
Pemuda yang memakai kemeja hitam itu, bersandar di pintu sliding yang terbuat dari kaca. Sambil mesen-dekapan kedua tangannya di dada. Matanya menatap, punggung yang bergetar karena menangis. Perlahan ia membuang napas pelan, pemuda itupun berjalan mendekati pemilik punggung yang masih bergetar. Pemuda itu sudah berdiri di belakang, istrinya. Tangan pemuda itu merengkuh tubuh istrinya dari belakang. Wanita berambut sebahu itu, sangat kaget karena ada yang merengkuh tubuh miliknya dari belakang.
"Hiks... " Wanita berambut sebahu itu masih terisak. Tapi saat melihat cincin yang melingkar dijari manis, seseorang. Wanita itu tersenyum, dia sangat kenal itu cincin siapa.
"Kau menangis?" Pemuda itu bertanya, sambil meletakkan dagu dipundak istrinya. Sedangkan kedua tangannya melingkar di leher istrinya.
Cahaya reflek langsung menghapus air matanya, dengan kedua tangannya. Langit hanya menatap, wajah istrinya dari samping.
"Kok disini? Bukan hiks, tadi ngantar dia." Cahaya bertanya, dengan isak kan yang masih ada. Ohoww! Wanita itu tidak mau memanggil nama perempuan yang duduk di samping suaminya waktu di meja makan. Sebegitu kah! Cemburunya?.
"Dia siapa?" Pemuda itu bertanya, bukan bertanya sih. Lebih tepatnya mengetes saja, kenapa istrinya tidak mau menyebut nama perempuan itu.
"Itu dia!" Sepertinya wanita itu, tidak mau menyebut nama perempuan itu.
"Siapa? Bu Asya?" tanya Langit, kepada istrinya.
Pemuda itu melihat wajah istrinya, yang cemberut karena cemburu membuat pemuda itu tersenyum. Aduh! Pemuda itu malah mencium pipi istrinya dari belakang.
Cahaya hanya diam saja, dadanya masih sakit, saat ryang menyuruh suaminya mengantarkan perempuan lain.
"Kok enggak dijawab." Pemuda itu, sudah berdiri di samping istrinya. Sambil memasukkan kedua tangannya di saku.
"Dekat banget kayaknya," ujarnya, seperti sindiran di telinga Langit.
"Nih dekat sama kamu." Langit bicara, sambil menempelkan badannya di bahu istrinya. Cahaya menggeser kan bahunya dari tubuh suaminya itu.
"His, apaan sih." Cahaya bicara seperti orang yang risih. Wanita itu jengkel karena suaminya itu.
"Beneran, enggak mau dekat sama suamimu. Dari tadi aku memperhatikan kamu dari sana." Langit menunjuk kearah pintu kaca itu. Sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Aku enggak ikhlas Ya Allah, enggak rela apa nih?" Langit bertanya.
Saat istrinya izin ke kamar, pemuda itu langsung mengejar istrinya.
"Enggak." Kilahnya wanita itu, sambil membuang muka. Wanita itu sangat malu.
"Bener ya?" Langit bertanya, sambil menunjuk muka istrinya.
"Hmmm." Cahaya mengangguk, menyetujui. Sumpah! Wanita berambut sebahu itu sangat malu, karena suaminya mendengarkan apa yang keluar dari mulutnya.
"Tadi, yang bilang seperti ini siapa? 'Ternyata hiks, begini hiks, rasanya cemburu, hiks. Kenapa Masnya mau hiks.huaaaa huaaaaa'. Hmm?" Langit terkekeh saat menirukan ucapan istrinya, yang menangis.
"Ha, puff!" Langit menutup mulutnya, dengan telapak tangannya.
Cahaya merasa, jika suaminya itu menghinanya. Mukanya semakin cemberut saja, tuh Cahaya.
"Oke!" Langit mencoba menahan tawanya. Sambil memegang perutnya, yang sakit karena tertawa.
"Aku mau tanya kepadamu. Kau cemburu?" Langit menatap istrinya, sangat dekat dan begitu dalam.
Cahaya memutarkan tubuhnya, agar membelakangi suaminya. Wanita itu menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, karena malu.
