Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Perhatian Tersirat


__ADS_3

Cantik terbangun dari tidur lelapnya, dilihat om Dosen sedang memakai kemeja.


"Om mana akak?" tanya gadis berwajah bulat itu, sambil mengucek mata.


Pemuda yang dipanggil om Dosen itu, membalikkan badannya, untuk melihat gadis keturunan Aceh.


"Dia keluar." Singkat sekali jawabannya, pikir gadis berwajah bulat itu.


"Om, apa benar nanti kita akan ke rumah papi?" tanyanya lagi, gadis berwajah bulat itu takut, jika om Dosen tidak kerumahnya.


Sebelum pemuda itu angkat bicara, pintu kamar terbuka. Cahaya tersenyum saat melihat gadis berwajah bulat itu, sudah terbangun, wanita itu habis mengantar keponakannya.


"Sudah bangun Can?" tanya Cahaya, sambil jalan kearah ranjang, mendekati gadis berwajah bulat itu.


"Na'am!"


"Baiklah, kalau begitu langsung mandi ya Can!" ucap Cahaya.


Gadis berwajah bulat itu sudah memakai handuk yang terlilit ditubuhnya.


"Akak, apa aku akan pulang dengan pakaian begini?" tanya gadis itu, sambil menahan handuk yang terlilit ditubuhnya agar tak jatuh.


"Gimana kalau kamu pakai baju Om Dosen!" ucap Cahay,a sambil melirik kearah suaminya yang duduk di sofa. Pemuda itu mengangkat kepalanya, dan menatap tajam Cahaya. Cahaya hanya bisa menelan ludahnya, itupun dengan susah payah.


Sedangkan gadis berwajah bulat itu, membayangkan bagaimana jika dia benar-benar memakai baju om Dosen. Celana panjang, baju kedodoran, gadis itu menggeleng.


"Apa kata orang yang melihatku, jika aku memakai baju Om Dosen. Nanti aku dipikir orang-orangan sawah Akak!" Cahaya ingin tertawa, karena jawaban gadis itu.


Wanita itu berjalan kearah kopernya, Cahaya memang belum sempat memasukkan bajunya ke lemari. Wanita itu mengambil kemeja putih. Dan berjalan kearah gadis berwajah bulat itu.


"Pakai ini ya Can?" tanya Cahaya, yang dijawab anggukan oleh gadis itu. Cahaya mulai memakaikan kemeja putih ke tubuh gadis itu. Dan yang benar saja baju itu pas ditubuh Cantik, karena tubuh Cahaya tidak terlalu berisi. Cuma tinggi badannya saja, yang membedakan keduanya.


"Wah ...Can ini sudah hampir seperti tunik saja," ucap Cahaya, karena kemeja itu sampai atas lutut.


"Iya ini sangat lucu ternyata, hehehehe." Gadis itu berputar, Cahaya yang melihat hal itu tersenyum simpul.


"Kau cepat mandi, nanti kita magrib dijalan saja," ucap Langit, kepada Cahaya.


Wanita itu menyetujui ucapan suaminya. Cahaya keluar dari kamar mandi. Dahi Langit mengkerut melihat gaya berpakaian istrinya itu. Gaya yang sama seperti biasanya, wanita itu memakai celana levis dan atasan kemeja yang sedikit besar, tapi yang membedakan dari penampilan yang sebelumnya adalah kancing. Entah mengapa wanita itu, tidak mengancingkan, dua kancing paling atas. Hal itu memperlihatkan dada putihnya. Pemuda yang tadi duduk di sofa itu, berjalan kearah istrinya. Cahaya memundurkan langkahnya, saat pemuda yang ada didepannya itu terus berjalan kearahnya. Hingga wanita itu menatap tembok. Cahaya berpikir apa yang akan dilakukan suaminya itu. Alangkah terkejutnya wanita itu, disaat kedua tangan suaminya ada di bagian dadanya.


"Apa yang kau pikir?" tanya Langit.

__ADS_1


"Em... em... " Cahaya tidak bisa menjawab.


Ternyata pemuda itu mengancingkan kemeja Cahaya. Waktu perjalanan menuju pulang wanita itu, melihat gaya pakaian seorang wanita yang ada dijalan dengan gaya tidak mengancingkan kemeja bagian atas, wanita itu ingin meniru gaya berpakaian wanita yang tadi ia lihat. Tapi gagal karena sang suami tidak suka, jika dia memperlihatkan dada putihnya itu. Untung saja gadis berwajah bulat tidak ada disitu. Jadi tidak lihat adegan seperti yang baru terjadi.


Ketiganya telah sampai dilantai dasar. Tadi gadis berwajah bulat itu turun dahulu.


"Ndutt baju siapa yang kau pakai?" tanya Arche yang baru turun dari kamarnya.


"Punya Akak lah, masa punya Om!" jawab gadis itu.


"Aku kira baju kakek yang kau pakai," ucap Arche, yang membuat Cahaya ingin tertawa.


"Lihatlah Om! Kak Arche mengejekku!" gadis itu mengadu kepada om Dosen.


"Si Ndutt tukang ngadu," ucap Arche sambil menjulurkan lidahnya dan berlari meninggalkan ketiga orang itu.


"Sudahlah Can, kak Arche hanya bercanda, kita berangkat sekarang saja biar nanti cepat sampai rumah." Cahaya menjawab, sambil mengusap wajah gadis itu.


Kini ketiganya telah ada di mobil. Mobil itu mulai meninggalkan rumah itu satu menit yang lalu.


