Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Ketika K-.... Menjadi Kawan


__ADS_3

Di perjalanan menuju kafe dekat rumahnya Agam Ariaja. Sepertinya Black ingin bertanya sesuatu.


"By the way, Teh Cahaya itu tipe cowoknya seperti apa?" tanya Black, sambil fokus nyetir.


"Seperti aku." Cantik men-celetuk membuat Black dan Cahaya tertawa terpingkal-pingkal.


"You are a girl not a boy." Black tertawa ngakak.


"Aku bisa jadi cowok kalau pakai baju cowok," jawaban Cantik membuat semua tertawa.


"Caranya bagaimana?" tanya Black, yang tak habis pikir dengan jawaban adiknya.


"Pakai celana, baju cowok. Nanti rambutnya di gulung ditutup topi." Cantik tertawa karena jawabannya.


"Oh ...my God, dia sangat pintar." desis Cahaya pelan.


"Gimana Teh?" tanya Black, yang ingin tahu.


"Terkadang yang tipe kita banget enggak bisa di miliki ...malah yang enggak tipe-tipe kita biasanya itu untuk kita." Cahaya tersenyum simpul.


"What do you think about men who smoke?" tanya Black lagi.


"Anti, aku enggak terlalu suka dengan pria yang merokok ...aku berpikir jika dia tidak bisa ...love your self ...apa dia bisa mencintai aku?"


Cahaya menatap Black yang sepertinya enggak paham dengan ucapannya.


"Maksudnya gini Black, aku berpikir jika dia saja enggak bisa jaga kesehatannya jaga dirinya sendiri ...apa dia bisa jaga kita? Kalau lu pengen jadi suami gua ya lu ...cintai diri lu dulu ...karena gua butuh lu sampai tua nanti... karena gua maunya hidup bersama lu sampai kakek-nenek... kalau lu rokok lu ...sudah ...ngancurin mimpi gua ...you understand?" tanya Cahaya.


Black mengangguk paham.


"Tapi itu hanya sudut pandang ku, beda dengan sudut pandang orang lain ...dan bukan berarti orang yang merokok itu, tidak bisa memberi cinta yang lebih ke pasangannya ...lebih baik dia merokok daripada selingkuh Black!" Cahaya tertawa, sambil memukul pahanya sendiri.


"I think it's much better." Black membenarkan ucapan Cahaya.


"Bang Arka, masuk kriteria enggak? Maksudnya dia kan enggak rokok."


Cahaya terdiam, hampir semua yang ada di diri suaminya masuk kriteria.


"I'm a boy, I can only say that Bang Arka is a perfect man (Aku yang cowok, saja bisa bilang jika Bang Arka adalah pria sempurna)" Black tertawa sedangkan Cahaya hanya mengangguk.


"Setuju kan Teh?" goda Black sambil melirik Cahaya.


"Kan kamu sudah menilai dengan sudut pandang mu, jadi aku tidak perlu menilai lagi." Cahaya tersenyum menyeringai.


"Sudut pandang kita berbeda hahahaha." Black memukul stir itu pelan .


Mobil putih itu sudah ada di depan kafe. Mereka keluar dari mobil dengan Cantik yang di gandeng Cahaya.


"Bro!!! Kita disini!" teriak pemuda seumuran Black.


Cahaya pun hanya mengikuti Black dari belakang, karena sahabatnya belum datang.


Black dan teman-temannya berjabat tangan ala anak muda. Cahaya tersenyum kearah mereka dan berjabat tangan.


"Siapa dia bro?" tanya pemuda berbaju putih.


"Pacar gua." Black menjawab sambil tersenyum menyeringai.


"Bohong Kak, Cut Abang enggak punya pacar." Sepertinya Cantik tidak bisa diajak kompromi sama kakaknya.


Cahaya yang mendengar hal itu tersenyum kearah Black.


"Dasar!" Black menoel pipi adiknya.


"Dia istrinya Abang Arka!" ujarnya.


"Maksudnya kakak iparnya si kembar?" tanya pemuda pakai baju hitam.


"Yoi... " Black menarik kursi kemudian duduk.


"Black sepertinya teman, Teteh sudah datang, Teteh tinggal ya?" Cahaya menepuk pundak Black. Dan dijawab anggukan kepala.


"Daaa Kakak ganteng, Cantik tinggal dulu." Gadis itu, melambaikan telapak tangan ke tujuh pemuda yang ada di sana.

__ADS_1


"Daa Cantik, tunggu Kakak lulus kuliah baru ngelamar kamu," ujar pemuda berbaju putih yang dapat pukulan di dada dari Black.


