Tak Ada Kata Sayang

Tak Ada Kata Sayang
Kedatangan Jofisa


__ADS_3

Malam ke-tiga belas puasa, berarti besok pemuda itu akan interview yang kedua kalinya. Langit menatap wajah istrinya yang terlelap. Entah apa yang ada dalam pikiran pemuda itu. Setelah kedatangan Cantik, kemarin kebiasaan berubah. Setelah sholat dengan istrinya pemuda itu selalu mencium kening istrinya. Bukan cuman setelah sholat saja, tapi Langit diam-diam mencium pipi istrinya saat sedang terlelap.


Pemuda itu berjalan kearah laci di samping istrinya. Langit mengambil benda mati milik istrinya. Setelah itu membuka laci paling bawah. Pemuda itu, berjalan kearah sofa duduk bersila. Kemudian membuka tutup ponsel milik istrinya. Memindahkan Kartu Subscriber Identity Module (SIM) itu. Ke ponsel yang satunya lagi. Perlahan Langit menutup ponsel itu. Dan mula mengaktifkan ponsel itu. Di lihat nya pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


Cahyo turut berduka atas meninggalnya nenek. 22 September.


Pesan itu dikirim satu hari sebelum puasa.


Cahyo save nomor baru, gua Senja Rahardian. 27 September.


Kira-kira seperti itulah pesannya. Langit yang membaca pesan itu mengerutkan dahi. Kata 'Rahadian' berarti cowok. Andai saja cuma 'Senja' pasti pemuda itu tidak terlalu mempermasalahkan. Masalahnya itu yang kirim pesan pria.


Ponsel itu berdering...


Langit mengangkat, tapi tidak mengeluarkan kata.


"Halo, kenapa enggak pernah angkat telpon ibu? Dasar tidak tahu malu. Enak ya hidup dengan keluarga baru. Bentar lagi lebaran adikmu dan ibu belum punya baju. Jika kau tidak kesini tak apa. Kau bisa kirim lewat Pos!" Ternyata yang menelpon adalah Ibu tiri yang tidak tahu diri


Langit menghembuskan napas. Orang yang ia kira baik ternyata sangat bejat.


"Anaknya lagi tidur Buk. Mohon maaf, kenapa minta uang ke istri saya. Bukannya ibu dan anak ibu itu urusan suami ibu. Saya pikir Anda orang baik ternyata— Baiklah karena ibu sudah nelpon malam-malam ngabisin tenaga saya akan kirim uang lewat pos 1,5juta. Tapi jika ibu meras istri saya lagi. Nyuruh kirim uang siap-siap polisi datang saja." Langit mematikan telpon itu kemudian membuang napas lagi.


Sedangkan ibu tiri sedang kesal karena kedoknya terbongkar. Tapi tak masalah, yang penting dapat kiriman dari menantu tirinya. Tapi wanita itu benar-benar takut ancaman menantu tirinya itu.


Langit jalan kearah balkon, menatap bintang dan rembulan. Memikirkan besok akan interview, jika tidak di terima tidak masalah. Karena dia akan menjalankan bisnis kafe dan minimarket.


"Umurku sudah dua puluh delapan. Hazel sudah punya anak di usia yang baru dua puluh sembilan."


"Aku tidak tahu, apa aku bisa menemani anak-anak ku kelak. Dua puluh tahun yang akan datang umurku hampir setengah abad." Pemuda itu sudah memikirkan dua puluh tahun kedepannya.


"Gimana dengan masalah ruko, yang mau aku buat kafe dan minimarket."


Langit berjalan ke dalam kamar, menutup pintu sliding yang terbuat dari kaca itu. Berbaring di samping istrinya, kemudian mengecup pelan pipi milik istrinya. Sang empu tersenyum mungkin pipi itu juga mengizinkan jika dicium, meski belum bertanya dengan sang pemilik.


"Mimpi indah Az-zahra!" ucapnya pelan, sambil mengelus pucuk rambut istrinya.


Puasa seperti ini tidak akan bagus jika digunakan bermalas-malasan. Hari itu Cahaya tidak ke toko istri Agam Ariaja. Karena badannya pegal-pegal. Cahaya mulai mencari buku yang dikasih istri Agam Ariaja waktu itu. Wanita itu benar-benar lupa. Cahaya menggaruk rambutnya karena frustasi. Sedangkan suaminya sudah pergi tiga jam yang lalu.


"Payah, dimana sih."


Wanita itu mulai mencari dari laci, meja dekat sofa, sampai lemari buku dan terakhir di bawah tempat tidur. Tapi sayang tidak ketemu. Suara dering ponsel membuat Cahaya menghentikan acara mencari bukunya.


Tadi sebelum berangkat. Langit sempat berpesan jika nomor SIM milik Cahaya sudah diganti dengan ponsel lama Langit.


"Iya, Le ada apa?" tanya Cahaya, sambil duduk di sofa.


