
Seminggu setelah kepergian Black. Seminggu itu pula eyang selalu mencaci maki Cahaya. Seminggu lagi anniversary yang kedua bulan buat pasangan itu. Pagi itu, Cahaya sangat bahagia karena kafenya akan dibuka.
Wanita berambut sebahu itu, membantu suaminya memakai dasi.
"Ingat ya Mas, nanti malam Mas, harus datang ke ruko." Wanita itu, mengingatkan suaminya kembali.
Sudah tiga kali! Pemuda itu mendengar ocehan istrinya yang hanya itu-itu saja pikirnya.
"Akh aku lupa tadi malam kan malam jumat." Langit berbicara mengalihkan pembicaraan.
Cahaya hanya diam, wanita itu tahu maksud suaminya.
"Nanti malam ya?" Langit bertanya kepada istrinya.
Cahaya membuang napas kasar, karena pertanyaan dari suaminya itu.
"Libur." Cahaya merapikan jas suaminya.
Pemuda itu berjalan kearah ranjang dan membanting tubuhnya. Cahaya yang melihat hal itu hanya bisa mengelus dada.
"Mas jangan childish deh. Ayo bangun. Wahai ...karyawan kantor. Anda harus bisa memberi contoh yang baik. Untuk karyawan yang lain." Cahaya menarik tangan suaminya agar bangun.
"Bohong ya?" Langit menuduh istrinya.
"Dosa loh, menolak suami." Langit bicara lagi. Pemuda itu sudah duduk di tepian ranjang.
Cahaya berdiri di depan suaminya dan menggelengkan kepala.
"Tadi kok subuh." Langit bicara, sambil menarik tangan istrinya.
Duh! Wanita itu terjatuh di pangkuan suaminya.
"Lepasin ...ah Mas!" Cahaya meronta ingin dilepaskan.
"Enggak!" Langit menggelengkan kepala.
Lucu sekali pikir wanita berambut sebahu. Saat melihat suaminya menggelengkan kepala. Sayang beribu sayang waktunya tidak pas. Waktu udah mepet suaminya harus kerja. Wanita itu tidak mau jika suaminya telat, takut kena reproof dari perusahaan.
Wanita berambut sebahu itu, mencakup wajah suaminya.
"Dengerin ya Mas, aku tidak bohong!" Katanya diakhir kalimat wanita itu sedikit menekankan kata bohong.
Langit menatap mata istrinya, tapi sayang sekali, pemuda itu tidak menemukan kebohongan dimata istrinya.
Tidak Langit, jika tidak membuat istrinya sebal. Pemuda itu mengeratkan pelukan di pinggang istrinya. Kepalanya ditaruh dileher sang istri. Akh—tidak sesekali pemuda itu mencium leher istrinya.
"Ayo turun, nanti bapak kasian nunggu Masnya lama." Cahaya mengoceh di pagi itu.
"Enggak!" Langit menjawab, sambil memejamkan matanya dan bersandar di bahu istrinya.
"Nanti telat, enggak makan lagi kayak waktu itu ...ingat jaga kesehatan." Cahaya melepaskan tangan suaminya yang ada di pinggangnya.Wanita itu turun dari pangkuan suaminya. Kemudian menarik tangan suaminya agar mau kebawah untuk makan.
"Hoam!" Langit menutup mulutnya.
"Masih ngantuk ya? Kan tadi malam pulangnya tengah malam." Cahaya bertanya, suaminya mengangguk.
Dua hari sudah, pemuda itu pulang terlambat. Karena pekerjaan belum selesai, membuatnya terpaksa lembur pulang malam. Dua hari pemuda itu, tidak bisa menikmati keindahan langit malam bersama istrinya. Saat pulang istrinya masih terjaga menunggu dia. Padahal dia sudah menyuruh istrinya untuk tidur dahulu. Dua hari itu pula pemuda itu, tidak tahu apa istrinya masih suka menangis di balkon atau tidak.
"Gara-gara cariin nafkah kamu, buat kamu beli susu." Langit menjawab, tapi membuat hati istrinya senang.
"Kalau sudah punya anak nanti ada jatah susu lagi ...aku harus kerja buat nanti ...suami itu kalau kerja totalitas." Langit bicara, sambil berjalan di samping istrinya.
