
"Bagaimana pendapatmu tentang Archer?" Langit duduk di kursi pesawat, tepatnya di samping Black. Black yang menatap ke jendela, ia membalikkan kepalanya saat mendengar ucapan Langit.
"Maksudnya Bang?" tanya Black kembali.
"Apa kau ada rasa dengan Archer?" Langit bertanya dengan jelas. Membuat Black, terdiam.
"Apa kau tidak mau jujur dengan ku?" Langit bertanya kembali.
"Sebenarnya— aku tidak tahu dengan hal itu."
"Apa maksudnya dengan tidak tahu?" Langit tidak mengerti maksudnya pemuda keturunan Aceh itu.
"Aku tidak tahu, tapi—" Terpotong oleh Langit. "Tapi?"
"Tapi apa ya?" Black seperti berfikir, sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Masalah umur Bang, aku masih labil tentang semua itu. Aku tidak bisa membedakan ini cinta atau cuma, karena aku dekat dengan Archer jadi aku nyaman atau apalah. Aku benar-benar tidak tahu dengan semua ini." Black, pemuda Aceh itu. Tidak mudah menyimpulkan. Jika itu tentang rasa, dia bener-benar harus hati-hati takut salah. Yang ada malah mainin hati anak orang.
Langit mengangguk paham, dia suka dengan Black yang mau terus terang dengannya.
"Kenapa Abang, bertanya seperti ini?"
Langit yang mendengar hal itu, dia sedikit tercengang. Karena dia tidak akan bilang, jika adiknya yang mencintai pemuda keturunan Aceh.
"Tidak! Aku hanya berpikir, jika salah satu dari si kembar bersamamu. Itu lebih baik untuk kedepannya, karena sudah saling kenal dan keluarga juga dekat!" Langit memperbaiki posisinya.
"Kenapa Abang, bicara begitu! Emang apa yang membuat Abang yakin denganku?" Black bicara ingin mencari tahu.
"Aku sangat mengenalmu, jadi aku yakin dengan mu."
"Kau tahu Bang? Aku itu berusaha sama seperti Abang. Entah itu masalah kerja, kuliah bahkan cinta. Aku ingin bekerja keras seperti Abang. Aku ingin kuliah yang sungguh-sungguh, fokus untuk menata masa depan. Dan aku juga ingin menyikapi masalah cinta dengan santai. Tidak terlalu dekat dengan wanita, tidak suka menghabiskan masa muda untuk hura-hura, nongkrong atau pacaran yang tidak ada gunanya. Aku ingin seperti Abang, bahkan masalah cinta. Aku tidak pernah lihat, Abang berganti wanita. Pertama kali, saat Abang mengajak teh Cahaya ke rumah. Aku sedikit terkejut, siapa wanita yang diajak ke rumah waktu itu! Ternyata." Black terkekeh sejenak. "Calon istrinya. Bahkan aku tak tahu siapa cinta pertama Abang. Boleh aku tau namanya Bang? Siapa dia, teman SMA, atau orang Singapur?" Black tersenyum menggoda.
"Aku tidak akan memberi tahu mu Black!" Langit menjawab dengan cepat.
"Ah ... baiklah." Black mengangguk. "Tapi apa, teh Cahaya tahu?" tanya Black lagi.
"Dia tahu, malahan dia yang ingin mendengarkan kisah cintaku itu. Ya— meskipun dia menahan kesal, karena cemburu." Langit menggeleng, jika mengingat kejadian berapa bulan lalu.
Black yang mendengar dia tertawa, ngakak. Dia membayangkan bagaimana wajah Cahaya yang sebal karena menahan cemburu.
"Tapi, apa Abang tahu, siapa cinta pertama teh Cahaya?" tanya Black, mungkin saja pasangan itu saling memberi tahu.
Langit terdiam, dia tak tahu karena istrinya tidak pernah membahas masa lalunya kepada dia.
"Entahlah, aku tidak pernah mendengar dia bicara tentang lelaki lain."
"Hem!" Black mengangguk.
Setelah itu mereka terdiam, tidak ada pembicaraan lagi.
"Ah ... Bang! Aku punya rencana untuk buat teteh kesal!" Black angkat bicara. Langit melirik Black, dengan dahi berkerut.
"Maksudnya?" tanya Langit tak mengerti.
"Dengan ini," ujar Black mengeluarkan sesuatu. Langit membulatkan matanya.
"Kau rokok Black?" Langit menatap tajam pemuda yang duduk di sampingnya.
Black yang dapat tatapan seperti itu, menelan ludahnya dengan susah payah.
__ADS_1
"Ti-tidak, ini aku ambil dari meja kerja posisi yang tadi. Aku sangat kesal, karena dia mengatai ku, muka-muka pecandu narkoba. Aku rasa, dia akan mencari rokoknya ini." Black tersenyum miring, sepertinya Black masih tidak terima. Saat polisi itu, memanggilnya dengan muka-muka pecandu narkoba.