"Gimana kabar lu, kok gua telpon enggak aktif. Bentar ya Dik, Mama lagi telpon sama temen Mama!" Cahaya yang mendengar suara sahabatnya mengorek telinganya dengan tangan kiri.


"Baik Mama!" jawab Cahaya, sambil menahan tawa, karena Alexa sudah jadi ibu.


"Lu ya Ay, lu udah kaw*n belum?" tanya Alexa.


Cahaya membulatkan matanya dengan pertanyaan Alexa.


"Puasa batal lu, bahas kagak faedah ada anak lu tuh jangan ngomong sembarangan." Cahaya menegur Alexa.


"Hahaha ...oke Bu Langit! Eh ...kenapa di telpon enggak aktif sih. Pade nyariin lu tuh."


"Ponsel gua enggak bisa di aktifkan Le, karena jatuh. Ini aja ponsel punya masnya"


"Wih ...masnya yakin deh dulu pak sekarang mas asekkkk,"


"Iya emang mau manggil apa. Kalau lu kan enak papanya Kenzi. Lah kalau gua manggilin papanya siapa?"


Anak sambung nya Alexa yang pertama namanya Kenzi.


"Makanya kaw*n."


"ALEEEEE!!!!"


"Wah lu kurang pelukan Ay, sumpah telinga gua mau copot ...gara-gara teriakan lu, untung ponsel enggak jatuh."


"Biarin lu bahas nya itu mulu, bentar deh Le, kayaknya ada sesuatu tunggu ya Le!" Cahaya berjalan kearah kamar mandi, setelah satu menit dia keluar.


"Ngapain Ay lama amat"


"Biasa Le, cewek."

__ADS_1


"Lu datang bulan?"


"Iya... "


"Kasian pak Langit ya?"


Cahaya tahu apa maksud Alexa dia menghembuskan napas.


"Sudah ya Le, gua mau kebawah dulu."


Jam menunjukkan pukul tiga sore. Cahaya membantu mbok Ijah di dapur. Kita bergeser ke ruang tamu, si kembar sedang tiduran di sofa tadi pagi mereka sudah aktif masuk sekolah.


"Assalamu'alaikum!" terdengar salam dari luar.


"Wa'alaikumsalam!" jawab si kembar.


" Eh ...jomblo fisabilillah datang," celetuk Arche.


"Biasa dong Kak, enggak usah bahagia gitu. Eh ...gebetan datang," ucap Archer menyeringai. Suruh siapa waktu itu bilang Archer mau nikah sama Jo.


"Si*lan lu Cher!" ucap kakak, sambil melemparkan bantal kearah adiknya.


"Kalian itu, pak Langit ada enggak?"


"Kagak Ada!" jawab Archer.


"Jo kamu baru pulang Nak?" tanya Abidah Aminah.


"Iya Bu, biasalah kerjaan numpuk."


"Istirahat sana dikamar," ucap Abidah Aminah sambil meninggalkan Jo.


"Nikah kapan Kak Jo? Masa mau bujang terus?" tanya Archer menyeringai. Archer tahu, jika Jo akan jeles jika ditanya nikah kapan.


"Nunggu kamu Cher!"


"Kalau aku, lima tahun lagi Kak! Itupun ta'aruf enggak pacaran. Sekarang umur Kak Jo dua tujuh. Berarti kalau lima tahun lagi tiga dua. Umur manusia kisaran enam puluh tahun. Berarti Kak Jo ngerasain nikah bentaran. Paling cuma dua puluh tujuh tahun." ujar Archer, yang menghitung hari Jo nikah sampai hari Akhir untuk Jo.


"Pintar kamu Cher, belum lulus SMA sudah dapat gelar Prof!" jawab Jo memuji otak Archer yang terlalu cepat berpikir.


"Kan masa depan harus disiapkan dari sekarang. Doain ya Kak, semoga jodohku kayak kang mas!" ucap Archer, penuh harap.


"Enggak tipeku Kak!"


"Hahaha, bercanda kali Cher!"


Jam menunjukkan pukul empat lebih. Cahaya kembali ke kamar.


"Jo!" panggil Langit dari belakang Jo. Pemuda itu baru saja pulang.


"Sore Pak ...masalah ruko—" ucapnya di potong Langit.


"Jo! Kita bahas nanti, aku belum sholat soalnya."


"Siap!"


Langit mulai menaiki tangga, setelah di depan pintu kamarnya. Pemuda itu membuka pintu itu perlahan.


Cahaya yang ada di kamar duduk di ranjang, sambil buka bungkus roti yang sore itu ia ambil dari dapur.


Krekkk....


Cahaya yang mau memasukkan roti ke mulutnya tidak jadi.


"Kau undur?" tanya Langit sambil, menutup pintu kamar.


Cahaya segera menyembunyikan roti itu ke belakang tubuhnya.


"Eh... eh... " Cahaya tidak bisa menjawab.


"Makan aja kali, enggak usah malu. Kalau malu juga sama siapa? Kan enggak ada orang," ucap Langit, sambil berjalan kearah kamar mandi. Cahaya hanya diam, saat suaminya masuk kamar mandi. Wanita itu langsung makan roti itu dengan cepat.


