Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Cerita Dari Langit.... Untuk Si Bulat


__ADS_3

Jam setengah sepuluh semua murid baru itu keluar dari kelas. Gadis itu sepertinya sangat bahagia jika melihat senyuman di bibirnya.


"Daaa Cantik aku pulang dulu, Ayahku sudah menjemput ku." Nana melambaikan tangannya, kearah gadis berwajah bulat itu, dan berlari kearah ayahnya yang sudah membukakan pintu mobil untuk Nana.


Gadis itu membalas lambaian teman barunya. Gadis itu berjalan kearah gerbang sekolah.


"Aku mau om, cerita tentang almarhumah." Gadis itu tersenyum dan berlari kecil.


Untungnya di sana sudah ada petugas, untuk membantu murid menyebrang jalan.


"Pak bisa membantu ku?" tanyanya sopan, maklum keturunan Aceh orang Aceh itu biasanya etikanya baik.


"Iya, Adik mau nyebrang ya?" Pria paruh baya itu bertanya, kepada si wajah bulat itu.


Dan gadis itu mengangguk membenarkan.


"Ayo Bapak bantu." Pria paruh baya itu membantu Cantik. Gadis itu menggandeng tangan pria itu. Melihat kanan-kiri dan mengangkat tangan kiri, agar mobil yang mau lewat sedikit pelan. Untung saja di negri ini orangnya suka membantu satu sama lainnya.


"Makasih Pak, semoga keselamatan selalu bersama Bapak!" Gadis berucap.


Cantik berjalan menuju perusahaan itu. Jam sepuluh semua karyawan masih pada kerja. Gadis itu sudah masuk kantor itu. Cantik menggaruk kepalanya.


"Om kerja dimana, tidak mungkin Om nyapu." Gadis itu menutup mulutnya. Saat melihat OB, jadi gadis itu berpikir jika om Dosennya juga menyapu.


Karyawan yang silih berganti melewati Cantik. Berpikir, kenapa ada gadis dengan seragam sekolah lengkap masuk kantor. Ah— tidak gadis itu, sudah mencopot hijabnya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memainkan hijabnya.


"Aku tanya saja sama Mbak-mbak itu!" Gadis itu berjalan kearah resepsionis yang berdiri kemudian duduk lagi.


"Mbak!" Gadis itu memanggil.


Resepsionis itu mendengar suara, tapi tidak ada orangnya. Yang benar saja, orang resepsionis itu duduk jadi mana bisa lihat gadis itu yang pendek.


"Mbak, dengar aku enggak?" Gadis itu meloncat-loncat agar bisa lihat resepsionis itu. Sayang tubuhnya sangat pendek.


Resepsionis itu bangkit dari duduknya. Ah—baru bisa lihat gadis itu, yang tersenyum kepadanya.


"Anak siapa ini, kenapa bisa masuk apa pak satpam tidak melarangnya," gumamnya pelan.


"Aa ...iya Adik ngapain di sini?" Resepsionis itu sedikit ramah.


Cantik berpikir sejenak, ngapain kalau tidak cari om Dosennya pikir gadis itu.


"Pisky!" Gadis itu akan membuat drama di jam sepuluh. Yang benar saja, gadis itu mau buat ruangan panas.


"Siapa itu, di sini tidak ada yang namanya Pingky!" Demi apa kenapa resepsionis itu tuli.


"Pisky bukan Pingky! Mbak!" Gadis itu menjelaskan.


Kenapa gadis itu tidak bertanya, dimana ruangan om Dosen. Pasti resepsionis itu tahu. Ah—tidak resepsionis itu tidak akan tahu, itu di perusahaan bukan di kampus.


"Pisky siapa itu?" Resepsionis itu bertanya lagi.


Karyawan yang sedang lewat melihat adegan itu. Kemudian menggelengkan kepala. Ada juga yang ingin nyubit pipi gadis itu, tapi takut nangis.


"Papi Sky!" Yang benar saja, gadis itu memanggil om Dosen. Papi!.


Resepsionis itu mengerutkan dahi. Di sana tidak ada karyawan yang namanya Sky.


"Itu Papi kamu?" Resepsionis itu bertanya.


Gadis itu hanya mengangguk, karena kepalanya sakit, jadi mengangguk saja kalau menggeleng nanti makin sakit.


"Di sini enggak ada yang namanya Sky!" Cantik yang mendengar hal itu menepuk dahinya.

__ADS_1


"Bukan Sky tapi namanya Lang-it!" Gadis itu berucap.


"Enggak ada Adik, di sini tidak ada yang namanya Langit, kalau langit biru ada di luar!"


Cantik berkacak pinggang saat resepsionis itu bilang tidak ada.


"Bo-hong!" Gadis itu bicara, seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya. Tangan kiri ditaruh pinggang tangan kanan nunjuk ke resepsionis itu.


"Tidak, benar di sini tidak ada yang namanya Langit!" Resepsionis itu masih sabar karena ulah Cantik.


Cantik menggaruk kepalanya dengan keras. Sepertinya om Dosen, mengerjai nya pikir gadis itu.


