
Pemuda itu mulai tancap gas, mobil hitam yang ada di depannya sudah jauh meninggalkannya.
Kita beralih ke dalam mobil Archer.
"Mana Kang Mas? Kenapa enggak ada juga?" Archer mengular kan kepalanya di jendela.
"Entahlah, bukannya tadi ada di belakang mobil kita." Jo berbicara.
Mobil hitam itu, sudah lama nunggu mobil silver yang ada di belakangnya.
"Entahlah, coba aku telpon dulu." Archer ingin mengambil ponselnya dari kantung celana. Tapi tak jadi, karena bunyi klakson dari belakang.
Mobil silver yang Langit kendarai melewati mobil hitam milik si kembar.
"Ah... ayo Kak Jo kita tancap gasssss!" Archer memberi perintah.
Jo segera menginjak gas, agar tidak tertinggal jauh dari mobil warna silver itu.
Di dalam mobil silver, pemuda itu sesekali melirik istrinya. Cahaya merasa jika suaminya itu sedang melirik nya.
"Fokus nyetir." Cahaya menegur suaminya.
Kedua mobil itu memarkirkan mobil dipinggiran jalan. Langit dan istrinya keluar dari mobil. Dan diikuti oleh Jo dan Archer. Kak Arche tidak ikut, karena masih harus istirahat dulu.
"Ya sudah kita masuk saja." Langit berbicara. Mereka pun setuju dengan ucapan pemuda itu.
Cahaya menekan bel yang ada di sisi kiri pintu.
Setelah menunggu hampir satu menit pintu terbuka. Sosok lelaki sedang menggendong gadis kecil menyuruh mereka masuk.
"Ayo masuk, kata Ale kau akan ke sini Ay!" Suaminya Alexa tersenyum, sambil mengulurkan tangannya kepada Cahaya.
"Terima kasih, Kak!" Cahaya menerima uluran tangan dari Al.
"Suaminya Aya?" Al gantian menjabat tangan, Langit.
"Iya, Mas!" Langit tersenyum tipis.
Langit sangat menghargai suaminya Alexa buktinya saja, pemuda itu tidak memanggil nama. Ah—iya lupa kan belum kenalan.
"Al!" Suaminya Alexa tersenyum.
Langit mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Archer tanpa di suruh langsung mencium tangan lelaki itu.
"Mari-mari masuk, tadi Ale sudah menyiapkan makanan untuk sahabatnya katanya." Al menyuruh tamunya masuk.
Mereka sudah ada di ruang makan. Alexa tersenyum bahagia karena sahabatnya datang.
"Ayy!" Jiwa Ale gaje kembali lagi seperti satu tahun yang lalu. Alexa berteriak, membuat Cahaya menutup telinga.
__ADS_1
"Le, jangan kayak anak kuliah bar-bar, ingat untuk jadi ibu." Cahaya berbicara apa adanya tanpa ada batasannya.
Langit menatap istrinya tidak suka. Cahaya menundukkan kepalanya, karena ditatap suaminya seperti itu. Al yang ada di samping Langit, tersenyum sebelum berucap. "Sudah biasa mereka seperti itu."
Langit hanya mengangguk paham.
Mereka sudah duduk di rapi memutari meja makan.
"Assalamu'alaikum." Terdengar salam dari arah pintu ruang makan.
"Wa'alaikumussalam." Semua menjawab serempak.
"Sudah pulang Nak?" Al bertanya, kepada anaknya.
Kenzi berjalan kearah meja makan. Kerutan di dahinya nampak jelas, saat melihat punggung seseorang wanita berambut panjang. Kenzi terus berjalan hingga, matanya membulat sempurna menatap wanita berambut panjang itu.
Langit menatap Kenzi, yang shock karena melihat adiknya di sana.
"Duduklah Nak! Kita makan bersama." Al menyuruh anaknya duduk.
Archer tak menghiraukan kedatangan Kenzi.
Dara delapan belas tahun itu, lebih asik makan puding pisang buatan Alexa. Kenzi duduk di depan Archer dan menatap Jo tidak suka.
"Kak Ale, pudingnya sangat enak. Aku sampai tidak bisa berhenti makan," ujar Archer memuji puding pisang buatan Alexa.
"Ah... kau bisa saja bikin aku besar kepala." Archer tersenyum.
Langit dan Cahaya saling memberi kode, saat melihat raut wajah Kezi.
Mata Kenzi menatap tidak suka, karena orang yang ia cintai membalas senyuman dari pria lain.
"Oh... ya Cher! Bagaimana Kenzi saat di sekolah?" Alexa bertanya.
"Kalian satu sekolah?" Al bertanya antusias.
