Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Orang Baru Sadar Malah Ngajak Guyondul


__ADS_3

Satu bulan kemudian, wanita berambut sebahu itu masih saja memejamkan matanya. Tapi sang suami setia bersamanya. Meskipun terkadang Langit harus ke kantor. Ada kalanya, Langit mengerjakan pekerjaannya di ruangan istrinya.


"Sampai kapan kau akan memejamkan matamu?" Langit, pemuda itu berat badannya turun. Karena setiap malam harus berjaga, ditambah kerjaan kantor yang membuat dia pusing.


"Aku sudah tidak sabar lagi, untuk berbicara dengan mu!" Sudut mata Cahaya mengeluarkan air mata. Langit yang melihat hal itu terkejut. Karena istrinya tidak pernah merespon ucapannya sebelumnya.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis?" tanya Langit sambil mengelap sudut mata istrinya.


Jari-jemari Cahaya, sedikit bergerak. Langit yang melihat hal itu dia segera berlari untuk memanggil dokter.


"DOKTER! DOKTER!"


Black yang duduk di samping pintu dia terkejut. Pemuda keturunan Aceh itu, selalu menemani Langit. Untuk menjaga Cahaya, jika Langit pergi ke kantor. Bahkan Black juga yang menemani Langit saat berjaga malam.


"Abang! Apa teteh, baik-baik saja?" tanya Black takut.


"Entahlah, tapi jari-jemari nya bergerak!"


Dokter itu segera masuk ruangan Cahaya untuk mengecek. Setelah selsai, dokter itu tersenyum.


"Bagaimana keadaannya Bu?"


Wanita itu tersenyum mengangguk. Langit dan Black mereka sangat bahagia karena, wanita berambut sebahu itu, telah sadar. Langit langsung sujud syukur, karena Tuhan mengabulkan doanya.


"Aku senang kau sudah mau membuka matamu!" ujar Langit, sambil tersenyum senang.


Cahaya mengerutkan dahi, sambil menatap Langit. Langit yang ditatap nampak sedikit bingung.


"Kau siapa?" Langit mundur satu langkah, dia tidak percaya jika istrinya lupa dengan dia.


Dokter itu tersenyum menahan tawa.


"Aku suamimu!" jawabnya pelan, lidahnya kelu saat menjawab.


"Mana mungkin, aku belum menikah!"


Jantung Langit seakan berhenti berdetak, saat istrinya bicara seperti itu. Sedangkan Black bergumam dalam hati.


Jika Abang yang suaminya saja tidak, dikenali. Lantas siapa aku, pasti tidak kenal. Aku akan diam saja.


Cahaya menatap kearah Black, wanita berambut sebahu itu tersenyum. Black yang disapa dengan senyuman, dia mengangguk pelan dan tersenyum. Kemudian menunduk sambil bergumam kembali.


Teh Cahaya, dia tersenyum kearah ku. Meskipun amnesia, tapi tetap ramah.


Cahaya menatap Langit yang terdiam membisu.


"Memangnya benar kamu suamiku?" tanya Cahaya. Pemuda itu segera mengangguk.


"Terus siapa namanya?"


"Masnya!"


Mungkin jika aku bilang itu, dia akan ingat. Dia tidak pernah memanggil namaku!.


Cahaya mengangguk pelan, Langit tersenyum karena Cahaya sepertinya ingat.


"Namanya aneh, masa namanya Masnya!" Cahaya menatap lekat mata suaminya itu. Pun sebaliknya, pemuda itu juga menatap mata istrinya.


Black menahan tawanya, karena ucapan Cahaya.


Sedangkan Langit menelan ludahnya kasar, bagaimana mungkin istrinya lupa dengan nama panggilannya.


"Kenapa tubuhmu kurus?" tanya Cahaya, menatap ujung kepala sampai ujung kaki.


"Aku selalu menunggumu bangun, tapi kau tidak bangun-bangun. Karena itu aku kurus!" Langit menjawab sambil membuang muka.


Sedangkan Cahaya tersenyum, mendengar jawaban suaminya itu.


"Dokter, ini kenapa istri saya kok lupa dengan saya! Katanya dokter, istri saya, enggak akan amnesia!" Langit protes kepada dokter itu.


Dokter itu tersenyum karena pertanyaan Langit.


"Sepertinya Anda bahagia, saya dilupakan istri saya!" Langit bicara sinis.


"Iya Dok! Kenapa teteh, bisa lupa sama Abang, saya!"


Dokter itu kalau Black yang bicara dia takut. Masalahnya Black selalu ngancam.


"Hei ... Masnya kemari lah!"


"Namanya Masnya kan?" Langit yang tadi tersenyum karena ia pikir Cahaya mengingatnya. Senyuman itu sirna, tatkala si rambut sebahu berbicara kembali.

__ADS_1


Langit mendekat ke sisi ranjang istrinya.


"Kau tundukkan wajahmu," ujar Cahaya memerintah.


