemudian berjalan kearah orang itu.
"Pagi," sapa Cahaya, dengan wajah lesu.
"Kenapa lu? Ada masalah?" Orang itu malah memegang dagu Cahaya.
Cahaya reflek memukul tangan itu dengan keras.
"Aduh, lu kalau nabok sakit Cah." Orang itu memegangi pergelangan tangannya.
"Maaf deh, kagak sengaja Sanjo!" Cahaya menjawab, sambil menyengir kuda.
Bagaimanapun, dia harus menutupi rasa bersalahnya kepada suaminya. Di depan sahabat karibnya itu.
"Apanya yang tidak sengaja, orang lu mukul dengan sengaja juga," ucap Senja santai.
"Reflek bri!" Cahaya berkilah.
"Ya sudah, kita naik." Senja menarik tangan Cahaya. Cahaya ingin melepaskan tapi takut jika sahabatnya tersinggung.
Di ruangan kerjaannya pemuda itu sangat frustasi. Bagaimana tidak, kerjaannya sangat numpuk. Seperti di ketahui yang namanya direktur itu bukan hanya memantau kinerja bawahannya saja. Tapi direktur keuangan juga perlu menyiapkan laporan keuangan yang ia kelola. Dengan bantuan staf-stafnya, laporan harus disiapkan secara rinci sebelum sampai meja direktur utama. Bukan cuma hal itu pemuda itu juga wajib, mawas dengan sehat sakitnya keuangan perusahaan. Dengan hal seperti itu, akan lebih mudah membuat pemuda itu. Mengambil tindakan cepat, apabila terjadi masalah dengan laporan keuangan. Pemuda itu, sangat frustasi. Karena pagi itu hubungannya dengan istrinya juga ada masalah.
Ting! Pesan masuk di ponsel pemuda itu.
Aku tahu! Aku salah, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin bilang jika Mas, cemburu. Dan tidak mungkin aku bilang jika Mas tidak setuju, jika aku menjalin bisnis bersama sahabatku.
Aku tidak mau orang menilai Mas, buruk, terlalu cemburu, atau tidak mempercayai istri, atau apalah. Kasih waktu seminggu buatku untuk belajar membuat martabak, setelah itu aku dan sahabatku tidak akan sering bertemu. Percayalah pada ku, wahai suami... Az-zahra akan segera bisa belajar buat martabak. Uhibuk Ya Zawji(aku mencintaimu wahai suamiku).
Langit yang frustasi memikirkan kerjaan, bibir itu perlahan tersenyum. Karena pesan yang istrinya kirim untuknya. Apalagi kalimat terakhirnya itu, membuat hatinya juga tersenyum.
Cahaya yang ada di dapur kafe, wanita itu selalu melihat ponselnya tapi sayang sekali, ponselnya tidak ada notif apa-apa. Padahal wanita itu sudah berusaha menyenangkan hati suaminya dengan bilang 'uhibuk ya zawji'. Sungguh malang nasibnya wanita itu. Asal suaminya tahu saja, wanita itu menulis seperti itu sangat malu. Sepuluh kali wanita itu menghapus pesan, yang akan ia kirim ke suaminya.
"Kenapa enggak dibalas." Cahaya yang gantian frustasi karena ulah suaminya.
Wanita itu kembali mengetik sesuatu dan mengirimkan ke seseorang. Senja yang ada di sampingnya tidak suka, karena sahabatnya malah fokus main ponsel.
"Cah, lu kalau main ponsel terus, kapan belajarnya? Katanya mau cepat bisa." Senja menegur sahabatnya itu.
Cahaya langsung menyimpan ponselnya ke saku jeans nya.
"Ah, maaf Sen, hehe." Cahaya tersenyum kaku.
Ponsel yang ada di atas meja itu berbunyi kembali. Pemiliknya melirik, kemudian mengambil ponsel itu. Di layar ponsel tertera nama pengirimannya yaitu Az-zahra nya Mas!.
Mas zawaji, boleh pinjam uang dua juta, aku mau beli lemari pendingin buat kafe.
Langit yang membaca pesan itu dia hanya tersenyum. Pesan dari istrinya itu.
Beralih ke kafe, wanita berambut sebahu itu sangat eksaited untuk belajar membuat martabak. Sesekali wanita itu tersenyum dengan sahabatnya itu. Terkadang jail juga, menaruh adonan kemudian, ia colekan ke hidung sahabatnya.
"Hahaha." Tertawa ngakak, sambil menutupi mulutnya.
"Lu, ya!" Senja pun membalas sahabatnya yang jail itu, kemudian tertawa.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Pengunjung kafe bisa di bilang lumayan. Karena baru pertama kali buka. Bagaimana mungkin wanita itu, bilang sedikit atau banyak, jika tidak ada perbandingannya. Mungkin hari minggu, wanita itu akan tahu perbandingannya. Cahaya harus menghargai proses. Bukankah setiap orang menjalani proses yang berbeda. Intinya adalah hargai setiap proses yang kita jalani. Karena itu adalah bagian dari motivasi dan perjuangan sebelum akhirnya sukses. Hargailah porses sekecil apapun, jika kita tidak pernah menghargai proses itu. Maka sama saja menjatuhkan semangatmu sendiri. Fokus pada proses, jangan hanya pada hasil.
"By the way, lu kenal suamimu dimana, cepat amat nikah."' Senja bertanya, sambil memarut keju di atas martabak.
__ADS_1
Cahaya hanya mengamati Senja membuat martabak.
"Ah gua di kenalin."