Langit hanya menggelengkan kepalanya, sambil menaruh tangannya di pinggang.
__ADS_1
"Seperti itulah rasanya, saat aku melihat. Istriku bersama lelaki lain, sekarang kau sudah merasakannya. Jadi aku harap, kau bisa ambil pelajaran dari rasa sakit yang kau rasakan malam ini." Pemuda itu kalau bicara tidak ada pembatas nya, sama sekali. Lihat saja kata- kata yang keluar dari mulutnya, begitu ngena di hati dan pikiran istrinya.
"Tapi kalau dia kan sahabat aku, sejak aku tinggal di Sumatera."
"Sudah ku bilang, sekarang itu tidak ada yang namanya sahabat antara cewek sama cowok, kalau enggak yang satu ngarep pasti yang satunya nyaman." Pemuda itu memberi nasehat istrinya. Sambil mengusap rambutnya dengan kasar. Cahaya menundukkan kepalanya.
"Seminggu lagi, sudah enggak ketemu. Berbeda dengan Mas, sama dia yang setiap hari bertemu. Bisa lihat yang molek, beda dengan—" Langit memotong ucapan istrinya itu, kemudian berkata. "Cukup! Aku tahu, kau akan membandingkan tubuhmu dan dia. Ketahuilah, jangan pernah membandingkan dirimu dengan siapapun. Seseorang di ciptakan dengan kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Jika aku saja, tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Lantas mengapa kau, yang mempermasalahkan hal ini, sudah aku bilang. Aku mencintaimu bukan karena fisik maupun kelebihan mu." Pemuda itu tidak suka jika istrinya, membandingkan diri dengan perempuan lain.
"Kau tahu? Berapa lama aku memandang wajahmu saat terlelap?" Pemuda itu menatap langit malam penuh bintang.
Cahaya memutar tubuhnya, untuk melakukan hal serupa yang suaminya lakukan.
"Memang berapa?" Wanita berambut sebahu itu, sepertinya ingin tahu. Kenapa suaminya suka memandang wajahnya saat dia terlelap.
"Satu—" Belum juga, pemuda itu meneruskan ucapannya. Istrinya sudah memotongnya. "Satu detik?" Cahaya mendongak untuk melihat wajah suaminya.
"Terlalu tergesa-gesa." Pemuda itu menjawab.
"Maksudnya?"
"Satu jam setengah, aku memandang wajahmu." Langit melirik istrinya.
Wanita itu tersenyum, saat suaminya bilang seperti itu.
"Kenapa Masnya, menghabiskan waktu selama itu untuk memandang wajahku?" Cahaya, sangat ingin tahu. Dia tidak pernah tahu, jika suaminya itu melakukan hal yang menurutnya tidak berguna.
"Entah, aku hanya pernah mendengar sabda Rasulullah. Tentang sebaik-baiknya perbendaharaan seorang lelaki. Yaitu istri sholehah yang dipandang akan menyenangkan, bila diperintah akan mentaati nya. Dan apa bila si istri pergi, akan menjaga dirinya." Langit menatap rembulan yang nampak terang.
"Wajahmu menyenangkan, Az-zahra. Aku harap kau termasuk wanita solehah." Langit tersenyum tipis, menatap istrinya.
Cahaya menatap wajah suaminya, bibinya juga tersenyum tipis.
Lima menit tidak ada pembicaraan dari keduanya. Cahaya ingin tahu sejak kapan suaminya melihat dia menangis.
"Mas, sejak kapan Mas naik ke kamar? Ah— maksudku Mas melihat, aku menangis?" Cahaya menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Mungkin kepalanya sakit karena nangis sesenggukan.
"Sejak, kau bilang enggak rela." Langit, tahu istrinya itu tersakiti karena ucapan eyang.
"Lalu siapa yang mengantarkan dia?" Cahaya bertanya, untuk yang ke sekian kalinya.
"Jo!"
"Bagaimana bisa, bukannya tadi Mas yang di suruh?" Cahaya ingin tahu.
"Jo, tahu kau cemburu. Dia berbisik kepadaku, dia bilang menyuruhku pura-pura sakit kepala."
