
Seminggu setelah kepergian Black. Seminggu itu pula eyang selalu mencaci maki Cahaya. Seminggu lagi anniversary yang kedua bulan buat pasangan itu. Pagi itu, Cahaya sangat bahagia karena kafenya akan dibuka.
Wanita berambut sebahu itu, membantu suaminya memakai dasi.
"Ingat ya Mas, nanti malam Mas, harus datang ke ruko." Wanita itu, mengingatkan suaminya kembali.
Sudah tiga kali! Pemuda itu mendengar ocehan istrinya yang hanya itu-itu saja pikirnya.
"Akh aku lupa tadi malam kan malam jumat." Langit berbicara mengalihkan pembicaraan.
Cahaya hanya diam, wanita itu tahu maksud suaminya.
"Nanti malam ya?"
Cahaya membuang napas kasar, karena pertanyaan dari suaminya itu.
"Libur." Cahaya merapikan jas suaminya.
Pemuda itu berjalan kearah ranjang dan membanting tubuhnya. Cahaya yang melihat hal itu hanya bisa mengelus dada.
"Mas jangan childish deh. Ayo bangun. Wahai ...karyawan kantor. Anda harus bisa memberi contoh yang baik. Untuk karyawan yang lain." Cahaya menarik tangan suaminya agar bangun.
"Bohong ya?" Langit menuduh istrinya.
"Dosa loh, menolak suami." Langit bicara lagi. Pemuda itu sudah duduk di tepian ranjang.
Cahaya berdiri di depan suaminya dan menggelengkan kepala.
"Tadi kok subuh." Langit bicara, sambil menarik tangan istrinya.
Duh! Wanita itu terjatuh di pangkuan suaminya.
"Lepasin ...ah Mas!" Cahaya meronta ingin dilepaskan.
"Enggak!"
"Dengerin ya Mas, aku tidak bohong!" Katanya diakhir kalimat wanita itu sedikit menekankan kata bohong.
Langit menatap mata istrinya, tapi sayang sekali, pemuda itu tidak menemukan kebohongan dimata istrinya.
"Ayo turun, nanti bapak kasian nunggu Masnya lama." Cahaya mengoceh di pagi itu.
"Enggak!" Langit menjawab, sambil memejamkan matanya dan bersandar di bahu istrinya.
"Nanti telat, enggak makan lagi kayak waktu itu ...ingat jaga kesehatan." Cahaya melepaskan tangan suaminya yang ada di pinggangnya.Wanita itu turun dari pangkuan suaminya. Kemudian menarik tangan suaminya agar mau kebawah untuk makan.
"Hoam!"
"Masih ngantuk ya? Kan tadi malam pulangnya tengah malam."
Dua hari sudah, pemuda itu pulang terlambat. Karena pekerjaan belum selesai, membuatnya terpaksa lembur pulang malam. Dua hari pemuda itu, tidak bisa menikmati keindahan langit malam bersama istrinya. Saat pulang istrinya masih terjaga menunggu dia. Padahal dia sudah menyuruh istrinya untuk tidur dahulu. Dua hari itu pula pemuda itu, tidak tahu apa istrinya masih suka menangis di balkon atau tidak.
__ADS_1
"Gara-gara cariin nafkah kamu, buat kamu beli susu." Langit menjawab, tapi membuat hati istrinya senang.
"Kalau sudah punya anak nanti ada jatah susu lagi ...aku harus kerja buat nanti ...suami itu kalau kerja totalitas." Langit bicara, sambil berjalan di samping istrinya.
"Emang istri enggak totalitas?" Cahaya bertanya sambil merapikan rambut.
"Bukan begitu maksudku. Tapi kalau kerjaan istri itu, masih bisa di bilang santai lah. Enggak terlalu harus, oke jam ini harus selesai nyapu misalnya. Kan nyapu enggak harus ada jamnya. Kapan pun bisa ...mau selesai masak. Mau jam dua bisa ...nah kalau suami. Jam tujuh harus berangkat kerja ...kayak ada kontrak gitu sama orang luar ...jadi mereka harus on time di jam pagi sampai sore ...atau bisa saja sampai malam ...dan enaknya istri itu kalau lelah butuh hiburan bisa ...lihat buah hatinya main menemani belajar ...kalau suami cuma di jam-jam tertentu untuk bertemu buah hatinya sendiri ...terkadang kalau pulang larut malam cuma bisa mandang wajah anaknya saat terlelap." Langit bicara seperti seorang yang sudah punya buah hati saja.