"Emang istri enggak totalitas?" Cahaya bertanya sambil merapikan rambut.
"Bukan begitu maksudku. Tapi kalau kerjaan istri itu, masih bisa di bilang santai lah. Enggak terlalu harus, oke jam ini harus selesai nyapu misalnya. Kan nyapu enggak harus ada jamnya. Kapan pun bisa ...mau selesai masak. Mau jam dua bisa ...nah kalau suami. Jam tujuh harus berangkat kerja ...kayak ada kontrak gitu sama orang luar ...jadi mereka harus on time di jam pagi sampai sore ...atau bisa saja sampai malam ...dan enaknya istri itu kalau lelah butuh hiburan bisa ...lihat buah hatinya main menemani belajar ...kalau suami cuma di jam-jam tertentu untuk bertemu buah hatinya sendiri ...terkadang kalau pulang larut malam cuma bisa mandang wajah anaknya saat terlelap." Langit bicara seperti seorang yang sudah punya buah hati saja.
"Meskipun begitu istri juga a lot to think about. Istri itu juga banyak yang harus dikerjakan dalam rumah. Istri itu dituntut untuk menjadi pintar. Tahu caranya bersikap. Contoh kecil saja. Saat pagi harus mikir, masak apa? Suaminya suka kangkung, anaknya suka ayam. Oke itu hal sepele bagi orang yang punya uang, tapi tidak bagi orang yang berpenghasilan pas-pasan. Istri juga harus bisa me-menejemen uang bulanan dengan baik. Kadang peralatan rumah tangga. Itu habisnya bersamaan padahal nyetok nya enggak bareng. Beras habis, minyak habis, peralatan mandi habis, stock obat juga habis. Dalam bulan itu, semua habis. Padahal uang bulanan sudah tinggal setengah karena bayar SPP anak. Belum langi, jika suaminya menurut tentang buah hati. Kenapa anaknya jadi turun ranking. Padahal istri sudah mati-matian ngajarin, tapi yang namanya anak itu memiliki masa tumbuh kembang anak. Ada yang tambah pintar ...ada juga yang tambah nakal." Cahaya berargumen layaknya ibu-ibu.
Langit hanya mengangguk saja, tidak akan ada selesainya jika membahas kedudukan suami dan istri. Karena mereka sudah ditempatkan yang paling pas dan saling melengkapi. Itulah enaknya, kalau sudah berkeluarga semua sudah ada bagiannya sendiri. Beda kalau Jofisa semua dilakukan sendiri apalagi anak kos seperti Black.
Pasangan itu sudah duduk di meja makan. Cahaya mengambilkan makanan untuk suaminya kemudian duduk diam menatap seluruh keluarga makan.
"Tujuh belas September 2006 itulah hari pernikahan Kang Mas! Tak dirasa mau dua bulan seminggu lagi." Archer bernyanyi, sambil mengetuk meja makan dengan sendok. Untungnya meja itu, terbuat dari kayu tidak dari kaca.
Langit yang mau memasukkan makanan ke mulutnya melirik adiknya. Pemuda itu hampir lupa dengan tanggal pernikahannya. Bukan cuma tanggal pernikahannya saja. Langit juga lupa kalau dia harus mengeluarkan nafkah bulanan. Ingat! Jangan melebihi jatuh tempo, seperti bulan lalu.
"Kau apal banget Cher!" Alula berucap.
"Bagaimana tidak hapa,l jika tanggal itu si Archer dapat kado dari Black!" Arche tersenyum menyeringai, sambil memasukkan makanan.
"Tidak juga." Archer menggelengkan kepala.
"Makan jangan berdebat!" Kakek Raharja bicara.
Si kembar hanya terdiam tidak bicara lagi.
"Berarti sepuluh bulan lagi satu tahun," celetuk eyang.
Cahaya yang mendengar hal itu, menelan ludahnya. Harusnya eyang langsung bilang kau hanya punya waktu sepuluh bulan untuk merelakan suamimu.
"Masih lama Eyang!" Arche mengeluarkan suara.
"Tahun itu berjalan begitu cepat Ar!" Eyang bicara lagi.
"Besok malam aku mengundang seseorang untuk makan malam bersama kita. Eyang harap kalian tidak keberatan." Eyang kembali berucap.