Langit menunduk wajahnya, ikuti perintah istri. Nanti dapat kejutan.


"Kau itu bisa menunduk tidak?" tanyanya dengan suara keras. Membuat Langit tersentak kenapa istrinya jadi kasar.


Wajah Langit sudah dekat dengan wajah Cahaya.


"Kalian tutup mata!" perintah Cahaya kepada dokter dan Black.


Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, orang dewasa itu, segera memejamkan mata. Black takut karena Cahaya bicara tidak seperti biasanya.


Aku sangat takut, aku pikir ini adalah perintah dari majikan kepada pembantunya. Batin Black.


Cahaya mengedipkan kedua matanya.


Cup! Mata Langit membulat sempurna, tatkala istrinya menciumnya. Bagaimana mungkin istrinya mencium seseorang yang tidak dikenali nya.


"Hihihi!" Cahaya menutup mulutnya.


Black yang mendengar tawa itu, dia membuka matanya.


"Apa yang terjadi, kenapa istrinya tertawa Bang!"


Sedangkan dokter itu, dia hanya menggeleng kepala.


Sedangkan Langit masih tertegun dengan kejadian itu.


"Aku hanya ingin bercanda!" Cahaya bicara seperti orang tidak punya salah.


"Apa maksudnya bercanda?" tanya kedua pemuda itu, serempak.


"Aku tahu, kamu suamiku!"


"Dan kau Black!" Cahaya menunjuk Black.


Kedua pemuda itu, saling tatap tidak percaya. Bagaimana mungkin, orang yang baru sadar. Malah ingin buat candaan.


"Sepertinya benturan di kepala teteh, membuat serela, humornya bertambah," bisik Black ditelinga Langit.


Langit duduk di samping ranjang istrinya, sambil mengelus tangannya lembut.


"Mas, berapa bulan aku dirawat?"


"Satu bulan!"


"Mas! Dimana dedek?" tanya Cahaya, baru ingat. Saat melihat perutnya datar.


Langit yang mendengar hal itu, dia terdiam.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Cahaya lagi, membuat hati pemuda itu sesak.


"Berarti sekarang umurnya satu bulan ya? Dia sudah bisa apa Mas?" Cahaya bertanya dengan rasa bahagia.


Langit yang melihat kebahagiaan di wajah istrinya, rasanya ingin berteriak. Karena tidak tahan melihat wajah istrinya yang akan bersedih. Jika mengetahui kebenarannya.


"Pasti dedek, udah pakai baju buatan Bundanya ya?" Cahaya tersenyum, membayangkan bagaimana bayinya. Memakai baju buatannya itu.


Langit tetap dia membisu, tapi hatinya hancur.


"Mas! Aku pernah bertemu anak kecil, wajahnya persis sepertiku. Dia adalah anak lelaki, namanya. Skystar! Dia ingin memintaku untuk bersamanya. Tapi, aku mengingatmu. Jadi aku memilihmu," ujar Cahaya, yang bercerita tentang anak lelaki itu.


Sebenarnya Cahaya bertemu anaknya dalam alam bawa sadar. Tepatnya anaknya baru dimakamkan.


"Dialah bayimu!"


Cahaya yang mendengar hal itu, dia menutup mulutnya. Matanya mengeluarkan air. Cahaya tahu, arti semua mimpinya. Dan diamnya suaminya. Menambah semua mudah dimengerti.


"Dia tidak mungkin, meninggalkan aku kan Mas?" Cahaya berteriak, air mata tak berhenti menetes. Langit segera berdiri dan mendekap tubuh istrinya yang bersandar di ranjang.


"Dia tidak meninggalkan mu, dia hanya mencari kebahagiaan. Ikhlas kan, biar kan dia tenang!" Langit mendekap tubuh istrinya yang meronta-ronta.


"Kenapa harus kita yang kehilangan anak kita Mas? KENAPA? Hikss... " Cahaya terisak, sambil mengelap hidungnya dengan lengannya.


"Karena apa yang tidak menjadi takdir kita, tidak akan bisa kita miliki. Sekalipun engkau menginginkannya."


"Tapi tetap saja, dia bayiku!" Cahaya bicara lemah.


"Aku tahu, tapi dia hanya titipan. Jika PemilikNya meminta, kita bisa apa?"

__ADS_1


"Kenapa harus saat ini, Mas?" Cahaya belum bisa menerima kenyataan. Jika bayinya sudah pergi dari dia.


"Manusia memang disuruh memilih. Tetapi, terkadang kita juga tidak bisa memilih. Seandainya Tuhan, menyuruh mu memilih. Bayimu selamat, tapi nanti saat umurnya dua tahun. Tuhan meminta kembali! Atau yang kedua, bayimu tidak selamat dalam keadaan dilahirkan. Bisakah kau memilih?"


Cahaya menggelengkan kepalanya di dekapan suaminya.


