
Mereka masuk lagi ke dalam mobil setelah membayar makanan.
"Misky apa aku boleh pinjam ponsel?" tanya gadis berwajah bulat, yang duduk di kursi penumpang.Tak banyak kata dan bertanya buat apa. Cahaya memberikan ponselnya. Gadis itu menerima, dan entah apa yang dilakukan gadis itu.
"Waktu terus berlalu. Tanpa kau sadari yang ada hanya aku dan kenangan. Masih teringat jelas. Senyum terakhir yang kau berikan."
Langit yang mendengar lagu itu, membuat dia teringat tentang sang Mentari. Cahaya sangat menikmati lagu itu, wanita itu teringat dengan masa lalunya bersama mendiang ibunya.
"Tak pernah 'ku mencoba dan tak ingin ' ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain. Kan ku biarkan ruang hampa didalam hidup ku."
Sesekali pemuda itu melirik istrinya yang duduk di sampingnya. Entah apa artinya, tapi wanita yang dilirik tidak melihat hal itu. Karena lebih memilih melihat ke jalan raya.
"Bila aku harus mencintai. Dan berbagi hati. Itu hanya dengan mu. Namun bila 'ku harus tanpamu. Akan tetap ku arungi hidup tanpa bercinta."
"Ra-ha-sia hati Ele-ment 2002." Gadis itu membaca judul lagunya.
"Wah ...tahun 2002 aku sudah lahir," serunya.
Lagunya sangat indah apalagi liriknya, andai saja kisah cinta ku seperti itu, cinta sejati. Batin Cahaya.
Mereka telah sampai di rumah Agam Ariaja.
"Assalamu'alaikum," ucap Cahaya mengucap salam.
"Wa'alaikummusalam," jawaban dari Agam Ariaja.
"Mari masuk," ucap Agam Ariaja.
Sepertinya ruangan tamu itu nampak ramai, karena kedatangan pasangan baru itu.
"Bagaimana kabar mu Nak Cahaya?" tanya Agam Ariaja, yang memulai pembicaraan, karena mereka belum menemukan pembahasan yang pas.
"Baik, Pi!" Halus sekali suaranya.
"Oh ya Lang, mungkin nanti akan diadakan buka bersama dengan dosen-dosen." Tiga hari lagi puasa, sepertinya mereka sudah menyiapkan agenda buka bersama.
Pemuda itu teringat sesuatu, mungkin malam itu saatnya pemuda itu memberi tahu pria paruh baya yang ada di seberangnya itu.
"Sepertinya aku akan resign jadi dosen." Semua yang ada di sana cukup kaget dengan ucapan pemuda itu. Sang istri juga sangat kaget, karena suaminya tidak memberitahunya.
__ADS_1
"Kok resign Bang?" tanya pemuda keturunan Aceh itu.
Semua menunggu jawaban dari Langit yang belum angkat bicara.
"Bapak menyuruhku bekerja di perusahaan, sebagai Direktur keuangan."
Semua mengangguk karena jawaban Langit.
"Ya, jika itu yang terbaik tak masalah Lang, toh kamu sudah pernah jadi dosen sebagai cita-cita mu Nak!" jawab Agam Ariaja.
"Kalau kamu Black akan kuliah di mana?" Pancing Cahaya, Langit sangat kaget saat istrinya bertanya seperti itu. Bukankah istrinya sudah tahu, lalu apa maksud pertanyaannya itu.
Pemuda keturunan Aceh itu juga berpikir apa maksud pertanyaan yang Cahaya tanyakan itu.
"Dia akan ambil jurusan di Akutansi," jawab Agam Ariaja.
"Sebenarnya dia ingin ambil jurusan Fotografer." celetuk istrinya Agam Ariaja. Sedangkan pemuda keturunan Aceh itu hanya menunduk jika membahas kuliah mana yang harus di ambil.
"Bukannya tak masalah jika pindah jurusan, Pi? tanya Cahaya. Pemuda keturunan Aceh itu mulai mendongakkan kepalanya, apa akan ada jalan keluar dari masalahnya itu.
"Tentu saja Nak!" jawab Agam Ariaja.
"Kenapa tidak S1 Black ambil jurusan Akuntansi dan S2 biar dia ambil fotografer, Pi?" tanya Cahaya sedikit takut, karena dia juga belum mengenal keluarga Agam Ariaja cukup dalam.
"Maaf!" ucap Cahaya, wanita itu sekarang menunduk. Pemuda keturunan Aceh itu melihat Cahaya sambil bergumam dalam hatinya.