"Siapa, emang Ami ada kenalan di
Jakarta?" Abidah Aminah bertanya, sambil meneguk air putih.
"Adalah orangnya baik pokoknya." Eyang tersenyum memikirkan orang itu.
"Kenal sejak kapan?" Langit giliran bertanya.
Eyang tersenyum karena cucunya bertanya kepadanya.
"Saat Eyang sampai di Jakarta, kau ingatkan Eyang ke sini tanggal berapa." Eyang menatap cucu kesayangannya itu.
Bagaimana mungkin Langit lupa. Disaat itu pula dia melihat istrinya menangis, di tanggal yang sama. Saat eyang datang ke Jakarta untuk pertama kalinya.
"Mudah banget Eyang, menilai seseorang," celetuk Archer.
"Kok kamu bicara seperti itu, gimana Eyang tidak bilang baik. Saat KTP! Eyang jatuh perempuan itu mengejar Eyang dan mengembalikan ke Eyang. Dan kalian tahu wanita itu wanita kare. Karyawan kantor yang pakaiannya berkelas. Pasti tempatnya juga tinggi. Tidak cuma kelayapan." Diakhir kalimat sepertinya eyang menyendiri seseorang.
"Karier bukan Kare, kalau kuah kare emang enak." Arche bicara, sambil mengelap bibinya dengan tisu.
Cahaya menundukkan kepalanya. Wanita itu merasa jika eyang sedang menyindir nya. Eyang tidak tahu, jika wanita berambut sebahu itu kalau keluar rumah juga kerja. Wanita itu sibuk mengurus kafe miliknya dan minimarket suaminya.
__ADS_1
"Berati Ibu enggak termasuk wanita karier, karena Ibu tidak kerja di kantor." Arche menyindir eyang berkedok ibunya yang jadi sasarannya.
"Tapi ibu, bisa bisnis jadi bisa di bilang wanita karier dong Ar! Wanita karier itu bukan hanya kerja di kantor doang." Hazel memberikan pendapat.
"Berarti orang yang duduk di samping Kang Mas juga dong. Istilah Teteh sedang merintis usaha." Archer bicara, yang membuat eyang tersentak karena ucapannya.
"Kalau bisa itu menggaji seseorang, bukan di gaji. Dan alangkah baiknya punya karyawan dari pada jadi karyawan." Pak Khan mengeluarkan unek-uneknya. Pak Khan tahu, jika mertuanya itu sedang menyindir menantunya yang menunduk.
"Aku setuju dengan ucapan Bapak, best." Arche mengacungkan jari jempolnya.
"Oh... Teteh tenang saja, nanti setelah kita pulang sekolah akan jemput Gibril dengan yang lainnya. Nanti malam peresmian kafe dan minimarket nya Kang Mas!" Archer akan membantu kakak iparnya itu.
Eyang semakin tersudut kan, karena keluarga itu sepertinya membela wanita kampungan itu.
"Makasih!" Cahaya tersenyum kearah adik iparnya itu.
"Kita berangkat sekarang Pak, aku harap nanti malam aku bisa datang tepat waktu saat peresmian." Langit bangkit dari duduknya.
Masih sama seperti biasanya, para istri mengantarkan suaminya ke depan rumah.
"Bapak makan tepat waktu, jangan tinggalkan sholat. Kita harus ingat kita itu diciptakan untuk apa." Abidah Aminah bicara kepada suaminya.
"Iya Bu, Bapak akan makan siang tepat waktu, dan diakhiri usia Bapak. Aku ingin mendekatkan diri ke Sang Maha Pencipta!" Pak Khan bicara, sambil menerima uluran tangan dari istrinya.
"Yang, nanti kamu kalau bisa pulang cepat. Aku mau kita ikut peresmian kafenya Aya sama minimarket nya Kang Mas!" Alula bicara, sambil merapikan jas suaminya.
"Siap Yang, kita akan usahakan iya kan Pak?" Hazel bertanya, kepada pak Khan dan dijawab anggukan oleh mertuanya.
Pagi itu Cahaya sangat sedih, karena ucapan Eyang saat di ruang makan. Bagaimana tidak seolah eyang mengingatkan tentang dia hanya punya waktu sepuluh bulan untuk punya keturunan. Jika tidak dia harus mengikhlaskan suaminya dengan yang lain.