"Sama?" Senja bertanya kembali.
"Sebenarnya dia itu adiknya, almarhum kak Bumi."
"Siapa dia, kok lu enggak pernah cerita tentang Bumi." Senja bertanya, sambil memberi susu di atas martabak.
"Calon suami gua," jawabnya.
"Ah, berarti lu di Jodohin gitu? Enggak sama kakaknya, sama adiknya." ejek nya, kemudian tertawa.
"Lu, mau bilang gua enggak laku gitu?" tanya Cahaya mencibir.
"Kagak juga." Santai sekali jawabannya, hal itu membuat Cahaya seperti diejek.
"Berapa lama perkenalannya?" tanya Senja, sambil mengangkat martabak dari pembakaran.
"Waktu kita bertemu di trotoar, ingat kan?" tanya Cahaya, mulai bercerita.
Senja mengangguk, sambil memotong martabak itu.
"Nah, waktu itu gua pulang dari kerja, sekitar jam sembilan malam,gua bingung kenapa ada tamu di rumah. Ternyata keluarga dari masnya, gua pikir waktu itu mereka hanya silahturahmi saja. Ternyata, kakek Raharja melamar gua untuk cucunya gitu." Cahaya bercerita, panjang sambil mengingat masa dia dilamar.
"Terus, lu kok bisa mau, itu gimana? Istilah lu kan anti sama cowok, palingan gua doang." Senja bicara dengan percaya diri di akhir kalimat.
"Ck... " Cahaya berdecak sebal, karena sahabatnya itu.
Senja yang melihat wajah sahabatnya sebal dia mencubit kecil pipi sahabatnya itu.
"Sakit, Sen mending lu cubit gini pasti enggak sakit." Cahaya bicara 'gini' sambil mencubit bahu Senja. Bisa di bilang pembalasan sih.
"Jawab lah, gimana lu bisa mau?" Senja mendesak.
"Gua juga enggak tahu, gimana gua bisa mau dan mudah mengiyakan. Tapi seingat gua itu, di otak itu terlintas 'Jangan Menikah hanya karena jatuh cinta, namun menikahlah karena kamu yakin surga Allah lebih dekat bersamanya'. Gua pikir yasudah lah! Mungkin itu cara Allah. Mempertemukan jodoh untuk hamba-Nya. Salah satunya dengan proses perjodohan kayak gitu." Cahaya mengakhiri ucapannya.
"Kenapa lu enggak berpikir panjang, sebelum mengambil keputusan, bukankah ini mengenai masa depan?" tanya Senja lagi.
"I know, jawaban gua itu enggak realistis dipikirkan seseorang, mungkin orang akan bilang. You crazy? Itu masa depan loh, jangan main-main.
But I'm sure of Allah. Bukankah semua yang ada di dunia ini, bertindak dan bergerak atas arahanNya. Lah, kenapa gua harus ragu dengan hal itu. I trust Allah exceeding myself."
"Oke, terus bagaimana lu bisa mendekatkan diri lu dengan suami lu, istilah kan enggak pernah kenal sebelumnya?" tanya Senja, yang ingin tahu. Senja sudah seperti reporter saja.
"Sama halnya dengan kita dulu, kita dulu emang pernah bertemu sebelumnya enggak kan? Sama halnya dengan lu dan kekasih lu itu."
Senja terdiam karena ucapan sahabatnya itu.
Cahaya mulai berbicara kembali. "Pun sama dengan gua dan masnya, kita mah dituntut untuk saling mengenal dahulu sebelum nikah. Kurang lebih setahun lamanya kita mengenal, sedikitnya kita juga tahu sifat satu sama lainnya, meskipun belum semuanya, kembali lagi semua itu berproses, nothing instan, tapi setelah kita menikah kita banyak menemukan sifat-sifat yang baik dan buruk dari gua maupun dari suami gua. Kita pun sudah bisa memposisikan diri kita, gua jadi istri harus bagaimana. Dan dia harus jadi suami bagaimana. Kita itu enggak harus memposisikan jadi pasangan, ada kalanya kita bisa jadi, sahabat atau kakak. Istilahnya ngemong lah ya, saling ada saat dibutuhkan itu penting." Cahaya mengambil napas dulu sebelum melanjutkan ucapannya. "Jika yang satu childish yang satu harus dewasa. "
Senja mendengar dengan baik, sambil mengelap tangannya.
"Dulu, gua pernah suka sama seseorang yang dekat dengan gua, tapi itulah hidup, yang dekat belum tentu menjadi milik kita. Yang diawal belum tentu bisa menjadi masa depan kita." Cahaya bicara, dengan tidak sadar.
Senja terdiam, memikirkan sesuatu yang terbesit di otaknya.
Kenapa baru sekarang gua menemukan, sifat lu yang dewasa. Kenapa harus sekarang gua melihat lu sebagai wanita yang sempurna. Kenapa baru sekarang gua merasakan kehilangan sahabat gua. Dan apa maksudnya dengan ucapan yang lu ucapkan. Orang yang dekat dengan lu, siapa dia Cah. Lu enggak pernah dekat dengan lelaki lain kecuali gua, gua kenal lu. Sejak lu SMP di Sumatera hingga MA. Lu baru pindah di Jakarta empat tahun lamanya. Apa lu pernah mencintai gua.
__ADS_1
Senja menatap sendu wajah sahabatnya itu. Semua telah berakhir, cinta Cahaya untuk Senja sudah sirna seperti mentari yang sirna saat menjelang senja(magrib).