
Pasangan baru itu baru saja selesai sholat subuh, tepatnya di ruangan mushola dekat kamar tamu. Agam Ariaja, yang menjadi imam untuk kelima orang itu. Semua kembali ke kamar masing-masing.
"Aku akan ke bawah bantu, mami, masak!" Cahaya berucap sambil menutup pintu.
Sesampainya di dapur, wanita itu langsung membantu istrinya Agam Ariaja.
"Oh ...ya Mi, kalau boleh tahu, kenapa waktu itu Mami, kasih bukunya mbak Mentari kepada ku?" Cahaya bertanya, sambil memotong ikan laut, yang agak besar.
"Sebelum dia pergi, dia bilang kepada Mami, agar memberikan buku itu, ke istrinya Abang!" Istri Agam Ariaja, berbicara sambil nyalain kompor.
"Oh..." Cahaya hanya mengangguk.
"Dan dia pernah bilang hanya istri Abang saja, yang bisa membantunya ...menyelesaikan masalah yang ada."
" Mami enggak tahu, tentang apa ...karena Mami enggak pernah baca buku itu," ujarnya kembali, yang membuat Cahaya mengerutkan dahi.
"Oh ...semoga saja aku bisa membantu mbak Mentari." Cahaya sedikit bingung, sebenarnya masalah apa yang Mentari maksud.
Jarum jam ada di tengah-tengah angka tujuh. Cahaya kembali ke kamar untuk melihat suaminya.
"Loh ...kok belum mandi ...nanti telat ke kantor loh." Cahaya berbicara, sambil menata ranjang itu.
"Kantornya sangat dekat, jika dari sini, jadi aku bisa nyantai dulu."
Langit pergi ke balkon menikmati mentari pagi itu. Cahaya berjalan kearah suaminya dan berdiri di samping suaminya itu. Mereka jarang punya waktu untuk pagi hari. Hanya sekedar memandang mentari yang menyinari dunia.
"Apa aku boleh bertanya?" Cahaya mengawali pembicaraan dengan suaminya.
Langit melirik kearah istrinya, kemudian menatap langit biru.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" ujarnya, sambil menyilang kan kedua tangannya di dada.
"Apa ada niatan poligami?" Tubuh Cahaya bergetar saat bertanya tentang itu.
Wanita itu, tidak sekuat wanita yang lain yang rela dipoligami. Cahaya tidak akan bisa berbagi cinta.
Langit tersenyum tipis, Cahaya yang melihat hal itu. Beranggapan jika suaminya akan benar-benar melakukan hal itu.
"Mungkin... " Cahaya yang mendengar hal itu ingin angkat bicara, tapi Langit segera memotongnya.
"Mungkin ...jika aku bisa ...aku bisa adil untuk membagi waktu ...tapi aku tidak akan bisa adil untuk membagi cinta..." Langit tersenyum tipis, dia pagi itu bisa membuat istrinya tersenyum di hati.
"Takutnya kamu yang kebanyakan aku kasih cinta." Pagi itu Langit, bisa menggoda istrinya disaksikan mentari.
"Emang sudah jatuh cinta?" tanya Cahaya, yang tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
"Aku enggak mau jatuh cinta, aku maunya bangun bahtera rumah tangga saja."
"Jawab iya apa enggak?" Cahaya menggelitik pinggang suaminya.
"Sudah aku jawab, dalam hati ...kamu nya enggak tahu."
"Jawab enggak." Cahaya mencubit lengan suaminya.
"Jawabannya mudah, coba tanyakan ke hatimu, jika hatimu sudah mencintaiku ... maka hatiku pun sama jawabannya dengan hatimu." Langit sangat suka menggoda istrinya.
Cahaya tidak percaya jika suaminya punya sifat seperti itu.
"Hayo katanya waktu malam takbiran, kalau udah jatuh cinta mau terus terang, mana buktinya. Omong kosong ih... Masnya." Wajahnya di cemberut-cemberutin agar apa, juga tidak tahu.
"Bukanya kamu juga ...siapa yang waktu malam takbiran bilang siap buat—" Cahaya memotong ucapan suaminya.
"Iya-iya."
Langit yang mendengar hal itu tersenyum tipis.
"Sebentar lagi cinta itu akan ada dalam hatiku dan saat itu juga ...kau juga mencintaiku. Aku tahu, kau belum mencintai aku sepenuhnya ...maka kita harus meyakinkan diri kita ...jika kau adalah yang terbaik untukku ...pun denganmu juga harus percaya jika Tuhan mengirimkan aku hanya untukmu seorang. " Langit menoel dagu istrinya, kemudian berjalan masuk kamar.
Cahaya yang tidak pernah pacaran di gitukan langsung meleleh. Senyuman di bibirnya tidak pudar sedikit pun.