Cahaya menatap suaminya yang ada di depannya itu. Wanita berambut sebahu itu langsung memeluk suaminya seolah takut kehilangan suami perhatiannya itu. Langit terdiam, tidak biasanya istrinya memeluknya dahulu. Apalagi itu di saksikan orang tuanya dan adik sekaligus adik iparnya.
Entah takdir seperti apa yang akan datang menghampiriku. Tapi rasanya ini sangat sulit, jika aku harus melihat kau dengan wanita lain. Aku harap Sang Maha Pemberi segera memberikan aku kepercayaan untuk mengandung anakmu Mas. Batin Cahaya.
Wanita itu memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat. Wanita itu tidak kepikiran. Jika hal yang dilakukan nya itu, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya.
Langit mengelus rambut istrinya. Pemuda itu tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya itu.
"Aduh Kakak ipar romantis amat." celetuk Hazel.
Cahaya yang mendengar suara Hazel segera mengelap air matanya dengan yang ada saja— yaitu jas suaminya. Wanita itu tidak mau jika semua orang tahu jika dia menangis. Apalagi suaminya, dia harus menyembunyikan perasaan takut kehilangan dan kesedihan dari suaminya. Cahaya melepaskan pelukan itu dan tersenyum.
"Hehehe biar seperti kalian gitu loh Kak Hazel!" Cahaya tertawa, untuk menutupi kesedihan yang dia rasakan.
Langit menatap jas kerjanya yang basah. Pemuda itu, melihat wajah istrinya yang tersenyum kearah Hazel.
Kau menangis Az-zahra. Apa yang kau sembunyikan dariku. Aku tidak suka dengan sifat mu yang tertutup kepada ku. Bukankah aku sudah pernah katakan untuk menceritakan keadaanmu terhadap ku. Senyuman itu sangat terpaksa. Langit menatap wajah istrinya, yang tersenyum menampakan gigi gingsulnya.
Sepertinya wanita berambut sebahu itu, sudah lupa dengan perkataan eyang. Saat di meja makan. Lihat saja, wajahnya sangat ceria karena hari itu. Dia akan meresmikan kafenya. Tuhan itu emang adil, Allah tidak akan membuat hamba-Nya berlarut dalam kesedihan.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Karena hari itu bertepatan dengan hari jumat. Si kembar pulang rada cepat. Wanita berambut sebahu itu, tidak sendirian di ruko lantai dua. Wanita itu, ditemani karyawannya yang mempunyai keterbatasan fisik. Tepatnya hari kamis, Cahaya membuka lowongan pekerjaan untuk penyandang disabilitas. Dan di hari itu pula Cahaya bertemu dengan karyawannya itu.
"Kamu umur berapa?" Cahaya bertanya, wanita itu lupa belum menanyakan umur gadis itu.
"Delapan belas!" Gadis yang mempunyai kekurangan itu menjawab.
"Ella, aku sangat bangga denganmu, meski. Tuhan, memberi kekurangan tapi kau tetap semangat hidup." Cahaya mengelus pundak gadis itu.
"Bagaimana pun hidup itu terus berjalan Teh, emang bener Allah, ngasih kekurangan tapi—terkadang aku berpikir ini cara Allah menjagaku." Ella tersenyum menatap langit.
"Allah itu mempunyai banyak cara. Untuk menjaga hambaNya. Seperti khusus ku ini Teh, contohnya mungkin saja jika aku perfect body. Aku akan kelayapan dengan teman sekolah.Pergaulan bebas dan mungkin saja, aku akan sombong. Karena kesempurnaan tubuhku. Bisa saja aku menjadi hamba-hamba yang melampaui batas" Ella berbicara, sambil menahan tangisannya.
Cahaya mengelus pundak Ella.
Jika aku di uji dengan rasa takut kehilangan suamiku. Gadis yang ada di samping ku ini. Tuhan uji dengan keterbatasan fisik yang mungkin seumur hidupnya akan tetap seperti ini. Aku punya Allah ,saat ada masalah. Ya Rabb aku berdoa, semoga Engkau, segera memberikan momongan kepadaku. Aku tidak tahu kenapa eyang, sangat membenciku.
