
Sejauh mata memandang, nampak jelas. Rembulan dan bintang beredar sesuai tempat peredarannya. Mata wanita itu terus menatap keindahan langit. Sesekali hatinya berbicara, dengan Tuhannya. Bertanya kapan keinginannya ia dapatkan.
"Kau disini?" Pemuda itu bertanya.
Langit baru saja sholat subuh sendiri, karena istrinya sedang kedatangan tamu datang bulan.
Cahaya menatap suaminya kemudian mengangguk dan tersenyum.
Jangan salah habis subuh, rembulan dan bintang masih setia di langit. Sebelum sampai ke tempat peredaran terakhir dan kembali seperti bentuk tandan yang tua.
Pasangan itu emang suka menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan untuk hambaNya. Maklum nama pasangan itu juga sama dengan apa yang dilihat. Langit menatap langit. Bintang Cahaya Bulan menikmati bintang bercahaya bersama bulan.
"Apa agenda pagi ini?" Langit memulai pembicaraan.
"Masih seperti biasanya, aku akan belajar cara buat martabak."
Langit mengangguk paham.
"Bagaimana pendapatmu tentang Kenzi tadi malam?" Cahaya bertanya.
"Entahlah, aku tidak bisa menilai dia seperti apa. Karena aku juga baru bertemu. Tidak sepantasnya aku langsung mengambil kesimpulan, apalagi ini masalah menilai seseorang." Langit melirik kearah istrinya.
Cahaya hanya mengangguk pelan.
"Apa tidak akan bermasalah kedepannya? Kalau Kenzi tahu, jika kak Jo bukan pacarnya. Maksudnya cepat atau lambat, dia akan tahu yang sebenarnya. Apa lagi aku dan Ale adalah sahabat." Cahaya berucap kembali.
Langit terdiam, belum mau menjawab. Tiga detik lamanya, Cahaya menunggu jawaban dari suaminya.
"Apa tadi malam aku bilang jika Jo pacar Archer?" Langit bertanya.
Cahaya menggelengkan kepala.
"Biar Archer, yang bertanggung jawab karena ucapannya. Jika memang dia tak bisa, kita akan membantunya kembali. Kan kita mengajak Archer ke rumah sahabatmu itu. Karena kita ingin membantu Archer agar, bisa bertemu dengan pemuda itu. Kan pemuda itu sendiri yang meminta Archer membawa Jo kehadapan nya. Dan yang kedua, agar Arche juga tahu jika adiknya tidak menyukai pemuda yang Arche cintai. Dan yang terakhir, agar pemuda itu tidak terlalu berharap banyak dengan Archer. Aku yakin sekarang pemuda itu akan berusaha melupakan Archer, secara perlahan." Langit menjawab, sambil duduk di lantai warna putih. Cahaya yang berdiri pun ikut duduk di samping suaminya.
"Mengenai Archer suka Black bagaimana pendapatmu?" Cahaya bersandar di pundak suaminya.
Langit terdiam, kejadian yang hampir sama beberapa tahun yang lalu.
"Entahlah, jika Black juga suka mungkin akan ada obrolan bersama kedua keluarga." Langit menjawab, sambil menatap langit yang mulai terang karena pagi akan datang.
"Masnya setujukah jika mereka saling ada rasa?" tanya Cahaya diawal pagi itu.
"Aku sangat mengenal keduanya, bagaimana sifatnya. Jika itu jalan dari Allah tidak masalah. Jika emang mereka ditakdirkan untuk bersama. Toh keluarga kita juga sudah kenal dekat," jawaban simpel dari Langit membuat Cahaya mengangguk saja.
"Kau terlalu banyak tanya.Ya!" Langit berbicara sambil merengkuh tubuh istrinya, hingga kepala istrinya ada di pangkuannya.
Tidak Mas zawuji jika tidak usil, pemuda itu menggelitik pinggang istrinya.
"Hahaha." Cahaya tertawa kegelian.
Aduh! Bisa berabe nih kalau keterusan, seperti waktu Langit mengeritik kaki istrinya.
"Sudah hahahaha!!!!!"
Tapi pemuda itu masih saja menggelitik pinggang istrinya. Sesekali pemuda itu mencium pipi istrinya saat tangannya usil di pinggang istrinya.
Hingga Langit teringat kejadian malam di mana, dia membuat istrinya menangis saat ia menggelitik kaki Cahaya. Pemuda itu, pun menyudahi acara mengusili istrinya.
Cahaya terbangun dari posisi kepalanya di pangkuan suaminya.
"Masnya usil ih... " Satu pukulan mendarat di paha Langit.
"Awwww... " Pemuda itu mengusap pahanya yang panas, karena istrinya memukulnya sangat keras.
