Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Tak Ada Kata Sayang.


__ADS_3

Memasuki tahun kelima pernikahan Cahaya dan Langit masih belum juga dikaruniai anak oleh Sang Pencipta. Langit sudah keluar dari perusahaan karena kontraknya telah selesai. Pemuda itu, tidak berniat untuk menjabat sebagai dirkeu kembali. Pagi hari itu, di kamar pasangan itu. Nampaknya sangat rusuh, karena barang berserakan dimana-mana.


"Mas, aku tidak bisa menutup koperku!" Cahaya menengok kearah suaminya.


Langit berjalan mendekati istrinya, untuk membantu menutup koper itu.


"Coba bajunya dilipat yang rapi, enggak kayak gini acak-acak kan!" Pemuda itu kembali ke tempat semula. Untuk memasukkan bajunya.


"Hih ... kenapa harus dilipat lagi!" gerutu Cahaya, sambil mengeluarkan bajunya kembali.


"Gibril sudah siapkan?" tanya Langit, yang sudah menyelesaikan acara peking baju-baju ke dalam koper.


"Dia hanya menyiapkan diri, masalah baju sudah Arche yang menghandle! Satu koper untuk dia!" Cahaya memasukkan bajunya ke koper, karena dia sudah melipat dengan baik.


"Baguslah kalau begitu!" Langit mengangguk.


"Sebelum ke Bandara kita, mampir ke makam dedek ya?" ajak Cahaya.


"Baiklah, setidaknya kita pamit dulu, sebelum keluar negeri!"


"Kenapa susah, bantu aku menutup koperku!" Cahaya menyuruh suaminya.


"Sana, siap-siap. Aku akan membereskan barang-barang mu." Langit menyuruh istrinya untuk mandi terlebih dahulu.


Cahaya hanya mengikuti perkataan suaminya. Setelah hampir dua jam bersiap. Pasangan itu, sudah ada di lantai bawah.


"Aunty sama Om kapan balik?" Balqis bertanya, umurnya sudah memasuki tuju tahunan.


Cahaya dan Langit saling tatap kemudian menggeleng. Seolah menjawab tidak tahu.


"Lang, enggak solmed banget. Masa kau baru pulang dari Singapura lima tahun, kau kembali lagi ke sana!" Hazel memeluk tubuh Langit.


"Ah ... sepertinya memang takdirku di sana." Langit menepuk pundak Hazel untuk mengakhiri pelukan itu.


"Tapi aku, sangat berat tahu kehilangan kalian." Arche bicara, wanita itu sudah menyelesaikan S1 nya di Bandung.


"Sekarang sudah ada Whatsapp, kita bisa video call jika kangen." Cahaya memeluk Arche dan Archer bergantian.


"Tapi tetep saja, enggak bisa bicara dengan leluasa," celetuk Black, pemuda itu, menjadi lelaki yang dewasa. Dia tidak jadi ambil jurusan Fotografer. Black akan meyelesaikan S2 nya enam bulan lagi. Tentunya jurusan akuntansi.


"Tidak, kita akan pulang saat lebaran," sahut Langit.


"Bu, kita pamit ya?" Cahaya memeluk ibu mertuanya.


Setelah itu dilanjutkan mencium tangan pak Khan dan memeluk Alula. Langit memegang pundak ibunya. "Doain selamat, sampai tujuan ya Bu!" Langit memeluk ibu dan ayahnya berbarengan.


"Kang Mas, enggak ada niatan pindah tempat kan? Maksudnya menjadi warga negara asing?" tanya Abidah Aminah, yang menangis.


"Mungkin saja, tidak!" jawab Langit.


Cahaya mencium tangan kakek Raharja yang duduk di kursi roda.


"Mbah, sehat terus ya? Maafin Aya, kalau belum bisa kasih cicit untuk Mbah!" Cahaya menangis saat bibirnya mencium tangan kakek Raharja.


"Aya, jangan bicara gitu. Biarpun aku tidak bisa melihat cicit ku dari Langit, tapi nanti akan ada saatnya, aku bertemu dengan cicit ku kalau di surga nanti. Aya lupa, ya? Kalau Skystar, juga cicit ku. Aku bisa melihat wajahnya, persis dengan mu! Jadi Aya, sudah memenuhi keinginan kami semua!" Kakek Raharja tersenyum kearah Cahaya.