"Sia*an lu, gua cuma bercanda." Pemuda berbaju putih itu, menepuk pundak Black.


Mata Cahaya menatap mobil alphard yang baru berhenti. Dia sangat tahu itu mobil milik siapa.


"Kenzi ikut Mama, atau pulang?" tanya lelaki, yang duduk di kursi kemudi.


"Ngikutin dia takutnya jelalatan," ujarnya sinis.


"Ya sudah, kalau gitu. Papa, tinggal kalian disini. Nanti kamu kalau pulang telpon saja Le!" ujarnya lagi.


"Iya." jawab Alexa.


Lelaki itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya itu.


Cahaya yang melihat hal itu, berjalan mendekati sahabatnya.


"Siang Kak!" sapa Cahaya, kepada suami Alexa.


Tidak mungkin jika dia memanggilnya om. Umumnya kisaran tiga puluh delapan tahun.


"Siang Ay, gimana kabarmu?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya.


"Alhamdulillah baik, ayo Can cium tangan Om Al sama Tante Ale!" ujar Cahaya. Gadis itu menurut saja.


"Sama Kak Kenzi juga," ujarnya lagi.


"Gimana kabarnya Ken?" tanya Cahaya.


Kenzi kalau sama Cahaya sangat suka. Tapi entah mengapa pemuda delapan belas tahun itu, tidak suka dengan ibu tirinya.


"Baik Mbak!"


Mereka berjalan kearah pintu kafe. Sedangkan Black dan teman-temannya duduk di luaran kafe.


"Black! Kenzi, ajak ngumpul ama temen mu dong." Cahaya berbicara sedikit jauh dari Black.


Black yang merasa dipanggil menengok kearah Cahaya.


Anak lelaki lebih mudah bergaul daripada anak perempuan.


Cahaya dan Alexa masuk ke kafe itu.


"Sepertinya anak lu belum bisa nerima lu Le!" ujar Cahaya, sedangkan Cantik bermain dengan anak sambung Alexa.


"Entahlah Ay ...gua kalau dia ngomongin gua rasanya ingin teriak saja." Alexa sangat murung.


"Yang sabar Le, namanya juga hidup." Cahaya memberi dukungan untuk sahabatnya itu.


Alexa mengangguk pelan sambil minum jus alpukat.


Cahaya tidak mungkin bercerita tentang keluarga suaminya. Wanita itu harus bisa menjaga aib keluarga suaminya. Tidak mungkin, Cahaya bilang jika dia juga seperti Alexa. Jika Alexa dapat sindiran dari anak sambungnya. Maka wanita berambut sebahu itu diuji kedatangan eyang.


Cahaya melirik perut Alexa yang sedikit buncit.


"Sudah ada Le?" tanya Cahaya.


"Iya Ay, alhamdulillah dikasih cepat." Alexa bicara sambil mengelus-ngelus perutnya.


Cahaya mengangguk pelan.


"Kau tahu Ay, sebenarnya gua itu takut saat pertama jadi istri, papanya Kenzi, saat dia minta gua selalu menolak. Hingga ibu ku bilang ke gua, pertama katanya kalau nolak itu dosa, dan yang kedua bisa saja dia melampiaskan hasratnya ke wanita lain ...sekarang mudah cari pelampiasan Ay, jadi gua enggak mau kalau, papanya Kenzi kayak gitu."


Cahaya yang mendengar hal itu wajahnya nampak khawatir.


"WOI!!! " Williams, Fafa dan Rai baru datang.


"Ay, gimana kabar lu, kangen gua," ujar Williams, sambil memupuk kedua pundak sahabatnya itu.


"Lama tak jumpa wajah kau makin tampan Wil!" ujar Cahaya, menggeser tubuhnya. Agar sahabatnya bisa duduk di sampingnya.


"Lu yang sok sibuk sih," jawab Rai, sambil melemparkan tisu bekas buat bersihin meja kearah Cahaya.

__ADS_1


"Zorok tahu." Cahaya melempar tisu itu kearah Rai lagi.


"Fafa apa kabar kau?" tanya Cahaya, kepada sahabatnya yang satu lagi.


"Masih hidup gini kok!" jawabnya ngegas.


"Kalau mati dikubur dong, Tante!" Cantik main jawab saja.


"Hahaha!" Tawa yang paling keras dari Williams.


"Enak amat kalian bertiga bisa kerja di kantor," ujar Cahaya sambil makan es krim.


"Enakan lu udah nikah, dapat yang tampan pula." Rai bersuara.


