Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Bersyukur Karena Allah... Memberi Pasangan Pengertian


__ADS_3

Langit malam mendung menutupi rembulan. Bintang yang biasanya bertaburan malam itu tidak memunculkan cahayanya. Malam itu, hati wanita yang duduk dipojokkan balkon sangat hancur, karena ucapan seseorang yang tidak pernah bertemu dengannya.


Ya! Cahaya wanita itu, adalah dirinya. Cahaya duduk memeluk kedua lututnya dengan tangannya. Wajahnya menatap langit malam. Air mata terus menetes membasahi pipi.


Ya Rabb, apa aku tidak akan punya anak. Hatiku sangat sakit saat eyang bilang seperti itu. Apa masnya akan ninggalin aku, jika aku tidak akan punya anak dengannya. Tolong hibur aku untuk malam ini Ya Rabb.


Cahaya terisak menyembunyikan wajahnya di lutut. Isak—kan itu semakin keras.


Di bagian utara pemuda itu melihat wanita sedang menangis. Sang suami malam itu, bersandar di pintu kaca.


Mengamati istrinya dari jauh, yang sedang menangis. Pemuda itu membuang napas, tidak sanggup jika melihat istrinya menangis tersedu-sedu. Langit kembali meninggalkan istrinya yang duduk di balkon sendirian.


Pemuda itu baru pulang dari kantor. Saat melihat eyang ada di rumah kakek, dia tahu pasti ada keributan.


Langit membuang napas pelan.


"AZ-ZAHRA KAU DI MANA!" Langit pura-pura tidak tahu, jika istrinya sedang menangis.


Dia tahu, kalau langsung mendekati istrinya. Saat sedang menangis, pasti istrinya akan malu atau malah semakin sedih.


Di balkon Cahaya mendengar teriakan suaminya, wanita itu segera berlari dan mengusap air matanya. Cahaya tidak mau, jika suaminya tahu kalau dia baru saja menangis.


Cahaya yang baru mau membuka pintu sliding itu, sudah digeser dari dalam.


"Masnya sudah pulang?" tanyanya, dengan senyuman tipis.


Langit sangat miris melihat hal itu. Istrinya pura-pura tersenyum tapi dia tahu jika istrinya sakit hati.


"Hem... " Langit berjalan ke pinggiran balkon. Cahaya mengikuti dari belakang.


"Tadi pagi ngapain aja?" tanya Langit mengawali pembicaraan.


"Tadi aku cari karyawan kafe... Mas tahu?" tanya Cahaya, dia sudah melupakan ucapan eyang sepertinya.


"Apa?" tanya Langit penasaran.


"Aku sudah dapat tiga karyawan." Cahaya memperlihatkan tiga jarinya didepan suaminya.


"Siapa saja?" Langit menatap rembulan yang akan nampak jelas karena selaput awan akan segera menghilang.


"Ada ibu-ibu tuna wicara, dan kakek yang udah bungkuk. Sama Gibril." Cahaya tersenyum, mengingat bocah berwajah bule itu.


"Gibril?" tanya Langit, menengok kearah istrinya.


"Dia sangat lucu dan tampan, tapi sayang takdir membuatnya tidak mengenali orang tuanya." Cahaya menatap langit malam dengan sendu. Entah malam itu Gibril sudah makan atau tidak.


"Berapa umurnya?"


"Entah, mungkin delapan." Cahaya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Sebenarnya Cahaya tidak sadar dengan hal itu.


Langit tersenyum samar, karena istrinya bersandar di bahunya.


"Mas tahu? Dia itu ingin sekolah, dia berdoa kepada Allah. Agar Allah mengabulkan permintaanya." Cahaya terus berbicara. Sampai tidak sadar dengan kedua tangannya, memeluk lengan suaminya.


Langit sekali lagi tersenyum samar karena Az-zahra nya itu.


"Terus?" tanya Langit, sambil memasukkan tangan kirinya ke saku.


"Masnya mau enggak bantu dia, daftarin sekolah."


Entah mengapa posisi bersandar dan memeluk pundak suaminya sangat nyaman bagi Cahaya.


"Pikir-pikir dulu lah ya?" jawaban Langit, membuat Cahaya reflek memukul lengannya.


"Awww... " Cahaya tertawa karena bisa memukul suaminya itu.


Sejenak Tuhan, membuat Cahaya lupa perkataan eyang sore itu.


"Gingsul kalau ketawa jelek." Langit menggoda istrinya.


Cahaya terdiam, wanita itu masih setia bersandar di pundak suaminya.

__ADS_1


"Kau tahu, bagaimana sikap kita jika ada yang mengejek kita." Langit bertanya, dan memancing istrinya, agar bicara. Sebenarnya apa yang eyang katakan sore itu. Langit sangat mengenal eyang, dia tahu istrinya menangis karena perkataan eyang.


Langit membuat istrinya teringat perkataan eyang sore itu. Cahaya hanya diam, tidak menjawab. Jangankan mengulurkan suara, berkutik pun tidak.