"Maaf... maaf." Az-zahra nya itu merasa tidak enak kepada suaminya.
Tangan Cahaya mengelus paha suaminya yang ia pukul.
"Bosan sekali jika kau selalu minta maaf, setelah buat kesalahan." Langit mencibir istrinya yang mempunyai sifat seperti itu.
"Hilaf!" Cahaya berkilah.
"Oh... ya kenapa si Mas, enggak pernah memuji ku?" Cahaya bertanya, langsung pada intinya.
__ADS_1
Langit yang mendengar pertanyaan dari istrinya dia berpikir, emang iya, dia tidak pernah memuji istrinya. Ah— pemuda itu tidak tahu bagaimana cara memuji istrinya. Yang ada mah body shaming kepada istrinya.
"Aku juga tidak pernah mendengar kau memuji ku, bilang tampan atau apa gitu." Suami itu juga menuntut, kalimat akhir adalah sebuah godaan untuk istrinya.
"Aku yakin, Masnya bisa menilai kalau wajah Mas, tampan. Terus ngapain gitu aku muji jika Mas, sudah bisa menilainya." Cahaya bicara sedikit sebal, karena suaminya malah kembali bertanya.
Sedangkan Langit sangat terperanjat dengan jawaban istrinya. Benar juga jawaban istrinya, kalau dia saja menilai kalau wajahnya dapat nilai plus, lalu ngapain dia menyuruh istrinya menilai. Bahkan keponakannya yang masih kecil saja tahu jika dia tampan.
"Terus ngapain gitu aku memuji mu, jika kau juga selalu memuji dirimu saat sedang menatap kaca," jawaban Langit benar-benar membuat Cahaya sebal.
Pasangan itu benar-benar beda dari pasangan lainnya.
Cahaya berdiri dan meninggalkan suaminya. Langit hanya menggelengkan kepala, sambil tersenyum tipis karena istrinya itu. Langit berdiri kemudian mengejar istrinya.
"Hei jangan marah, kita ini sama-sama tidak pernah saling memuji jadi fair." Langit terkekeh karena ulah istrinya itu.
Cahaya menghentakkan kakinya dan menengok kebelakang sambil manyun. Kemudian masuk kamar.
Langit tidak merasa bersalah sedikitpun. Pemuda itu malah menikmatinya karena bisa membuat istrinya jeles.
Langit menutup pintu sliding itu, berjalan mendekati istrinya yang membelakangi dia. Pemuda itu langsung memeluk pundak istrinya dari belakang.
Bug.... mereka terjatuh di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Pemuda itu di atas sedangkan istrinya di bawahnya.
"Mas!!! Berat!" Cahaya tidak bisa bernapas, karena wajahnya mencium bantal.
Langit masih saja tengkurap di atas istrinya, kapan lagi dia bisa menjaili istrinya.
"Kau menghina ku?" Langit tersenyum tipis, saat berbisik di telinga istrinya.
"Emang ber– at huh." Cahaya menghembuskan napas dari mulutnya pelan. Pemuda itu sepertinya ingin membunuh istrinya perlahan.
"Yang berat itu kantong beras." Langit mencium pipi kiri istrinya yang memerah karena menahan berat badan suaminya itu.
"Hemmmm." Cahaya mengeluarkan suara.
"Emang berat ya?" Pemuda itu masih saja menggoda istrinya.
Pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Orang yang ada di luar kamar itu membuka pintu warna putih itu.
Langit dan Cahaya mengalihkan pengelihatan nya kearah luaran pintu.
"O'om!" Balqis turun dari gendongan Alula.
Hazel yang sedang lewat kamar Langit berhenti kemudian menengok ke dalam. Karena ia melihat istrinya ada di sana.
"Astagfirullah!!!" Hazel juga ikut mengucapkan sama yang Alula ucapkan.
"Lang, kau telah menodai mata anakku," ujar Hazel.
Langit segera berdiri dari posisi itu. Menatap adik dan adik iparnya tidak suka. Cahaya pun mengikuti suaminya berdiri, wanita itu sangat malu. Di tambah punggungnya yang sakit karena suaminya.
"Maaf ganggu, aku kira—" Alula belum menyelesaikan ucapannya. Tapi wanita berambut sebahu itu langsung memotongnya. "Ini enggak seperti apa yang Mbak Al sama Kak Hazel, kira." Cahaya menggaruk kepalanya.
"Emang, Kakak ipar tahu apa yang kita pikirkan?" Hazel menggoda dengan senyuman sedikit mengejek, agar Cahaya malu.
Cahaya tidak bisa menjawab, membuat Alula juga ingin menggoda kakak iparnya itu.
"Emang tadi ngapain Ay?" Alula menahan tawanya.
Cahaya menatap suaminya sebal, semua itu gara-gara suaminya itu.