"KAU BISA AMBILIN HANDUK?" teriak Langit, dari dalam kamar mandi.


Cahaya yang sedang makan, spontan menjawab dengan mulut yang penuh.


"IYO TUGGO AKO CAROIN!"

__ADS_1


"KALAU MAKAN JANGAN BICARA!"


Cahaya sangat malu, karena suaminya tahu jika dia sedang makan.


Tok... tok... Cahaya mengetuk pintu kamar mandi, kemudian kembali duduk ke ranjang.


Langit keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang terlilit di pinggang. Perut sixpack sudah seperti susunan batu saja.


Cahaya memutuskan keluar dari kamar.


"Sore Kak Jo!" sapa Cahaya kepada Jo.


"Sore Bu Cahaya!"


"Hahaha ibu-ibu," Arche mentertawakan kakak iparnya.


"Namanya juga cewek masa mau bilang, sore Mas Cahaya!" ucap Cahaya, meninggalkan ruang tamu.


Langit baru saja turun, sekarang sudah ada di ruang tamu sambil duduk di sofa.


"Gimana Jo masalah ruko?"


"Sudah setengah jalan Pak!"


"Berapa Jo, uang yang harus aku keluarkan?"


"30 juta Pak!" jawab Jo.


Saat Jo berbicara si kembar menirukan tanpa suara.


"Kalian itu punya sopan santun enggak sih? Dari tadi Kang Mas lihatin kalian kalau Jo ngomong selalu di ikutin. Kalau enggak ada kerjaan sana ke dapur bantu nyiapin menu berbuka."


Si kembar langsung berjalan kearah dapur. Si kembar lebih takut dimarahin kang mas, daripada dimarahin pak Khan.


"Enggak ada potongan Jo?" tanya Langit.


"Asalnya 35 Pak, di diskon jadi 30." Jo memberi tahu potongan diskon yang bukan main!


"Baiklah, terima kasih Jo, dan maaf sudah ngerepotin."


"Udahlah Pak, harusnya saya yang terima kasih kepada keluarga Pak Langit. Saya yang dulunya hanya mandor biasa, sekarang bisa kerja di perusahaan itu. Karena keluarga Pak Langit. Saya di kuliah kan diberi tempat tinggal. Dan menemukan keluarga baru itu karena keluarga ini," ucap Jo panjang lebar, dia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan keluarga itu.


"Kami hanya perantara saja Jo, yang ngirim itu semua Allah!" ucap Langit, yang mengingat malam dimana ada Cantik.


Mereka berbuka puasa bersama sesekali ada candaan ditengah berbuka.


Sekarang pasangan baru itu ada di kamar. Langit sholat sendiri jatah cium kening istrinya berkurang, jika istrinya sedang datang bulan. Jam menunjukkan pukul sembilan malam Cahaya belum tidur. Langit harus menunggu istrinya tertidur dulu agar dapat mencium kening istrinya.


"Hallo Wil kumaha damang?" tanya Cahaya, sambil tiduran. Wanita itu ingin sekali bisa bahasa Sunda.


"Apek!"


"Haha lu ya, oh ...gimana lu udah punya pacar?" tanya Cahaya.


Sedangkan Langit sedang bermain ponsel, dia mencoba menggali informasi tentang bisnis minimarket nya dengan teman kuliahnya dulu.


"Belum cariin lah yang seagama."


"Cari sendiri Will, gua aja lu tahu lah, tadi si Ale telpon. Gila! Will bahasannya enggak ada faedahnya."


"Bahas apaan? Beda enggak ama yang dia bahas ke gua?"


"Kaw*n, Wil."


Langit yang mendengar hal itu menghentikan ngetiknya. Langit merampas ponsel istrinya dan mematikan.


"Mas kenapa ditarik tiba-tiba?" tanya Cahaya, membalikkan badannya agar bisa lihat suaminya.


"Kalau bicara itu dijaga, kamu perempuan apa lagi kalau bicara sama cowok. Ya meskipun itu teman kamu, apalagi bahas yang tidak sepantasnya kayak tadi." tegur Langit kepada istrinya.


"Maaf deh!" ucap Cahaya, lirih merasa tidak enak dengan suaminya.


"Tidur udah malam."


Cahaya hanya menurut karena istri yang baik adalah istri yang menurut apa kata suami.


Sekarang Cahaya tidak pernah tidur membelakangi suaminya. Mata Cahaya sudah terpejam dan sudah ada di alam mimpi. Sedangkan pemuda itu, masih berkutat dengan ponselnya, hingga jam sepuluh. Langit baru menaruh ponselnya ke laci. Menarik selimut sampai dada. Memandang wajah istrinya, kemudian mencium pipinya.

__ADS_1


"Mimpi indah Az-azahra!" Mata pemuda itu mulai tertutup. Doa sebelum tidur pemuda itu hanya ingin istrinya mimpi indah.


__ADS_2