Langit sudah siap berangkat ke kantor. Cahaya membantu memakai dasi. Langit berpikir, ceramah untuk dia pagi itu akan tetap sama seperti hari-hari biasa.
__ADS_1
Namun pemuda itu salah besar, istrinya sudah punya ceramah yang baru.
"Enggak semua orang di tempat kerjamu itu. Teman! Jadi, kerja, ambil gaji, pulang."
Langit yang mendengar ceramah pagi itu bisa memahami.
"Enggak boleh ramah berarti?" goda Langit sambil tersenyum.
"Sudah pindah, terlalu sok kenal juga enggak baik. Apa lagi beda jenis."
Cahaya yang mau keluar kamar tangannya ditarik suaminya. Langit mencakup wajah istrinya itu.
"Tatap mataku, jangan pernah pejamkan sedetik pun dan aku minta maaf." Langit berbicara seperti itu membuat jantung Cahaya berdetak kencang.
Perlahan pemuda itu mendekatkan bib*rnya dengan bibir istrinya. Cahaya yang merasakan ada yang menempel di bibirnya dia memutar bola matanya dengan sempurna. Dan Cahaya tidak menutup mata sedetik pun. Sama seperti yang suaminya bilang. Kedua tangan wanita itu mencengkram jas suaminya bagian pinggang. Cahaya menatap mata suaminya dalam, mata yang penuh dengan cinta kasih sayang. Langit masih setia mencium bibir istrinya, matanya menatap mata istrinya yang mengeluarkan air mata membasahi pipi. Jari jempolnya ia gunakan menghapus air mata istrinya. Tapi pemuda itu enggan melepaskan ciuman itu.
"Akak! Om kalian sudah ditunggu." Gadis berwajah bulat itu, membuat pemuda itu melepaskan ciuman itu.
"Iy-iya Can! Akak sama Om akan kebawah." Cahaya berteriak sambil mengusap air mata.
Untungnya gadis berwajah bulat itu, tidak masuk kamar akak sama om Dosen-nya.
Langit sekali lagi memberi pelukan hangat untuk istrinya. Cahaya menerima pelukan itu.
Pelukan dapat merangsang kinerja hormon baik, yaitu oksitosin dan serotonin yang membuat merasa tenang, bahagia, dan menjauhkan perasaan kesepian serta amarah.
"Aku harap kau tidak marah." Langit berucap di sela-sela pelukan dengan istrinya. Cahaya menjawab dengan menggerakkan kepala pertanda dia tidak marah.
"Kita turun sekarang." Langit berjalan keluar kamar.
"Oh ...ya Mas nanti ini barang datang." Cahaya bicara, sambil menuruni anak tangga.
"Apa kau akan ke sana?" tanya pemuda itu, yang berjalan di depan istrinya.
"Aku akan ke sana dengan Cantik, sekalian bertemu sahabat, boleh kan?"
"Terserah kamu, tapi ingat jaga diri."
"Pagi Black." Cahaya tersenyum.
"Akak jangan lupa nanti aku dapat es krim ya?" Cantik masih ingat dengan taruhannya.
"Oke Can, nanti setelah ini kita akan pergi boleh kan Pi? Cantik aku ajak keluar?" Cahaya meminta persetujuan Agam Ariaja.
"Tentu saja Nak, sekalian biar Cantik! Refreshing. Iya kan Can?" tanya Agam Ariaja, sambil memasukkan makanan ke mulut.
"Jeulaih!" Cantik mengangguk.
"Gimana kalau Cut Abang jadi supirnya?" tawaran Black membuat Cantik mengangguk setuju.
"Nanti ada pengajian di masjid, pulanglah sebelum pengajian di mulai aku akan mengajak kalian untuk kajian." Istrinya Agam Ariaja memberi tahu.
"Baiklah Mi!"Cahaya mengangguk.
Cahaya dan Cantik mengantar om Dosen di depan rumah.
"Hati-hati Mas, semoga dipermudah kan urusannya." Cahaya mencium tangan suaminya. Langit mengambil mobil dahulu.
"Hati-hati Om Dosen! Daaaa!" Gadis itu melambaikan tangan kearah om Dosen. Dan Langit pun membalas lambaian tangan itu dari dalam mobil.
"Ayo masuk!" Black sudah siap menjadi supir mereka.
Cahaya masuk di bagian depan, sedangkan gadis itu, lebih memilih duduk di kursi penumpang. Mobil putih itu mulai membelah kota Jakarta.
"Apa yang akan kau lakukan saat kuliah libur?" tanya Cahaya, melirik kearah pemuda keturunan Aceh.
"Aku akan bekerja, mungkin buat biaya kuliah S2."
"Kerja apa, Black?" tanya Cahaya, yang ingin tahu.