"Jaga istrimu baik-baik, kalian di sana hanya bertiga!" ujar kakek Raharja, saat Langit berpamitan.


"Ayah, maaf karena Aya egois ninggalin Ayah, saat usia tua! Maaf Ayah!" Cahaya memeluk ayahnya sambil menangis.


"Aya, udah tua! Jangan nangis, kayak anak kecil. Nanti Ayah juga mewek!" Brian memeluk anaknya dengan hangat. Cahaya tertawa karena candaan ayahnya.


"Mi, Pi kita pamit ya? Aku akan kangen dengan mie Aceh buatan Mami, yang tidak ada duanya!" Cahaya memeluk istrinya Agam Ariaja.


"Makanya, stay di sini kenapa? Pakai pergi segala! Aku akan merindukanmu Cahaya!" Istrinya Agam Ariaja mengelap matanya, yang ingin menetes.


"Aku juga, akan merindukan kalian!"


Langit memeluk Agam Ariaja dengan hangat.


"Lang, kenapa hari ini terjadi lagi? Dulu saat kamu dan Mentari ke Singapura untuk belajar. Sekarang kamu pergi dengan istrimu, kenapa kamu kok sepertinya enggak betah di negara kelahiran mu ini?" Agam Ariaja sangat sedih jika harus jauh dari Langit. Agam Ariaja tidak pernah membedakan cintanya dengan Black untuk Langit.


Cantik gadis berwajah bulat itu, sudah dewasa umurnya kurang lebih sudah sepuluh tahun. Tingginya sebatas bahu Cahaya. Gadis berwajah bulat itu, hanya diam melihat perpisahan itu.


Langit dan Cahaya tahu, jika Cantik marah kepada mereka, karena meniggalkan dia. Pasangan itu mendekati Cantik, namun gadis berwajah bulat itu ingin berlari. Segera Langit menarik tangan Cantik dan memeluknya. Cantik menangis di pelukan om Dosennya itu. Cahaya juga memeluk Cantik. Akhirnya mereka bertiga pelukan.


"Kenapa Om Dosen sama Akak, ninggalin aku huuuu?"


"Cantik, sayang! Kita enggak ninggalin Cantik. Kita masih bisa bertemu kok!" Cahaya menghibur, agar Cantik tidak bersedih.


"Iya, Om sama Akak! Selalu bersama Cantik, jangan nangis sudah mau Tsanawi juga!" ujar Langit, mengelus kepala Cantik lembut.


"Om itu, emang kalau mau Tsanawi enggak boleh gitu nangis?" protes Cantik.


"Boleh sih, tapikan malu-maluin istilah sudah besar. Sudah tahu, cowok kan?" tanya Langit menggoda.


"Ya Allah, aku umur lima tahun juga sudah bisa membedakan mana cewek mana cowok!" jawaban Cantik membuat semua terkekeh.


Cahaya dan Langit sudah ada di mobil, stelah berpamitan dengan keluarga besar. Mobil itu meninggalkan gerbang kediaman Raharja.


"Kita jemput Gibril dulu ya Kak!" perintah Cahaya kepada Jo.


"Stelah itu kita ke makam!" sahut Langit.


Mobil itu membelah jalan, hingga berhenti di depan kafe.


"Cepat masuk Gib!" perintah Cahaya yang ada di dalam mobil. Gibril segera duduk di kursi depan. Mobil itu terus melaju membelah jalan. Hingga sampai di pemakaman.


Cahaya dan Langit sudah duduk di samping pusara bayinya.


"Assalamu'alaikum, dek! Maaf ya, jika Bunda dan Papa enggak bisa sering kemari. Karena kami akan pergi ke negara tetangga. Tapi dimana pun kami berada, dedek selalu ada di hari kami!" Cahaya menangis sambil mencium batu nisan anaknya.


"Kami pamit ya dek, semoga kita bisa nyempetin berkunjung ke makam dedek. Kalau kita pulang ke negara ini!" Langit juga mengelus nisan anaknya sambil mencium.