Archer menelan ludahnya, dara delapan belas tahun itu tidak tahu harus menjawab apa.
"Ehem" Langit berdeham.
"Baik!" Archer menjawab pendek, malas sekali jika membahas tepung kanji.
Kenzi sangat tahu jika Archer tidak mau membahas tentang dia.
"Dulu saat usiaku, sebaya dengan kalian sangat menyenangkan. Apalagi saat teman cowokku mencintai teman sebangku ku. Si cowok selalu ngecengin si cewek. Pokoknya enggak kasih kendor lah, sekarang masih ada enggak ngecengin cewek sampai dapat." Alexa bicara, sambil memasukkan makanan ke mulut.
Archer terdiam tidak mau menjawab.
"Sekalinya ngecengin, sudah disalip sama sahabat kita yang sering kita curhatin. Kan sakit banget tuh." Jo menjawab.
Jawaban Jo membuat Kenzi tersentil.
__ADS_1
Alexa dan suaminya tertawa saat Jo bicara.
"Alangkah baiknya di kenalan, istilahnya melalui perjodohan. Lebih afdol jadi enggak melenceng, dari hukum syariah islam." Langit bersuara.
Kenzi melirik kearah Langit, cowok itu menelan ludahnya dengan kasar, saat melihat wajah Langit yang datar.
"Dan pastinya umurnya juga mumpuni, untuk membangun rumah tangga. Bukan begitu Mas Al?" tanya Langit.
"Tentu saja, aku sangat setuju dengan ucapan mu. Sekarang anak muda bangga sekali punya pacar. Merasa dia laku dan ada yang mau. Nanti kalau putus sifat childish nya muncul. Putu asa, ada juga yang memilih untuk mengakhiri hidupnya."
"Itu mengapa keluarga kita tidak ada yang pacaran, adik saya itu nikahnya sama sahabat karib saya. Sedangkan saya." Langit menatap istrinya sejenak, sebelum melanjutkan ucapnya. "Menikah dengan istri saya, karena dia adalah cucu dari sahabat karibnya mbah! Jadi bisa dibilang itu adalah tradisi keluarga kita." Langit berbicara, seperti itu entah apa maksudnya.
Tapi Kenzi mendengar hal itu, dia menyimpulkan apa Archer bercerita soal dia menebaknya kepada Langit.
Sahabat Karib itu berasal dari bahasa Arab. Karib atau qoroba artinya dekat. Sembilan puluh lima bahasa kita adalah menggunakan bahasa Arab.
"Iya, itu jauh lebih bagus istilahnya mempererat persahabatan, menaikan status yang semula hanya sahabat menjadi kerabat, dan memperkuat jalinan silahturahmi agar tidak putus."
"Toh juga sekarang kalau pacaran tidak tahu batasan, ciuman di tengah jalan bangga. Pelukan sudah hal biasa, setelah itu, kejadian yang luar biasa membuat keluarga malu." Jo juga ikut bicara.
"Itu mengapa sangat penting mengajarkan *** education kepada anak yang umurnya masih belia, kita sebut saja tiga belas tahun. Kita harus memberi tahu mana yang boleh dan tidak boleh disentuh. Agar anak tahu, oh... ya bagian ini tidak boleh di sentuh. Berarti aku harus menjaganya, setelah umurnya naik kita mulai survei bagaimana sih pola pikir anak ini. Lebih dewasa atau malah labil. Dan aku rasa jika umur lima belas keatas, kita bisa membuat anak memahami sebuah konsekuensi dari apa yang ia perbuat. Jika dia tahu kayak, contoh nih ya. Seumpama kalau aku nyuri konsekuensinya akan digebukin orang. Otomatis anak ini akan berpikir dua sampai tiga kali, untuk melakukan hal yang akan membuatnya rugi." Cahaya membuang napas pelan, karena bicara panjang. Wanita berambut sebahu itu menengguk air putih karena haus.
Semua yang ada di sana mengangguk tak terkecuali, Archer dan Kenzi mereka juga bisa mengambil pelajaran sedikit dari ucapan wanita berambut sebahu.
Langit menatap istrinya kagum, pemuda itu berpikir jika istrinya akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya kelak.
"Nak kalau Kak Al, bagaimana cara mendidik anak Kak Al. Kan kata orang mendidik anak cowok itu sulit, lebih mudah mendidik anak gadis. Atau ada juga yang bilang sebaliknya." Cahaya bertanya.