"Kau mencuri?" tanya Langit tidak percaya.
"Tidak, aku hanya ingin membuat otak polisi tadi bekerja saja."
"Apa maksudnya?"
"Aku hanya ingin melatih, otak polisi itu bekerja. Jika saja, aku tak mengambil rokok itu, pasti otaknya sedang istirahat sekarang. Tapi karena aku ingin, melatih daya ingat yang ada di otaknya. Aku memutuskan untuk, mengambil rokok ini. Aku yakin sekarang dia akan mencoba mengingat-ingat dimana dia meletakkan rokoknya, atau malah dia akan mengingat jika rokoknya sudah habis." Black tersenyum puas. Sedangkan Langit terbengong, karena logika yang Black berikan.
"Gimana Abang, mau enggak ngerjain teteh?"
"Emang kenapa dengan rokok, apa yang kamu ketahui tentang dia dan rokok?" tanya Langit ingin tahu tentang istrinya, yang belum ia ketahui.
"Teteh, tidak suka dengan lelaki yang merokok. Tapi dia lebih tidak suka dengan lelaki yang selingkuh."
"Terus, apa maksudnya? Kau ingin aku rokok? Itu tidak akan! Apa kau ingin aku bertengkar dengan dia? Karena kekonyolan mu ini!" Langit mendengus sebal, karena ide gila Black.
"Tidak! Aku tidak meminta Abang, untuk merokok. Hanya taruh aja di kamar, nanti teteh, akan tahu. Dan acara mengerjai teteh, berhasil." Black menaik turunkan alisnya.
"Tidak, aku tidak mau. Dia sedang mengandung, dan aku tidak mau dapat amuk kan!" jawaban Langit, membuat Black kecewa.
Mereka sudah keluar dari Bandara, kedua pemuda itu memutuskan untuk mencari taksi. Setelah itu, mereka masuk untuk ke rumah Raharja.
"Black, istirahat di rumah kakek dahulu. Nanti malam, aku akan mengantarmu."
Black menyetujui saja. Saat Langit, memejamkan matanya. Black tersenyum tipis, pemuda keturunan Aceh itu. Memasukan sesuatu kesaku jaket Langit.
Setelah hampir, berapa menit di dalam taksi. Mereka keluar, karena telah sampai. Kedua pemuda itu, berjalan kearah rumah Raharja. Si kembar yang ada di teras, mengerutkan dahi. Karena melihat kedua pemuda itu, sedang membawa koper dan ransel.
"Si Hitam, kenapa dia ada di sini?" Archer bertanya.
"Kang Mas, dari mana dicariin teteh, dari tadi pagi enggak ada?" Archer bertanya kepada Langit. Langit segera masuk kedalam rumah, agar segera bertemu dengan istrinya. Seharian itu, dia meninggalkan istrinya tanpa kabar. Sedangkan Black tersenyum, membayangkan sesuatu. Archer yang melihat hal itu mengerutkan dahi.
"Tam, kenapa kau membawa koper dan ransel. Sudah kayak orang pindahan saja." Archer bicara sambil meletakkan kedua tangan di dada.
"Terserah gua dong Markoneng! Mau, gua pindah atau enggak itu urusan ae." Black bicara sangat menyebalkan.
"Nama gua bukan Markoneng! Utun!" jawab Archer.
"Ya sudah, mau pilih yang mana Marko atau Neng! Harusnya lu, bersyukur gua gabungin. Eh ... malah enggak mau. Arche, saja iri," ujar Black, sambil melirik Arche. Membuat Arche terkekeh geli, karena Black suka membuat adiknya sebal.
"Bener Kak? Apa yang si Hitam Utun, katakan?" tanya Archer.
"Tidak, aku tidak perlu panggil kesayangan dari Black. Marko!" Arche menahan tawanya. Sedangkan Archer, menahan kesal karena dipanggil dengan nama lelaki.
"Semua ini gara-gara kau Black!" Archer meninggalkan kedua orang itu. Archer memutuskan untuk masuk ke dalam rumah
Sedangkan Black menggelengkan kepalanya.
"Masuklah Black!" Arche menyuruh sahabatnya itu masuk.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau membawa semua berang mu ini?" tanya Arche, sambil menarik koper milik Black.
"Aku akan pindah, kuliah Ar!"
"Pindah? Apa aku tak salah dengar! Bukannya belum ada setahun kau kuliah?" tanya Arche yang berjalan beriringan dengan Black.
__ADS_1
"Semua ini, gara-gara tadi malam nongkrong."
"Duduklah Black!" ujar Arche menyuruh Black duduk karena telah sampai di ruang keluarga.