"Terkadang apa yang lu bilang enak itu, menurut orang lain enggak enak. Pun sebaliknya." Cahaya menjawab.


"Ya kali, hidup lu enggak enak, dari bangun saja sudah bisa nikmati ke indahan wajah tampan suami lu. Lu enggak pernah buat story ngeluh." Fafa berucap, sambil masukan makanan.


"Enggak semua harus diobral di story dan enggak semua orang yang lihat story lu ngeluh itu peduli ke lu, bisa jadi dia tertawa dibalik itu semua ...kasian ya hidupnya lebih berat dari gua." Cahaya bicara seperti orang julit.


"Hahaha, bener tuh, karena gua juga pernah kayak gitu," ujar Williams, yang mengakui jika ada orang berkeluh kesah dia bahagia.


"Seyton lu emang seyton Wil!" ujar Alexa.


"Tapi menurut kalian punya pasangan cakep itu musibah atau anugrah?" tanya Fafa, yang baru bertemu dengan cinta dalam diamnya.Sebelum pergi ngumpul bersama sahabatnya.


"Lu go*lok ya anugrah lah!" Wiliams menyikut tangan Fafa.


"Kali ini gua satu frekuensi sama lu Wil!" tunjuk Rai, kearah Williams, sedangkan Williams tersenyum puas karena ada pendukungnya.


"Lu kira gelombang radio, pakai satu frekuensi segala." Fafa mengeluarkan suara lagi.


"Gua juga dah masa musibah!" Semua suara setuju dengan argumentasi Wiliams. Kampanye Williams benar-benar bagus.


"Kalau lu Ay?" tanya Fafa, menatap sahabatnya itu.


"Tergantung." Cahaya menjawab dengan singkat.


"Kok tergantung Ay?" Rai yang bertanya.


"Terkadang jika memiliki pasangan yang levelnya ada di atas kita ... tu bisa juga anugrah bisa juga musibah." Cahaya menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul.


"Lah jangan ngawur lu kalau ngomong." Wiliams menepuk meja.


"Ini sudut pandang gua loh ya ...jadi kalau enggak sama kaya lu-lu pade ya jangan marah ...contohnya seumpama nih ya ...ada cewek nikah sama orang cakep, kaya ...sedangkan cewek itu biasa, enggak dari keluarga kaya." Cahaya minum dahulu.


"Otomatis orang yang dekat dengan pasangannya akan bilang ... u kok mau sama cewek miskin! Kan lu bisa dapat yang lebih dari cewek itu. Otomatis cewek itu mungkin akan jadi insiycure. Karena ucapan dari orang terdekat suaminya ... dan itu bisa membuat hubungan antara cewek itu dan pasangannya. Kemungkinan besar akan ada masalah... kedepannya— Meskipun pasangannya tidak mempermasalahkan hal itu ...jadi bisa di bilang apapun yang ada di dunia ini ...enggak bisa jauh dari pro dan kontra."


"Iya juga sih, gua juga setuju." Fafa mengangguk.


"Pak Langit gimana kabarnya?" tanya Williams.


"Ngapain lu tanya suami orang ...ingat Wil ...cewek masih banyak." Rai.


"Zialan lu kalau ngomong gua masih waras ...kasian ditinggal nikah mantan." Wiliams tertawa ngakak.


"WIJIS lu?" Rai.


"Wijis apaan? " tanya Cahaya ingin tahu.


"Wiliam Najis!"


"Bener Rai lu ditinggal kawin?" tanya Cahaya, tidak percaya.


"Iya gitu deh, orang tua gua enggak setuju ...dan lu tahu enggak? Kenapa orang tua gua enggak setuju Ay?" Cahaya menggelengkan kepala.


"Karena nyokap lu dan bokap mantan lu. Itu mantan pacar, hahaha dunia sangat sempit." Wiliams yang menjawab, karena Rai sudah menceritakan kepada tiga sahabatnya itu.


Cahaya yang mendengar ingin tertawa, tapi melihat wajah Rai yang masam harus ia tahan.


"Si Aya, yang sudah nikah saja paling belum kaw*n." Alexa berucap membuat semua sahabat memandang kearah Cahaya.


"BENAR AY?" tanya ketiga sahabatnya itu. Cahaya yang mendapat pertanyaan dari ketiga sahabatnya menatap Alexa tajam.

__ADS_1


"Ka*in apaan Tante Ale? " tanya Cantik, yang membuat Cahaya tambah melotot kearah Alexa.


"Kawan, Can itu artinya teman!" ujar Cahaya.


__ADS_2