Langit sangat tahu jika istrinya sedih. Pemuda itu mengelus kepala istrinya dengan tangan kiri.


"Jadikanlah motivasi, terkadang perkataan yang membuat hati kita sakit hati. Bisa merubah kita secara perlahan. Orang yang tidak suka dengan kita ...akan tertinggal jauh dari kita ...jangan ambil hati tapi ambil yang bisa ...membuat kita lebih baik dari sebelumnya."


Cahaya mendengarkan suaminya dengan baik. Pelukan di bahu itu semakin erat.


"Dulu ada gadis jelek ...karena perkataan orang lain gadis itu ...berjanji kepada dirinya sendiri ...tidak akan membiarkan seseorang menghina dia lagi ...gadis itu tidak akan memberikan kesempatan kepada orang yang pernah menghinanya ...untuk yang kedua kalinya ...kau tahu apa yang dilakukan gadis itu?"


Cahaya menggerakkan kepalanya, yang bersandar di bahu suaminya. Pertanda dia tidak tahu.


"Gadis itu mulai perawatan ...mulai memakai skincare ...hingga si pembully itu ... tidak bisa mengejeknya lagi. Bahkan si pembully tidak dikasih celah untuk membully nya kembali."


"Jadi Az-zahra! Jikalau ada orang yang membully mu, menghinamu ...sebaiknya kau jadikan motivasi ...jangan malah berlarut dalam kesedihan ...sedih boleh—tapi jangan terlalu berlarut-larut ...aku harap kau mengerti maksudku."


Cahaya terdiam, wanita itu berpikir seolah suaminya itu tahu isi hatinya. Seolah suaminya itu, memberi dukungan kepadanya dengan cara tersirat tidak terlihat jelas dukungan itu.


"Mas boleh aku bertanya?" tanya Cahaya, mendongak sedikit agar melihat wajah suaminya. Langit mengangguk pelan.


"Kenapa Mas menerima perjodohan ini, apa Mas terpaksa?" Mata Cahaya berkaca saat bilang terpaksa.


Langit sekali lagi, bisa melihat mata istrinya yang sendu.


Langit tidak langsung menjawab. Hal itu membuat Cahaya takut jika suaminya terpaksa menikah dengannya.


"Pertanyaan mu yang ini, sudah pernah kau tanyakan sebelumnya." Langit masih setia memandang rembulan.


"Aku masih teringat dimana kau menanyakan pertanyaan mu ini ...kau bertanya saat kita di rumah sakit. Tepatnya saat nenek sakit."


Langit masih mengingat malam itu.


"Kau ingat, bagaimana kau bertanya?"


Cahaya menggerakkan kepalanya lagi. Wanita berambut sebahu itu sepertinya lupa.


"Kenapa Abang, menerima perjodohan ini? Itulah pertanyaan mu waktu itu."


Cahaya terdiam, dia tidak percaya jika suaminya itu masih ingat pertanyaan itu. Dia yang bertanya saja sudah lupa.


Maka malam itu Cahaya akan mendapatkan jawabannya.


"Maka malam ini aku akan menjawabnya satu persatu ...Apa aku terpaksa dengan perjodohan kita, jawabannya. Tidak! Tidak ada kata paksaan." Langit memberi penekanan dalam kata 'tidak'.


Cahaya tersenyum, mendengar jawaban suaminya.


"Jawaban kedua, kenapa aku menerima perjodohan ini? Aku harap jawaban, kedua ini tidak membuatmu sakit hati." Langit tersenyum samar.


Cahaya melepaskan tangan yang meluk pundak suaminya. Cahaya sangat takut, dengan jawaban kedua dari suaminya.


"Jawabannya karena Mentari!" Langit melihat wajah istrinya yang pucat.


"Apa kau sakit hati?" tanya Langit, menatap istrinya dengan seksama.


Cahaya mau meninggalkan suaminya. Namun tangan suaminya segera mencekal tangannya.


"Jika kau pergi ...maka kau tidak akan tahu jawaban selanjutnya ...yang ada hanya salah paham."


Langit memutar badannya menghadap istrinya. Memegang kedua tangan istrinya.


"Suatu saat pasti ada cahaya untukmu Jil. Karena kalimat itu aku menerima perjodohan ini ...itu adalah kalimat yang Mentari sampaikan sebelum menghembuskan napas terakhir."


"Aku berpikir kaulah cahaya yang Mentari maksud ...jadi itu sebabnya aku menerima perjodohan ini. Saat kakek bilang namamu Bintang Cahaya Bulan!"


Cahaya terdiam, menatap wajah suaminya yang semakin dekat dengan wajahnya.


"Hayo mau apa?" Cahaya menjauhkan wajahnya. Dengan wajah suaminya yang harusnya sedikit lagi nempel.


Langit tersenyum, karena pertanyaan istrinya itu.

__ADS_1


"Mau nyium lehermu," goda Langit kepada istrinya.


Cahaya melepaskan tangannya ingin berlari. Tapi Langit malah menariknya membuat terjatuh di pelukannya.