Pemuda itu baru saja masuk kantor. Setelah meeting pemuda itu, ingin menjemput si gadis berwajah bulat. Langit menggaruk rambutnya, pemuda itu mencari Cantik dari sekolahnya, tapi kelas Cantik sudah tutup.


"Di mana gadis itu, kenapa tidak ada." Langit bicara dengan frustasi.


Di bagian resepsionis ada beberapa karyawan sedang berkerumun. Membuat Langit bingung ada apa, mungkin itu yang ada di dalam pikirannya. Pemuda itu, berjalan kearah resepsionis. Menyuruh salah satu karyawan kantor memberi celah untuk dia.


"Bisa minggir." Langit berucap, dan membuat semua karyawan yang berkerumun membelah. Gadis itu tersenyum, mendengar suara yang tak asing di telinganya.


"Cantik!" Langit terperanjat, karena yang membuat sebagian karyawan berkerumun ada si wajah bulat. Untuk dulu belum ada jaga jarak. Masih aman lah ya.


Semua karyawan saling tatap, kenapa direktur keuangan mengenal gadis yang membuat gaduh siang itu.


Cantik berlari kearah om Dosennya, dan memeluk perut om Dosennya. Maklum gadis itu, cuma mempunyai tinggi sebatas pusar om Dosen.


"Sepertinya dia mencari ku," Langit mencibir pelan, sambil mengusap kepala gadis itu.


"Maaf Pak, saya tidak tahu jika Adik ini anak Bapak," ujar resepsionis itu, yang membuat Langit membulatkan matanya. Yang benar saja! Pemuda itu punya anak sebesar itu. Baru dua hari nanam benih di rahim istrinya. Masa sudah punya anak sebesar itu.


"Ya sudah, ayo ke ruangan ku," ujar Langit, sambil menggandeng tangan gadis itu. Pemuda itu, tidak menjawab ucapannya resepsionis itu.


Semua karyawan berbisik karena kegaduhan yang Cantik lakukan. Mulai dari, ada yang bilang


"Ternyata anaknya sudah besar."


"Aku kira belum nikah masih singel."


"Aku patah hati." Ada juga yang bilang seperti itu.


Langit masuk lift itu, bersama gadis berwajah bulat.


"Tadi aku cari Om, tapi kata mbak-mbak itu bilang tidak mengenal Om!" Gadis itu mendongak untuk melihat wajah om Dosennya.


Langit memandang gadis berwajah bulat itu. Kemudian menggelengkan kepala, pemuda itu, ingin tahu. Apa yang gadis itu tanyakan kepada resepsionis.


"Cantik, apa yang kau tanyakan kepada mbak-mbak itu?"


"Tadi— aku bertanya begini, Pisky ...mbaknya bertanya ...Pisky siapa? Aku jawab Papi Sky, tapi mbak itu enggak tahu. Dan mbaknya, juga bilang di sini enggak ada yang namanya Langit!" Gadis itu menutup matanya, kemudian membuka matanya lagi.


Langit membuang napas kasar, karena penjelasan gadis itu.


"Semua tidak akan tahu jika kau manggil seperti itu ...coba kau tanya dimana ruangan Om Arkarna ...pasti tahu," ujar Langit, kepada gadis itu.


"Oh ...gitu." Gadis itu berseru.


Kedua orang itu masuk ruangan direktur keuangan. Langit menyuruh gadis itu duduk diam.


Tapi bukan gadis berwajah bulat namanya jika tidak bertanya.


"Om kita diketinggian berapa lantai?" gadis itu berlari kearah pembatas yang terbuat dari tembok kaca. Gadis itu, bisa melihat keindahan Kota Jakarta di ketinggian lantai tiga satu.


Langit mengalihkan pandangan, yang semula ke berkas menjadi kearah gadis itu yang sedang berdiri.

__ADS_1


"Tiga satu." Langit bangkit dari duduknya dan berjalan kearah gadis itu.


"WOWWWW!!! Akak pernah kesini, enggak Om?" Gadis itu mendongak, agar melihat wajah pemuda yang berdiri di sampingnya.


Langit menggelengkan kepala, pemuda itu berpikir. Jika istrinya akan senang, saat bisa melihat langit malam penuh bintang dan rembulan yang nampak besar di ketinggian lantai tiga satu.


"Oh ...ya Om apa Om mau bercerita tentang almarhumah kepada ku?" Wajahnya penuh harap.


Langit terdiam matanya menatap lurus.


"Kau mau bercerita tentang apa?" Pemuda itu bertanya.


"Saat Om dan almarhumah masuk sekolah untuk yang pertama kalinya." Gadis itu menyentuh dinding kaca.


"Dulu saat usiaku lima tahun baru masuk TK. Sedangkan almarhumah berumur enam tahun. Pertama masuk, kita sudah berteman selama seminggu setelah perkenalkan kita. Almarhumah sangat antusias saat masuk sekolah. Bagaimana mungkin, dia tidak antusias. Kika dia tahu teman sebayanya umurnya lebih muda. Sangking percaya dirinya dia menowel dagu anak perempuan. Dan membuatnya menangis. Dan yang paling tidak beradab adalah. Saat kita menyuruh teman kita pindah bangku, agar kita dapat duduk di bangku terdepan. Namun sayang sekali, saat kita pulang. Kita dimarahin sama ibunya teman kita." Langit bercerita, sambil menggelengkan kepala jika ingat tentang Mentari.