"Baiklah El, tugasmu hanya duduk di samping pintu masuk. Kau akan menjadi kasir di sini. Kau hanya perlu menulis berapa pemasukan harian kafe ini. Pembeli akan aku kasih nota, setelah itu dia akan membayar pesanannya kepadamu." Cahaya bicara sambil tersenyum.
"Tidak! Teh, aku masih bisa berjalan meskipun dengan bantuan tongkat. Aku akan menghampiri pembeli dan menyuruhnya bayar. Takutnya ada yang enggak bayar Teh!" Ella tersenyum riang.
"Baiklah Ella, tapi kalau kamu capek kamu duduk di kursi yang sudah di sediain. Teteh enggak bisa bayar Ella mahal, masa Ella disuruh capek!"
"Namanya juga kerja Teh, ya pasti capek. Sebenarnya, Ella tidak boleh ibu untuk bekerja, tapi aku bersikeras agar ibu mengizinkan. Aku ingin tahu rasanya kerja itu bagaimana." Ella bercerita tentang ibunya.
"Wah kau hebat!" Cahaya menganggukkan kepala.
Cahaya meninggalkan Ella sendirian. Cahaya menelpon sahabat-sahabatnya untuk bisa datang ke acara peresmian kafe sekaligus minimarket.
"Assalamu'alaikum." Cahaya mengucapkan salam.
"Ada apa lu nelpon gua."
"Lu masih di Jakarta?" Cahaya bertanya, sambil duduk di kursi.
"Gua akan tinggal di sini, balik Sumatera paling kalau ada kerjaan."
"Nanti malam lu bisa ke daerah ini enggak? Depan kampus STTI?"
"Oke, emang ada apa sih?" Terdengar nada bicaranya seperti orang yang ingin tahu.
"Nah nanti malam, di depan kampus itu ada peresmian kafe sama minimarket lu datang saja. Enggak usah banyak tanya Sanjo." Cahaya menaruh ponsel itu, di mulutnya agar Senja yang ada di sebrang sana menutup telinga.
Jam menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh. Terdengar suara orang tertawa di depan kafe. Cahaya yang ada di dalam kafe itu memutuskan untuk keluar.
"Assalamu'alaikum." Si wajah bule itu menyapa Cahaya.
"Wa'alaikumussalam." Cahaya tersenyum, karena bocah lelaki itu.
"Kakak baik, apa aku akan bekerja? Kapan?" Gibril bertanya, sangat antusias.
"Tentu saja, ah silahkan masuk ada yang ingin aku bicarakan bersama kalian." Cahaya menyuruh mereka masuk dan duduk di dalam kafe itu.
"Ehm... " Cahaya menetralkan suaranya sebentar. Sebelum melanjutkan ucapannya. "Begini— disini ada empat orang yang akan membantu ku. Jadi– aku akan membagi tugas. Kita akan bekerja sama, untuk Ibu." Cahaya menatap ibu, penyandang tuna wicara itu.
Ibu itu mengangguk pelan.
"Ibu bisa masak?" Cahaya bertanya.
Ibu itu menganggukkan kepalanya lagi. Cahaya tersenyum, wanita itu bernapas lega. Karena ibu itu bisa masak.
"Alhamdulillah, Ibu bisa bantu aku di dapur. Aku tidak hanya menjual kopi. Tapi aku juga akan jual beberapa makan." Cahaya tersenyum.
Semua mengangguk paham.
"Kalau Kakek, Kakek bersih-bersih lantai sebelum kafe di buka, dan Kakek akan menjadi pelayan, bisa kan Kek?" Cahaya bertanya, jika kakek tuna wisma itu tidak bisa. Cahaya harus membuka lowongan untuk di bagian waitress.
Bukan apa, Cahaya takut, jika kakek itu kesusahan karena badannya yang sudah bungkuk.
__ADS_1
"Insya Allah bisa Neng!" Syukur kakek itu menyanggupi. Cahaya bernapas lega karena Yang di Atas membantunya sekali lagi.
"Aku dimana?" Gibril sudah tidak sabar untuk bekerja. Bocah lelaki itu duduk di samping Cahaya. Hal itu membuat semua tersenyum. Tak terkecuali Ella juga ikut tersenyum.