"Apa pun itu, penting dapat masukan. Mau jadi kuli pangkul, kuli bangunan atau ngelamar kerja di indomaret cari yang shift malam."
__ADS_1
Cahaya mengangguk pelan. Mobil putih itu berhenti di depan alfamart. Cahaya dan Cantik keluar untuk memberi barang taruhan.
"Cantik mau es krim rasa apa?" Cahaya bertanya, sambil membuka lemari es krim.
"Vanila!"
"Cuman itu?" tanya Cahaya, yang dijawab anggukan kepala.
Mereka keluar dan masuk lagi ke mobil. Mobil putih itu sudah meniggalkan alfamart. Tak terasa mereka sampai di depan ruko lantai dua.
"Kalian ke atas dulu, nanti aku nyusul setelah barang datang." Tanpa di suruh yang kedua kalinya adik-kakak keturunan Aceh itu sudah naik.
Hampir lima menit menunggu, sepertinya mobil box itu akan parkir di depan ruko dua lantai.
"Bu Cahaya?" tanya lelaki, yang baru keluar dari mobil box.
"Iya!" Cahaya mengangguk pelan.
Pak supir mobil box itu, membuka belakang mobil itu. Mengeluarkan barang yang Cahaya pesan. Ada dua orang yang membantu untuk mengeluarkan barang itu.
"Pak sekalian masukin ke dalam ya?" ujar Cahaya, sambil membuka pintu yang terbuat dari kaca.
"Dengan senang hati!" Lelaki itu menjawab.
Hampir dua jam setengah Cahaya berurusan dengan barang-barang itu, akhirnya semua selesai.
"Terima kasih Pak!" Cahaya menjabat tangan orang itu sambil tersenyum.
"Sama-sama semoga kita bisa bekerja sama." Orang itu menerima jabatan tangan Cahaya.
Setelah itu Cahaya mengunci pintu itu dahulu, baru ke atas menemui adik-kakak keturunan Aceh.
"Maaf lama." Cahaya bicara sambil membuka tutup botol.
"Tidak masalah, ngomong-ngomong ini mau di buat kafe?" Black sudah mensurvei tempat itu sebelum Cahaya ke sana.
"Rencananya gitu Black." Cahaya menjawab, sambil meneguk air.
Sedangkan gadis berwajah bulat itu, asik makan jajan yang akak Bubble-nya beliin.
"Harusnya ada lesehan nya Teh, karena anak muda biasanya suka gitu. Itu yang aku rasain kalau nongkrong sama temen." Black memberi saran.
"Bisa diatur Black itu, masukan ke list, hahahaha." Cahaya dan Black tertawa.
"Memang Teteh pengen jadi pengusaha?" tanya Black, sambil makan keripik kentang.
"Ya gitu lah Black, kau pasti tahu menjadi penguasa itu harus siap menghadapi resiko." Cahaya bicara, sambil makan jajan yang dipegang Black. Pemuda keturunan Aceh itu, segera menjauhkan bungkus kripik kentang itu dari Cahaya.
"Pintar ya si Teteh ini."
"Terkadang ada saatnya kita harus jadi orang bodoh." Cahaya meneguk air botol yang tinggal setengah.
"Kenapa harus bodoh, jika bisa jadi orang pintar?" tanya Black, sambil membuka minuman kaleng bersoda.
"Sebagian besar orang pintar sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang bodoh tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha."
"Dan orang yang lebih cepat memulai usaha itu, biasanya lebih siap menghadapi resiko kedepannya." ujar Cahaya lagi.
"Iya, juga ya." Black mengangguk.
"And one more thing, the journey to success is a process(Dan satu lagi, perjalanan menuju kesuksesan adalah sebuah proses)" ujar Cahaya, sambil tersenyum.
"Kesuksesan itu bukan milik orang-orang tertentu, kesuksesan adalah milik Anda, milik saya dan milik siapa saja yang menyadari, menginginkan dan memperjuangkan sepenuh hati.(by: Andrian Wongso)" Black tersenyum saat berbicara seperti itu.
"Hahaha!!! " Mereka berdua tertawa, sedangkan Cantik hanya melihat akak Bubble-nya, setelah itu kakaknya. Membuat ia menggaruk kepalanya, karena tidak paham pembahasannya.
"Oh ...ya Black, nanti ini kita ke kafe dekat rumahmu ya, soalnya aku mau bertemu sahabatku."
"Siap, kebetulan teman ku juga ada di sana katanya." Black berdiri dari duduknya dan mengambil kunci mobil di atas meja.
"Let's go!" Cantik langsung keluar dari ruangan itu. Karena akak Bubble-nya, akan menguncinya kembali.
__ADS_1
"Jangan lari Can, takut jatuh." Cahaya memperingatkan gadis itu.