Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kalau Suami Marah Mendiamkan Istrinya...


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang. Wanita itu menatap punggung suaminya yang membelakangi dirinya. Entah mengapa suaminya mendiamkan dia. Sepuluh menit kemudian wanita itu keluar. Cahaya berjalan kearah samping ranjang suaminya. Senyuman terluas di bibirnya. Karena akan mendengar suara suaminya. Kalau tidak 'hmmm' pasti suaminya akan berdecak sebal. Saat ia membangunkan suaminya, yang masih enak tertidur.


Sepertinya wanita itu sudah rindu mendengar suara suaminya. Perlahan tangan itu, mau menyentuh pundak suaminya itu. Namun sayang! Pemuda itu, sudah terbangun dan berdiri dari ranjang meninggalkan istrinya, tanpa berucap sepatah kata pun. Cahaya menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Siapa tahu suaminya, mau berbicara dengan dia. Pintu kamar mandi itu terbuka. Langit keluar dari kamar mandi. Langit menganti bajunya, kemudian memakai sarung dan peci. Cahaya mengamati dari jarak yang tidak terlalu jauh. Langit membuka pintu kamar dan keluar tidak berucap apa-apa.


Cahaya mengikuti suaminya dari belakang, sambil menatap nanar punggung suaminya itu.


"Pagi Akak!"


"Pagi, sayang!" Cahaya menjawab, dengan tersenyum. Tapi kedua tangannya mencubit pipi gadis itu.


"Allahu Akbar!" Takbir pertama telah di mulai.


Cahaya menatap punggung suaminya. Pagi itu, tidak bisa mencium tangan suaminya. Karena suaminya tidak menatap dia sedikitpun. Cahaya tidak tahu saja waktu dia tertidur suaminya menciumnya dan bilang 'Mimpi Indah Az-zahra'.


Sholat berjamaah itu telah selesai.


"Tadi malam pulang jam berapa, Lang?" Agam Ariaja memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Tengah malam." Langit bejalan di samping lelaki paruh baya itu.


"Oh ...iya Cut Adik, di lemari pendingin ada martabak, tadi malam dibeliin sama Om!" Black memberi tahu adiknya.


Gadis berwajah bulat itu, membayangkan manisnya martabak. Cantik berlari kearah dapur untuk mengambil martabak itu. Gadis berwajah bulat itu sudah kembali dan duduk di samping om Dosen.


Cantik membuka kardus yang berisi martabak itu.


"Wah... " Matanya berbinar saat melihat martabak itu.


"Om kapan-kapan lagi ya, martabaknya full keju aku suka." Gadis itu berbicara, padahal mulutnya saja penuh dengan martabak.


Langit yang duduk di samping Cantik menganggukkan kepalanya dan mengelus kepala gadis itu. Pemuda itu, jadi teringat istrinya saat makan martabak, persis sekali, seperti gadis yang duduk di sebelahnya itu.


"Can, makanya pelan-pelan sayang!" tegur ayahnya kepada anaknya.


"Papi mau coba?" Gadis berwajah bulat itu, malah menawarkan martabak yang tinggal sedikit kepada ayahnya.


"Makanlah, Papi akan minum kopi buatan Mami!" Agam Ariaja menjawab, sambil menatap istrinya yang berjalan kearahnya sambil membawa empat gelas.


"Kopinya Pi!" Istrinya Agam Ariaja itu, menaruh cangkir kopi di hadapan suaminya.


"Tehnya Bang!" Wanita paruh baya itu, menaruh cangkir di depan Langit.


"Terima kasih!" Pemuda itu mengangguk sambil berterima kasih.


"Susunya buat aku kan Mi?" Gadis berwajah bulat itu bertanya.


"Ya sayang." Istrinya Agam Ariaja meletakkan gelas di depan anaknya.


Jarum jam di rumah Agam Ariaja berada di tengah-tengah angka tujuh. Cahaya memutuskan untuk ke atas setelah membantu masak. Wanita itu, mulai membuka pintu kamar perlahan. Matanya menemukan suaminya yang duduk bersila sambil meletakkan laptop di pangkuan.


Cahaya masuk dan menutup pintu itu kembali. Wanita itu, berjalan kearah ranjang kemudian duduk di depan suaminya. Langit melirik sekilas kearah istrinya kemudian fokus ke layar laptop kembali. Cahaya menatap suaminya. Wanita tidak tahu bagaimana cara mengawali pembicaraan dengan suaminya.


"Kok masih belum siap-siap?" Cahaya bertanya, karena suaminya masih memakai celana selutut.