"Gibril bisa lap meja yang kotor. Bisa membersihkan piring dan gelas ke dapur." Cahaya berpikir, apa dia butuh karyawan lagi untuk bagian cuci piring.
"Untuk gaji, maaf sekali aku tidak bisa membayar kalian mahal." Cahaya menundukkan kepalanya.
Ibu yang ada di depan Cahaya itu menyentuh tangan Cahaya dengan lembut. Wanita berambut sebahu itu, mendongakkan kepalanya. Untuk melihat ibu penyandang tuna wicara.
Ibu itu menggelengkan kepalanya. Seolah bilang 'jangan bersedih tidak apa-apa'.
"Berapapun gajinya yang Neng, kasih. Pasti akan kami terima, tidak ada hak bagi kami untuk mengeluh tentang gaji. Kami sudah bersyukur Neng, mau terima kami kerja disini. Banyak diluar sana orang yang tidak mau menerima kami sebagai bawahannya karena kekurangan kami." Kakek itu bicara panjang. Namun dapat persetujuan dari ketiga orang yang bisa kerja di sana.
Cahaya tersenyum, karena memiliki karyawan yang baik hati. Sekali lagi, Tuhan mempermudahkan jalannya.
"Perjanjian gaji satu bulan 1,4jt...dapat makan tiga kali sehari. Bagaimana kalian setuju?" Cahaya bertanya, dan dijawab anggukan kepala. Tapi tidak dengan Gibril bocah bule itu, sepertinya menghitung sesuatu dengan jari-jemarinya.
1,4jt bagi kakek dan ibu penyandang tuna wicara itu sangat banyak. Karena mereka tidak pernah mendapat uang sebanyak itu. Mereka itu tidak berharap banyak. Mereka dibayar dengan makan saja akan bersyukur.
"1, 4 jt itu sepuluh ribu berapa?"
"Berapa—lumayan lah," ujar Cahaya.
"Lebih dari dua puluh?" Gibril bertanya.
"Tujuh kali lipat Gib!" Archer memberi tahu.
"Berapa itu?" Gibril yang belum tahu hitungan berkali dia ingin tahu.
"Seratus empat puluh, tahu enggak?" Arche yang bertanya.
Gibril menggeleng, si wajah bule itu belum mengerti ilmu pengetahuan.
"Lupakan Gibril, suatu saat kau akan tahu jika kau belajar." Cahaya merengkuh tubuh Gibril. Si wajah bule tersenyum manis, saat di dekap wanita yang memberikan identitas meski hanya nama.
"Tapi bisa buat aku bayar sekolah?" Gibril bertanya kepada Cahaya.
Wanita berambut sebahu itu miris, sekaligus bangga karena bocah bule itu. Miris karena bocah bule itu bertanya tentang bayar sekolah. Bahagia karena bocah bule itu sangat ingin sekolah.
"Bisa sayang!" Cahaya tersenyum.
"Terima kasih, karena mau menjemput mereka." Cahaya berbicara dengan adik iparnya.
"Kami senang membantu, jika kami bisa pasti akan membantu jangan sungkan kayak sama orang luar aja si, Teteh ini." Archer bicara sambil mengikat rambutnya.
"Kalian pulang lah, mandi setelah itu kalau ke sini tolong bawakan bajuku." Cahaya meminta bantuan adik iparnya.
Si kembar saling tatap dan tersenyum, entah apa yang ada di pikiran mereka.
"Baik kita pulang Teh!" Arche bicara, sambil menuruni anak tangga dan melambaikan tangan. Arche berpikir bagaimana Ella bisa menaiki anak tangga. Ella bisa karena dia punya tekat dan Allah juga membantu hambaNya yang berusaha.
Cahaya memutuskan untuk ke lantai bawah. Dibukalah pintu yang terbuat dari kaca itu. Cahaya mencari sesuatu setelah itu berjalan kearah kasir untuk membayarnya.
"Pembalut sama milo jadi 72.000.Teh!" Kasir itu membungkus dua barang yang Cahaya beli.
Wanita itu membayar dan mendapatkan kembalian dua koin warna kuning.
"Makasih!" Cahaya menerima kantung plastik warna putih.
Saat Cahaya keluar dari minimarket, karyawan itu berbicara dengan karyawan lain.