"Ck... ngapain enggak ketuk pintu dulu?" Langit bertanya, sambil berjalan kearah kamar mandi.
Alula tersenyum kaku, karena lang kang masnya menegurnya.
"Maaf!"
Meskipun Alula sudah menikah dan punya anak, perempuan itu masih menghargai jang masnya.
"Tidak masalah Mbak Al!" Cahaya yang menjawab, karena dia tahu suaminya sangat sebal karena orang tua Balqis itu.
Langit meninggalkan mereka dan masuk kamar mandi.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, kenapa Mbak Al kemari? Tidak mungkin jika tidak ada hal penting kan?" Cahaya bertanya kepada adik iparnya itu.
"Begini Ay, aku hari ini ada rapat di Kecamatan, jadi aku tidak bisa mengajak Balqis. Ibu sakit, jadi aku tidak tahu harus menitipkan dia ke siapa. Kamu keberatan enggak, kalau aku nitip Balqis sampai jam dua belas siang. Nanti setelah pulang, aku akan menjemput dia di kafe." Alula mengutarakan keinginannya kepada kakak iparnya.
Cahaya tidak bisa menolak permintaan adik iparnya.
"Baiklah, Mbak!" Cahaya tersenyum.
Hazel dan Alula sudah meninggalkan kamar Langit.
"O'om!" Balqis menatap Langit dari bawah naik ke atas.
Langit mengerutkan dahi, kenapa keponakannya ada di kamarnya.
Langit memberikan senyuman untuk Balqis.
"Mas, tolong jaga Balqis aku mau mandi." Cahaya berlari kearah kamar mandi.
"Kenapa enggak dikasih orang tuanya?" Langit bertanya, kepada istrinya.
"Aku akan menjadi baby sister, untuk hari ini." Cahaya menjawab sambil menutup pintu.
"Apa maksudnya?" Langit berteriak tapi istrinya tak menjawab.
"Aqis sudah makan?" Langit bertanya, kepada keponakannya sambil memakai dasi.
"E'eem!" Balqis mengangguk mengiyakan.
"Aqis mau ikut aunty, ya?" Langit bertanya, sambil menyisir rambutnya.
Sedangkan Balqis selalu mengikuti O'om-nya kemana pun O'om jalan.
"E'eem!" Balqis menjawab singkat.
"Aqis, daddy Hazel di mana?" Langit bertanya lagi.
Sepertinya Langit ingin berinteraksi dengan keponakannya itu, istilah keponakannya masih kecil. Bukanya bagus jika anak kecil diajak bicara bisa melatih bicara dan membuat otak si kecil bekerja.
"Kejaaa, O'om!"
Pintu kamar mandi terbuka, Cahaya keluar dari kamar mandi. Setelah menunggu lima belas menit akhirnya Cahaya sudah selesai berpakaian.
"Ayo, Aqis! Aunty gendong sayang!" Cahaya sudah siap menggendong keponakannya itu.
"Sudah pantes jadi ibu," ujar Langit tersenyum.
Cahaya terdiam, wanita itu ingin segera punya momongan.
"Berdoa saja, semoga lekas di kasih." Cahaya menjawab.
Langit tersadar jika ucapannya itu akan membuat hati istrinya sensitif.
"Ayoo, kita telat nanti!" Langit mengalihkan pembicaraannya.
Mereka sudah ada di dalam mobil. Mobil itu sudah meninggalkan rumah Raharja.
Di dalam mobil, pasangan itu belajar menjadi orang tua. Mobil silver itu sudah berhenti depan ruko dua lantai. Langit membuka pintu untuk istrinya. Cahaya keluar dari mobil itu, dan tersenyum tipis.
"Syukron, Mas zawaji!"
Langit mengangguk pelan.
Di sisi dekat tangga pria itu, sedang menatap keharmonisan keluarga itu. Mata Senja, tidak lepas memandang sahabatnya nampak bahagia dengan suaminya.
"Sudah, aku berangkat ya?" Langit bertanya.
"Hati-hati ya!" Cahaya tersenyum,
Langit mencium pipi keponakannya dan diakhiri ciuman mesra di kening istrinya itu.
Senja yang melihat adegan itu, mengusap wajahnya dengan kasar. Jika melihat adegan itu, orang akan mengira jika mereka adalah keluarga yang romantis.
"Iya, tapi jangan macem-macem. Tundukkan pandangan kalau ada wanita, jangan kemana-mana tuh mata." Sepertinya Cahaya sudah meresap ilmunya Alula. Saat Alula berpesan kepada Hazel. Cahaya selalu mengamatinya, hal itu membuat wanita berambut sebahu itu, meresap pelajaran dengan otodidak.
__ADS_1
"Iya, Az-zahra!"