Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
10 Oktober 2006


__ADS_3

Puasa ke-tuju belas itu sangat sepesial, karena bertepatan dengan hari jadi gadis berwajah bulat. Keluarga Agam Ariaja. Akan merayakan hari jadi anaknya, dengan santunan anak yatim-piatu di rumahnya.


"Pi, nanti ini Cantik tiup lilin dong?" tanya Cantik, dengan wajah bahagia.


"Cantik di hari jadi mu yang ke-enam. Papi ingin bilang sesuatu ke Cantik!" ucap Agam Ariaja.


"Bilang apa Pi?" tanya Cantik, yang duduk di samping ayahnya.


"Nak, sejatinya hari jadi itu bukan harus dirayakan. Melainkan harus direnungkan." Cantik tidak paham, karena usianya masih di bilang kecil.


"Cantik enggak paham Pi!"


"Ya sudah, berarti ini belum saatnya Papi menjelaskan, nanti saat umurmu udah bisa mencerna. Papi! Akan jelaskan sayang!" Agam Ariaja mencium pucuk rambut anaknya.


Jam menunjukkan pukul lima sore, rumah Agam Ariaja terlihat sangat ramai. Sepertinya anak yatim-piatu sudah pada datang. Tiga Mobil dengan warna berbeda itu, memasuki gerbang rumah Agam Ariaja. Semua pada keluar dari mobil, sambil membawa kado. Gadis berwajah bulat itu sangat senang, karena orang yang dari tadi ia tunggu telah datang.


"Akak!" teriak gadis itu, ditengah anak yatim-piatu. Berlari kearah akak dan memeluknya.


"Gimana puasanya sayang?" tanya akak, sambil mengelus kepala yang tertutup hijab.


"No bolong-bolong Akak!" jawabannya yang membuat semua tertawa.


"Masa sore kayak gini, ada sundel bolong." Kakek Raharja benar-benar bikin Cantik sebel.


"Bolong-bolong Mbah, bukan sundel bolong," ucap Cantik, sampai uratnya keluar. Untungnya tertutup kulit dan hijab.


"Yang namanya lorong-lorong yang pasti. Bolong!" jawab kakek yang membuat semua menggeleng.


Suara adzan maghrib berkumandang. Keluarga itu menjamu anak yatim-piatu dengan baik. Tak jarang keluarga Raharja membantu untuk apa pun itu. Dari mengambilkan makanan, ada juga anak kecil yang umur tiga tahun harus disuapin, si kembar dengan ringan tangan menyuapi sambil mengajak bercanda. Ada juga yang ingin buang air kecil padahal acara berbuka. Nah yang satu itu bagian Cahaya. Wanita berambut sebahu itu, dengan senang hati, mengantar anak itu ke kamar mandi.


Acara berbagi itu dilakukan Agam Ariaja agar anaknya belajar mempunyai rasa empati ke sesama. Jika tidak dari kecil lalu kapan lagi.


Anak yatim-piatu itu sudah pulang, tiga belas menit yang lalu. Sekarang saatnya keluarga Agam Ariaja dan kakek Raharja mempunyai waktu untuk berbincang bersama. Mereka duduk beralasan karpet. Gadis berwajah bulat itu, lebih asik buka kado dari keluarga Raharja.


"Gimana Nak Cahaya sudah ada tanda-tanda?" tanya Agam Ariaja membuka obrolan.


Cahaya tahu maksud pria paruh baya itu. Sedangkan pemuda yang duduk di samping istrinya hanya diam.Sambil minum air dari sedotan. Kalau masalah napsu enggak, pemuda itu hanya manusia biasa. Tapi pemuda itu menahannya dahulu bukan apa. Karena dia dan istrinya belum mempunyai cinta yang amat dalam. Hampir satu tahun perkenalkan mereka jarang bertemu, apa lagi saat istrinya fokus pada kuliahnya.


"Do'akan saja, semoga cepat diberi!" Cahaya menjawab dengan suara lembut, tidak mungkin jika dia harus membuka hubungannya dengan suaminya itu.


"Papi ini gimana sih, orang kita dulu aja baru dikasih enam tahun, setelah pernikahan," celetuk istrinya Agam Ariaja, sambil menepuk pundak sang suami.


"Ya siapa tahu Allah ngasih cepat ke mereka Mi! Lihat saja, waktu acara resepsi belum kelar Langit langsung turun dari altar. Padahal malam sebelum resepsi sudah bisa investasi," ucap Agam Ariaja, yang mengingat kejadian waktu itu.