"Akak apa artinya kerinduan jika tidak pernah bertemu?" tanya gadis itu, yang membuat Cahaya teringat dengan kertas-kertas yang menempel di tembok kamar Cantik. Langit tahu apa maksud gadis berwajah bulat itu, dia sangat paham siapa yang dimaksud gadis berwajah bulat itu.


Cahaya yang mau angkat suara, ucapnya terhenti tatkala sang suami berucap. " Kita magrib disini dulu."


"Cantik kau ikut sholat ya?" tanya Cahaya, sambil membukakan pintu, untuk gadis itu.


"Iya Akak!" jawabnya.


Cahaya sudah mengambil air wudhu dan tak lupa gadis itu juga mengikuti gerakan Cahaya yang berwudhu. Setelah selesai dengan wudhu mereka memakai mukena yang sudah disediakan di sana. Cahaya membantu Cantik untuk memakai mukena itu. Cahaya tersenyum tatkala melihat wajah gadis itu sangat bulat saat memakai mukena. Sholat berjamaah itu telah selesai. Para jama'ah saling bersalaman. Gadis berwajah bulat itu mencium tangan Cahaya, wanita itu mengelus kepala gadis itu.


"Can, salaman sama orang yang ada di sekitarmu," perintah Cahaya, gadis berwajah bulat itu hanya menurut saja.


"Pintar sekali, anaknya Mbak!" ucap wanita paruh baya di samping Cantik, Cahaya hanya tersenyum.


Saat Cahaya dan Cantik keluar. Pemuda pendiam itu juga sudah keluar. Gadis berwajah bulat itu, berlari kearah Langit dan mencium tangan Langit. Cahaya yang hanya bisa melihat dari kejauhan dia tersenyum. Wanita paruh baya, yang tadi bilang gadis berwajah bulat itu pintar, juga melihat adegan itu.


"Oh ...anaknya tidak lupa juga dengan Ayahnya." Cahaya hanya tersenyum, dia tidak tahu harus jawab apa.


Kini mobil itu sudah meninggalkan pekarangan masjid. Delapan menit perjalanan mobil itu berhenti lagi.


"Kenapa berhenti Mas?" tanya Cahaya.

__ADS_1


"Turun saja dulu, nanti juga tahu." Langit keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Cantik. Cahaya yang sudah ada luar mobil, dia melihat sekelilingnya nampak ramai.


"Apa kita akan makan disini Om?" tanya gadis berwajah bulat itu, sambil menggandeng tangan om Dosennya itu. Langit hanya mengangguk.


Kini gadis berwajah bulat itu, menggandeng tangan kedua pasangan itu. Tak banyak yang beranggapan bahwa gadis itu anaknya Langit dan Cahaya. Mereka bertiga duduk beralaskan karpet, menikmati malam penuh bintang, langit cerah tanpa awan dan melihat mobil silih berganti melintasi jalanan, ada keindahan tersendiri bagi Cahaya dan Cantik malam itu.


"Om Dosen tahu? Tadi sewaktu aku bersalaman dengan orang tua, dia mengira kalau aku anaknya Akak!" ucap gadis itu, di sela-sela menunggu pesanan datang.


"Benarkah?" tanya Langit, sambil melihat ponselnya.


"Iya Om, mungkin saja jika aku memanggil Akak sama Om Dosen, Pisky, Misky, pasti orang percaya kalau aku anak Om!"


"Pisky, Misky?" tanya Cahaya.


"Hehehe Papi Langit, Mami Bintang Cahaya Bulan , berhubung bintang dan bulan ada di langit jadi Sky, karena Sky artinya langit. Gimana kalau sekarang penggilingan nya diganti Om?" tanya gadis berwajah bulat itu. Pesanan telah datang.


"Makasih, Mas!" ucap Cahaya, kepada penjual itu. Namun entah mengapa Langit menatapnya tajam, apa salahnya pikir Cahaya.


"Kenapa Mas, apa aku salah?" tanya Cahaya kepada suaminya.


"Jangan panggil Mas, ke setiap orang." Sepertinya sifat posesif Langit sudah berlaku kepada Cahaya.


"Gimana Om apa boleh?" tanya Cantik.


"Terserah, kamu Can!" jawab pemuda itu, Langit tidak ingat dengan apa yang gadis berwajah bulat itu ucapkan.


"Baiklah Pisky!" Langit sangat kaget saat gadis itu memanggilnya 'PISKY'


"Mari kita makan," ucap Cahaya.


Mereka waktu itu memesan bebek goreng dua porsi buat bertiga.


"Susah sekali," ucap Cantik, Langit pun membantu gadis itu.


"Syukron Piskiy!" ucap gadis itu.


"Cantik suka bahasa Asing" tanya Cahaya, sambil makan.


"Em ...enggak tahu, tapi kata cut abang kalau kita orang Indonesia, kita pasti bisa bahasa Indonesia, tapi apa salahnya jika kita juga belajar bahasa Asing." Gadis itu menjawab pertanyaan akak Bubble-nya dengan baik, karena teringat ucapan sang kakak.


"Wah ...itu sangat bagus Can!"

__ADS_1


Mereka bertiga makan dengan hikmat, sesekali Cantik membuat lelucon yang membuat Cahaya tertawa tapi tidak dengan orang yang ia panggil 'Pisky' pemuda itu tidak tertawa, jangankan tertawa tersenyum saja tidak.


__ADS_2