"Apa?" Cahaya kaget, sebegitu besarnya cemburunya itu. Sampai Jo bisa menyimpulkan perasaan yang ia rasakan kepada suaminya.
"Emang kelihatan?" Cahaya bertanya, dengan tidak sadar.
"Apanya yang kelihatan?" tanya Langit menggoda.
__ADS_1
"Cemburunya." Mulut wanita berambut sebahu itu, tidak bisa di ajak kompromi dengan hati.
"Oh... Az-zahra cemburu? Ternyata." Langit tersenyum, karena istrinya mengakui hal itu.
Cahaya semakin kelimpungan, saat suaminya bilang seperti itu. Ternyata wanita itu, sulit mengakui jika dia cemburu. Sangat berbeda dengan suaminya, yang mudah mengakui.
"Sudah lupakan, aku ngin bertanya sekarang. Kenapa waktu kita jatuh di semak-semak, Mas bilang kita sudah menikah?" Cahaya bertanya, kepada suaminya.
Wanita itu masih ingat ternyata.
"Mengalihkan pembicaraan." Langit mendesis pelan, tapi sangat jelas ditelinga istrinya.
"Ayo jawab lah." Sepertinya wanita itu benar-benar ingin mengalihkan pembicaraan.
Langit mengangguk pelan, pemuda itu tidak langsung menjawabnya. Butuh waktu dua menit untuk menjawab, hal itu membuat istrinya sebal.
"Pasti kita akan diarak, seluruh warga, terus disuruh untuk menikah."
"Oh... " Cahaya mengangguk pelan.
Wanita itu sepertinya akan bertanya lagi. Cahaya menarik napas dahulu sebelum bertanya. "Kenapa maharnya serba angka delapan?"
Langit berpikir jika malam itu, istrinya banyak bertanya. Tapi dia akan menjawab dengan senang hati.
"Angka delapan itu adalah salah satu angka yang tidak pernah putus, setelah angka nol. Aku harap pernikahan ini akan langgeng terus sampai kakek-nenek. Dan yang kedua aku berharap rezeki Yang Allah berikan tidak akan pernah putus setelah aku menikah."
Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."(QS. An-Nur 24: Ayat 32).
Jangan khawatir jika mau menikah tapi belum punya apa-apa. Nanti Allah lah yang akan mencukup kan.
Cahaya mengangguk kembali setelah mendapatkan jawaban dari suaminya. Pertanyaan ketiga Cahaya sudah siap dilontarkan sepertinya.
"Kenapa waktu itu, Mas, mau di buatkan kopi oleh dia. Bukannya waktu itu Mas pernah bilang tidak suka kopi?" Pertanyaan yang membuat pemuda itu, mengingat-ingat. Siapa yang membuatkan kopi untuk dia. Dan kapan itu terjadi. Butuh tiga menit, pemuda itu baru ingat.
"Oh... maksudnya kopi yang di buatkan Bu Asya?" tanya pemuda itu, kepada istrinya.
Sedangkan wanita berambut sebahu itu, mendesis pelan tidak suka jika suaminya memanggil nama perempuan itu.
"His." Cahaya menghentakkan salah satu kakinya. Sangat lucu dimata suaminya, melihat istrinya menghentakkan kaki sambil manyun mukanya.
"Karena butuh, aku sangat ngantuk waktu itu, jadi aku meminta dia untuk buatkan sekalian agar tidak ngantuk. Kan waktu itu meeting. Masih ingat kan?"
Cahaya mengangguk pelan.
Cahaya akan bertanya kembali, apa suaminya akan menjawab pertanyaan terakhir yang akan dia tanyakan.
"Kenapa suka memakai baju warna hitam?"
Langit melirik kearah istrinya, senyum tipis mengukir di bibirnya. Seraya menjawab. "Cukuplah aku dan Tuhan ku yang tahu."
Cahaya hanya mengangguk saja, wanita itu tidak bisa memaksa suaminya untuk menjawab. Ada kalanya hubungan antar manusia itu seperti itu. Meskipun dia suaminya, atau orang tuanya. Cukuplah Allah yang tahu.
__ADS_1