Langit melirik istrinya sekilas, tapi enggan rasanya untuk menjawab pertanyaan dari istrinya itu. Cahaya masih menunggu jawaban dari suaminya.


"Libur." Setelah tiga menit, Cahaya menunggu hanya itu yang keluar dari mulut suaminya.


Cahaya terdiam, sikap suaminya pagi itu sudah seperti saat pertama bertemu dulu.

__ADS_1


"Kemas barang-barang kita akan pulang pagi ini." Pemuda itu, bicara tapi tak sedikitpun menatap istrinya itu.


Cahaya hanya menurut apa kata suaminya saja. Mereka telah berpamitan kepada keluarga Agam Ariaja. Mobil berwarna silver itu, keluar dari pekarangan rumah Agam Ariaja.


Dalam mobil itu, tidak ada pembicaraan. Sesekali Cahaya melirik kearah suaminya yang fokus mengemudi. Cahaya menatap kearah luar jendela. Wanita itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan. Wanita berambut sebahu itu, tidak tahan jika suaminya mendiamkan dia.


"Mas!" panggilnya lembut, sebisa mungkin wanita berambut sebahu itu, bicara lembut saat bersama suaminya.


Yang dipanggil tidak menjawab, jangankan menjawab melirik pun tidak.


"Mas!" Matanya sudah berkaca-kaca suaranya seperti rengekkan.


Langit tidak memperdulikan istrinya itu.


"Mas!" panggilan yang ketiga itu membuat tangisan pecah.


"Kenapa Masnya mendiamkan ku? Sebenarnya apa yang membuat Mas bersikap seperti ini kepadaku? Hiks ...kalau, Masnya diam seperti ini bagaimana mungkin aku tahu salahku dimana. Hiks ...bicaralah denganku Mas, huaaaa." Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Membenturkan kepala kebelakang kursi, untung empuk jadi enggak nyakitin diri sendiri.


Pemuda itu masih saja diam tak bersuara.


"Kenapa tadi enggak sekalian saja aku ditinggalin hiks ...semuanya saja ninggalin aku ...ibu dan nenek, aku sudah enggak punya siapa-siapa hiks ...huuuaaa." Air matanya tidak bisa berhenti mengalir.


Mobil silver itu memasuki gerbang Raharja. Tapi sepertinya penumpangnya tidak mau turun.


"Mau nangis sampai kapan?" tanya Langit, sambil menyenderkan kepalanya ke kursi mobil.


"Buka!" Cahaya mencoba membuka pintu mobil itu, tapi sayang suaminya menguncinya.


"Habiskan dulu air matamu itu ...tenang aku akan sabar meski sampai besok sekalian." Langit bicara sangat tenang, sangking tenangnya Cahaya mengira jika dia sedang diejek suaminya.


Cahaya memutar badannya menatap suaminya itu.


"Nanti aku beliin samsak buat kamu pukuli," jawaban santai dari Langit.


Pemuda itu menikmati setiap pukulan dari istrinya.


"Katakan kepadaku, kenapa mendiamkan aku? Kenapa hiks?" Cahaya yang lelah memukul suaminya, wanita itu malah menyembunyikan wajahnya di pundak suaminya sambil terisak.


"Kesalahan mu adalah tidak mau membagi keluh kesah kepadaku ...kenapa saat ada orang yang menghinamu ...kau tidak memberi tahuku? Aku tidak suka dengan sifat mu ini ...jika kau saja tidak mau berbagai denganku. Kenapa aku harus berbicara denganmu? Aku rasa kau tidak membutuhkan ku!" ujar Langit, menatap luaran mobil. Cahaya masih menangis dipundak suaminya. Sesekali tangan itu memukul tubuh suaminya.


"Kan aku sudah bilang itu hanya bercanda hiks. Kenapa masalah sepele harus mendiamkan ku ... huaaa " Cahaya mengusap air matanya dengan kemeja suaminya bagian pundak.


"Kau jangan bohong."


"Aku tidak bohong!"


"Tatap mataku, dan bilang aku tidak bohong." Langit mencakup wajah istrinya.


Cahaya menatap wajah suaminya sangat dekat.


Bagaimana mungkin dia bisa menatap mata suaminya itu.


"Ayo katakan!" Langit sangat geregetan, karena istrinya tidak mau menatap matanya.


"Iya." Cahaya menjawab sambil melengos kearah lain.


"Iya apanya? Dan mengapa kau tidak mau menatap mataku? Katakan siapa yang mengejek mu Az-zahra?" Diakhir kalimat suaranya nampak lembut.


"Tidak ada Mas!" Cahaya bicara sambil menatap luaran mobil.