"Meskipun begitu istri juga a lot to think about. Istri itu juga banyak yang harus dikerjakan dalam rumah. Istri itu dituntut untuk menjadi pintar. Tahu caranya bersikap. Contoh kecil saja. Saat pagi harus mikir, masak apa? Suaminya suka kangkung, anaknya suka ayam. Oke itu hal sepele bagi orang yang punya uang, tapi tidak bagi orang yang berpenghasilan pas-pasan. Istri juga harus bisa me-menejemen uang bulanan dengan baik. Kadang peralatan rumah tangga. Itu habisnya bersamaan padahal nyetok nya enggak bareng. Beras habis, minyak habis, peralatan mandi habis, stock obat juga habis. Dalam bulan itu, semua habis. Padahal uang bulanan sudah tinggal setengah karena bayar SPP anak. Belum langi, jika suaminya menurut tentang buah hati. Kenapa anaknya jadi turun ranking. Padahal istri sudah mati-matian ngajarin, tapi yang namanya anak itu memiliki masa tumbuh kembang anak. Ada yang tambah pintar ...ada juga yang tambah nakal." Cahaya berargumen layaknya ibu-ibu.
Langit hanya mengangguk saja, tidak akan ada selesainya jika membahas kedudukan suami dan istri. Karena mereka sudah ditempatkan yang paling pas dan saling melengkapi. Itulah enaknya, kalau sudah berkeluarga semua sudah ada bagiannya sendiri.
Pasangan itu sudah duduk di meja makan. Cahaya mengambilkan makanan untuk suaminya kemudian duduk diam menatap seluruh keluarga makan.
"Tujuh belas September 2006 itulah hari pernikahan Kang Mas! Tak dirasa mau dua bulan seminggu lagi." Archer bernyanyi, sambil mengetuk meja makan dengan sendok.
Langit yang mau memasukkan makanan ke mulutnya melirik adiknya. Pemuda itu hampir lupa dengan tanggal pernikahannya
"Kau apal banget Cher!" Alula berucap.
"Bagaimana tidak hapa,l jika tanggal itu si Archer dapat kado dari Black!" Arche tersenyum menyeringai, sambil memasukkan makanan.
"Tidak juga."
"Makan jangan berdebat!" Kakek Raharja bicara.
Si kembar hanya terdiam tidak bicara lagi.
Cahaya yang mendengar hal itu, menelan ludahnya. Harusnya eyang langsung bilang kau hanya punya waktu sepuluh bulan untuk merelakan suamimu.
"Masih lama Eyang!" Arche mengeluarkan suara.
"Tahun itu berjalan begitu cepat Ar!" Eyang bicara lagi.
"Besok malam aku mengundang seseorang untuk makan malam bersama kita. Eyang harap kalian tidak keberatan." Eyang kembali berucap.
"Siapa, emang Ami ada kenalan di
Jakarta?" Abidah Aminah bertanya, sambil meneguk air putih.
"Adalah orangnya baik pokoknya." Eyang tersenyum memikirkan orang itu.
"Kenal sejak kapan?" Langit giliran bertanya.
Eyang tersenyum karena cucunya bertanya kepadanya.
"Saat Eyang sampai di Jakarta, kau ingatkan Eyang ke sini tanggal berapa."
Bagaimana mungkin Langit lupa. Disaat itu pula dia melihat istrinya menangis, di tanggal yang sama. Saat eyang datang ke Jakarta untuk pertama kalinya.
"Mudah banget Eyang, menilai seseorang," celetuk Archer.
__ADS_1
"Kok kamu bicara seperti itu, gimana Eyang tidak bilang baik. Saat KTP! Eyang jatuh perempuan itu mengejar Eyang dan mengembalikan ke Eyang. Dan kalian tahu wanita itu wanita kare. Karyawan kantor yang pakaiannya berkelas. Pasti tempatnya juga tinggi. Tidak cuma kelayapan." Diakhir kalimat sepertinya eyang menyendiri seseorang.
"Karier bukan Kare, kalau kuah kare emang enak."
Cahaya menundukkan kepalanya. Wanita itu merasa jika eyang sedang menyindir nya. Eyang tidak tahu, jika wanita berambut sebahu itu kalau keluar rumah juga kerja. Wanita itu sibuk mengurus kafe miliknya dan minimarket suaminya.