"Mau anaknya itu cewek atau cowok itu sama saja. Tergantung pada anaknya, ada anak cewek yang bandel ada, ada juga anak cowok nurut juga ada. Semua itu tergantung kepada si anak ini. Tapi kembali lagi ke kita, kitanya harus tahu. Anak kita ini seperti apa. Apa kalau di bentak dia takut dan nurut, atau malah anak ini semakin keras kepala dan membantah. Karena pada dasarnya, anak itu ada yang ingin dielus, dimanja dikasih perhatian yang lebih lah istilahnya. Nah, kalau kita bentak dia otomatis, mental anak ini jadi done. Dan akan beranggapan jika orang tua tidak suka dengan si anak ini. Dan bisa saja anak ini frustasi den bilang kepada dirinya sendiri 'ngapain gua jadi anak baik, jika orang tua gua saja enggak tahu apa yang gua inginkan. Dan ngapain, gua harus mendengar ucapan dia jika dia saja tidak mau memahami apa yang gua inginkan dari dia'. Intinya sih kita harus belajar memahami anak kita dulu." Al berbicara apa yang ada di otaknya.
"Dan kalau mendidik cowok itu, lebih kayak menyuruh untuk menghargai wanita." Al mengakhiri dengan hembusan pelan dibibir.
"Setuju saya, karena sekarang banyak banget cowok itu kayak menganggap wanita itu seperti objek yang harus di nikmati. Kita pun harus ingat bahwa, wanita itu juga manusia sama seperti kita. Yang harusnya kita hargai, karena kita pun lahir dari rahim wanita. Harusnya mereka berfikir jika ibu atau adiknya yang dianggap seperti itu bagaimana perasaannya." Langit menimpali ucapnya Al.
"Dan kadang cowok itu sekali ada yang bening langsung, japri lewat inbox atau enggak langsung komen. Bilang, cantik lah apalah. Mudah banget sih lu bilang omongan kosong ke cewek. Nanti kalau enggak di balas dibilang sombongnya minta ampun, sok cantik bla-bla. Padahal kita enggak tahu sifat cewek yang di japri itu seperti apa. Mungkin saja, cewek ini membatasi dirinya dengan cara tidak membalasnya. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa cewek ini sombong dan jual mahal." Alexa berpendapat.
"Bisa saja cewek itu membatasi dirinya, dengan cara seperti itu. Agar tidak kebablasan dalam bergaul. Pernah suatu hari aku lihat story Facebook nya orang. Dia bercerita jika dia inbox dengan cowok, awalnya itu baik. Masih dalam keadaan tanya siapa namanya, dimana rumahnya apa yang ia suka. Dalam pertanyaan ini masih dalam batas wajar. Tapi lama-lama kok isi japriannya kok bikin enggak nyaman. Bicara sedikit kotor, dan menjalar kemana-mana. Hal seperti ini menurutku bisa menjatuhkan mental cewek itu." Jo juga meneruskan ucapnya Alexa.
Semua yang ada di sana mengangguk. Sepertinya orang yang ada di sana satu pemikiran. Memang enak banget kalau bicara satu topik yang klik! Apalagi anak muda seperti Archer dan Kenzi bisa mawas diri biar menjadi pribadi yang lebih good.
"Makanya ilmu agama itu juga harus di tanamkan sejak usia dini. Biar mereka juga pikirannya itu enggak negatif mulu. Kalau punya ilmu agama kan enak, bisa meniru bagaimana cara Nabi Muhammad, menghargai seorang wanita. Dan bagaimana cara menjaga pandangan." Cahaya meletakkan sendok yang ada di kedua tangannya di piring.
"Baiklah kita pamit ya Le," ujar Cahaya kepada sahabatnya. Alexa mengangguk pelan.
"Sering-seringlah main kesini, biar hubungan silahturahmi tidak terputus. " Al bicara, sambil menjabat tangan Langit. Dan menepuk pulan pundak pemuda itu.
"Terima kasih, atas jamuan nya." Langit tersenyum.
"Tak masalah kita senang, jika bisa menjamu kalian untuk next time." Al tersenyum tipis.
"Bisalah Om, kalau ada puding buatan Kak Ale!" Archer bicara, sambil mencium tangan Al.
__ADS_1
Al tersenyum karena ucapan Archer. Dara delapan belas tahun itu ada di depan Kenzi dan mengulurkan tangannya, sedikit senyuman dipaksa. Kenzi menerima uluran tangan dari Archer. Kenzi sudah mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu membawa Jo ke hadapannya. Kenzi tak punya ruang lagi untuk memiliki dara delapan belas tahun itu. Harapannya hancur, dia pikir Archer bohong tentang perjodohan itu. Melihat Jo bersama Archer membuat Kenzi yakin jika mereka ada hubungan. Di kuatkan dengan ucapan dari kang masnya, Archer yang kata-katanya mengenai hatinya.
"Sampai bertemu lagi besok disekolah." Archer tersenyum, urusannya dengan Kenzi sudah selesai.