Gibril yang melihat hal itu, dia juga merasakan kesedihan. Ketiga orang itu telah meniggalkan makam anaknya. Tak terasa mereka sudah ada di bandara internasional Soekarno-Hatta. Kelima koper itu turun dari mobil.


"Gib, aku akan mempertemukan kamu dengan seseorang."


"Siapa?"


"Kau akan tahu," ujar Langit, menyeret kedua koper di tangannya.


"Om Tinggi, main rahasia-rahasian!"


Mata Gibril, menatap Cahaya yang kesusahan karena membawa dua koper.


"Biar aku saja, yang bawa. Kakak Baik, bawa satu saja!" Gibril merebut koper dari tangan Cahaya.


Cahaya tersenyum Gibril sangat perhatian. Mereka pun berjalan beriringan. Lima belas menit lagi, pesawat akan segera teke-off. Setelah hampir dua jaman di pesawat akhirnya mereka sampai di negeri singa.

__ADS_1


"Kita, ke toko dulu ya?" Langit memberi tahu.


Cahaya dan Gibril mengangguk setuju.


Mereka harus menaiki transportasi umum. Mereka turun dari MRT, setelah beberapa menit perjalanan. Akhirnya mereka sudah ada di toko yang sangat besar.


Langit menyuruh mereka masuk, dalam toko itu sosok lelaki menghampiri Langit.


"Wah ... kenapa awak tidak beritahu saya?" tanya rekan Langit.


Di Singapura itu ada empat bahasa yang digunakan yakni Inggris, Mandarin, Tamil dan Melayu. Sementara untuk bahasa nasionalnya adalah bahasa Melayu.


"Sebuah kejutan!" Langit tersenyum.


Lelaki itu menatap Cahaya, kemudian Gibril. Saat menatap Gibril, matanya tidak percaya.


"Siapa wanita ini? Lalu, budak ini! Kenapa wajahnya kelihatan sama—" ucapnya tak di selesaikan, saat menatap wajah Gibri.


"Dia istriku, dan bocah lelaki ini dia Gibril!" Cahaya tersenyum, saat suaminya memperkenalkan dia dengan rekan kuliah Langit.


"Bagaimana kabar dia sekarang?" Langit bertanya.


Lelaki itu menggeleng kepala.


"Dia sedang sekarat, kerana dia minum setiap hari. Dia marah kerana, wanita yang telah dicemari tiga belas tahun lalu. Dia mencarinya, tetapi tidak dapat menemui wanita itu."


Langit mengangguk paham.


"Aku akan menemui dia!"


"Gunakan kendaraan saya!"


Langit pun menyetujui, ketiga orang itu naik mobil. Langit sangat hapal dengan jalan itu. Mobil itu berhenti di depan apartemen. Langit menyuruh Cahaya dan Gibril mengikuti dia.


Langit sudah ada di depan pintu apartemen. Langit mengetuk pintu itu, dan ada seseorang yang membukanya.


"Dimana dia, Se!" tanya Langit.


"Ada di kamar." Langit segera masuk, Cahaya dan Gibril hanya mengikuti dari belakang.


Setelah ada di dalam kamar Langit duduk di samping temannya itu.


"Mike!" Kondisi Mike sangat memprihatinkan.


Mike tersenyum kearah Langit. Cahaya dan Gibril baru masuk. Cahaya terkejut saat melihat wajah Mike, yang sama dengan Gibril. Gibril apa lagi, bocah itu mundur satu langkah. Saat melihat wajah Mike.


Mike melirik kearah Cahaya, kemudian kearah Gibril. Mike sangat terkejut karena wajah Gibril yang mirip dengan dia.


"Bung-a dan di-a kenapa wa-jahnya!" Mike menunjuk Gibril.


"Dia bukan Bunga dia istriku, kau lupa jika Bunga sudah meninggal?" jawab Langit. Bunga yang dimaksud Mike adalah Mentari.


Cahaya sepertinya memikirkan sesuatu. Sedangkan Gibril menyembunyikan badannya, di belakang Cahaya.