"Maka dari itu, Tuhan yang memilihkan. Jikalau Tuhan, memberi dua tahun, kepada kita untuk menjadi seorang ayah dan ibu. Dan setelah itu, Tuhan mengambil dia, dari kita. Mungkin kita akan, bersedih karena. Banyak momen yang kita habiskan bersamanya. Mungkin kita akan berlarut dalam kesedihan."


"Namun, di saat Tuhan, yang memilihkan. Pasti ada kebaikan didalamnya. Meskipun kita sulit menerimanya, bahkan kita ingin menolaknya. Dan fitrahnya manusia adalah tidak mau mendapat cobaan. Jadi, mari kita belajar untuk menerima. Apapun yang Tuhan, kasih. Meskipun memang sulit. Dan sangaat berat!" Langit mencoba membuat istrinya mengerti tentang takdir.


"Masnya, sudah mengikhlaskan?"


"InsyaAllah!"


Cahaya sudah berbaring kembali, wanita itu menatap atap rumah sakit. Dia sedang mengingat saat dia hamil. Saat bayi itu menendang pertama untuk yang pertama kali. Air matanya kembali menetes, membasahi bantal rumah sakit.


Langit sedang keluar sebentar. Setelah lima menit, pemuda itu sudah duduk di kursi ranjang istrinya.


"Makan dulu ya Az-zahra!" Suaranya lembut.


Cahaya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kamu enggak mau makan?"


"Buat siapa lagi aku makan! Jika sudah tidak ada yang bisa aku ajak berbagi makanan!" Air matanya menetes.


"Buat dia, dia akan bersedih jika kau sakit. Dia akan bersedih jika aku bersedih karena melihatmu tidak makan! Jika kamu bersedih karena dia. Dia bersedih karena Bundanya yang sedih. Dan Papanya, yang sedih karena Bundanya tidak mau makan. Dia lebih sedih, dari pada kita. Kesedihan dia dua kali lipat, dibanding kesedihan kita. Makalah, jika tidak mau dia bersedih."


Akhirnya Cahaya mau makan hanya karena tidak mau bayinya sedih.


"Ayo aaa lagi!"


"Sudah kenyang, sudah gitu hambar!" Cahaya cemberut.


"Makanya makan yang banyak, nanti kalau sembuh. Pasti makanya enak!"


"Coba makan enak tidak?" tanya Cahaya, yang ingin suaminya mencicip.


"Assalamu'alaikum!" Suara salam terdengar dari pintu ruangan Cahaya.


"Wa'alaikumussalam!"


Cahaya tersenyum melihat bocah bermata coklat itu.


"Siang Kakak Baik sama Om Tinggi!"


"Siang! Sama siapa kesini?" tanya Cahaya.


"Aku meminta kakak kembar, menjemput ku agar bertemu Kakak Baik! Katanya, Kaka Baik sudah sadar. Jadi aku ingin bertemu." Gibril bicara panjang sekali.


"Terus, mana kakak kembar, kok tidak ada?"


"Dia sedang bicara dengan temannya."


"Kakak Baik sedang makan?"


Cahaya mengangguk pelan.


"Coba, Gib kau makan, enak enggak? Masa kata dia hambar!" ujar Langit, menyuapi Gibril. Gibril merasa itu makanan memang hambar. Tapi Langit memberi kode, kepada bocah bermata coklat itu.


"Ah ... ini sangat enak. Bahkan aku jarang sekali memakan makanan yang seperti ini." Gibril bicara benar tidak bohong. Dia memang jarang makan, makanan yang hambar. Dia selalu makan bercita rasa.


"Kau bohong Gib!"


"Ah ... bagaimana kalau aku yang menyuapi. Nanti pasti ada rasanya. Tangganya Om Tinggi, rasanya hambar!"


"Mana, Om Tinggi! Aku akan menyuapi wanita yang aku cintai!" ujar Gibril, membuat Cahaya terhibur.


"Mau disuapin dengan cara apa?"


"Emang ada cara apa saja?" tanya Cahaya, sambil membuka mulutnya. Hal itupun tidak disia-siakan Gibril untuk memasukkan makanan ke mulut Cahaya.


"Nah yang kayak barusan itu, gaya pesawat masuk garasi!" Cahaya tertawa karena jawaban Gibril. Sedangkan Langit, pemuda itu menggelengkan kepalanya. Karena kekonyolan Gibril.


Gibril yang melihat Cahaya merem saat tertawa, dia memasukkan makan itu kembali.


Cahaya ingin bertanya, tapi Gibril segala angkat bicara.


"Nah yang kayak barusan itu, gaya mobil masuk gawang!" Gibril sekali lagi membuat Cahaya tertawa. Bocah bermata coklat itu, menghilangkan kesedihan di hati pasangan itu.


Langit tersenyum karena ulah Gibril. Akhirnya Cahaya menghabiskan makanannya karena Gibril yang menyuapi.

__ADS_1


__ADS_2