__ADS_1


"Baiklah, jika kamu tetap bersikeras tidak mau memberi tahuku... aku ingin kau berjanji padaku ...jika ada orang yang menghinamu lagi katakan pada ku janji." Langit menengok kan wajah istrinya agar menatapnya.


Cahaya menatap mata itu, mata yang penuh cinta dan kasih. Bagaimana mungkin dia bisa berjanji jika dia akan berkhianat.


"Iya." jawabnya, sambil memalingkan wajahnya lagi. Wanita itu tidak bisa menatap mata suaminya.


Langit membuang napas pelan, sulit sekali menyuruh istrinya berjanji. Sangat keras kepala pikir pemuda itu.


"Baiklah aku harap, kau bisa terbuka dengan ku." Langit bicara, sambil mengusap mata istrinya yang merah.


"Jangan menangis di depan orang lain ... Jangan melihatkan kelemahan mu, di depan orang lain. Aku tidak suka kau terlihat lemah." Langit bicara, sambil memberikan pelukan ke istrinya. Cahaya membalas pelukan dari suaminya itu.


Terlihat jelas sekali pemuda itu, sangat menyayangi istrinya itu. Lihat saja dia tidak mau orang lain melihat kelemahan istrinya. Cukuplah dia dan Allah yang tahu.


Cahaya melepaskan pelukan itu.


"Buka, dulu dong pintunya, jangan dikunci." Cahaya menyuruh suaminya membuka pintu mobil itu.


"Bentar!" Langit membuka seat belt kemudian membuka pintu. Sebelum istrinya membuka pintu mobil itu. Pemuda itu, segera berlari agar bisa membukakan pintu untuk istrinya.


"Makasih!" Cahaya tersenyum.


"Wajahmu kelihatan sembab" Langit mengkritik wajah istrinya.


Cahaya mengelap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Coba cari air, di situ kayaknya masih ada botol air deh." Langit menyuruh istrinya mencari botol yang berisi air di dalam mobil. Cahaya hanya mengikuti perintah suaminya. Wanita itu, menemukan botol yang dimaksudkan suaminya.


"Mana, pelase raise your hand," ujarnya Langit kepada istrinya itu.


Cahaya menurut apa kata suaminya. Langit memercikkan air itu ke tangan istrinya. Cahaya menggunakan air itu untuk mencuci mukanya. Langit tersenyum dan menutup botol itu kembali. Pemuda itu, membuka pintu kembali mengambil tisu.


"Kau itu jangan menangis."


"Emang kenapa?" tanya Cahaya. Wanita itu membiarkan suaminya mengusap wajahnya dengan tisu. Langit harusnya sedia tisu basah agar tidak repot cari air segala.


"Kau jelek!" ujarnya berbisik ditelinga istrinya.


"Terima loh kasih pujiannya," jawab Cahaya yang membuat suaminya mengerutkan dahi. Bagaimana mungkin ada orang di cela bilang, terima kasih pikir pemuda itu


Pasangan baru itu masuk ke rumah kakek Raharja. Saat mau menaiki tangga. Langkah pasangan baru itu, terhenti saat ada seseorang bertanya.


"Sudah pulang?"


"Iya Eyang!" jawaban Cahaya tersenyum.


"Aku tidak bertanya kepadamu, aku bertanya kepada Langit!" Eyang menjawab dengan ngegas.


Cahaya menundukkan kepalanya.


"Apa masalahnya Eyang, dia kan istriku. Kalau dia menjawab tidak masalah dong Eyang, kita juga lagi bersama. Bukannya suami-istri itu saling melengkapi dalam masalah besar maupun masalah sepele seperti saat ini." Langit merengkuh tubuh istrinya.


"Aku tidak mengenal dia, jadi apa salahnya aku bilang seperti itu." Eyang tidak suka, karena cucunya itu lebih membela istrinya daripada dia.


"Baiklah, Eyang kita ke atas dulu ada hal yang harus kita selesaikan." Setelah berucap seperti itu, Langit meninggalkan Eyang.


Eyang menatap punggung Cahaya yang di rengkuh Langit. Eyang tidak suka melihat kemesraan mereka. Padahal itu biasa saja, bagi sebagian orang. Entah mengapa eyang melihat hal itu, terkesan romantis.


Aku akan memberimu waktu satu tahun. Jika kau tidak bisa memberi keturunan, aku akan menyuruh cucuku untuk mencari wanita lain. Aku yakin dia pasti menurut dengan ku. Tapi jika dia tidak mau, aku akan menyuruh si kampung itu untuk bicara jika dialah yang menginginkan, suaminya untuk bersama wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2