"Aku pikir kalau yang punya minimarket itu suami sendiri, akan enak tinggal ambil. Ternyata enggak ya, tuh buktinya bu bos bayar," ujarnya kasir yang melayani Cahaya.
"Eh... waktu itu bu bos ambil susu milo juga bayar ke gua. Gua shock dong yang bener. Masa katanya, Han, aku lupa belum bayar susu yang aku ambil tadi siang." Karyawan yang satunya ikut andil angkat bicara.
"Heh cewek ghibah mulu." Karyawan cowok berucap.
"Ya kan cewe bro!" temanya yang satu baru datang dari bagian gudang.
"Iya juga sih bro!" Gito membenarkan ucapan Asep.
"Tapi gua kok enggak pernah bertemu sama pak bos sih. Kalau enggak bu bos yang bercerita, gua enggak tahu kalau minimarket ini punya suaminya." Akira bercerita, bagaimana dia tahu tentang pak bos dari bu bosnya yang bercerita.
"Nanti malam mungkin akan datang." Hanik berbicara.
Jam menunjukkan pukul enam petang, adzan maghrib terdengar sangat merdu, apa lagi sangat dekat dengan ruko berlantai dua itu. Cahaya sangat bersyukur karena tidak harus bingung jika mau sholat.
Si kembar sudah ada di sana, membawakan baju yang ditaruh di tas kain.
"Ini Teh!" Arche menyodorkan tas itu.
"Makasih!" Cahaya langsung jalan ke kamar mandi. Untung wanita itu sudah mandi.
Arche dan Archer TOS saat melihat kakak iparnya pergi ke kamar mandi, kemudian mereka tertawa bersama.
Cahaya yang ada di kamar mandi, mengeluarkan baju yang ada di dalam tas kain itu. Dahinya mengkerut saat melihat pakaian yang si kembar bawakan.
"Ini bukan bajuku, aku tidak pernah membeli baju seperti ini." Cahaya menatap dress berwarna putih.
"Aku harus memakainya jika tidak pasti mereka akan sedih." Wanita itu tidak mau membuat adik iparnya kecewa.
Cahaya sudah memakai dress berwarna putih itu. Dress yang cuma sebatas lutut saja. Wanita itu menutupi bagian bawahnya. Maklum wanita itu tidak pernah memakai dress.
"Kok rasanya enggak nyaman, kalau jalan angin masuk."
Wanita itu memutuskan untuk keluar kamar mandi. Cahaya menghampiri adik iparnya yang asik tertawa bersama Gibril membelakangi dia.
"Ar, ini baju siapa?" Cahaya bertanya, si kembar membalikkan badannya.
Wajahnya terkesan saat, melihat kali pertama kakak iparnya memakai dress.
"Punya ku Teh!" Archer menjawab. Dara delapan belas tahun itu, hanya punya satu dress yang digunakan kakak iparnya itu. Si kembar tidak suka memakai dress. Si kembar sama seperti kakak iparnya yang suka memakai jeans.
"Sengaja ya?" Cahaya menuduh adik iparnya.
"Enggak kok ...kita enggak berani masuk kamar kang mas!" Si kembar memang tidak berani masuk kamar kang masnya. Tapi si kembar juga ingin melihat kakak iparnya memakai dress.
"Baiklah." Cahaya tidak terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti itu.
Di ruangan direktur pemuda itu memijit pelipisnya. Bagaimana tidak, malam itu dia harus menyerah laporan ke direktur utama. Langit mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya pelan. Tangan kanannya digunakan untuk mengetik sesuatu. Sedangkan tangan kirinya memijat batang hidungnya.
Maaf sepertinya aku tidak bisa ikut peresmian. Mas harus menyelesaikan laporan yang harus mas, selesaikan malam ini juga.
Ting... ting bunyi pesan masuk di ponsel wanita berambut sebahu.
Cahaya yang sedang tertawa bersama Gibril dan yang lain. Matanya teralihkan ke ponselnya. Wanita itu, membaca siapa pengirimnya dia tersenyum. Tapi saat membaca isi pesannya, wanita itu menundukkan kepalanya. Senyum di bibirnya berangsur menghilang dari bibirnya.
__ADS_1