Langit mendekap tubuh istrinya dengan sangat erat. Selain membuat bahagia pelukan juga dapat mengurangi tingkat hormon stres kortisol. Jika dalam kondisi stres. Makanya sering-sering aja pelukan sama pasangan. Yang belum punya pasangan peluk guling, is okey.


Cahaya juga membalas pelukan dari suaminya itu.


Terima kasih Ya Rabb, karena Engkau memberi suami seperti masnya, dia sangat pengertian.


Mereka sudah ada di dalam kamar. Mereka akan makan malam bersama. Cahaya tidak bersemangat untuk makan malam waktu itu. Dia takut jika eyang akan membuat sakit hati.


"Ayo kita makan." Langit menarik tangan istrinya yang enggan berdiri dari sofa.


"Az-zahra aku sudah lapar, dosa loh ...nolak suami."


Jika Cahaya diberi kalimat 'suami' wanita itu pasti nurut.


Langit menutup pintu kamar, dan menggenggam tangan istrinya. Jarang sekali mereka bergandengan tangan.


"Malam semua." Langit menyapa, sambil menarik kursi untuk istrinya. Bukan kursi istrinya, tapi kursi yang biasanya buat pemuda itu duduk. Berhubung ada eyang, jadi malam itu Langit memberikan kursinya untuk istrinya. Karena kursi Cahaya yang biasanya, ada di samping kursi eyang.


"Malam." jawab si kembar bersamaan.


Tidak ada suara Hazel yang biasa menggoda kakak iparnya. Suami Alula itu tidak berani berkutik kalau ada eyang.


"Masnya mau makan apa?" tanya Cahaya pelan.


"Apa saja."


Cahaya sangat cekatan menyiapkan makanan untuk suaminya.


Abidah Aminah sempat bercerita kepada suaminya, kalau eyang menghina menantunya habis-habisan.


Pak Khan dan Abidah Aminah saling tatap. Kemudian menatap wajah menantunya, yang sendu tidak seperti biasa.


Alula juga sudah tahu, karena si kembar bercerita di kamarnya. Hal yang dulu juga pernah Hazel rasakan. Saat dulu eyang menghina Hazel tanpa ampun. Sedangkan kakek Raharja menghindari makan satu meja dengan besannya itu. Kakek sudah tidur setelah makanannya diantar mbok Ijah ke kamar.


"Selamat makan Mas!" suaranya sangat pelan.


Cahaya yang mau ambil nasi untuknya sendiri, terhenti tatkala suara seseorang menegurnya.


"Mau apa kamu?" Eyang bertanya, seketika Cahaya mengembalikan nasi itu.


Semua yang ada di sana terkesiap karena suara eyang.


"Em-makan E-yang." Cahaya masih bisa menjawab, meski badannya gemetar.


"Tidak boleh, kau baru boleh makan setelah cucuku selesai. Satu lagi kau boleh makan, hanya di piring sisa suamimu!" tukasnya.


Cahaya kembali duduk di samping suaminya, dengan rasa malu.


"Tidak apa-apa Teh, Eyang ingin Teteh dan Kang Mas, cintanya bertambah lagi mungkin. Karena aku pernah dengar jika makan di piring suami, hubungannya tambah harmonis lagi." Archer berbicara dengan santai, tetapi bikin eyang sekakmat.


Gila si Archer, aku suka dengan gayamu adik ipar. Santai tapi bikin nenek tua itu diam tidak berucap lagi. Hazel tersenyum tipis karena adik iparnya itu.


Cahaya tersenyum, mendapat semangat dari adik iparnya itu.


"Aaaaa." Langit mau menyuapi Cahaya.


Sebenarnya Langit tidak suka, karena semua orang bisa melihat keromantisannya dengan istrinya. Tapi malam itu, Langit harus memperlihatkan keromantisannya dengan istrinya secara gratis.


Cahaya menggeleng pelan, tapi tatapan tajam suaminya. Membuat dia menerima suapan dari sang suami.


Kenapa aku merasa mas, ini ingin membelaku bukan dengan ucapan. Tapi dia membelaku dalam bentuk perbuatan dan sentuhan. Aku tahu mas, tidak bisa membentak eyang. Tapi perbuatan mas, ini membuat salah satu pihak senang dan pihak yang lain tidak merasa terhina. Pilihan yang tepat mas.


Eyang yang melihat hal itu merasa tidak senang, karena sikap Langit kepada istrinya.


Makan malam telah usai. Langit menyuapi istrinya setelah dia makan.


Cahaya sudah tidur, sedangkan Langit masih menatap wajah istrinya. Tidak ada kontak fisik selain ciuman. Langit bisa menahan. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya.

__ADS_1


"Az-zahra tahap kedua ujian untuk kamu, sudah menunggu." Langit mengelus pipi istrinya.


"Mimpi indah Az-zahra nya Mas." Langit mencium pipi istrinya. Dan entah mengapa saat pipi itu dicium pasti tersenyum.


__ADS_2