"Berati Ibu enggak termasuk wanita karier, karena Ibu tidak kerja di kantor." Arche menyindir eyang berkedok ibunya yang jadi sasarannya.
"Tapi ibu, bisa bisnis jadi bisa di bilang wanita karier dong Ar! Wanita karier itu bukan hanya kerja di kantor doang." Hazel memberikan pendapat.
"Berarti orang yang duduk di samping Kang Mas juga dong. Istilah Teteh sedang merintis usaha." Archer bicara, yang membuat eyang tersentak karena ucapannya.
"Kalau bisa itu menggaji seseorang, bukan di gaji. Dan alangkah baiknya punya karyawan dari pada jadi karyawan." Pak Khan mengeluarkan unek-uneknya. Pak Khan tahu, jika mertuanya itu sedang menyindir menantunya yang menunduk.
"Aku setuju dengan ucapan Bapak, best."
"Oh... Teteh tenang saja, nanti setelah kita pulang sekolah akan jemput Gibril dengan yang lainnya. Nanti malam peresmian kafe dan minimarket nya Kang Mas!" Archer akan membantu kakak iparnya itu.
Eyang semakin tersudut kan, karena keluarga itu sepertinya membela wanita kampungan itu.
"Kita berangkat sekarang Pak, aku harap nanti malam aku bisa datang tepat waktu saat peresmian." Langit bangkit dari duduknya.
Masih sama seperti biasanya, para istri mengantarkan suaminya ke depan rumah.
"Bapak makan tepat waktu, jangan tinggalkan sholat. Kita harus ingat kita itu diciptakan untuk apa." Abidah Aminah bicara kepada suaminya.
"Iya Bu, Bapak akan makan siang tepat waktu, dan diakhiri usia Bapak. Aku ingin mendekatkan diri ke Sang Maha Pencipta!" Pak Khan bicara, sambil menerima uluran tangan dari istrinya.
"Yang, nanti kamu kalau bisa pulang cepat. Aku mau kita ikut peresmian kafenya Aya sama minimarket nya Kang Mas!" Alula bicara, sambil merapikan jas suaminya.
"Siap Yang, kita akan usahakan iya kan Pak?" Hazel bertanya, kepada pak Khan dan dijawab anggukan oleh mertuanya.
Pagi itu Cahaya sangat sedih, karena ucapan Eyang saat di ruang makan. Bagaimana tidak seolah eyang mengingatkan tentang dia hanya punya waktu sepuluh bulan untuk punya keturunan. Jika tidak dia harus mengikhlaskan suaminya dengan yang lain.
Cahaya menatap suaminya yang ada di depannya itu. Wanita berambut sebahu itu langsung memeluk suaminya seolah takut kehilangan suami perhatiannya itu. Langit terdiam, tidak biasanya istrinya memeluknya dahulu. Apalagi itu di saksikan orang tuanya dan adik sekaligus adik iparnya.
Entah takdir seperti apa yang akan datang menghampiriku. Tapi rasanya ini sangat sulit, jika aku harus melihat kau dengan wanita lain. Aku harap Sang Maha Pemberi segera memberikan aku kepercayaan untuk mengandung anakmu Mas. Batin Cahaya.
Wanita itu memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. Wanita itu tidak kepikiran. Jika hal yang dilakukan nya itu, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya.
Langit mengelus rambut istrinya. Pemuda itu tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya itu.
"Aduh Kakak ipar romantis amat." celetuk Hazel.
Cahaya yang mendengar suara Hazel segera mengelap air matanya dengan yang ada saja— yaitu jas suaminya. Wanita itu tidak mau jika semua orang tahu jika dia menangis. Apalagi suaminya, dia harus menyembunyikan perasaan takut kehilangan dan kesedihan dari suaminya. Cahaya melepaskan pelukan itu dan tersenyum.
"Hehehe biar seperti kalian gitu loh Kak Hazel!" Cahaya tertawa, untuk menutupi kesedihan yang dia rasakan.
Langit menatap jas kerjanya yang basah. Pemuda itu, melihat wajah istrinya yang tersenyum kearah Hazel.
Kau menangis Az-zahra. Apa yang kau sembunyikan dariku. Aku tidak suka dengan sifat mu yang tertutup kepada ku. Bukankah aku sudah pernah katakan untuk menceritakan keadaanmu terhadap ku. Senyuman itu sangat terpaksa. Langit menatap wajah istrinya, yang tersenyum menampakan gigi gingsulnya.
__ADS_1