"Investasi apa Pi?" tanya Cantik yang fokus buka kado.


Istri Agam Ariaja menepuk lengan suaminya, karena ucapan suaminya itu. Karena ia merasa jika ucapan Agam Ariaja itu tidak sepantasnya. Apa lagi di sana juga ada anak muda trio jomblo fisabilillah. Eh disitu juga ada Jo berarti jadi empat serangkai jomblo fisabilillah.


"Investasi buat beli rumah Nak!" jawab Agam Ariaja.


"Oh ...kirain buat beliin kado Cantik!"


"Gimana daftar kuliah mu Black?" tanya pak Khan mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Alhamdulillah! Sudah beres dan di terima," jawab Black, yang duduk di samping Archer.


"Jurusan apa kalau boleh tahu Nak?" tanya Abidah Aminah.


"Akutansi."


"Wah bagus itu Nak, sukses selalu ya," ucap Abidah Aminah.


"Jaga diri, jangan sampai salah pergaulan Nak!" Kakek Raharja berpesan kepada pemuda keturunan Aceh itu.


"Iya Mbah, minta doanya semoga dilancarkan semua oleh Allah."


Semua mengamini ucapan pemuda keturunan Aceh itu.


"Jaga hati Black takutnya ada yang cemburu," celetuk Jo menyeringai sambil menatap Archer.


Archer yang tahu itu dia langsung melemparkan sesuatu kearah Jo.


"Cher kenapa Jo dilempar kulit semangka?" tanya Alula.


"Kak Jo sih—" Archer tak melanjutkan ucapnya.


"Ehm ...ada yang salting," celetuk Arche menyeringai.


Sedangkan Black hanya diam. Sekarang pemuda keturunan Aceh itu, harus berpikir dewasa, karena sudah masuk sekolah Perguruan tinggi tidak lagi anak SMA yang masih childish.


Orang tua hanya diam, mereka tahu jika itu hanya senda gurau saja.


"Wah ... Akak ini baju yang waktu itu Akak mau kasih ke saudara Akak kan? Tapi kenapa jadi dikasih ke aku? Enggak muat ya? jadi dikasih ke aku? " Empat pertanyaan mendarat dari mulut Cantik ke Cahaya.


"Tidak Cantik! Sebenernya itu baju emang khusus untukmu. Tapi Akak simpan dulu kata Om! Cantik ulang tahun seminggu lagi. Jadi, Akak, putuskan untuk memberi baju itu saat Cantik ulang tahun. Karena kebahagiaan— " ucapnya dipotong Cantik.


"Tidak harus datang bertubi-tubi, bisa jadi kebahagiaan itu menunggu kita didepan." jawaban Cantik, membuat semua orang terdiam.


Waktu itu Langit mengetik sesuatu dan diperlihatkan ke istrinya untuk memberi tahu. Jika Cantik, akan berulang tahun seminggu lagi.


"Wah ...kau bisa bicara begitu dari mana Nak?" tanya ibunya gadis itu.


"Tuh," jawab gadis itu, menunjuk kearah Cahaya dengan gerakan kepala.


"Wah ...Teh Cahaya is the beast dah!" Dua jempol dari Black untuk Cahaya.


Sudah lumayan lama mereka di sana.


Mereka memutuskan untuk pulang. Gadis itu ingin ikut, tapi tidak di perbolehkan.


Ke-tiga mobil itu, keluar dari pekarangan rumah Agam Ariaja. Mobil yang di kemudikan Langit ada di belakang. Belum ada pembicaraan dari keduanya. Ponsel Cahaya berdering sepertinya panggilan telepon. Cahaya meminta ijin ke suaminya dulu sebelum menerima panggilan entah dari siapa. Tidak mungkin dari ibu tiri, karena Langit sudah memblokir nomor ibu tiri. Langit mengangguk menyetujui, mungkin saja ayahnya Cahaya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Cahaya.


"Kok SMS gua enggak lu balas Cahyo?" tanya orang itu dari dalam telpon.


"Emang lu SMS? Sorry ponsel gua rusak, ini saja baru ganti." Cahaya sangat mengenali logat suara itu.

__ADS_1


"Iya dah, gimana kabar lu Cahyono?"


"Alhamdulillah baik, lu dimana nih, Sumatra?"


"Iya, setelah ketemu lu waktu itu, seminggu setelah itu ...gua udah balik lagi sampai sekarang."