"Maksudnya, gimana? Emang ada masalah dengan nongkrong?" Arche duduk di sebrang Black.
Sedangkan Archer, membawa nampan yang berisi tiga gelas.
"Minum Tam!" ujar Archer, meletakkan gelas di depan Black.
"Makasih!" jawab Black.
Sedangkan Archer memutuskan duduk di samping kakaknya.
"Enggak ada masalah mengenai nongkrong Ar! Tapi masalahnya, dengan siapa kita nongkrong," ujar Black sambil minum.
"Maksudnya Tam?"
"Tadi malam, gua itu sangat lelah. Kebetulan, tadi malam kan malam minggu. Jadi gua libur kerja, nah teman kuliah gua itu selalu ngatain gua, yang sok alim lah, enggak pernah mau di ajak nongkrong atau apalah. Ya sudah, dari pada dikatain terus. Ya, gua mencoba untuk ikut gabung ngumpul. Belum gua, masuk kos-kosan teman gua. Ada lelaki sedang berdiri di depan kos-kosan teman gua. Gua kira dia itu temennya temen gua, ternyata dia polisi yang nyamar."
"Terus!" Arche bersuara.
"Sebelum gua masuk dia tanya ke gua. Lu mau ikut gabung juga ya bro? Tanyanya sok akrab banget. Lah gua yang belum tahu, kalau dia itu polisi gua jawab dengan gaya gua."
"Pasti lu sok ganteng ye kan?" sahut Archer.
"Kok tau si Marko!" jawab Black tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
"Terusin Black, gimana gaya lu!" Arche tak sabar menunggu cerita dari sahabatnya itu.
"Gini nih, gua angkat kemeja gua, biar gaul gitukan. Terus gua bilang gini. 'Lu enggak tahu siapa gua?' Tanya gua nyolot kan Ar! Malam itu, terus dia tanya balik. 'Emang lu siapa?' Gua jawab dong. " Gua, lu benaran enggak tahu gua? Gua ini ketua disini. Itu mengapa gua telat. Karena ketua itu ditunggu bukan menunggu' Sikat cerita gua masuk, gua belum juga duduk. Pintu kos-kosan ada yang buka. Gua kira itu, teman datang kan. Ternyata—" Black menggelengkan kepalanya. Sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "ANGKAT TANGAN!' Dan posisi, pistol itu tepat dibelakang kepala gua. Gua langsung, angkat tangan, kemudian beringsut." Dan lebih parahnya lagi Marko! Orang yang tanya gua, sebelum gua masuk ke kosan itu. Bilang begini. 'Lapor Ndan, dia adalah ketuanya' Wah benar-benar, nyesel banget gua bilang kalau gua ketua!"
Si kembar ingin tertawa karena cerita Black.
Arche bicara. "Kok kalau gua lihat, dari segi lu bercerita itu seperti acara pengrebekan narkoba ya? Enggak mungkin prostitusi, karena beda banget!"
"Bener banget, makanya aku panggil abang— buat jemput."
Dilantai dua Langit baru saja sampai, saat ada di depan pintu kamarnya dia tersenyum. Karena ingin menemui istrinya dan berbicara dengan bayi yang ada di kandungan istrinya. Namun saat, dia memegang gagang pintu. Seolah tidak bisa dibuka. Sepertinya sang istri mengunci dari dalam.
"Tidak seperti biasanya, kenapa dia mencucinya," gumamnya pelan.
Pemuda itu membuang napas kasar, karena istrinya. Tidak pernah mengunci pintu kamar, jika dia tidak ada di dalam kamar.
Tok... tok... Langit mengetuk pintu, tapi tidak ada sautan.
Tiga kali pemuda itu mengetuk pintu, istrinya belum mau jawab. Hingga ketukan ke lima.
"Siapa?" tanya dari dalam kamar.
"Masnya, bukain dong!" Langit bicara, sambil mengetuk pintu.
Setelah itu Langit, tidak mendengar suara milik pujaan hatinya itu. Pemuda itu, berpikir jika Cahaya akan membuka kan pintu untuknya. Namun setelah dua menit menunggu. Langit mencoba membuka pintu itu kembali, tapi masih terkunci.
"Kok enggak dibuka sih? Aku mau masuk ini!" Langit mengetuk pintu itu.
"Ayo buka pintunya, kau marah padaku?" tanya pemuda itu, sambil menyandarkan badannya di pintu.
__ADS_1
Cahaya yang ada di dalam kamar, dia mengumpat suaminya.
Dari mana saja, jam segini baru pulang. Katanya kalau minggu, me time hanya untukmu. Tapi apa, dia malah enggak pulang sampai sore. Dasar pembohongan. Cahaya bersandar di kepala ranjang.