"Apa dia anakmu Mike?" tanya Langit memastikan.


Mike tidak menjawab, lelaki itu tidak tahu lagi harus jawab apa.


"Mike, tidak mungkin kau tidak ingat sesuatu!"


"Aku sering berganti wanita setiap malam. Tapi tiga belas tahun yang lalu, aku menyeret seorang wanita. Dia adalah wanita penghibur. Saat aku mabuk berat. aku menodainya. Saat aku terbangun, aku tahu jika wanita itu masih gadis. Dan waktu aku terbangun. Aku tak mendapati dia di sampingku. Tapi aku, mendapatkan fotonya, yang jatuh di tempat kita menghabiskan malam bersama." Mike mecari sesuatu, dibawah bantal dalam kondisi lemah.


"Fo-to!"


Langit yang mendengar hal itu, segera merogoh bantal yang digunakan Mike untuk tidur. Langit menemukan sesuatu, dia segera menarik tangannya. Sebuah kertas kecil kisaran tiga kali tiga. Perlahan Langit membuka kertas itu, di samping istrinya.


"Bu Asya! Mbak Asya!" Pasangan itu terkejut. Cahaya jadi teringat saat Asya bercerita tentang masa lalunya.


Bukanya kata mbak Asya, anaknya meninggal saat di lahir kan? Tapi tunggu, katanya keluarganya sangat membenci mbak Asya! Aku rasa, mereka menyembunyikan kebenaran dari mbak Asya. Mereka bohong, mereka bilang, jika bayinya mati. Padahal mereka membuangnya. Batin Cahaya, sangat geregetan dengan keluarga Asya.


"Ka-lian ke-nal?" Mike bertanya dengan susah payah.


"Dia adalah rekan kerjaku!"


"Sam-paikan ma-af -ku pa-da-nya!"


"Dia sudah meninggal!" Langit bicara datar.


"Aa-apa a-aku -ti- dak- per-caya -de-ngan- semua i—ni!"


"Ar-kana si-apa namanya?" Mike menunjuk kearah Gibril. Sedang ngumpet di belakang Cahaya.


"Namanya Gibril, dia tidak pernah ketemu dengan ibunya sebelumnya. Dan untuk nama itu, istriku yang memberikan nama. Dia tinggal di jalanan, itulah kebenarannya!"


"Ap-a di-a ma-lu ja-di dia me-mbu-ang-nya?" Mike mengeluarkan air mata.


"Tidak, kenyataannya tidak seperti itu. Kenyataanya mbak Asya, tahunya jika anaknya mati!" sahut Cahaya.


Mike yang mendengar hal itu, dia lebih terkejut. Cahaya mulai menceritakan semua kebenarannya tanpa yang tertinggal.


"Ar-kana to-long ja-ga dia un-tuk-ku. Aku-ti-dak bi-sa ber-sama-nya." Langit yang mendengar hal itu dia hanya mengangguk.


"An-nak-ku men-dekat-lah!" Gibril yang mendengar hal itu, dia menggeleng takut.


Tapi Cahaya, wanita itu memegang pundak Gibril. Dan menuntun nya kearah Mike yang berbaring.


Gibril terdiam saat ada didekat ayah kandungnya.


"Ma-af-kan aku!" ujarnya, sambil menangis dan mencium tangan Gibril.


Cahaya membisikkan sesuatu di telinga Gibril. Gibril tidak pernah bisa menolak, permintaan dari Cahaya.


"I-ya A-yah!" Gibril membuat Mike tersenyum, karena panggilan itu.


"Ar-kana be-ri-kan an-nak-ku id-en-ti-tas!" Mike memohon.


"Akan aku lakukan, karena kebaikan mu dulu pada ku!"


Mike menarik napas panjang, dadanya sangat sesak.


"Ar-kana a- ku-per-nahmengu-cap sya-hadat! Se-ka-rang tun-tun a-ku!"


Langit yang mendengar hal itu dia terkejut.


"Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah." Dengan tertatih Mike membaca syahadat. Setelah itu dia menghembuskan napas terakhir.