"Terus Om!"


"Saat itu almarhumah seperti kamu dia gemuk ...saat ibu teman kita sudah siap melempar sandal jepit, kearah kita. Kita siap-siap lari. Tapi sayang karena almarhumah gemuk tidak bisa lari kencang. Sedangkan aku sudah didepan. Om, menunggu almarhumah lima menit ...Tapi tidak ada batang hidungnya juga, pikir Om! Waktu itu, saat Om, mau menyusulnya, almarhumah. Dia berlari kearah Om dengan ngos-ngosan. Dahinya bercucuran keringat. Dia bilang seperti ini ke Om. 'Kampret si gendut itu, melempar sandal jepit kearah ku. Dan sialnya lagi pakai jatuh segala. Sandalnya kena kepala ku lagi. Ya Allah, semoga ibu gendut itu segera meletus amin' Almarhumah berdoa seperti itu." Langit tersenyum simpul saat bercerita.


"Dalam hati Om berkata ...bukannya dia juga gendut, lalu kenapa dia mendoakan orang tua teman kita meletus. Om pun menahan tawa, karena ucapan almarhumah. Almarhumah bertanya kepada Om. Kenapa, waktu itu Om tertawa. Aku tidak mampu menjawab, jika aku menjawab pasti dia akan marah." Langit membuang napas pelan. Kenapa sahabatnya meninggalkan dia. Cantik mendengar dengan baik. Cerita siang itu belum pernah ia dengar dari mulut keluarganya. Ternyata kakaknya dulu, saat masih kecil sangat nakal pikir gadis itu.


"Terus Om!" Gadis itu ingin tahu kelanjutannya.


"Saat... " ucapan Langit terpotong, karena ada orang yang mengetuk pintu. Langit membalikkan badannya untuk melihat pintu yang tertutup itu.


"Masuk!" Langit berucap.


Seseorang yang mengetuk pintu membukanya perlahan.


"Dokumen yang Pak Arkana, minta." Perempuan itu berucap, sambil meletakkan dokumen itu ke meja.


"Terima kasih, Bu Asya!" Langit berjalan kearah meja kerjanya.


"Sama-sama Pak!" Asya menjawab dan tersenyum. Mata perempuan itu, menatap gadis berwajah bulat. Dahinya mengkerut sebelum masuk ruangan direktur keuangan. Telinganya mendengar, jika ada seorang anak yang mencari direktur keuangan. Asya tidak mendengar banyak, karena perempuan itu tidak terlalu suka bergaul dengan orang. Perempuan itu menutup diri. Siapa yang tahu tentang masa lalu perempuan itu. Tidak akan yang tahu, perempuan itu bisa merahasiakan masa lalunya. Biarkanlah waktu yang menjawab.


Apa ini yang mereka maksud, apa gadis kecil ini anaknya. Batin Asya.


"Ehm... " Langit berdeham.


Asya tersadar, dengan apa yang ada dipikirannya.


"Baiklah Pak, saya permisi!" Asya sudah keluar dari ruangan direktur keuangan.


"Ternyata almarhumah sangat nakal ya Om!" Gadis itu duduk di depan Om Dosen-nya.


"Kenakalannya semakin bertambah saat masuk SMP. Tapi semua itu, sudah berubah." Langit memakai kacamata untuk membaca.


"Wah ...Om sangat tampan saat pakai kaca mata kuda. Apa akak, pernah melihatnya?" Gadis itu bertanya dengan semangat.


Langit mengerutkan dahi, dia berpikir apa istrinya pernah melihat dia pakai kacamata kuda.


Langit menggelengkan kepala, pemuda itu tidak pernah memakai kacamata jika di rumah. Langit akan memakai kacamata saat memeriksa laporan keuangan. Pemuda itu, selalu menyimpan kaca mata itu di laci kerjanya.


"Aku yakin jika akak, tahu pasti mukanya gini Om!" Cantik mempraktikkan muka akak Bubble-nya saat melihat om Dosen-nya memakai kacamata.


Langit yang melihat ekspresi Catik tidak kuat menahan tawanya. Karena gadis itu melotot, lidahnya keluar dan mulutnya sepertinya akan mengeluarkan air liur.


"HAHAHAHAHAHAHA!" tawa Cantik dan om Dosen-nya saat membayangkan wajah skak Bubble-nya.


Langit sampai memegang perutnya yang sakit karena tertawa.


"Sudah ...cukup, Om enggak kuat Can..

__ADS_1


haha ...kita telpon akak. Kita ajak makan siang Okey." Pemuda itu, akan menelpon istrinya untuk mengajak makan siang bersama. Siang itu Cantik membuat om Dosennya tertawa.


__ADS_2