"Kapan ke Jakarta lagi, gimana udah ketemu belum?"


"Belum, entah gua udah coba nyari kemana-mana tapi enggak ketemu." Terdengar suara orang yang putus asa.


"Sabar, Sanjo cari aja terus sampai ketemu."


Langit yang sedang nyetir mendengar nama Sanjo. Pemuda itu, teringat tentang Senja Rahadian. Tangannya menyalahkan audio mobil.


"Ku ingin tau, kau harus mau. Ku ingin kau begitu, agar kau tau ...Jadilah engkau milikku selalu utuh ... Tanpa tersentuh..." Audio itu mengeluarkan suara menyanyikan lagu milik Naif- Posesif dirilis pada tahun 2000. Cahaya yang asik telpon dengan Senja merasa terganggu.


"Lu lagi dimana kenapa ramai? Ingat cewek jaga diri," ucap pria asal Sumatra itu, mengingatkan Cahaya.


Cahaya melirik kearah suaminya seolah bilang 'tolong audionya dikecilkan sedikit' dengan wajah melas. Sedangkan suaminya, hanya melirik sejenak tak menghiraukan isyarat dari istrinya itu.


"Bila ku mati, kau juga mati. Walau tak ada cinta, sehidup semati.Jadilah engkau milikku, selalu utuh, Tanpa tersentuh, cuma aku." Audio mobil itu terus mengeluarkan suara. Apa lagi liriknya seperti menggambarkan hati seseorang.


"Gua ada di mobil," jawab Cahaya, sambil mengecilkan volume audio mobil itu. Langit melirik saat istrinya mengecilkan volume itu.


"Oh..."


"Oh ...iya Sen, lu ke Jakarta kapan nih, ada planning enggak?"


Sesekali Cahaya melirik kearah suaminya, namun yang dilirik tidak memperdulikan.


"Ada dekat-dekat lebaran deh, kayaknya."


"Okey, gua tunggu, ya udah ya gua udah mau sampai rumah soalnya," ucap Cahaya, sambil mematikan ponselnya.


"Maaf Mas, lama tadi teman telpon." Wanita itu meminta maaf dan berkata jujur. Langit hanya diam. Mengangguk pun tidak! Apa lagi bersuara. Wanita itu berpikir jika suaminya marah, karena dia yang mengecilkan volume audio tiba-tiba. Dan wanita itu, memutar volume itu lagi. Kemudian pemuda itu, mengecilkan volume itu.


Di mobil itu hanya terdengar suara lagu saja. Cahaya tidak tahan jika tidak bicara, dia berinisiatif untuk membuka suara.


"Mas, ngomong-ngomong lebaran ketiga ada acara enggak?" tanya Cahaya menghadap suaminya.


Langit diam belum ingin menjawab. Sebenarnya dia bingung dengan sifatnya yang akhir-akhir ini kenapa mudah bicara.


"Emang mau apa?" Tiga menit Cahaya menunggu jawaban itu, hanya tiga kata yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Em ...kita ke Semarang yuk Mas, ziarah ke makam ibu!" ajak Cahaya, dia ingin sekali ke makam ibu. Karena sudah lama juga dia tidak ke sana. Langit melirik kearah istrinya, raut wajah istrinya seperti orang sedih. Membuatnya merasa iba dan tak sanggup, jika melihat wajah ayu itu redup.


"Insya Allah, kita akan ke sana."


Cahaya sangat gembira, karena jawaban suaminya itu. Senyuman terus terukir. Langit yang melihat hal itu. Di hatinya yang paling dalam juga ada kesenangan, melihat orang yang hampir sebulan menemani dia tidur.


Jam menunjukkan pukul sebelas. Cahaya sudah tertidur. Berbeda dengan wanita itu. Pemuda itu masih terjaga. Memandang wajah istrinya saat tidur adalah rutinitas pemuda itu sekarang. Entah mengapa seperti ada kebahagiaan tersendiri di hati pemuda itu. Perlahan pemuda itu mencium pipi itu. Bibir milik istrinya, selalu tersenyum jika di cium.


"Mimpi indah Az-zahra!" ucapnya, sambil berbisik ditelinga istrinya.

__ADS_1


"Sebaik-baiknya perhiasan adalah istri yang solehah."


Pemuda ini terlelap memeluk guling. Dia tidak pernah memeluk istrinya saat tidur. Waktu itu saat malam pertama karena ada guntur dan saat bermalam di rumah Agam Ariaja karena kasurnya kecil.


__ADS_2