Sore harinya Cahaya dan Langit sudah ada di rumah mereka. Yang dibeli berapa tahun yang lalu. Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga. Cahaya duduk di samping suaminya. Sedangkan Gibril duduk di sebrang, sambil tiduran di sofa. Dan memainkan remote.


"Gibril, kapan kau memanggilku Bunda?" tanya Cahaya, sambil tiduran di pangkuan suaminya.

__ADS_1


"Tunggu nanti, kalau Kakak Baik sudah punya baby!" jawab Gibril, sambil mengganti saluran televisi.


"Kenapa begitu?" Cahaya bertanya, apa alasan Gibril enggak mau memanggilnya dengan panggilan itu.


"Aku hanya ingin Kakak Baik, dipanggil Bunda dari baby nya Kakak baik nanti! Untuk yang pertama kali. Stelah itu aku akan memanggil Kakak Baik,dengan panggilan Bunda!"


"Tapi kalau nanti, Kakak Baik, lama punya baby nya gimana?" tanya Cahaya.


"Aku akan memanggil Bunda, sebulan kita di sini. Tapi kalau Kakak Baik sudah mengandung, nunggu baby lahir, baru manggil Bunda!" Gibril memperbaiki posisinya.


"Kau, nanti malam tidur bersama kami ya?" tanya Cahaya.


"Enggak mau, aku sudah besar. Emang mau aku ganggu?" Gibril tidak mengucapkan ucapannya.


"Ganggu apa?"


"Tanya saja, sama Om Tinggi!"


"Hey .. aku dari tadi diam." Langit tidak terima.


Satu bulan setengah mereka ada di Singapura. Kegiatan Cahaya hanya mengajari Gibril belajar. Jika Gibril sekolah dia akan membersihkan rumah. Sedangkan Langit, pemuda itu selalu ada di toko. Karena rekannya sedang sakit. Cahaya sedang asik membersihkan rumah, tapi badannya terasa lemah. Cahaya memutuskan untuk duduk di sofa.


"Kenapa beberapa minggu ini, badanku sering kelelahan ya?" Cahaya bertanya kepada dirinya sediri.


Malam harinya mereka sudah ada ruang makan, Cahaya menyiapkan makanan untuk kedua lelaki itu. Tapi saat mau berdiri, tubuh Cahaya tumbang. Untungnya Langit lekas berdiri, dan menahan tubuh Cahaya.


"Om Tinggi, aku akan memanggil dokter samping rumah. Om Tinggi bawa Kakak Baik ke kamar!" Gibril berlari kearah keluar.


Hampir tiga puluh menit, Gibril kembali ke rumah. Bersama dokter yang rumahnya ada di sebelah rumah mereka. Dokter itu mulai mengecek, kesehatan Cahaya.


"Hal ini sangat wajar, bagi wanita yang hamil muda." Cahaya dan Langit yang mendengar hal itu, dia terkejut.


Hadiah dari Tuhan, datang secara bersamaan. Pertama mereka mendapatkan anak angkat seperti Gibril dan yang kedua mereka akan menjadi orang tua untuk anak kandung mereka. Sungguh Tuhan, penuh dengan kejutan. Untuk hambaNya yang sabar, dalam menghadapi ujian.


"Beneran dok? Saya hamil?" tanya Cahaya memastikan.


Dokter itu mengangguk pelan.


Gibril sangat bersyukur karena dia akan mendapatkan adik.


Sembilan bulan, kemudian. Kandungan Cahaya, sudah saatnya melahirkan. Nunggu sepuluh hari lagi perkiraan dokter. Di kandungan yang kedua Cahaya dan Langit tidak terlalu, seheboh saat pertama dulu. Tapi untuk, nyidam masih sama seperti dulu. Apa lagi, jika tidak tidur dengan mencium ketiak suaminya.


"MAS!!!! " Cahaya berteriak menahan sakit, sedangkan Langit sedang di ruangan pribadi dengan Gibril.


"MAS!!!! " Cahaya berteriak kembali.


Langit yang sedang mengajari Gibril komputer, dia berlari saat Cahaya berteriak. Gibril mengikuti dari belakang.


Langit berlari kearah istrinya yang kesakitan.


"Aku akan memanggil, dokter sebelah rumah!" Gibril berlari.