Andai teh Cahaya itu anak kandung papi, pasti dia akan membantuku dan andai engkau masih ada disini pasti akan melakukan hal sama seperti apa yang teh Cahaya perbuat, teh!.
Pemuda itu mengingat kakaknya yang sudah meninggalkannya.
Istri Agam Ariaja tersenyum dengan ucapan Cahaya, dia tahu jika wanita yang ada di depannya itu ingin membatu putranya. Agam Ariaja juga tersenyum, dengan ucapan Cahaya. Yang masih menundukkan kepalanya. Agam Ariaja menarik nafas sebelum berucap. "Sebenarnya aku ingin Black ambil jurusan yang sama semua," ucapannya di jeda sejenak, sebelum berucap lagi. "Tapi malam ini ada wanita yang mengingatkan diriku untuk tidak egois, terima kasih Nak!" ucap Agam Ariaja yang membuat Cahaya mengangkat kepalanya.
Pemuda keturunan Aceh itu sangat bahagia, senyuman di bibirnya itu selalu terluas, tatkala sang ayah menyetujui ucapan Cahaya.
"Tapi Black!" ucapan Agam Ariaja membuat semua yang ada di sana menunggu.
"S1 jurusan Akuntansi, Papi yang bayar semua sampai kos-kosan. Tidak untuk S2 kamu harus bayar sendiri buktikan Nak, jika emang bisa." Pemuda keturunan Aceh itu tidak mempermasalahkan, sang ayah mengizinkan dia ambil jurusan fotografer saja sudah membuat pemuda Aceh itu bahagia.
Setiap orang tua mendidik anak dengan cara berbeda, pun sama dengan Agam Ariaja dia ingin anaknya membuktikan kepadanya jika apa yang anaknya pilih itu jauh lebih baik, dengan apa yang dia anggap baik.
__ADS_1
"Semangat Cut Abang!" ucap gadis itu memberi semangat kakaknya.
Hujan deras membasahi jalanan, tak baik jika berkendara saat hujan. Guntur dan petir melengkapi kekurangan hujan deras itu. Masih di rumah Agam Ariaja tepatnya pasangan baru itu ingin pamit pulang, tapi tak jadi karena ada hujan.
"Bermalam disini saja Nak!" ucap istri Agam Ariaja.
"Iya Misky!" Gadis berwajah bulat itu, membuat keluarganya kaget karena ucapannya.
"Misky?" tanya istri Agam Ariaja terkejut.
"Hehehe, Mi sekarang aku manggil Akak sama Om Dosen Misky, Pisky. Biar kayak anak keturunan langit gitu. "
"Oh ...alih panggilan ceritanya?" ucap Black.
"Boleh enggak Mi?" tanya Cantik.
"Om sama Akak keberatan enggak?" tanya istri Agam Ariaja.
"Kata Om Dosen terserah?" ucap Cantik.
"Tapi Can, sosok Mami itu tidak bisa digantikan sayang, Papi dan Mami Cantik adalah orang yang ada di samping Cantik. Sedangkan Akak bukan siapa-siapa. Jika sudah ada Mami, Papi lalu mengapa harus ada Mami, Papi baru. Kan keluarga yang lengkap ada siapa saja Can?" tanya Cahaya. Dia merasa tidak enak dengan keluarga Agam Ariaja. Karena gadis berwajah bulat itu memanggilnya 'Misky'
"Papi, Mami, Abang dan Teteh!" jawabnya.
"Berarti sekarang Cantik harus melengkapi keluarga itu, berarti siapa yang kurang Can?" tanya Cahaya.
"Papi, Mami, Abang sudah punya kurang teteh dan adik!" jawabnya, yang membuat ibunya tersenyum. Lebih tepatnya sih tersenyum malu. Saat anak bungsunya bilang 'adik'
"Baiklah! Kalau begitu Akak akan jadi Teteh, Cantik sedangkan adik tidak ada, kita kasih Om saja gimana?" tanya Cahaya.
"Berarti Omnya, Om Dosen? tanya Cantik.
" Benar, jadi lengkap bukan?" tanya Cahaya, gadis berwajah bulat itu mengangguk.
"Tapi aku boleh manggil Pisky, Misky kan sesekali?" tanya Cantik.
"Tentu saja Can!" jawab Cahaya.
"Baiklah kalian istirahat dulu di kamar, sudah malam," ucap istri Agam Ariaja.
__ADS_1
Pasangan baru itu menurut saja dan sudah ada di kamar.