Stelah hampir lima belas menit, dokter itu sudah ada di kamar Cahaya.


"Semua maju, kau akan melahirkan sekarang!" Dokter itu bicara yang membuat Cahaya dan Langit shock. Bagaimana mungkin itu terjadi.


Akhirnya setelah beberapa jam, bayi itu sudah keluar. Cahaya melahirkan dengan selamat. Langit selalu di samping istrinya.


"Anaknya cewek!" Dokter itu, memberi bayi itu kepada ayahnya. Langit yang melihat bayinya sehat, dia menitikkan air mata. Langit mengadzani bayinya itu. Cahaya, wanita itu dalam keadaan sadar. Jadi bisa mendengar suara bayinya. Setelah itu, Langit memberikan bayinya untuk di bersihkan.


Malam hari telah tiba, Cahaya bersandar di ranjang. Sedangkan Langit duduk di samping istrinya, sambil menggendong bayinya. Gibril juga ada bersama mereka.


"Siapa namanya?" tanya Cahaya melirik suaminya.


"Arsy Lattif!"


"Panggilannya?"


"Arsy! Kau setuju?" Langit bertanya.


Cahaya mengangguk setuju.


"Artinya apa?" tanya Gibril.


"Arsy adalah Arsy hanya Allah yang memiliki. Sedangkan Latif aku ambil dari nama-nama Allah, yang artinya Maha Lembut. Aku harap dia akan menjadi pribadi yang lembut!" Langit menatap bayinya yang ada di gendongnya. Wajah Arsy persis dengan ayahnya itu.


"Kita kabari keluarga dulu." Cahaya mengambil ponsel keluaran terbaru. Cahaya melakukan video call dengan semua.


"Assalamu'alaikum!" salam dari Cahaya, sambil memperlihatkan suaminya yang menggendong Arsy.


"Wa'alaikumussalam!" Kebetulan mereka pada ngumpul.


"Kapan pulang, nenek sudah tidak sabar menggendong cucu baru!" Abidah Aminah.


"Iya, Kakek juga! Cepat pulang ya?" Pak Khan tak mau kalah.


"Nanti kalau bayinya umur satu tahun!" jawab Cahaya menatap suaminya.


"Wah ... lama dong!" Arche menyahut.


"Sabar, kalau kau nikah kita langsung pulang loh!" celetuk Langit, yang membuat keluarga tertawa.


"Cicit, Mbah buyut wajahnya mana? Kok enggak kelihatan."


"Kayak Papanya, Mbah buyut. Mbah sehat terus, nanti biar bertemu cicitnya!" jawab Cahaya.


"Lang, congrats buat semua! Lekas kembali ke negara asal mu!" Hazel memberi selamat, Hazel sangat bahagia. Karena dia tahu, bagaimana Langit selalu bercerita tentang istrinya yang selalu beli tespek tapi enggak ada yang positif.


"Namnya siapa tuh!" Archer dan Alula barengan.


Cahaya tertawa karena mereka.


"Arsy Lattif!"


Setelah itu pembicaraan telah selesai. Langit dan Cahaya memutuskan untuk menjadi warga negara asing. Semua keluarga sebenarnya tidak setuju, tapi mereka juga menyerahkan ke pasangan itu kembali. Dan keluarga juga sudah memberikan izin, jika mereka mengadopsi Gibril. Akhirnya keluarga Cahaya dan Langit menemukan kebahagiaan di tahun kelima lebih pernikahan.


"Terima kasih Allah, telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga ku!" Langit sangat bersyukur dengan rahmat yang Allah kasih.


Langit mencium kening Cahaya.


"Aku mencintaimu!"


"Aku juga Papanya, Arsy!" Cahaya mencium pipi suaminya.


"Inilah ceritaku dan istriku. Dari awal bertemu, sampai mempunyai anak. Sampai jumpa kembali dilain waktu!" Langit mengakhiri perjalanan, cintanya dengan istrinya itu.


"Dan aku tidak pernah bilang sayang kepada dia. Dan dia juga tidak pernah bilang sayang padaku!"


...Tamat....

__ADS_1


__ADS_2